
Setelah beberapa hari membereskan kediaman Kyai Ageng Banyu Urip dan sisa-sisa latih tanding, Danang dipanggil menghadap oleh Kyai Ageng Banyu Urip dan Kyai Surawisesa.
“Kemarilah ngger, duduklah bersama kami.”ucap Kyai Ageng Banyu Urip.
Setelah Danang duduk bersama mereka, Kyai Ageng Banyu Urip melanjutkan, “Kami berdua melihat kau sudah cukup menguasai olah kanuragan dengan sangat baik ngger. Sisanya bisa kau matangkan dalam perjalananmu mengarungi hidup kelak.”
“Kami tidak memberikan bekal ilmu kanuragan lain padamu karena kami merasa apa yang kau dapatkan sudah lebih dari cukup, bahkan kemampuanmu saat ini telah melewati kami beruda ngger.”tambah Kyai Ageng Banyu Urip.
Lalu lanjutnya, “Saat ini tanah Jawa telah rusak baik tatanan adat dan budayanya. Bangsa asing serta cecunguk-cecunguk pengkhianat telah merusaknya sedemikian rupa hingga meresahkan masyarakat.”
“Aku memberikan tugas padamu ngger, untuk setidaknya mengurangi rusaknya tatanan budaya di Tanah Jawa ini.”
“Pertama, pergilah ke Desa Sekarjati. Disana saat ini telah menjamur tempat perjudian dan pelacuran. Banyak gadis-gadis seantero tanah Jawa yang diculik dan dipaksa menjadi budak nafsu disana.”
“Banyak pula petani dan pedagang yang jadi melarat karena terperosok oleh perjudian dan pelacuran tersebut.”
“Bebaskanlah mereka dari belenggu tersebut ngger.”ucap Kyai Ageng Banyu Urip.
“Ajaklah dedengkotnya untuk bertobat, namun itu jelas tidak akan mudah ngger. Jika ia menolak, kau kupersilahkan mengambil tindakan yang kau anggap perlu dan pantas.”ujar Kyai Ageng Banyu Urip.
“Kedua, saat ini ada dua pria gagah dari trah Mataram, yaitu Raden Mas Sudjana yang bergelar Pangeran Mangkubumi dan Raden Said yang bergelar Pangeran Samber Nyowo yang sedang melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan dan berupaya mengembalikan keseimbangan di tanah Jawa ini. Bantulah mereka dengan kemampuanmu ngger.”ucap Kyai Ageng Banyu Urip.
“Ketiga, aku menugaskanmu menelusuri jejak kakangmu Bagas. Cari dia, bawa dia kembali jika memang dia masih hidup, dan temukan kuburnya jika memang ia sudah tiada.”titah Kyai Ageng Banyu Urip.
“Firasatku mengatakan kakangmu masih hidup, hanya saja aku tidak mengetahui dimana ia berada saat ini.”tambahnya.
“Sebelum nakmas berangkat, menurutku ada baiknya nakmas melakukan perenungan selama empat puluh hari, agar raga dan batinmu siap dalam menghadapi tantangan kelak nakmas.”tambah Kyai Surawisesa.
“Singgih Kanjeng Romo dan Kanjeng Uwak, hamba juga merasa perlu melakukan pencarian pencerahan mengenai diri dan kitab Manunggaling Semesta Jagad, sebelum melakukan tugas dari Kanjeng Romo.”ucap Danang.
Keesokannya Danang pun kembali melakukan semadhi selama empat puluh hari untuk mencari pencerahan tentang diri serta isi Kitab Manunggaling Semesta Jagad.
Ketujuh cakra dalam tubuhnya berputar cepat, menghasilkan hawa sakti dan makin mempertajam seluruh indera miliknya, hingga terasa olehnya ia mampu mendengar gesekan angin dan dedaunan di kejauhan.
Kulitnya mampu merasakan udara di sekelilingnya. Mampu merasakan udara menyatu dengan darahnya dan bergerak mengalir melalui pembuluh darahnya.
Danang juga merasakan pori-pori kulitnya mampu menghirup dan menyerap unsur alam di sekitarnya, yang kemudian dapat diolahnya menjadi tenaga dalam cakranya.
Hingga pada malam ke empat puluh, Danang mendengar bisikan di telinganya, “Jangan kau resahkan segala sesuatunya. Bertawakal dan berpegang eratlah pada Gusti Yang Maha Agung. Jalani saja semua sesuai kodrat Nya. Tidak ada daya dan kekuatan apapun melainkan dari Gusti Allah Yang Maha Agung”ucap suara tersebut di telinganya.
Menjelang fajar, ia menyudahi semadhinya dan melaksanakan kewajibannya, lalu bergegas menyiapkan santap dahar bagi Kyai Ageng Banyu Urip dan Kyai Surawisesa.
Setelah Kyai Ageng Banyu Urip dan Kyai Surawisesa selesai melakukan kewajiban dan memanjatkan puja dan puji syukur kehadirat Yang Maha Kuasa, mereka bersantap bersama.
