Kitab Manunggaling Semesta Jagad

Kitab Manunggaling Semesta Jagad
BAB 22, AMUKAN SANG GARUDA


__ADS_3

Terjangan Danang kearah pasukan yang dilakukannya dengan mendadak mengakibatkan jerit kematian terdengar dmana-mana.


Seluruh pasukan bedil yang berjumlah dua puluhan orang yang berdiri dengan susunan yang rapat dan tidak kurang dari sepuluh pasukan tombak yang berada di belakang surau meregang nyawa seketika dengan sekujur tubuh melepuh akibat kedahsyatan ajian Gelap Ngampar.


Pasukan tersebut layaknya gerombolan lalat yang menerjang bara api.


Seperti diketahui, ajian Gelap Ngampar memiliki kekuatan yang mampu mengeluarkan hawa yang sangat panas dalam jarak tertentu, dan puncaknya mampu mengeluarkan pukulan panas jarak jauh jika dikeluarkan melalui pukulan.


Dalam sekejap setelah pasukan bedil hancur dan sebagian pasukan tombak meregang nyawa, pemuda itu melesat merangsek kearah sisa pasukan tombak dengan kecepatan yang mengerikan sambil menebar ajian Gelap Ngampar hingga membuat paukan tombak yang berada di belakang surau kocar kacir dan hancur berantakan.


Warok Banteng Ireng yang baru tiba dan melihat hal itu segera memerintahkan pasukan panah untuk menyerang,


“Hujaaaan...”teriaknya yang langsung diikuti oleh lesatan-lesatan anak panah kearah pemuda tersebut.


Terkejut Warok Banteng Ireng melihat anak-anak panah yang mengenai pemuda itu berguguran layaknya daun-daun kering tanpa mampu menghentikan, apalagi melukai dan membunuh pemuda itu.


“Jangkrik ! Gilaa...!”umpat Warok Banteng Ireng, lalu berteriak, “Datuk Kumbang, kemarilah, bawa pasukanmu ! Aku membutuhkan bantuanmu !”teriaknya sambil berlari menerjang dengan tombaknya kearah pemuda yang mengamuk dengan dahsyat tersebut.


Mendengar teriakan itu, Datuk Kumbang beserta pasukannya bergegas berlari kearah belakang surau, dan terhenyak melihat kenyataan bahwa pasukan desa Sekarjati yang mengepung dari belakang surau kini telah hancur dan nyaris tak bersisa dalam waktu yang sangat singkat.


Lalu dilihatnya pula Warok Banteng Ireng sedang bertarung mati-matian dengan pemuda itu.


Tersadar dari keterkejutannya, Datuk Kumbang segera memerintahkan pasukannya membentuk susunan untuk menyerang pemuda tersebut, “Pasukan bedil, atur susunan di sebelah kanan! Pasukan tombak, bersiap menyerang dari depan! Pasukan panah, bersiap melontarkan hujan panah dari sisi kiri !”perintahnya.


Melihat hal tersebut, Danang yang dengan cerdik memanfaatkan keadaan melesat dengan sangat cepat masuk kembali ke dalam surau dan mengerahkan ajian Gelap Ngampar untuk menjebol dinding dan pintu depan surau dari dalam.


“Brrrukk...”pintu dan dinding depan surau hancur berantakan hingga mengakibatkan atap surau itu roboh menimpa sebagian pasukan bedil dan panah yang sedang bersiap menembak dan menebarkan kepulan debu yang menyulitkan pandangan pasukan bedil dan panah sehingga mereka tidak mampu membidik dengan baik serta menahan laju gerak pasukan tombak dan dua pendekar yang mengejar pemuda itu.


Di tengah kepanikan tersebut, pasukan bedil dan panah secara serampangan menembak dan melesatkan anak panahnya kearah terakhir pemuda tersebut terlihat.


“Door..door...syuut...”terdengar bedil-bedil menyalak dan kesiuran anak panah melesat. “Arrrgh...”terdengar suara jeritan ditengah suasana panik tersebut.


Beberapa orang pasukan bedil dan panah roboh akibat timah panas dan anak panah mereka sendiri, karena ditengah kepanikan dan debu yang mengepul mereka membidik dan menembak arah terakhir pemuda itu berada tanpa menyadari bahwa sebelumnya pasukan panah dan bedil mengepung dari dua sisi yang berlawanan, yang berarti kedua pasukan itu sebenarnya saling berhadapan.


