Kitab Manunggaling Semesta Jagad

Kitab Manunggaling Semesta Jagad
BAB 24, MIMPI BURUK YANG MENJADI KENYATAAN


__ADS_3

Di kediaman kepala desa Sekarjati, Ki Ageng Gandrik belum menyadari keadaan dikarenakan bilik tidurnya terletak jauh dari bilik para pengawal bayarannya.


Ia masih menunggu kabar dan menyangka semuanya dalam keadaan baik-baik saja sesuai dengan rencananya. Apalagi cuaca malam itu cukup dingin ditambah oleh turunnya kabut yang menjadikan dirinya dan para pasukan peronda menjadi malas dan memilih beringsut menarik selimut.


Terlihat hanya ada beberapa pasukan jaga yang masih tetap melakukan ronda keliling kediaman kepala desa Sekarjati.


Danang telah yang mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih ringkas serta mengenakan kain penutup wajah bergerak melesat mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya menuju sisi barat kediaman kepala desa, sedangkan Joyodipuro yang kini juga telah mengenakan kain penutup wajah melesat kearah sisi timur kediaman kepala desa Sekarjati.


Menggunakan isyarat dengan menirukan suara burung kedasih, mereka berdua saling bersahut-sahutan untuk saling memberitahukan keadaan dan letak mereka berada saat ini.


Di sisi barat, Danang yang kini berada di wilayah bilik para pendekar bayaran samar-samar mencium bau busuk bercampur bau kemenyan dari bilik yang terletak dibawahnya, sehingga memutuskan melompat turun untuk menyelidiki asal bau busuk yang bercampur dengan bau kemenyan tersebut.


Dengan mengendap-endap, ia akhirnya menemukan sumber dimana bau busuk itu, yang ternyata berasal dari dalam ruangan di hadapannya.


Perlahan ia membuka pintu di hadapannya dan mengendap masuk kedalam ruangan itu.


Setibanya di dalam ruangan, ia terkejut melihat satu sosok mayat wanita tua dengan darah di seluruh tubuhnya terbujur kaku dengan mata melotot dan lidah terjulur keluar dengan kemenyan yang masih terbakar di hadapannya serta sejumlah sesaji.


“Menurut perkiraanku, mayat ini adalah sosok pendekar wanita ahli sihir yang diceritakan oleh kakang Warsono sebelumnya."


"Melihat keadaan tubuhnya yang tidak sesuai dengan keterangan yang kudapat, mungkin ia memiliki ilmu yang mampu membuatnya terlihat muda, dan menjelang kematiannya tampaknya ilmu itu luntur dan berbalik menyerangnya.”pikir Danang yang kemudian memutuskan keluar dari ruangan itu dan kembali melesat kearah timur menyusul Joyodipuro.


“Kakang, aku menemukan satu sosok mayat dengan keadaan mengenaskan yang tampaknya adalah pendekar bayaran terakhir milik kepala desa di sisi barat.”bisik Danang setelah berhasil menemukan Joyodipuro kemudian.


“Baguslah jika demikian dimas. Berarti sisa kekuatan desa Sekarjati hanya tinggal sekitar dua ratusan prajurit yang tampaknya sebagian besar masih tertidur lelap.”bisik Joyodipuro.

__ADS_1


“Menurutku sebaiknya kita bergerak menyerang para prajurit yang masih tertidur itu secara mendadak dan bersamaan dengan cepat, sehingga diharapkan akan mampu mengurangi jumlah lawan dalam jumlah banyak dan cepat.”usul Danang.


“Aku setuju dimas, tunggulah, aku akan melumpuhkan beberapa prajurit yang sedang berjaga itu sebentar, lalu kita bergerak dengan cepat dan bersama-sama menggebrak bilik-bilik prajurit yang sedang tidur.”ucap Joyodipuro yang lalu melesat melumpuhkan beberapa prajurit yang sedang berjaga.


Hanya dalam waktu sepeminuman teh, seluruh prajurit yang berjaga telah dilumpuhkan oleh Joyodipuro, yang lantas membunyikan isyarat burung kedasih sebagai tanda bahwa dirinya tengah bersiap melakukan serangan mendadak.


Danang yang mendengar isyarat itu lantas merapal ajian Bayu Bajra, kemudian melesat bagaikan mengendarai angin kearah bilik para prajurit desa Sekarjati, bersamaan dengan Joyodipuro yang juga melesat menyerang bilik para prajurit seraya mengerahkan ajian Rog Rog Asem miliknya.


“Heaaaah....Bayu Bajra!”ucap Danang mengerahkan ajiannya yang membuat bilik-bilik para prajurit serta sebagian dari mereka terhempas oleh angin topan yang ditimbulkan oleh ajian tersebut.


Joyodipuro bergerak cepat menyambut para prajurit sisanya dengan menghantamkan pukulan-pukulan yang dilambari ajian Rog Rog Asem miliknya, yang mengakibatkan puluhan prajurit yang tidak dalam keadaan bersiap itu tewas seketika.


Keduanya begerak dengan sangat cepat dan tanpa henti mengobrak-abrik bilik prajurit desa Sekarjati yang tidak siap dengan serangan mendadak tersebut.


