
“Raden, keadaan telah menjadi gawat dan tidak terkendali.”ujar Warsono setelah kembali dari wilayah keramaian dan kembali kerumahnya.
“Gawat bagaimana maksudmu kakang?”tanya Danang.
“Pihak desa Sekarjati telah mengetahui sepak terjang raden, dan mengumumkan woro-woro sayembara tentang keberadaan raden dengan hadiah tiga kantong emas.”ucap Warsono.
“Menurutku tempat ini menjadi tidak aman raden, aku takut jika ada penduduk yang mengetahui keberadaan raden disini dan memberikan keterangan pada pihak desa. Menurutku sebaiknya nanti malam kita pindah raden.”ucap Warsono pada pemuda di hadapannya.
“Pindah? Pindah kemana kakang? Apa masih ada tempat untuk bersembunyi disini?”tanya Danang.
“Ada raden, di tengah wilayah perkebunan ada satu surau yang telah lama tak terpakai. Menurutku untuk sementara raden lebih aman berada disana.”ucap Warsono.
Danang menggaruk kepalanya smbil terheran-heran, bagaimana mungkin ada surau yang tidak terpakai? Mungkinkah penduduk desa telah benar-benar kehilangan jati dirinya sebagai manusia Jawa seperti ucapan Kyai Ageng Banyu Urip?
“Baiklah kakang, aku mengikuti saja saran kakang.”ucapnya.
Hari itu dihabiskan oleh Danang untuk bersemadhi dan menjalankan kewajibannya pada Sang Pencipta hingga lewat matahari terbenam.
Selepas matahari terbenam, mereka berdua mengendap-endap meninggalkan kediaman Warsono menuju wilayah perkebunan warga sekitar yang terletak agak jauh dari pemukiman warga.
Setibanya disana Warsono mengeluarkan bekal yang berupa makanan dan lentera yang menggunakan minyak yang terbuat dari kelapa untuk kebutuhan Danang selama berada di surau tersebut.
“Terima kasih kakang, rasanya ini lebih dari cukup. Maaf telah merepotkan kakang.”ucap Danang.
“Mboten raden, saya tidak merasa direpotkan atas semua ini. Nah, sekarang raden silahkan beristirahat dulu disini sampai keadaan membaik. Saya akan kembali membawakan kebutuhan raden esok malam. Sekarang saya mohon diri kembali kerumah raden.”ucap Warsono.
“Monggo kakang, sampaikan salamku untuk anak istrimu dirumah.”ujar Danang.
Kemudian Warsono bergegas keluar dari dalam surau untuk kembali kerumahnya, menghilang ditelan oleh kegelapan malam.
Setelah kepergian Warsono, Danang menunaikan kewajibannya lalu meneruskan semadhinya untuk menenangkan hati dan pikiran, serta mengatur kembali ketujuh cakra yang telah terbuka di dalam tubuhnya. Hal itu berlangsung hingga tengah malam, hingga semadhinya lalu terhenti oleh suara gemerisik daun dan ranting yang terinjak.
“Apakah kakang Warsono kembali kesini? Ah tidak, tampaknya kali ini berbeda, menurut pendengaranku ada banyak sekali orang mengendap-endap menuju kesini.”batin Danang seraya bersiap untuk hal-hal yang tidak diinginkan.
“Hai buronan desa Sekarjati, segeralah keluar dan menyerahkan diri! Tempat ini sudah terkepung!” terdengar suara teriakan dari luar surau.
__ADS_1
Rupanya tadi siang ketika Warsono mendapatkan kabar mengenai sayembara dengan hadiah tiga kantong emas, keserakahan menggoda hatinya dengan kuat hingga ia tergiur oleh hadiah sayembara tersebut, lalu ia beringsut mengendap-endap menuju kediaman kepala desa Sekarjati.
