Kitab Manunggaling Semesta Jagad

Kitab Manunggaling Semesta Jagad
BAB 44, PETUNJUK TENTANG BAGAS LAKSONO


__ADS_3

“Selama satu purnama terakhir ini aku menjalankan tirakat untuk mencari tahu tentang keadaan kakangmu, dan semenjak satu pekan belakangan ini aku selalu mengalami mimpi yang sama tentang keadaan kakangmu Bagas ngger.”ucap Kyai Ageng Banyu Urip sambil menghela nafasnya.


“Dalam mimpiku, aku melihat Adipati Yudonegoro, yang juga adalah sahabatku ketika berguru pada Kyai Usman Singodipuro di Demak sedang dalam keadaan terancam jiwanya, dan salah satu orang yang mengancam jiwa Adipati Yudonegoro tersebut adalah kakangmu.”ujar Kyai Ageng Banyu Urip.


“Kakangmu terlihat mengenakan pakaian kebesaran dengan samir senopaten melekat di dadanya, namun hawa yang dimilikinya terasa begitu gelap dan keji dalam mimpiku.”ucap Kyai Ageng Banyu Urip.


“Dalam mimpiku juga aku melihat kakangmu telah tersesat begitu jauh, melakukan pemujaan pada Batari Durga, hingga melakukan pembantaian terhadap bayi-bayi demi syarat tumbal persembahannya.”lanjut Kyai Ageng Banyu Urip.


"Hmm..persis seperti keterangan yang disampaikan padaku oleh Gusti Pangeran Mangkubumi mengenai Kanjeng Adipati Yudonegoro yang sedang terancam jiwanya."batin Danang.


“Apakah berarti kakang Bagas saat ini berada di Kadipaten Banyumas kanjeng romo?”tanya Danang pada Kyai Ageng Banyu Urip.


“Aku tidak tahu keadaan yang sesungguhnya ngger, namun menilik mimpiku yang terjadi selama sepekan berturut-turut, kurasa tidak ada salahnya kau menyelidikinya kelak.”ucap Kyai Ageng Banyu Urip.


“Singgih kanjeng romo, hamba akan menyelidikinya. Kebetulan kadipaten Banyumas juga termasuk sebagai wilayah yang sedang kami selidiki lewat beberapa telik sandi yang telah dikirimkan kesana.”ujar Danang.


“Jika petunjuk yang kudapatkan ini benar, ajaklah kakangmu kembali ke jalan yang seharusnya, karena sesungguhnya aku masih mempunyai pengharapan bahwa kakangmu akan insyaf dan meninggalkan ketamakannya."ucap Kyai Ageng Banyu Urip.


"Namun jika nafsu keserakahan sudah terlalu memenuhi hati dan pikirannya, kau kuberi amanat dan keleluasaan untuk mengambil tindakan yang dianggap perlu ngger.”ujar Kyai Ageng Banyu Urip lagi pada anak angkatnya itu.


“Singgih romo, hamba akan berusaha sebaik-baiknya. Hamba pun masih berharap kakang Bagas tidak terlampau jauh tersesat.”jawab Danang.


“Lantas bagaimana rencanamu mengenai kadipaten ini ngger?”tanya Kyai Ageng Banyu Urip.


“Sesungguhnya selain mengunjungi romo untuk sowan dan meminta restu, hamba juga berharap romo memiliki beberapa keterangan mengenai kadipaten ini, karena seingatku aku telah meninggalkan daerah ini dalam waktu yang cukup lama.”jawab Danang pada romo angkatnya tersebut.

__ADS_1


“Setahuku, kanjeng Adipati Wirodiningrat termasuk orang yang menentang campur tangan VOC dan berpihak pada Pangeran Mangkubumi. Namun masalah terbesarnya terletak pada desa Sekarjati yang memiliki pengaruh kuat karena didukung oleh pasukan yang kuat serta dilindungi oleh VOC ngger.”ucap Kyai Ageng Banyu Urip.


“Kira-kira dua belas purnama yang lalu, setelah mengangkat kepala desa yang baru, mereka kembali membangun rumah-rumah perjudian dan pelacuran, bahkan lebih besar daripada sebelumnya."terang Kyai Ageng Banyu Urip.


"Ditambah lagi saat ini menurut kabar yang kusirap, mereka memiliki dua ratus pasukan bedil, ditambah dua ratus pasukan berpedang dan tombak, serta satu orang pendekar golongan hitam berasal dari tanah dewata yang sakti mandraguna.”tambah Kyai Ageng Banyu Urip.


“Penculikan gadis-gadis di seantero tanah Jawa kembali berulang, bahkan mereka kali ini menyediakan gadis-gadis dari negeri Tartar sebagai pekerja dan budak nafsu disana. Ditambah lagi kemiskinan penduduk semakin merata akibat perangkap hutang dan judi ngger.”lanjut Kyai Ageng Banyu Urip.


“Begitukah romo? Siapakah kepala desa yang baru diangkat tersebut?”tanya Danang pada Kyai Ageng Banyu Urip.


“Menurut keterangan yang kusirap, ia bernama Warsono. Semenjak diangkat menjadi kepala desa Sekarjati, ia menggelari dirinya sebagai Ki Ageng Warso Jati.”ucap Kyai Ageng Banyu Urip pada anak angkatnya tersebut.