Dari kejauhan, sepasang mata mengintai dan memperhatikan pertempuran tersebut tanpa disadari.


“Trengginas luar biasa anak muda itu.”pikir sosok yang mengamati dari kejauhan tersebut sambil berdecak kagum.


Sementara itu di kediaman Ki Ageng Gandrik, Ni Luh Gandamayit sedang melakukan upacara untuk menyerang Danang dengan ilmu hitamnya. Bau kemenyan tercium sangat santer dari biliknya, menambah keangkeran suasana di kediaman kepala desa Sekarjati itu.


Dirinya duduk bersila sambil berkomat-kamit membaca mantra ilmu hitam, memanggil jin, setan perewangan, dan siluman untuk menyerang pemuda yang kini sedang bertempur melawan keroyokan pasukan dan pendekar sakti.


Peluh terlihat menetes di dahi gadis yang sebetulnya berusia delapan puluh tahun tersebut. Tubuhnya bergetar mengeluarkan segala upaya dan ilmu sihir miliknya memerintahkan jin, setan perewangan, dan siluman kirimannya agar menghabisi pemuda tersebut.


Di tempatnya bertempur, Danang yang cakra Ajna dan cakra mahkotanya telah terbuka menyadari ada yang tidak beres. Sesuatu telah menyebabkan telinganya berdengung keras dan kepalanya terasa pusing.

__ADS_1


Ia melihat dengan cakra Ajna yang dimilikinya, seseorang sedang mengirimkan ilmu sihir untuk membuatnya paling tidak lemah tak berdaya, atau menghabisinya jika memungkinkan.


Beruntung Danang menyadari hal itu dan terlindung oleh pusaka kotang Kyai Nogo Bumi yang memiliki tuah melunturkan pengaruh sihir dan ilmu hitam.


Dengan segera ia merapalkan ayat-ayat suci dalam hatinya untuk menguatkan diri serta mengusir pengaruh ilmu sihir yang kini sedang diterapkan padanya sambil kembali melesat menyerang sisa pasukan bedil dan panah yang sebelumnya saling serang akibat kepanikan mereka sendiri.


Jerit kematian kembali berkumandang di tempat itu, sementara di kediaman Ki Ageng Gandrik terlihat Ni Luh Gandamayit semakin keras merapal mantra ilmu sihirnya dengan tubuh yang semakin terguncang dan peluh yang telah membasahi seluruh tubuhnya, seolah-olah ia sedang bersila di depan kobaran api yang panas.


Seiring dengan robohnya pasukan bedil terakhir, di kediaman kepala desa Sekarjati terdengar jeritan melengking dari bilik Ni Luh Gandamayit.


Serangan ilmu hitam yang menggunakan jin, setan perewangan, dan siluman itu ternyata tidak mampu menembus pertahanan pemuda tersebut dan berbalik menyerang pemiliknya.


Hingga tubuh Ni Luh Gandamayit mengeluarkan darah dari seluruh lubang yang ada di tubuhnya, kulitnya mengeriput mengembalikan sosok mudanya kembali ke usia yang sebenarnya, lalu roboh dengan mata mendelik melotot dan lidah terjulur. Bau busuk samar-samar bercampur dengan bau kemenyan segera menyebar di tempat itu.


Di tengah pertempuran, Warok Banteng Ireng dengan segera menyerang pemuda tersebut dibantu oleh Datuk Kumbang merangsek mengeroyok, sementara sisa pasukan yang menyertai mereka telah kabur melarikan diri ketakutan melihat hampir seluruh rekan-rekannya tewas mengenaskan diterjang amukan pemuda perkasa layaknya seekor garuda menyambar-nyambar menghabisi kawanan kelinci.


Serangan tombak bermata tiga dan senjata milik Datuk Kumbang terdengar mengeluarkan kesiuran angin di setiap serangan mereka yang bertubi-tubi menandakan pengerahan tenaga dalam yang tinggi.


Datuk Kumbang merasa takjub dengan kesaktian pemuda di hadapannya hingga ia merasa harus mengeluarkan senjatanya yang bernama Sepasang Kerambit Bara, sejenis senjata untuk pertarungan jarak pendek yang mirip badik, hanya cara saja penggunaanya berbeda, sehingga mirip cakar harimau.