“Aku bakal kaya raya dengan hadiah itu. Aku akan membuat rumah pelacuran dan perjudian dengan menggunakan hadiah tersebut sebagai modal agar nantinya dari rumah pelacuran dan perjudian yang kudirikan akan menjamin kekayaan hidupku hingga aku tak perlu bersusah payah lagi hidup dalam kemiskinan.”pikir Warsono yang kini menunjukkan sifat aslinya, yaitu tamak.
Di depan kediaman kepala desa Sekarjati, ia menyampaikan maksud kedatangannya yang langsung disambut oleh prajurit penjaga dan menghadap kepala desa.
“Duduklah, kudengar kau memiliki keterangan tentang pemuda sedang dicari oleh pihak desa?”tanya Ki Ageng Gandrik.
“Hamba Tuan, hamba mengenal pemuda itu dan saat ini ia berada di kediaman hamba.”ujar Warsono.
“Bagaimana kau bisa mengenal pemuda itu? Dan bagaimana ia bisa berada dirumahmu heh?”tanya Ki Ageng Gandrik.
Warsono lalu menceritakan semuanya sejak pertama ia bertemu dengan Danang, mengantarnya ke tempat-tempat pelesiran, hingga Danang mendatangi rumahnya untuk menginap. Tentu saja bagian kisah pemuda itu membagikan keping emas, dan menceritakan tentang bagaimana ia berhasil membunuh dua pendekar andalan desa tidak diceritakannya.
“Begitulah kisahnya Tuan.”ucap Warsono pada Ki Ageng Gandrik menjelaskan.
“Lalu bagaimana menurutmu selanjutnya kisanak? Apakah pasukan desa akan menyergap pemuda itu di pemukiman warga?”tanya Ki Ageng Gandrik.
“Menurut hamba, sebaiknya selagi Tuan mempersiapkan pasukan, hamba akan bersiasat dengan membawa pemuda itu mengungsi ke surau yang ada di tengah perkebunan warga Tuan.”
“Hahahaha...ternyata kau cukup cerdik kisanak. Tindakanmu sangat tepat dengan berpihak pada kami. Seperti kau ketahui kisanak, desa ini dilindungi oleh meneer Dedrick Van Osch dan beberapa pejabat Keraton, jadi kami sangat leluasa untuk menyingkirkan siapapun yang menentang, termasuk kerabat Keraton sekalipun.”ujar Ki Ageng Gandrik.
“Ini,ambillah hadiahmu. Sisanya akan kau peroleh setelah pemuda itu berhasil kami ringkus. Awas, jangan berbohong kisanak, aku sendiri yang akan menebas lehermu dan keluargamu jika sampai kau berbohong.”ujar Ki Ageng Gandrik sambil melemparkan sekantong berisi keping emas.
“Matur nuwun sanget atas hadiah yang Tuan berikan. Hamba tidak berani berbohong Tuan, nyawa hamba sebagai taruhannya.”ujar Warsono sambil menghaturkan sembah.
“Baiklah kisanak, sekarang kembalilah kerumahmu. Jangan membuat tindakan yang mencurigakan bagi pemuda itu.”ujar Ki Ageng Gandrik.
Warsono lalu minta diri dan bergegas kembali kerumahnya untuk mulai mengatur siasatnya pada Danang.
Selepas kepergian Warsono, Ki Ageng Gandrik memberikan perintah pada Warok Banteng Ireng dan Datuk Kumbang untuk mempersiapkan pasukan dan menyergap pemuda itu tengah malam nanti.
“Warok Ireng dan Datuk Kumbang, nanti malam bawalah sepertiga dari pasukan desa untuk menyergap pemuda yang telah menyusahkan kita. Lengkapi pasukan kita dengan persenjataan bedil, panah, dan tombak. Nanti malam kalian temui Warsono di perkebunan warga.”perintah Ki Ageng Gandrik.
“Baik Tuan, kami akan persiapkan pasukan setelah ini. Mayat Munding Wangi dan Kwee Ban Siang juga telah ditemukan dan sedang diurus pemakaman yang layak bagi mereka berdua.”ucap Datuk Kumbang.
