Kitab Manunggaling Semesta Jagad

Kitab Manunggaling Semesta Jagad
BAB 30, MAJOOR DEDRIC VAN OSCH


__ADS_3

Majoor Dedric Van Osch sore itu sedang susuk di beranda teras kediamannya dengan buku di hadapannya sambil menikmati secangkir kopi ditemani oleh seorang wanita berambut pirang yang terlihat bertubuh sintal dengan senyum menggemaskan.


Tangan wanita itu membelai-belai dada dan punggung majoor Van Osch sambil sesekali merayap nakal kearah paha pria bule tersebut.


“Schat, komp op geef het uit je koffie..ik ben al olgenduldig... (sayang, ayo habiskan kopimu, aku sudah tidak sabar).”ucap wanita pirang itu pada majoor Van Osch.


“Kort Esther schat (sebentar Esther sayang), aku sedang menghitung keuntungan dari penjualan senjata dan setoran keuntungan dari Sekarjati.”ujar majoor Van Osch seraya terilhat begitu memusatkan perhatian pada buku di depannya.


“Schiet op (cepatlah), aku akan menunggumu di kamar.”ujar wanita itu sambil kemudian mengelus dada majoor Van Osch lalu beranjak pergi dari tempat itu.


Ternyata majoor Van Osch melakukan penyelewengan penggunaan jabatannya dengan memperjual belikan bedil-bedil secara gelap pada pihak manapun yang membutuhkan, serta mendapatkan upeti bagi hasil dari usaha rumah perjudian dan pelacuran yang ia lindungi di desa Sekarjati.


Bedil-bedil yang ia perjual belikan berasal dari pemasok senjata di negerinya yang diperolehnya dengan cara memalsukan keterangan pada VOC mengenai jumlah kebutuhan untuk pasukannya.


Di samping itu ia juga berkongkalikong dengan pemasok senjata dengan menukar beberapa meriam menjadi bedil sehingga mendapatkan senjata bedil dalam jumlah yang sangat banyak.


Kira-kira dalam waktu sepenanakan nasi, seorang berkulit coklat, berwajah khas orang Jawa namun berpakaian lengkap ala prajurit Belanda menghadap sambil membawakan sepucuk surat, “Permisi tuan majoor, ini ada sepucuk surat kiriman dari desa Sekarjati.”ucapnya sambil memberi hormat lalu menyodorkan secarik amplop pada majoor Van Osch.


“Silahkan opsir, kowe boleh pergi.”ujarnya setelah menerima surat tersebut, lalu majoor Van Osch lalu membuka aplop tersebut dan membaca isi surat di dalamnya.Wajahnya terlihat menegang sesaat, “Wat? Onbeschaamd! (Apa?Kurang ajar!).”serunya lalu bergegas memanggil memanggil William, kapitein kepercayaannya. “ Kapitein William, kom snel hier! (cepat kemari!)”serunya.


Seorang pria bertubuh tinggi besar tegap dan memiliki rahang kokoh bagaikan rahang kuda segera datang menghampiri sang majoor, “Majoor klaar! (siap mayor), ada persoalan apa sampai majoor terlihat begitu tegang?”ujar kapitein William memasang wajah heran.


“Aku mendapat surat permintaan bantuan pasukan dari desa Sekarjati. Disebutkan mereka mengalami kerugian yang cukup besar dan serangan yang telah mengakibatkan dua orang pendekar bayaran mereka tewas.”ujar majoor Van Osch yang belum mengetahui bahwa desa Sekarjati telah luluh lantak akibat amukan dua orang pendekar pilih tanding.


“Segera bersiap dengan satu peleton pasukan bersenjata dan berangkat kesana besok pagi. Bawa serta seorang yang pandai dalam berkuda untuk mengirimkan keterangan keadaan begitu kau tiba disana.”perintahnya pada kapitein William.


“Baik majoor, aku segera bersiap.”ujar kapitein William lalu meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Majoor Van Osch menghela nafas sambil termanggu sepeninggal Willian dari tempat itu. “Jij relschoppers! (dasar perusuh!), mengapa mereka tidak bisa membiarkan pelacuran dan perjudian? Bukankah semua orang senang dengan adanya hiburan seperti itu?”pikirnya lalu beranjak menuju kamarnya.


Setiba di depan kamar, ia membuka pintunya dan mendapati Esther dan seorang wanita berkulit kuning sedang berbaring diatas ranjang dan saling mengelus dan berciuman dengan panasnya.


Mengetahui kedatangan majoor Van Osch dengan segera Esther menghentikan kegiatannya sejenak lalu ia berkata, “Komp op schat, snel meedoen (ayo sayang, cepatlah bergabung).”sambil tangannya memberikan isyarat agar majoor Van Osch segera bergabung bersama mereka.


“Nampaknya rescholppers (perusuh-perusuh) yang satu ini juga harus segera dibereskan.”pikirnya sambil tersenyum dan bergegas menghampiri dan kemudian menggila bersama dua wanita tersebut.


Keesokan paginya satu peleton pasukan bersenjata terlihat bergerak meninggalkan tempat itu menuju desa Sekarjati.


