
Setiba di kediaman Pangeran Mangkubumi, telah tampak Raden Mertowijoyo, Joyodipuro, Joyo Wiguno, Joyo Praboto, dan Joyo Utomo yang sedang duduk bersama dengan Pangeran Mangkubumi di teras depan.
“Monggo nakmas Danang dan nakmas Said, kami baru saja memulai pembicaraan tentang persiapan dan pematangan rencana untuk menggempur dan menaklukkan daerah-daerah di utara dan selatan tanah Jawa.”sambut Pangeran Mangkubumi.
“Mohon dimaafkan romo, kami datang terlambat sehingga membuat pembicaraan menjadi terhambat.”ucap Raden Mas Said.
“Tidak mengapa nakmas, toh kami juga belum masuk pada pokok masalah. Monggo, mari kita duduk bersama dan membicarakan semuanya.”ujar Pangeran Mangkubumi.
Segera Raden Mas Said, Danang Hadikusumo, Nyai Arum, dan Sekar Kinasih mengambil posisi untuk mulai terlibat dalam perencanaan tersebut.
“Seperti yang telah kita semua ketahui, sepak terjang bangsa berambut jagung telah semakin dalam dan mencengkeram kekuasaan keraton dalam mengelola dan mengatur hukum di negeri ini."ujar Pangeran Mangkubumi.
"Tatanan hukum dan budaya di tanah Jawa semakin porak poranda akibat campur tangan bangsa berambut jagung itu, yang membuat keraton Mataram yang didirikan oleh Kanjeng Panembahan Senopati dan mencapai masa keemasannya pada saat Kanjeng Sinuwun Sultan Agung Hanyorokusumo menjadi terpecah-belah.”ujar Pangeran Mangkubumi.
“Hal ini berkelanjutan dan berpengaruh pada rakyat tanah Jawa yang saat ini semakin kehilangan jati diri mereka sebagai manusia Jawa. Mereka diperas keringatnya oleh oknum-oknum pejabat keraton yang demi nafsu keserakahan menumpuk harta dan bekerja sama dengan bangsa berambut jagung tersebut, menarik pungutan-pungutan yang dirasakan sangat memberatkan bagi rakyat.”tambah Pangeran Mangkubumi.
“Kedaulatan kita sebagai bagian dari masyarakat tanah Jawa harus tetap dijunjung, tanpa campur tangan bangsa asing dalam memerintah dan menghadirkan ketentraman bagi rakyat, terutama rakyat kecil yang mengalami kesulitan hidup.”lanjut Pangeran Mangkubumi.
__ADS_1
“Seperti yang kita rencanakan sebelumnya, kita akan membagi pasukan menjadi dua bagian besar, satu dipimpin olehku, dan satunya akan dipimpin oeh nakmas Said."ucap Pangeran Mangkubumi.
"Pasukan nakmas Said akan bergerak ke arah selatan untuk menaklukkan dan merebut daerah-daerah disana, dan menjadikan daerah Madiun, Ponorogo dan Magetan sebagai daerah pusat kekuatan kita di selatan tanah Jawa.”ujar Pangeran Mangkubumi.
“Sedangkan pasukanku akan bergerak menaklukkan dan merebut daerah utara dengan menaklukkan Pati, Jepara, Grobogan, Demak, Semarang, dan Banyumas. Seperti yang kita ketahui, daerah utara tanah Jawa adalah sangat penting, karena terdapat beberapa pelabuhan utama yang berperan penting dalam perdagangan.”lanjut Pangeran Mangkubumi.
“Dari kabar yang kudengar, saat ini Sinuwun di keraton Surakarta sedang sakit keras. Berdasarkan kabar yang kudengar, Sinuwun berniat akan menyerahkan kedaulatan keraton kepada VOC secara penuh, dimana hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.”ujar Pangeran Mangkubumi.
“Menurutku hal ini adalah saat yang tepat bagi pasukan kita untuk bergerak menaklukkan dan mengambil alih wilayah-wilayah di tanah Jawa romo."ujar Raden Mas Said.
"Aku yakin rakyat tanah Jawa dan para priyayi yang setia pada negeri ini tidak akan menerima jika hal itu terjadi. Menurut perkiraanku mereka akan semakin mendukung perjuangan kita.”lanjut Raden Mas Said.
“Lantas bagaimana dengan kesiapan satuan prajuritmu nakmas Danang?”tanya Pangeran Mangkubumi pada Danang Hadikusumo.
“Singgih Gusti Pangeran. Saat ini ke empat puluh prajurit patang puluhan telah mengalami kemajuan yang sangat pesat, berkat dukungan dari Gusti Raden Mas Said, Nyai Arum, Diajeng Sekar, dan Raden Mertowijoyo.”ucap Danang.
“Mereka saat ini dalam keadaan semangat yang sangat tinggi untuk berjuang bersama pasukan Gusti Pangeran, serta mereka juga ingin membuktikan bahwa mereka bisa berguna untuk negeri ini dan menghapus masa lalu mereka yang kelam.”tambah Danang pada Pangeran Mangkubumi.
__ADS_1
“Lantas, apa rencanamu terhadap mereka nakmas.”tanya Pangeran Mangkubumi.
“Nyuwun pangapunten Gusti Pangeran, hamba berencana untuk mengirim satu orang dari mereka yang kebetulan adalah bekas perampok yang berasal dari Alas Krumput di Banyumas untuk mengajak dan menghimpun tujuh puluh orang yang akan dilatih secara diam-diam di Alas Krumput, sebagai pasukan pitung puluhan.”ujar pemuda tersebut.
“Lalu hamba bersama dengan sisanya untuk menyebar secara diam-diam sebagai telik sandi untuk mengumpulkan keterangan dari wilayah-wilayah yang akan menjadi sasaran kita, juga mengobarkan semangat perjuangan di kalangan rakyat disana.”tambah Danang pada Pangeran Mangkubumi.
“Aku setuju dengan rencanamu nakmas. Segeralah kau persiapkan dan berangkat paling lambat pekan depan.”perintah Pangeran Mangkubumi pada Danang.
“Singgih sendiko dawuh Gusti Pangeran, hamba akan berusaha sebaik-baiknya dalam mengemban tugas dari Gusti Pangeran.”ujar Danang seraya menghaturkan sembah bektinya.
“Nakmas Said, tolong kau persiapkan semua pasukanmu dan berangkatkan selambatnya dalam pekan depan.”perintah Pangeran Mangkubumi pada Raden Mas Said.
“Sendiko dawuh romo, hamba juga akan mempersiapkan segalanya untuk keberangkatan pasukan kita pada pekan depan.”ucap Raden Mas Said seraya menghaturkan sembah bektinya.
“Lalu Mertowijoyo, kau dan aku akan mempersiapkan pasukan kita disini sambil menunggu keterangan dan aba-aba yang akan diberikan oleh nakmas Danang dan satuan patang puluhan nya.”ucap Pangeran Mangkubumi pada Mertowijoyo.
“Sendiko dawuh Gusti Pangeran, serahkan pada hamba untuk mengatur dan mempersiapkan pasukan kita.”ujar Mertowijoyo menghaturkan sembah bektinya.
__ADS_1
Diam-diam Danang melirik pada Sekar Kinasih yang terlihat menundukkan kepala sambil menggigit bibirnya.
Kegelisahan dan kecemasan terlihat sangat jelas pada raut wajah gadis itu, walaupun sebagai bagian dari satuan prajurit estri ia berusaha untuk menyembunyikannya...