
“Sudahlah Said, seharusnya kita bersikap lebih ramah dan terbuka. Adalah merupakan rahmat dan keberuntungan yang diberikan oleh Gusti Yang Maha Kuasa sehingga pemuda ini digerakkan hatinya untuk bergabung dan membantu perjuangan kita.”terdengar suara lembut namun tegas dari sosok satunya yang ternyata adalah Raden Mas Sudjana, atau lebih dikenal sebagai Pangeran Mangkubumi sambil tersenyum.
Perbawa yang dipancarkan olehnya terasa begitu menggetarkan, senada dengan perbawa yang dimiliki oleh Raden Mas Said.
Danang mnghaturkan sembah bektinya lalu berkata, “Merupakan suatu kehormatan bagi hamba jika diperkenankan dan bisa ikut bergabung dengan Gusti Pangeran berdua."ujar Danang.
"Sesungguhnya kanjeng romo mengamanatkan pula pada hamba untuk ikut turut andil mengambil bagian dalam upaya perjuangan menyeimbangkan kembali tanah Jawa dengan bergabung dengan Gusti Pangeran berdua.” tambahnya.
“Begitu? Lantas siapakah romo mu itu kisanak?”tanya Pangeran Mangkubumi pada pemuda tersebut.
Lalu Danang menceritakan mengenai kisahnya sebagai putra dari kepala desa Sekarjati yang dikhianati oleh orang yang telah menjadi kepercayaan romo nya, lalu diselamatkan dan diasuh oleh Kyai Ageng Banyu Urip, yang kemudian menjadi romonya dan memberikan amanat untuk bergabung dengan pasukan Pangeran Samber Nyowo dan Pangeran Mangkubumi.
Sambil mengangguk Pangeran Mangkubumi melanjutkan, “Biarlah pemuda gagah ini menjadi pengikutku Said. Sesuai rencana, kita akan membagi dua perjuangan kita untuk menciptakan kebingungan pihak VOC dan keraton Surakarta."ujar Pangeran Mangkubumi.
"Dibutuhkan sosok handal untuk mendampingiku dalam memimpin para prajurit tersebut Lagipula kau telah memiliki banyak pengikut seperti Joyodipuro, Joyopuspito, Joyo Wiguno dan lainnya yang memiliki kanuragan tinggi.”ucap Pangeran Mangkubumi.
“Selain membagi pasukan menjadi dua, yang dipimpin olehmu Said, dan dipimpin olehku, kita akan menjalankan taktik jejemblungan, dhedemitan, dan weweludan, yang akan membuat pihak lawan menjadi bingung dan putus asa.”lanjutnya.
Taktik jejemblungan adalah taktik bertempur bagaikan orang gila yang tidak mengenal takut akan kematian, taktik dhedemitan adalah taktik bertempur dengan serangan dan menghilang tiba-tiba bagaikan hantu, sedangkan taktik weweludan adalah taktik bertempur yang licin bagaikan belut sehingga sulit dikejar dan diketahui keberadaannya.
“Singgih romo, hamba menyerahkan sepenuhnya pemuda ini untuk menjadi bagian dari pengikut romo.”jawab Raden Mas Said yang ternyata adalah menantu dan bertindak sebagai patih dari Pangeran Mangkubumi.
“Nah, mari kita lakukan latihan olah keprajuritan sekaligus memperkenalkan pemuda ini pada pasukan kita.”ucap Pangeran Mangkubumi.
Lalu mereka beranjak menuju suatu lapangan luas dimana telah berbaris rapi ribuan pasukan lengkap dengan persenjataan mereka.
Berbagai latihan olah keprajuritan dilakukan oleh pasukan tersebut, mulai dari memanah, pertempuran dengan tombak dan pedang, penguasaan gelar pasukan seperti Dhiradameta, Supit Urang, hingga latih tanding kanuragan satu lawan satu maupun satu orang dikeroyok hingga beberapa orang antar prajurit dan senopati.
“Nah kisanak, perlihatkanlah kemampuanmu pada kami semua. Said, kuminta perintahkan Joyopuspito untuk melakukan latih tanding dengan pemuda ini.”ujar Pangeran Mangkubumi yang diamini oleh Raden Mas Said, kemudian memerintahkan Joyopuspito melakukan latih tanding dengan Danang Hadikusumo.
