
Keesokan paginya serombongan prajurit pilihan Kadipaten beserta Senopati Macan Wulung dan Ki Amongrogo bergerak menuju Hutan Alas Malang untuk meringkus Begal Sakti dari Timur.
Bagas mengintai dari atas pohon yang tinggi sehingga dapat melihat jelas kekuatan dan siapa saja yang datang untuk berniat meringkusnya.
“Melihat dari perawakannya tampaknya seorang perwira tinggi dan pendekar yang cukup tangguh…sisanya tidak masuk dalam hitungan bagiku.”pikir Bagas. Melihat mereka mendekat, sebuah siasat segera berkembang dalam benaknya.
“Kelihatannya keberuntungan sedang berpihak padaku…aku akan menjalankan siasat untuk menjebak dan melaksanakan tujuanku selama ini.”dalam hati Bagas.
Memasuki kawasan Hutan Alas Malang, rombongan pasukan Kadipaten Banyumas disambut oleh suara tawa yang menggema seantero hutan.
“Tunjukkan dirimu Begal! Jangan hanya bisa tertawa seolah menakuti anak kecil!”teriak Ki Amongrogo.
Dalam beberapa saat kemudian terdengar suara berkesiuran. Sebuah bayangan berkelebat dengan sangat cepat diantara pasukan Kadipaten.
Dalam sekejap 5 orang prajurit telah roboh meregang nyawa. Kepanikan segera melanda rombongan pasukan tersebut, hanya Ki Amongrogo yang terlihat tetap tenang dan waspada.
Kejap berikutnya 7 orang dari prajurit pilihan kembali roboh. Melihat itu, Senopati Macan Wulung dan Ki Amongrogo melompat dari kudanya dan bersiap dengan jurus andalan mereka. Suasana di sekitar mereka terasa hening dan mencekam.
Tiba-tiba terdengar suara berkesiuran laksana desingan peluru menuju kearah pasukan Kadipaten. “Awas senjata rahasia!”teriak Ki Amongrogo memberi peringatan. Senopati Macan Wulung segera bergulingan menghindar.
Ki Amongrogo meloloskan sepasang trisulanya dan menangkis senjata rahasia tersebut. Malang bagi prajurit Kadipaten, 6 orang roboh seketika tertembus senjata rahasia di leher mereka, hingga saat ini dari rombongan pasukan tinggal tersisa dua orang prajurit serta Ki Amongrogo dan Senopati Macan Wulung.
“Tunjukkan dirimu! Bertarunglah dengan jantan!”teriak Senopati Macan Wulung.
Dari balik pohon besar tampak sesosok tubuh mengenakan pakaian serba hitam dan topeng Rahwana keluar menampakkan diri.
__ADS_1
“Aku menginginkan pertarungan yang menarik dan mampu membuatku mengeluarkan kemampuanku. Dan para kroco tidak memenuhi syarat untuk itu.”ucap sosok berpakaian serba hitam dengan topeng Rahwana yang ternyata adalah Begal sakti dari Timur sambil tangannya berkelebat melemparkan senjata rahasia.
Sreet…jleebb…dua orang prajurit pilihan Kadipaten yang tersisa roboh dengan pisau kecil menancap pada dada sebelah kiri mereka tanpa sempat bergerak.
Nyawa mereka langsung lepas dari raga.
Sambil berteriak marah, Senopati Macan Wulung dan Ki Amongrogo melesat kearah Bagas dan langsung menggebrak dengan jurus-jurus andalan.
Terdengar desir angin setiap pukulan dan tendangan dilancarkan oleh mereka menandakan setiap serangan dilambari oleh tenaga dalam tinggi.
Bagas mengerahkan ajian Saipi Angin dan jurus Gagak Rimang yang membuat tubuhnya mampu bergerak secepat angin untuk menghindari serangan Ki Amongrogo dan Senopati Macan Wulung.
Dikeroyok oleh dua tokoh hebat, Bagas merasa sedikit kewalahan. Untung saja ia mengerahkan Ajian Saipi Angin hingga tidak ada satu pukulan maupun tendangan mengenainya walaupun pertarungan telah berlangsung lebih dari seratus jurus.
Merasa tidak mampu mengatasi lawannya, Senopati Macan Wulung melompat mundur satu tombak dan merapal Ajian Watu Gunung andalannya, sementara Ki Amongrogo merapal Ajian Komara Geni.
Tidak dapat dihindari, tiga ajian bertumbuk pada satu titik menghasilkan ledakan tak kasat mata.