Baik Warok Banteng Ireng maupun Datuk Kumbang telah mengerahkan hampir seluruh tenaga dalamnya pada setiap serangan dan jurus-jurus pertahanan mereka.


Tiga bayangan saling berkelebat mencari kelemahan lawannya masing-masing.


Dalam beberapa saat, Danang menyadari bahwa Warok Banteng Ireng memiliki kekuatan luar dan tenaga dalam yang besar tetapi agak lebih lambat dibandingkan dengan Datuk Kumbang.


Memanfaatkan hal itu, Danang lebih seeing merangsek menyerang Warok Banteng Ireng yang sedikit lebih lambat, namun walaupun beberapa kali terjajar mundur, Warok Banteng Ireng selalu tertolong oleh kecepatan Datuk Kumbang yang memotong arah serangan pemuda tersebut


Ratusan jurus mereka saling serang dan elak tanpa terlihat tanda-tanda pertarungan akan segera berakhir.


Danang yang masih mengerahkan ajian Gelap Ngampar berhasil membuat kedua lawannya terdesak hebat akibat pancaran panas yang dihasilkan dari tubuhnya, sehingga membuat kedua lawannya harus mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk menahan hawa panas serta tidak berani bertindak secara gegabah.


“Datuk, jika seperti ini terus kita tidak akan menang melawan cecunguk sialan ini. Bahkan hingga saat ini ia masih belum mengeluarkan senjata dan mengandalkan tangan kosong untuk menghadapi kita. Mari kita kerahkan ilmu pamungkas kita.”seru Warok Banteng Ireng pada Datuk Kumbang.


“Mari, kita keluarkan ilmu pamungkas kita.”seru Datuk Kumbang seraya melompat mundur sejauh lima tombak. Kemudian ia merapal ajian Senggoro Macan Kumbang yang membuat kedua tangannya memancarkan semburat warna merah darah, serta dari sela-sela bibirnya keluar taring layaknya seekor harimau kumbang yang terbuat dari bara api.


Sementara Warok Banteng Ireng melompat mudur dan merapal ajian pamungkasnya, ajian Penatasan, yang mampu menghancurkan benda-benda yang tersentuh olehnya.


Melihat itu, Danang dengan tetap mempertahankan ajian Gelap Ngampar, diam-diam merapalkan juga ajian Tameng Waja, dan mengempos tenaga dalamnya untuk berjaga-jaga dari luka dalam yang mungkin saja bisa di deritanya, mengingat ia akan beradu kesaktian dengan dua orang tokoh pendekar sakti sekaligus.


“Hiaaaat...Ajian Penatasan!” Seru Warok Banteng Ireng seraya melesat menyerang pemuda di hadapannya.


Bukannya membantu Warok Banteng Ireng, Datuk Kumbang malah mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan melesat meninggalkan tempat itu kearah kediaman kepala desa sambil berseru, “Maaf temanku, aku belum berminat menghadap malaikat pencabut nyawa. Selamat tinggal, semoga kau selamat.”serunya sambil melesat pergi.


Melihat itu, Warok Banteng Ireng mengutuk Datuk Kumbang dalam hati, namun sudah tak sempat baginya untuk menarik serangannya yang dilambari ajian Penatasan.

__ADS_1


Walaupun agak kaget dengan sikap Datuk Kumbang, Danang yang sejak tadi telah bersiap, kini dengan segera memusatkan seluruh perhatian dan kekuatan ajian Gelap Ngamparnya pada Warok Banteng Ireng.


“Heaaaah....Ajian Gelap Ngampar!”serunya menyambut serangan ajian Penatasan yang dikerahkan oleh Warok Banteng Ireng.


“Bledaaaar...”ledakan tak kasat mata terjadi akibat benturan dua ajian sakti yang menggetarkan jagad persilatan tanah Jawa.


Terlihat Warok Banteng Ireng melenguh dan terlempar sejauh hampir sepuluh tombak sambil memuntahkan darah segar dari mulutnya. Terlihat darah segar juga mengalir dari kedua mata, hidung, dan telinganya.


Ketika mendarat di tanah, sosok Warok Banteng Ireng bergulingan ke belakang sejauh tiga tombak, lalu sosoknya hangus dan diam tertelungkup.


Nyawanya dicabut oleh malaikat maut tepat ketika dua pukulan yang dilambari oleh ajian sakti tersebut saling bertumbukan.