__ADS_1
“Nyai, kau tetap disini dan siapkan ilmu sihirmu, barangkali diperlukan untuk meringkus pemuda itu, mengingat ia cukup sakti mandraguna.”perintah Ki Ageng Gandrik pada Ni Luh Gandamayit.
“Baik Tuan, aku akan persiapkan segala yang dibutuhkan untuk melemahkan pemuda itu.”ujar Ni Luh Gandamayit.
“Hanya jika memungkinkan, aku minta pemuda itu tidak dibunuh, melainkan diringkus hidup-hidup Tuan. Aku ingin menyerap kelelakian dan kesaktiannya.”tambah Ni Luh Gandamayit sambil tersenyum.
“Hanya jika memungkinkan Nyai. Jika ia nantinya merepotkan Warok Banteng Ireng, Datuk Kumbang, dan pasukan kita, mau tidak mau terpaksa ia kita pateni.”ucap Ki Ageng Gandrik.
“Baiklah Tuan.”jawab Ni Luh Gandamayit lalu beringsut meninggalkan tempat itu.
.......
Teriakan kembali terdengar di depan surau yang berada ditengah perkebunan warga, “Hai buronan! Jika kau masih bersikeras, maka kami akan memaksa masuk dan mencincangmu beramai-ramai di dalam!”teriak suara itu yang ternyata adalah suara Datuk Kumbang.
Keadaan di sekitar tempat itu begitu hening, suara jangkrik yang biasanya ramai bersahut-sahutan pun tidak terdengar sama sekali, bahkan cahaya bulan dan obor-obor yang dibawa oleh pasukan desa Sekarjati pun tampak meredup, sehingga menambah tegang suasana.
“Bagaimana menurutmu Datuk Kumbang? Kita langsung saja menyerbu masuk kedalam?”bisik Warok Banteng Ireng yang berdiri tegak dan telah melolos senjatanya, tombak bermata tiga disamping Datuk Kumbang.
“Sebaiknya kita tunggu sebentar lagi. Tolong kau bantu untuk memimpin pasukan kita yang berjaga di belakang surau. Biar aku yang memimpin pasukan di depan surau.”ujar Datuk Kumbang pada Warok Banteng Ireng.
“Baiklah, aku akan memimpin pasukan yang ada di belakang surau.”ujar Warok Banteng Ireng seraya berjalan menuju belakang surau.
Susunan pasukan desa diatur sedemikian rupa mengepung surau dari dua arah, depan dan belakang.
Tiap pasukan terdiri atas pasukan bedil yang membentuk susunan seperti bulan sabit yang berada di depan, pasukan tombak berada di lapis kedua, berjaga jika pemuda itu mampu lolos dari tembakan bedil maka pasukan tombak akan segera maju menyongsong, dan pasukan panah di lapis ketiga untuk mencegah jika pemuda itu berupaya untuk melarikan diri, maka dipastikan hujan panah akan segera berhamburan.
Apalagi pasukan di kedua sisi itu masing-masing dipimpin oleh pendekar-pendekar yang sakti, yaitu Datuk Kumbang dan Warok Banteng Ireng.
Menurut perhitungan dan perkiraan mereka tidak akan ada seorangpun yang akan mampu meloloskan diri dengan susunan pasukan yang demikian, apalagi hanya seorang pemuda yang walaupun menurut kabar sakti mandraguna.
Ketika Warok Banteng Ireng berjalan kearah belakang surau, mendadak suara gemuruh dan ratapan kematian terdengar dari belakang surau disertai melesatnya satu bayangan dari dalam surau yang menebarkan hawa panas hingga membuat susunan pasukan bedil hancur berantakan.
“Heaaaah...ajian Gelap Ngampar!”seru Danang sambil mendobrak menjebol dinding surau sehingga tercipta lubang dengan ukuran dua kali manusia dewasa, lalu berkelebat menerjang pasukan di belakang surau.
“Jangkrik !”maki Warok Banteng Ireng sambil bergegas melesat kearah belakang surau...
__ADS_1