Tiga sosok tersebut terpental ke belakang. Senopati Macan Wulung terpental hingga sepuluh tombak, nyawanya langsung lepas dari raga.
Ki Amongrogo terpental tiga tombak. Dadanya terasa sesak, dari sudut bibirnya mengalir darah yang menandakan ia mengalami luka dalam.
Bagas terpental hingga lima tombak. Kepalanya berdenyut sakit dan mulutnya memuntahkan darah segar, pertanda ia mengalami luka dalam yang cukup berat.
Seluruh tubuhnya terasa sakit bagaikan dihantam batu sebesar kerbau.
__ADS_1
Dari situ dapat dilihat bahwa tingkat tenaga dalam Ki Amongrogo berada setidaknya satu tingkat diatas Bagas.
Melihat lawannya terluka lebih parah darinya, Ki Amongrogo tidak mau memberi kesempatan dan langsung kembali merapal Ajian Komara Geni dan melesat sambil menghantamkan ajian pamungkasnya kearah lawan.
Terdengar erangan panjang dan suara berderak keras…lalu suasana hening, tidak terdengar lagi suara-suara bentakan dari pertarungan.
Setelah beberapa waktu penanakan nasi, terlihat satu sosok keluar dari Hutan Alas Malang sambil membopong dua mayat. Ki Amongrogo terlihat dengan susah payah membopong mayat Senopati Macan Wulung dan Begal Sakti dari Timur lalu meletakannya telungkup pada seekor kuda, lalu ia menaiki kuda satunya dan mulai berjalan sambil menuntun kuda yang membawa mayat kembali ke Kadipaten Banyumas.
Setibanya di Kadipaten, Ki Amongrogo disambut oleh beberapa prajurit. Sebagian langsung mengurus mayat Senopati Macan Wulung dan Begal Sakti dari Timur, sedangkan sebagian lagi mengantarkan Ki Amongrogo menghadap Adipati Haryo Sukmo.
Ditemui di pendopo Kadipaten, Ki Amongrogo menghaturkan sembah dan melaporkan hasil pertarungan di Hutan Alas Malang pada Adipati.
“Nyuwun pangapunten Kanjeng Adipati, walaupun hamba berhasil membunuh Begal Sakti dari Timur, tetapi hamba tidak mampu melindungi Senopati Macan Wulung dan para prajurit.
Mereka gugur di tangan Begal Sakti dari Timur. Begal itu benar-benar sakti Kanjeng Adipati. Saat ini hamba pun mengalami luka dalam akibat bentrokan tenaga dalam dengan begal itu.”tutur Ki Amongrogo.
Adipati Haryo Yudonegoro menghela nafas. Raut wajahnya terlihat sedih dengan tewasnya Senopati Macan Wulung.
“Aku berterima kasih padamu Ki Amongrogo. Setidaknya begal yang meresahkan masyarakat itu sudah kita basmi, walaupun harus mengorbankan para prajurit Kadipaten dan Senopati Macan Wulung yang gugur sebagai kusuma negeri.”
“Aku akan menepati ucapanku atas hadiah yang telah kujanjikan, melihat jasa dan kemampuanmu bahkan aku akan mengangkatmu sebagai Senopati Kadipaten Banyumas menggantikan Senopati Macan Wulung yang telah gugur.”kata Adipati Haryo Yudonegoro.
“Pengangkatanmu sebagai Senopati Kadipaten secara resmi akan dilakukan kemudian, dihadiri para petinggi Kadipaten Banyumas, dengan upacara sesuai tata cara Kadipaten.”ucap Adipati Haryo Yudonegoro.
Mendengar itu Ki Amongrogo tersenyum di balik topengnya sambil menghaturkan sembah, “Sendiko dawuh Kanjeng Adipati, hamba sungguh sangat berterima kasih atas kebaikan Kanjeng Adipati dan akan berusaha sebaik-baiknya melaksanakan titah Kanjeng Adipati.”ucap Ki Amongrogo kemudian perlahan beringsut mundur.
__ADS_1
“Tunggu dulu,”tahan Adipati Haryo Yudonegoro. “Karena sekarang kau telah menjadi Senopati Kadipaten Banyumas, aku memintamu untuk melepaskan topeng yang selalu kau kenakan. Tidak baik bagiku dan para prajurit jika tidak mengenali wajah Senopatinya.”perintah Adipati Haryo Yudonegoro
Ki Amongrogo menghaturkan sembah lalu perlahan melepas topeng yang dikenakannya…