Selesai bersantap, Kyai Ageng Banyu Urip berkata, “Berangkatlah ngger, ini bawalah sebagai bekalmu. Pesanku, ingat-ingatlah selalu semua yang telah kuajarkan sejak kau kecil. Juga ingatlah semua petuah uwakmu.”sambil menyerahkan buntalan berisi pakaian dan tiga kantong kain berisi uang.
Setelah memeriksa, Danang terkejut bahwa kantong uang itu berisi kepingan uang perunggu, perak, dan uang emas yang menurut ukurannya terlalu banyak hingga ia merasa sangat sungkan.
__ADS_1
“Nyuwun pangapunten Kanjeng Romo, rasanya ini terlalu banyak. Hamba merasa lebih baik Kanjeng Romo saja yang menyimpan uang ini.”ucap Danang.
“Hahahaha...ngger, romomu ini sudah tua, sudah tidak kepingin apa-apa lagi. Bawalah untuk bekalmu. Romo hanya ingin kau menjadi insan yang berguna bagi bangsamu ngger.”ucap Kyai Ageng Banyu Urip.
“Ini bawalah juga untuk bekalmu nakmas.”ujar Kyai Surawisesa sambil menyerahkan kantong berisi uang emas dan batu-batu permata.
“Nyuwun pangapunten Kanjeng Uwak, lantas bagaimana nanti jika uwak membutuhkan dalam perjalanan kembali ke Mega Mendung?”ucap Danang.
“Uwakmu ini masih memiliki persediaan yang cukup nakmas, lagipula tugas mengelola padepokan di Mega Mendung telah kuserahkan pada anakku.”ujarnya.
“Nanti suatu saat, datanglah berkunjung kesana menemui sepupumu nakmas.”tambah Kyai Surawisesa.
“Nah berangkatlah ngger, mumpung hari masih pagi. Janganlah kau lupakan pesan-pesan kami ngger.”perintah Kyai Ageng Banyu Urip.
“Sendiko Kanjeng Romo dan Kanjeng Uwak, hamba akan berusaha mengingat dan mematuhi petuah Kanjeng Romo dan Kanjeng Uwak.”ucap Danang sambil bersimpuh menghaturkan sembah bakti.
Lalu setelah menyelipkan kitab dan senjata pusakanya di balik Kotang Kyai Nogo Bumi, Danang bergegas berangkat meninggalkan kediaman Kyai Ageng Banyu Urip menuju Desa Sekarjati yang memakan waktu kira-kira dua hari berjalan kaki.
Danang memilih melakukan perjalanan dengan tidak terburu-buru sehingga memiliki waktu untuk menikmati alam dan memikirkan pencerahannya.
Menjelang matahari terbenam, Danang beristirahat di hutan setelah berburu ayam hutan lalu membakarnya untuk santapan malamnya.
Ketika sedang bersantap, tiba-tiba terdengar kesiuran angin mengarah pada dirinya.
Dengan cepat Danang mengelak dari serangan yang ternyata adalah senjata rahasia berupa pisau kecil yag menancap dalam pada pohon di belakangnya.
Lalu keluar tiga sosok berpakaian hitam dengan kain menutupi wajah dari hidung kebawah dengan membawa senjata tajam berupa golok, pedang dan trisula.
“Serahkan seluruh barang dan hartamu anak muda, dan kami akan berbaik hati membiarkanmu melewati hutan ini.”ucap salah satu sosok yang ternyata adalah perampok.
“Maaf kisanak, apa yang kubawa adalah amanat dari orangtuaku, dan aku tidak mungkin menyerahkannya pada kalian.”balas Danang.
“Berarti kau lebih memilih mati anak muda. Serang dia!” ujar satu sosok yang tampaknya adalah pemimpin gerombolan perampok itu.
Kedua rekannya langsung melompat menyerang dengan menyabetkan masing-masing senjatanya. Sosok ketiga lalu menyusul menyerang menyabetkan goloknya kearah kepala Danang.
Dengan mudah Danang menghindar kebelakang lalu membalas serangan dengan jurus harimau yang ganas, pukulannya menimbulkan kesiuran angin yang mengagetkan ketiga perampok tersebut, walaupun berhasil menghindar.
“Hati-hati kakang, nampaknya anak ini cukup lihai.”ujar salah satu perampok tersebut.
Mereka kembali menyarang secara bersamaan, yang dengan mudah dielakkan oleh Danang.
Setelah dua puluh jurus akhirnya Danang memutuskan untuk membiarkan senjata mereka menebas tubuhnya.
“Hyaaaat...trang..”terkejut ketiga perampok itu mendapati senjata mereka patah menjadi dua bagian. Rupanya diam-diam Danang merapal ajian Tameng Waja dan membiarkan mereka membacok tubuhnya yang memakai Kotang Kyai Nogo Bumi.
Di tengah keterkejutan itu, dengan cepat Danang melancarkan totokan pada ketiga rampok yang menyebabkan tubuh mereka kaku dan tidak dapat digerakkan.