“Ssshhh...Warsono, si pengkhianat...”desis Danang dengan geram...


Setelah kapitein William beserta pasukannya mengumumkan Warsono sebagai kepala desa yang baru, menggantikan Ki Ageng Gandrik yang tewas dalam pertempuran melawan Danang Hadikusumo, dengan uang yang dimilikinya yang berasal dari hadiah atas pemberian keterangan pada Ki Ageng Gandrik, ditambah pemungutan paksa uang pemberian Danang pada penduduk desa, Warsono dengan giat membangun kembali rumah-rumah perjudian dan pelacuran di desa Sekarjati.


Ia menghubungi jaringan pemasok gadis-gadis seantero tanah Jawa untuk kembali mencuik dan memasok gadis-gadis cantik untuk dipaksanya menjadi budak pemuas nafsu di desa tersebut. Dukungan juga diperolehnya dari majoor Dedrich Van Osch yang melakukan jual beli senjata dengannya, serta kapitein William dan luitenant Schmit yang membuka rumah pelacuran dengan gadis-gadis dari negeri Tartar sebagai budak pemuas nafsu.


Pasukan dalam jumlah yang cukup besar dibentuk oleh Warsono yang kini menggelari dirinya sebagai Ki Ageng Warso Jati, yaitu sebanyak empat ratus orang pasukan, dua ratus pasukan bedil, seratus pasukan tombak, dan seratus pasukan dengan menggunakan pedang.


Ketika dalam kesibukannya membangun kembali rumah pelacuran dan perjudian serta membentuk pasukan, tak disangka di desa Sekarjati datang seorang pendekar golongan hitam yang berasal dari tanah dewata bernama Komang Wisesa, yang merupakan guru dari Ni Luh Gandamayit yang tanpa sengaja telah tewas akbat serangan ilmu hitam pada Danang yang berbalik menyerang dirinya sendiri.


Dalam tapa bratanya, Komang Wisesa mendapat seruan panggilan dari muridnya, yang disampaikan lewat jin dan setan perewangan peliharaannya.


Mengetahui bahwa murid terkasihnya telah tewas, Komang Wisesa bergegas meninggalkan tanah dewata dengan perasaan amarah, sedih, dan nelangsa untuk membalaskan dendam kesumatnya pada orang yang dianggap telah membunuh muridnya itu.

__ADS_1


Ia tidak saja merasa kehilangan Ni Luh Gandamayit sebagai murid, namun juga ia merasa telah kehilangan Ni Luh Gandamayit sebagai seorang kekasih dan istri.


Selama Ni Luh Gandamayit berguru pada Komang Wisesa, mereka memang melakukan hubungan terlarang, yang seharusnya hanya boleh dilakukan oleh pasangan laki-laki dan perempuan yang telah menikah.


Hubungan aneh mereka ternyata tidak saja sampai disitu, masing-masing dari mereka kerap menculik pemuda perjaka atau gadis perawan untuk mereka setubuhi bersama.


Usia Komang Wisesa sesungguhnya telah mencapai seratus tahun, namun kesaktiannya mampu membuat dirinya tampak baru berumur tiga puluh tahun, seperti halnya Ni Luh Gandamayit yang terlihat berumur belasan tahun, padahal sesungguhnya telah berusia delapan puluh tahun.


Komang Wisesa melacak tempat terbunuhnya Ni Luh Gandamayit dengan petunjuk dari jin dan setan perewangan peliharaannya, hingga menjejakkan kakinya di desa Sekarjati.


Hal pertama yang dilakukannya ketika menginjakkan kainya di desa Sekarjati adalah mendatangi kediaman kepala desa yang saat itu telah berganti dari Ki Ageng Gandrik menjadi Ki Ageng Warso Jati.


Komang Wisesa mengamuk di kediaman kepala desa Sekarjati seraya berulang-ulang berseru dengan lantang, “Siapa yang telah berani membunuh muridku? Ayo hadapi aku!”.teriaknya sambil mengamuk menghancurkan gerbang kediaman kepala desa Sekarjati.


Mendengar keributan, pasukan desa Sekarjati segera bergerak mengepung sosok yang mengamuk tersebut dengan tombak dan bedil teracung. Warsono pun keluar dari kediamannya mendengar ribut-ribut tersebut.


Setibanya di depan gerbang, Warsono mendapati pasukannya sedang berhadapan dengan sosok berbaju serba hitam dengan udeng-udeng di kepalanya. Pasukan bedil tanpa basa-basi langsung berbaris dan menembakkan timah panas pada sosok tersebut.


“Door...door...door...beberapa kali terdengar suara bedil menyalak. Dan mereka semua dibuat terperangah ketika melihat sosok berpakaian serba hitam dengan udeng-udeng di kepala tersebut tidak terluka sedikitpun, bahkan tertawa terbahak-bahak.


“Hahahaha...ayo, tembak lagi sepuas kalian, atau kalian hendak mencoba ketajaman tombak dan pedang kalian yang tidak seberapa itu?”ucap sosok tersebut sambil bertolak pinggang menertawakan pasukan desa Sekarjati.


Melihat itu, Warsono yang pada dasarnya memang licik mampu membaca situasi dan segera berseru untuk mencegah sebelum jatuhnya korban di pihaknya.


“Tahaan serangaan... Biar aku bicara terlebih dulu.”serunya...

__ADS_1


__ADS_2