Kitab Manunggaling Semesta Jagad

Kitab Manunggaling Semesta Jagad
BAB 55, KEMELUT KEKUASAAN


__ADS_3

Saat itu, Sinuwun di keraton Surakarta jatuh sakit hingga tidak mampu memerintah dengan baik, hingga akhirnya Sinuwun meminta pada VOC untuk berunding di keraton.


Pada akhirnya diambil kesepakatakan antara pihak keraton dengan VOC, bahwa keraton menyerahkan pengendalian pemerintahan wilayahnya pada VOC, dengan syarat keturunan Sinuwun tetap menjadi raja dan simbol bagi tanah Jawa, sedangkan segala aturan dan pemerintahan sepenuhnya dikendalikan oleh VOC.


Tak lama kemudian, Sinuwun dan VOC mengambi langkah cepat dengan mempersiapkan Raden Mas Surjadi, putra Sinuwun untuk bersiap menjadi raja, dengan menggantikan romo nya yang telah sakit keras tersebut.


Kedekatan antara majoor Dedric Van Osch dengan Gubernur Jendral VOC, yaitu Baron Van Imhoff dimanfaatkan dengan baik oleh Bagas Laksono, atau senopati Amongrogo untuk memuluskan jalannya mengambil alih tahta sebagai adipati Banyumas.


Adipati Banyumas saat itu, yaitu adipati Yudonegoro diperintahkan untuk mengabdi Dan ditarik untuk bertugas di keraton Surakarta, karena dianggap tidak sejalan dengan pemerintahan VOC.


Kedudukan adipati Banyumas diserahkan pada Bagas Laksono yang memang sejalan dan se iya sekata dengan VOC, melalui majoor Dedrich Van Osch.


Diangkatnya senopati Amongrogo menjadi adipati Banyumas dengan gelar adipati Rogodiningrat telah memuaskan nafsu dan ketamakan Bagas Laksono.


Impiannya sejak kecil untuk memperoleh kamulyan, memperoleh kedudukan tinggi dan harta tercapai, walaupun dengan cara-cara licik.

__ADS_1


Dengan segera Bagas Laksono sebagai adipati baru Banyumas yang bergelar adipati Rogodiningrat memperkuat pertahanan dan pasukan di wilayahnya, dengan bantuan VOC yang mengirimkan majoor Clerk dan kapitein Tack, seorang putra asli Ternate yang menjadi perwira VOC beserta ribuan pasukan untuk memperkuat wilayah pesisir utara tanah Jawa, termasuk Banyumas, Pekalongan, Kedu, Grobogan, dan Brebes, sementara wiayah Semarang tetap dibawah kepemiminan majoor Dedric Van Osch.


Kabar tersebut terdengar oleh Pangeran Mangkubumi, Raden Mas Said dan Raden Mertowijoyo di desa Banaran.


Keduanya sangat prihatin dan tidak setuju oleh tindakan Sinuwun yang telah mengkat dengan menyerahkan kedaulatan dan pemerintahan pada bangsa berambut jagung tersebut, ditambah bahwa Adipati Yudonegoro adalah salah satu sosok yang adil dan bijaksana, serta dicintai oleh rakyat Banyumas.


“Aku sangat tidak setuju dengan tindakan Sinuwun di Surakarta menyerahkan kedaulatan dan pemerintahan pada VOC, juga dengan tindakan menarik romo adipati Yudonegoro dan menggantinya dengan seseorang yang telah kita ketahui bersekongkol dengan VOC.”ucap Pangeran Mangkubumi pada Mertowijoyo di desa Banaran.


“Hamba sependapat dengan Gusti Pangeran. Tampaknya keadaan sudah semakin rusak dan rumit. Menurut hamba, kedaulatan tanah Jawa haruslah dipimpin oleh bangsa Jawa, bukan oleh bangsa asing.”jawab Mertowijoyo.


“Dengan keadaan yang semakin tidak terkendali, apakah tindakan yang akan Gusti Pangeran lakukan selanjutnya?”lanjut Mertowijoyo.


“Pemulihan keadaan di desa Sekarjati akan kita serahkan pada adipati Wirodiningrat, sementara pasukan kita akan bergerak menuju Jepara dan Grobogan. Untuk itu aku telah berhasil menghubungi kangmas Puger untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk mendukung pasukan kita di Grobgan."


"Kita akan membagi dua pasukan sejak tiba di Pati, satu menuju Jepara, dan satu lagi menuju Grobogan.”ujar Pangeran Mangkubumi.

__ADS_1


“Mengingat saat ini VOC telah mengangkat Raden Mas Surjadi sebagai Susuhunan Pakubuwono III, menurut hamba rakyat saat ini membutuhkan seorang pemimpin yang mampu memimpin tanah Jawa agar berdaulat penuh, maka ada baiknya Gusti Pangeran menobatkan diri sebagai raja Mataram yang baru.”ujar Mertowijoyo yang diamini oleh Raden Mas Said.


Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya Pangeran Mangkubumi berkata, “Baiklah, aku pun tidak rela jika kedaulatan Mataram diserahkan pada bangsa lain. Untuk itu mulai saat ini aku menyatakan diriku sebagai Susuhunan Kabanaran Senopati ing Ngalaga Sayidin Panatagama ing Mataram.”ujar Pangeran Mangkubumi.


Upacara pentasbihan Pangeran Mangkubumi menjadi Susuhunan Kabanaran kemudian dilakukan dengan disaksikan oleh para bupati dan prajurit di desa Banaran.


Raden Mas Said yang diangkat menjadi patih dengan segera bertindak maju ke depan dan berkata dengan lantang, “Wahai kalian para bupati dan prajurit, sekarang aku mengangkat romo Pangeran Mangkubumi menjadi Susuhunan Mataram dengan gelar Susuhunan Kabanaran Senopati ing Ngalaga Sayidin Panatagama. Barang siapa dia antara kalian menentang, maka akulah yang akan menghadapi kalian di medan perang”ujarnya lantang.


Para bupati dan prajurit pengikut Pangeran Mangkubumi bersorak sorai, mendukung dan gembira atas pentasbihan Pangeran Mangkubumi sebagai raja Mataram, harapan mereka segera membumbung tinggi akan kedaulatan mandiri di atas bumi Mataram yang mereka pijak, dan bukan dibawah perintah bangsa lain.


Pada saat itu wilayah Ponorogo dan Gunung Kidul telah jatuh pula, direbut oleh pasukan yang dipimpin oleh Raden Mas Said, dan dijadikan sebagai benteng pertahanan pasukan mereka di wilayah barat.


Persiapan pasukan kemudian dilakukan untuk berangkat menuju Pati, mendukung pasukan adipati Wirodiningrat yang telah bergabung dengan perjuangan mereka, dan menjadikan wilayah Pati sebagai wilayah pertahanan pasukan Pangeran Mangkubumi untuk menggempur wilayah-wilayah di pesisir utara tanah Jawa.


Tak menunggu lama, sepekan kemudian pasukan Pangeran Mangkubumi berangkat menuju Pati, dipimpin oleh Raden Mas Said dan Pangeran Mangkubumi sendiri.

__ADS_1


Iring-iringan pasukan bergerak menyemut melintasi wilayah Madiun dan Purwodadi hingga terus menuju Pati.


Tampak ribuan prajurit bergerak untuk menaklukkan wilayah pesisir utara tanah Jawa, sementara daerah pertahanan mereka di desa Banaran diserahkan kepemimpinannya pada Raden Mertowijoyo...


__ADS_2