Sementara Danang terjajar hingga satu tombak ke belakang namun maaih tetap berdiri.


Walaupun mampu untuk tetap berdiri, tak ayal tubuhnya terasa bergetar, aliran darah tubuhnya tak terkendali. Dengan segera ia duduk bersila mengatur tenaga dalam dan peredaran darahnya agar tidak mengalami luka dalam.


Hanya dalam waktu beberapa saat ia membuka kedua matanya, yang menyiratkan tubuhnya telah kembali seperti sedia kala.


Lalu pemuda gagah itu segera berdiri dan melesat mengerahkan ajian Bayu Bajra untuk mengejar kearah Datuk Kumbang terlihat pergi.


Setelah beberapa saat mengejar, ia mendengar bentakan-bentakan yang terasa tak begitu jauh darinya.


Setibanya di tempat itu terlihat Datuk Kumbang sedang bertarung dengan seorang pemuda yang kira-kira berumur dua puluh tahun dengan hebatnya. Mayat beberapa prajurit yang tadi melarikan diri juga terlihat berserakan di sekitar itu.


Merasa tak pantas untuk bergabung dan mengeroyok Datuk Kumbang, ia hanya berdiri memperhatikan pertarungan itu dari satu sudut berjarak sekitar lima belas tombak sambil mendekap kedua tangannya di depan dada.


Datuk Kumbang yang sedang mempersiapkan ajian andalannya, yaitu Ajian Senggoro Macan Kumbang menyadari kehadiran Danang dan membuat perhatian pada lawannya terpecah, namun tak ayal lawannya telah melesat menerjang dengan ajian andalannya pula, Ajian Rog Rog Asem, sebuah ajian pukulan dahsyat yang konon mampu menumbangkan dan menghancurkan sebuah pohon asem berukuran besar sekalipun dalam sekali pukul.


“Haaaah....Ajian Rog Rog Asem!”seru pemuda berpakaian serba hitam tersebut sambil menerjang Datuk Kumbang.


“Blaaar...”kedua ajian tersebut saling beradu bertumbukan. Sosok Datuk Kumbang mencelat sejauh lima tombak dengan seisi jeroan dan tulang-tulang yang hancur.


Nyawanya mencelat saat itu juga.


Sedangkan sosok pemuda berpakaian serba hitam tersebut terjajar mundur lima langkah, lalu jatuh terduduk dengan darah mengalir dari sela-sela bibirnya dengan seluruh tubuh yang terasa panas.


Segera ia bersila mengerahkan tenaga dalam untuk menyelaraskan prredaran darah untuk mengobati luka dalamnya.


Danang hanya terdiam di tempatnya melihat hal tersebut, karena ia masih merasa was-was akan sosok berpakaian serba hitam di depannya.


Setelah beberapa lama, sosok berpakaian serba hitam itu membuka kedua matanya dan memuntahkan darah hitam, menandakan luka dalam dan penyumbatan yang terjadi pada pembuluh darahnya akibat benturan dua ajian mading-masing telah teratasi.


“Sugeng wengi kisanak, maafkan aku tidak turut membantu pertarunganmu karena menurutku mengeroyok lawan bukanlah tindakan yang ksatria.”ucap Danang sambil tersenyum pada sosok di hadapannya.


“Sugeng wengi kisanak. Tak mengapa, toh pada akhirnya segala puji kehadirat Gusti Allah Yang Maha Agung, aku masih selamat dari pertarungan itu.”ucap sosok tersebut sambil tersenyum pula.

__ADS_1


Danang berjalan perlahan mendekati sosok berpakaian serba hitam yang masih duduk bersila itu seraya memulai percapakan,”Nyuwun sewu jika tidak keberatan, siapakah sebenarnya kisanak ini? Mengapa sampai terlibat pertarungan dengan orang itu?”tanya Danang sambil menunjuk jasad Datuk Kumbang yang terbujur kaku.


Sambil tersenyum, sosok itu berkata, ”Kisanak, tidakkah kau memberiku waktu untuk beristirahat barang sejenak? Biarkanlah aku sejenak melemaskan otot-ototku setelah melewati pertarungan tadi, sabarlah...aku akan menjawab pertanyaanmu sebentar lagi. Yang pasti aku bukanlah musuhmu.”jawab sosok itu sambil berebahkan dirinya di rerumputan yang diterpa cahaya bulan...


__ADS_2