__ADS_1
“Kalian bertiga diam dan baik baiklah dulu disitu, aku akan menyelesaikan santap malamku terlebih dulu.”ujar Danang lalu melanjutkan santapnya.
Setelah menyelesaikan santapnya, Danang menghampiri mereka dan bertanya,”Ki sanak, kenapa kalian melakukan ini? Apa kalian sudah tidak mampu untuk melakukan pekerjaan lain?”tanya Danang.
“Ampun Tuan, sesungguhnya kami terpaksa melakukan ini demi memenuhi kebutuhan pangan keluarga kami.”jawab salah satu perampok itu.
“Apa pekerjaan kalian sebelumnya Kisanak?”tanya Danang.
“Kami sebelumnya adalah petani dan pedagang di desa Sekarjati Tuan. Kami bangkrut, lahan sawah dan kebun kami diambil paksa oleh kepala desa Sekarjati, hingga kami mencoba peruntngan dengan berjudi walau akhirnya kalah, dan terpaksa kami merampok Tuan.”ujar salah satu perampok.
“Kalian tidak berbohong?”tanya Danang.
“Samber geledek jika kami berbohong Tuan. Sungguh keadaan yang memaksa kami melakukan ini, demi agar keluarga kami bisa makan Tuan.”ujar kepala perampok tersebut.
“Baiklah ini kuberikan sedikit uang untuk kalian membeli makanan bagi keluarga kalian.”ucap Danang memberikan setengah isi kantong uang perunggu setelah sebelumnya melepaskan totokan pada mereka.
“Jangan berpikir macam-macam Ki sanak, pukulan dan senjata kalian sudah terbukti tidak mampu melukaiku.”ancam Danang.
“Tidak Tuan, kami tidak berani. Kami berterima kasih atas pemberian Tuan. Anak dan istri kami bisa makan malam ini hingga beberapa minggu ke depan dari pemberian Tuan.”ucap perampok itu.
“Duduklah dulu Ki sanak, aku membutuhkan beberapa keterangan dari kalian mengenai Desa Sekarjati yang kalian sebut tadi.”ucap Danang sambil bergerak duduk diantara mereka.
“Keterangan macam apa yang Tuan inginkan?”ucap salah satu sosok yang tampaknya menjadi kepala kawanan perampok.
“Ceritakanlah mengenai desa Sekarjati Ki sanak, mengapa tidak ada tindakan hukum dari yang berwenang? Mengapa penduduk tidak melawan jika memang kepala desa Sekarjati melakukan kesewenang-wenangan?”tanya Danang.
“Hukum sudah dibeli olehnya Tuan. Kepala desa Sekarjati mendapat perlindungan dari bangsa berambut jagung dan oknum pembesar Keraton.”
“Di samping itu dia membentuk sekitar tiga ratusan pasukan bersenjatakan bedil, tombak, dan panah, serta membayar sejumlah pendekar sakti untuk melindunginya sekaligus menjalankan pemungutan pajak yang tinggi Tuan.”tambahnya.
“Bagi yang tidak mampu dan membutuhkan modal akan diberikan jebakan berupa pinjaman dengan bunga mencekik, dan jika tidak sanggup membayar maka rumah dan lahan kami akan disita Tuan.”tambah seorang lainnya.
“Anak gadis di desa yang terlihat cantik juga diambil paksa dan dijadikan budak nafsu di tempat-tempat pelacuran yang didirikannya Tuan.”ucap seorang lagi.
“Hmmm...apakah Ki sanak mengetahui siapa saja pendekar sakti yang menjadi pelindungnya?”tanya Danang.
“Yang kami tahu ada Warok Banteng Ireng, Munding Kusuma, Datuk Kumbang, seorang biksu pendekar dari negeri Tartar, serta seorang wanita dari tanah Dewata Tuan.”ujarnya.
“Apakah mereka sesakti seperti yang Ki sanak ceritakan?”tanya Danang lagi.
“Mengenai kesaktian mereka, terus terang kami tidak mengetahui dengan jelas Tuan, yang kami tahu, masing-masing dari mereka sanggup membunuh dengan sekali pukul, serta wanita itu menurut kabar adalah tukang sihir dan racun Tuan.”ucap pemimpin perampok itu.
“Baiklah Ki sanak, sekarang kalian pulanglah. Gunakan uang itu untuk membeli makan bagi keluarga kalian, dan sisakan sebagian untuk modal kalian, entah berdagang atau kembali bertani terserah kalian, asal jangan lagi kalian lakukan pekerjaan ini.”ucap Danang.
“Terima kasih Tuan, kami berjanji tidak akan mengulangi perbuatan kami ini dan semoga Gusti Allah membalas kebaikan Tuan.”ucap para perampok itu sambil menghaturkan hormat pada Danang lalu beranjak pergi.
“Hmmm...rasanya aku harus menyusun siasat, tapi sebaiknya aku masuk dan melihat dulu keadaan desa Sekarjati.”batin Danang.
__ADS_1