
Kapitein William bergerak menebaskan pedangnya untuk menghalau serangan yang datang, namun serangan tebasan kudi hyang kearah perut yang dilancarkan oleh Handoko tersebut ternyata hanya tipuan, kejap berikutnya Handoko memutar tubuhnya seperti baling-baling dan mengarahkan serangan kudinya kearah leher kapitein William.
Beruntung kapitein William yang pengalaman tempurnya telah terasah selama bertahun-tahun, secara naluri mampu berkelit dengan menarik kepalanya ke belakang, sehingga tebasan yang dilancarkan oleh Handoko hanya mengenai angin kosong.
“Kootzak (keparat), serangannya benar-benar sangat cepat. Hampir saja leherku ditebasnya.”batin kapitein William yang segera kembali bersiap dan menusukkan pedangnya kearah perut lawannya.
Handoko membuang tubuhnya kesamping menghindari tusukan pedang lalu melancarkan tendangan kearah rusuk lawannya yang terbuka, yang ditangkis oleh kapitein William dengan menarik tangannya yang menusuk untuk melindungi rusuknya.
Benturan antara tumit dengan siku terjadi, terdengar suara keluhan tertahan dari mulut kapitein William yang merasakan ngilu pada siku kanannya.
“Verdorie (sial), tendangannya keras sekali. Tanganku sampai ngilu dan sulit untuk digerakkan.”batin kapitein William lalu memaksakan beberapa tebasan dengan pedangnya, walaupun tangan kanannya terasa sangat sakit.
“Ayo keluarkan kemampuanmu bhuto bule. Atau kau sudah ketakutan dan memilih untuk menyerah saja?ujar Handoko memanas-manasi sambil menghindari tebasan-tebasan pedang lawannya.
“Zwarte dwerg (cebol hitam)! Jangan bermimpi ik (aku) akan menyerah! Lebih baik mati daripada menyerah!”seru kapitein William yang terpancing amarahnya mendengar celotehan lawannya.
Ia lalu kembali menyerang Handoko dengan tebasan pedang kearah leher.
Handoko menunduk menghindari tebasan lalu melakukan gerakan sapuan berputar kearah kaki lawannya. Buuk...terkejut kali ini Handoko mendapati lawannya hanya terjajar selangkah dan tidak terpelanting setelah disapu kakinya. “Bhuto bule ini benar-benar memiliki tenaga yang kuat, sesuai dengan tubuhnya yang besar.”batin Handoko.
Kapitein William merasa mendapatkan celah dan menebas lawannya yang masih dalam keadaan terkejut.
Tebasannya benar-benar nyaris mengenai Handoko, jika saja Handoko tidak cepat-cepat menggulingkan tubuhnya kesamping lalu melompat berdiri.
Pertempuran antara keduanya terjadi hingga puluhan jurus saling serang dan elak. Kapitein William mencoba kembali mmemancing amarah lawannya dan berseru,“Hey zwarte dwerg (cebol hitam) rendahan, kalau kowe berani dan jantan, hadapi pedangku, jangan hanya bisa menghindar saja!”seru kapitein William.
“Baik jika itu maumu, silahkan menyerangku dengan tenaga bhuto mu itu.Kupastikan aku tidak akan menghindar.”ujar Handoko sambil bertolak pinggang dan memasang wajah penuh amarah.
Merasa siasat memancing amarahnya berhasil, kapitein William tersenyum sinis dan melakukan tiga tebasan pedang beruntun pada lawannya dengan seluruh kecepatan dan kekuatan yang dimilikinya.
Ia begitu yakin bahwa kali ini serangannya akan berhasil membunuh, atau setidaknya melukai lawannya.
__ADS_1
Handoko sama sekali tidak bergerak menghindari serangan tersebut, tebasan pedang kapitein William dibenturkan dengan kudi hyang miliknya...Traang...traaang...traaang...tiga kali suara denting beradunya pedang kapitein William dan kudi hyang Handoko terdengar.
Pada denting terakhir kapitein William terkejut melihat pedang kebanggaannya yang ditempa dari baja pilihan patah menjadi dua bagian.
Kejap berikutnya ia hanya melihat secarik benda berkilauan melesat kearahnya dengan kecepatan tinggi. Ssst...jlebb...rasa perih dan panas dirasakan oleh kapitein William di bagian lehernya.
Dilihatnya darah mengucur deras dan dirasakan pandangannya kabur menghitam.
Kejap berikutnya sosok tubuh perwira VOC itu terjatuh menggelosor dan berkelojotan untuk beberapa saat lalu nyawanya mencelat keluar dari tubuhnya.
Kapitein William tewas dengan leher tertembus kudi hyang milik Handoko.
Handoko menghela nafas untuk menentramkan hatinya sejenak, biar bagaimanapun mencabut nyawa seseorang selalu menimbulkan rasa tidak menyenangkan di hatinya.
Kemudian ia menatap sekelilingnya, terlihat sebagian besar prajurit desa Sekarjati telah melarikan diri mencari selamat, sebagian lagi tewas dan hanya tersisa sekitar tiga puluh orang yang telah menyerah dan diringkus oleh para prajurit kadipaten.