“Arrrghhh...”teriakan-teriakan kematian para prajurit desa Sekarjati bergaung memecahkan keheningan pagi buta dimana matahari baru saja menampakkan semburat merah di ufuk timur.


Akibat gebrakan mereka berdua, dengan cepat kepanikan menyebar di seantero kediaman Ki Ageng Gandrik, yang mengagetkan kepala desa, dan memutuskan keluar dari bilik kamarnya menuju bilik keprajuritan seraya menenteng pedang pusaka Kyai Jatayu yang telah diloloskan dari warangkanya.


Pedang Kyai Jatayu adalah sebuah pedang pusaka yang dulunya adalah milik Ki Ageng Sekarjati, romo kandung Danang yang telah dikhianati dan dibunuhnya di masa silam.


Ia keluar dari biliknya sambil berteriak teriak memanggil para pendekar bayarannya.


“Warok Banteng Ireng, Datuk Kumbang. Nyai! Dimana kalian?”seru Kyai Ageng Gandrik memanggil para pendekar andalannya tersebut.


Setibanya di sisi barat, betapa terkejutnya ia mendapati dua sosok pemuda mengamuk dan telah membuat bilik keprajuritan miliknya telah porak poranda dengan sekitar lebih dari seratus prajuritnya telah meregang nyawa.

__ADS_1


Ki Ageng Gandrik berdiri mematung melihat dua sosok pemuda itu mengamuk menghabisi prajuritnya bagaikan seekor garuda dengan kecepatan dan kegagahannya serta seekor harimau dengan kekuatan dan keperkasaannya sedang berhadapan dengan kawanan kelinci.


“Jangkrik! Warok Banteng Ireng, Datuk Kumbang, Nyai, cepat kemarilah, bantu aku menghabisi dua cecunguk ini!”teriak Ki Ageng Gandrik memanggil para pendekar andalannya.


Melihat Ki Ageng Gandrik telah berada disana, Danang segera melesat seraya berkata pada Joyodipuro, “Kakang, tolong kau urus sisa prajurit-prajurit itu. Aku akan menghadapi Ki Ageng Gandrik.”ujarnya seraya melesat kearah kepala desa Sekarjati.


“Baiklah dimas, serahkan padaku.”jawab Joyodipuro sambil meloloskan senjata cambuk andalannya dan terus mengamuk diantara prajurit-prajurit desa Sekarjati tersebut.


Setibanya di hadapan Ki Ageng Gandrik, Danang yang bersikap melipat kedua tangannya di depan dada sambil tersenyum berkata, “Percuma kau berteriak-teriak memanggil para pendekar bayaran itu kisanak, mereka semua telah berada dalam buntalan arwah yang dibawa oleh malaikat maut.”ujarnya.


“Jangkrik! Siapa kau anak muda, ada urusan apa antara kau denganku hingga kau merusak ketentraman desa ini?”bentak Ki Ageng Gandrik pada sosok pemuda gagah di hadapannya.


“Heh...ketentraman katamu kisanak? Ketentraman yang kau peroleh dengan menculik gadis-gadis seantero tanah Jawa dan menjadikan mereka sebagai budak nafsu di rumah-rumah pelacuran milikmu maksudmu? Atau yang kau maksud adalah ketentraman dengan menindas rakyat yang semakin miskin di desa ini akibat jatuh dalam perangkap perjudian dan hutang?”tanya Danang sinis.


“Ketahuilah kisanak, akulah yang telah membuat rumah-rumah judi milikmu merugi beberapa hari kemarin."ujar Danang.


"Aku adalah putra dari kepala desa Sekarjati yang sebelumnya telah kau khianati dan kau habisi. Hari ini aku menuntut balas atas kematian kedua orangtuaku. Mata balas mata, pati balas pati.”lanjut Danang dingin.


Deg...mendadak jantung Ki Ageng Gandrik seolah berhenti berdetak mendengar itu. Ingatannya kembali pada mimpi buruk yang dialaminya beberapa purnama silam.


“Jangkrik...ternyata mimpi burukku telah bergerak menjadi kenyataan...Tidak! Sebelum nyawaku lepas, aku akan melawan sambil mencari kesempatan untuk kabur dari sini.”pikirnya.


“Nah kuberi kau kesempatan untuk mempertahankan dirimu kisanak. Aku bukan seorang pengecut yang akan mengeroyok lawanku seperti dirimu."ucap pemuda tersebut.


"Kulihat pula kau telah meloloskan pedangmu pertanda kau telah siap untuk pertarungan ini, nah sekarang pasanglah kuda-kudamu kisanak.” tambah Danang pada Ki Ageng Gandrik seraya bersiap memasang kuda-kuda.

__ADS_1


Beberapa saat saling mengamati mencari celah dan kelemahan lawannya, Ki Ageng Gandrik sontak melesat ke depan sambil sekuat tenaga menebaskan pedang pusaka Kyai Jatayu mengincar leher pemuda di depannya.


“Hiaaah...awas leher!”serunya seraya menebas kearah leher pemuda di hadapannya....


__ADS_2