Dalam pasukan tersebut, terlihat ada dua orang berkulit pucat dengan rambut berwarna jagung, dan sisanya berkulit hitam berambut keriting dan berkulit coklat.


Peleton tersebut dipimpin oleh kapitein William dan luitenant Schmit, dua orang prajurit bule dengan kemampuan menggunakan senjata yang sangat baik.


Keduanya sangat ahli dalam menggunakan pistool dan bedil, dan memiliki tenaga yang sangat kuat serta ahli dalam pertempuran darat satu lawan satu.


Selain ahli dalam menggunakan pistool dan bedil, keduanya juga ahli dalam pertarungan dengan menggunakan pedang yang terselip di pinggang mereka.


Bayaran uang, kebanggaan berseragam tentara VOC, menenteng bedil, serta pola hidup bebas ala barat yang menggiurkan menarik minat mereka sehingga rela menanggalkan jati diri mereka untuk kemudian bergabung dengan pasukan VOC.


Setibanya di bekas kediaman kepala desa Sekarjati, mereka semua terkejut melihat bahwa tempat itu telah hancur. Dengan segera beberapa orang opsir berkeliling untuk mengumpulkan keterangan.


Tak lama mereka menghadap kapitein William memberikan laporan, “Menurut keterangan penduduk, Ki Ageng Gandrik serta seluruh pasukan dan pendekar pengawalnya telah tewas kira-kira sepekan lalu tuan kapitein."


*Seluruh tempat perjudian dan pelacuran di desa ini juga telah dibakar oleh dua orang pemuda.”ujar opsir berkulit hitam dan berambut keriting tersebut.


“Wat? Hanya dua orang mampu melakukan ini semua?”tanya kapitein William terkejut.

__ADS_1


“Tidak mungkin kapitein, hoe is dat mogelijk (bagaimana mungkin) dua orang mampu mengalahkan tiga ratus pasukan ditambah para pendekar? Dit is echt te gek (ini benar-benar gila).”ujar luitenant Schmit.


“Kita sementara akan menggunakan bekas kediaman kepala desa sebagai markas kita, dan kau opsir, segera kirimkan berita ini kepada majoor Van Osch.”perintah kapitein William seraya menunjuk satu orang opsir Jawa yang diketahuinya mahir berkuda.


Di sela-sela suasana tersebut, seorang berpakaian surjan ala Jawa serba hitam berjalan tergopoh-gopoh mendekati mereka.


“Selamat pagi tuan-tuan, apakah tuan-tuan sekalian ini adalah pasukan yang datang untuk membantu memberantas pemberontak yang telah mengacau desa ini?”tanya sosok tersebut dengan gaya sopan khas masyarakat tanah Jawa.


“Siapa kowe kisanak? Apa kowe mengetahui sesuatu tentang pengacau itu?”tanya luitenant Schmit.


Sambil membungkuk sosok tersebut melanjutkan, “Nama hamba Warsono tuan, kebetulan hamba mengetahui dan mengenal sosok yang telah mengacau di desa ini.”ujarnya.


“Bagaimana kowe bisa kenal dengan pengacau itu? Apa kowe termasuk komplotan pengacau itu?”tanya kapitein William?


"Sama sekali tidak tuan, justru hamba telah berusaha membantu kepala desa untuk meringkus pengacau itu, namun gagal karena memang pengacau tersebut cukup hebat."ujar Warsono.


Warsono kemudian menceritakan dari awal tentang perkenalannya dengan sosok pemuda berpenampilan layaknya kerabat keraton yang dikenalnya bernama Danang sebagai sosok yang telah menghancurkan rumah perjudian, pelacuran, serta telah menghabisi Ki Ageng Gandrik beserta seluruh pasukan dan pendekar pengawalnya.


Ia juga menceritakan bagaimana ia telah mencoba membantu meringkus pemuda itu lewat siasat sergap tengah malam yang telah diaturnya, namun pemuda itu ternyata cukup tangguh dan mendapatkan bantuan dari seorang pendekar yang tidak diketahui asal usulnya hingga meluluhlantakan desa tersebut.


“Kowe tidak bohong kisanak?”tanya kapitein William pada Warsono.


“Hamba tentu tidak berani berbohong tuan, hamba rasa tuan-tuan juga sudah mengumpulkan keterangan pada para penduduk, yang rasanya tidak berbeda dengan keterangan yang hamba berikan.”jawab Warsono.


“Baiklah, mari kita bicarakan di dalam dengan kowe kisanak.”ujar kapitein William sambil menunjuk kearah bekas kediaman Ki Ageng Gandrik yang masih cukup megah, walaupun sebagian bangunan terutama bilik para prajurit telah hancur.


Lantas di ruangan yang cukup besar, kapitein William dan luitenant Schmit membicarakan tentang rencana mereka bersama Warsono.

__ADS_1


“Lalu bagaimana kowe punya rencana kisanak?”tanya kapitein William pada sosok yang baru dikenalnya itu.


“Begini tuan...”


__ADS_2