Di salah satu sudut, terlhat pertarungan antara liutenant Schmit dan Sasongko masih berlangsung seimbang. Keduanya sama-sama saling serang dan elak, entah telah berapa puluh jurus berlangsung.
Liutenant Schmit menggerak-gerakkan pedangnya dengan cara yang aneh, berputar-putar lalu menusuk dan kadang menebas dengan cepat.
Setiap terjadi benturan senjata, terlihat Sasongko beberapa kali terjajar mundur akibat kekuatan yang dimiliki lawannya, untung saja sepasang kudi hyang miliknya bukanlah senjata sembarangan, melainkan dibuat dari logam baja pilihan dan wat gunung, sehingga kekerasan dan ketajamannya tidak bisa dianggap remeh.
Melihat itu, Sumitro dan Handoko melesat kearah Sasongko dan berdiri tegap disamping rekannya. “Hmm...kowe para opstand (pemberontak) pengecut mau mengeroyokku hah?”bentak liutenant Schmit melihat tiga orang tersebut berdiri di hadapannya.
“Tentu tidak, kami bukan bangsa pengecut. Kami hanya ingin menonton kematianmu dari jarak yang lebih dekat saja.”ujar Sumitro memancing amarah bule tersebut.
“Kakang, bule ini memiliki tenaga besar, jangan dilawan dengan kekuatan, gunakan gerak bangau dan ular untuk memanfaatkan tenaga lawan dan menyerang balik.”bisiknya pada Sasongko.
Sasongko mengangguk pelan lalu berkata, “Minggirlah kalian berdua, biarkan aku menyelesaikan tugas untuk mengakhiri hidup bhuto bule ini."ujarnya.
"Walaupun tenaganya besar, tapi sepertinya otaknya kecil, tidak sebanding dengan tenaganya.”ucap Sasongko agak keras agar terdengar oleh musuhnya.
__ADS_1
Liutenant Schmit yang mendengar itu kontan memerah mukanya, amarahnya meluap karena ejekan musuhnya.
Dengan segera ia menantang Sasongko, “Ayo kita lanjutkan pertarungan ini sampai ada salah satu dari kita yang tewas!”serunya.
“Baiklah jika itu maumu, mari kita lanjutkan.”jawab Sasongko tegas setelah kedua rekannya menyingkir dari pertarungan tersebut.
Ia segera memasang kuda-kuda dan bersiap untuk pertarungan selanjutnya.
“Hyaaaat...”Sasongko melesat dengan serangan sabetan kudi hyang di tangan kanan kearah leher lawannya, sementara kudi hyang di tangan kirnya melesat mengincar pinggang musuhnya.
Melihat itu liutenant Schmit mendapat celah kosong di wiayah dada dan perut lawannya dan segera menusukkan pedangnya dengan kuat dan cepat kearah dada Sasongko.
“Dasar bodoh, menyerang dua sisi sekaligus hingga meninggalkan celah kosong ditengah, ma*pus kau sekarang.”batin liutenant Schmit yang merasa sangat yakin pedangnya akan mampu menusuk jantung lawannya dengan pertimbangan jarak pedang yang lebih panjang daripada senjata kudi hyang yang memang digunakan untuk pertarungan karak pendek.
Sekitar tiga jari lagi pedang lawan akan menembus jantungnya, Sasongko menggeser serangannya dan menyambut pedang yang menuju ke dadanya sambil memiringkan tubuhnya.
Akibatnya pedang tersebut meleset dari sasaran dan tertarik oleh gerakan senjata Sasongko yang menyambut dan menggeser arah serangan lawannya.
Kejap berikutnya Sasongko melakukan gerakan berputar kearah belakang lawannya dengan indah seraya menyabetkan kudi hyang di tangan kirinya kearah leher perwira VOC itu.
Craaashhh... senjata kudi hyang miliknya berhasil menyayat leher lawannya dan menimbulkan robekan luka yang besar. Darah langsung muncrat kemana-mana.
Ternyata gerakan Sasongko tidak berhenti sampai disitu, ia segera melakukan gerakan susulan berupa sabetan berputar menyasar sisi perut sebelah kanan lawannya.
Craaashh....darah kembali mengucur deras dari lambung liutenant Schmit.
Sosok perwira VOC itu jatuh berlutut sambil memegangi leher dan perutnya untuk beberapa saat, lalu jatuh tertelungkup dan tewas.
Sasongko menarik nafas lega atas kematian liutenant Schmit yang dinilainya cukup kuat dan tangguh dengan gerakan jurus pedang anehnya itu.
"Benar-benar lawan yang kuat dan memiliki jurus pedang yang aneh seperti tombak."batin Sasongko.
__ADS_1
Kedua rekannya bergegas menghampiri sambil tersenyum, namun mendadak ia teringat akan sesuatu hal yang sangat penting baginya, “Gusti Pangeran, dimana Gusti Pangeran? Bagaimana keadaanya?”tanya Sasongko yang merasa khawatir dengan keadaan junjungannya.
Sontak ketiganya menoleh ke kanan dan ke kiri mencari-cari sosok junjungannya...