Kedua orang itu beranjak ke tengah-tengah tanah lapang, menghaturkan sembah bekti lalu memasang kuda-kuda sebagai awal dari latih tanding tersebut, sementara para prajurit membuat lingkaran yang cukup luas mengelilingi keduanya sambil memberikan teriakan-teriakan semangat pada Joyopuspito.
__ADS_1
“Kuingatkan pada kalian, latih tanding ini hanyalah sarana untuk meningkatkan kemampuan kanuragan dan menjalin keakraban antara kita semua. Tidak diperkenankan untuk saling mengerahkan ajian pamungkas kalian yang dapat menimbulkan luka dan kesalahpahaman antar kita. Nah, mulailah.”perintah Raden Mas Said.
“Monggo kisanak.”ujar Joyopuspito pada Danang.
“Monggo kakang.”ucap Danang sambil bersiap dengan gerak langkah Gagak Rimang.
“Tidak perlu mengeluarkan seluruh kemampuanmu nakmas, buatlah seolah-olah pertandingan ini seimbang. Sesungguhnya aku telah mengetahui kedalaman tataran ilmu kanuraganmu.”terdengar bisikan di telinga Danang.
Ternyata Pangeran Mangkubumi lah yang mengirimkan pesan padanya dengan menggunakan ajian Pameling, yang memungkinkan penggunanya berbicara melalui batin pada jarak tertentu dengan orang yang dikirimi pesan.
“Luar biasa, ternyata ajian Pameling pun dikuasai oleh Gusti Pangeran.”batin Danang dalam hatinya.
Joyopuspito mendahului bergerak, melesat menyerang menggebrak dengan jurus-jurus andalannya. Pukulan dan tendangan berseliweran mengincar perut, dada, dan kepala pemuda di hadapannya dengan cepat dan kuat.
Danang meladeni serangan tersebut dengan gerak langkah Gagak Rimang dan gerak Alap-Alap yang baru saja dikuasainya lewat pertarungan dengan Ki Ageng Gandrik.
Gerak langkah Gagak Rimang yang lugas dan tanpa tedeng aling-aling dipadukan dengan gerak Alap-Alap yang penuh tipuan dan selalu berubah-ubah iramanya, sehingga membuat Joyopuspito terperangah dan bingung menghadapinya.
Danang pun meladeninya dengan mengerahkan kecepatan yang membuat lawan beberapa kali kecele, tertipu oleh irama gerak dan kecepatan lawan tandingnya, sehingga beberapa kali pukulan dan tendangan yang dilancarkan oleh 'cah anyar' tersebut nyaris mengenai sasaran.
Melihat itu, Joyo Wiguno memberanikan diri meminta ijin untuk turun kedalam kancah latih tanding untuk membantu Joyopuspito, yang dijawab dengan anggukan kepala dari Raden Mas Said.
“Kakang Joyopuspito, aku akan membantumu. Hai kisanak, bersiaplah.”seru Joyo Wiguno lalu melompat kedalam kancah latih tanding seraya langsung menyerang dengan jurus-jurus andalannya.
Danang yang telah bersiap, menyambut serangan itu dengan gerak Gagak Rimang, yang dipadukan dengan jurus alap-alap, bangau, kera, dan ular yang memiliki kelebihan dalam kecepatan dan serangan balik yang menggunakan tenaga lawan.
Puluhan jurus telah berlalu, belum terlihat partarungan tanding ini akan segera berakhir.
Saling serang, elak, dan tangkis berlangsung sengit diantara mereka bertiga, Joyodipuro yang telah mengetahui tataran ilmu kanuragan sahabat barunya itu hanya tersenyum sambil tetap memusatkan perhatiannya pada pertarungan tanding di hadapannya.
Melihat pertarungan masih berjalan seimbang, Raden Mas Said yang merasa penasaran memerintahkan Joyo Praboto dan Joyo Utomo sekaligus untuk masuk kedalam kancah membantu Joyopuspito dan Joyo Wiguno.
__ADS_1
Setelah mendapat restu dari junjungannya, mereka berdua yang juga merasa penasaran dengan pemuda di depannya bergerak masuk kedalam kancah pertempuran tanding tersebut.
“Kisanak, ijinkan kami berdua ikut bermain-main sejenak denganmu.”seru Joyo Utomo yang kemudian melesat bersama Joyo Praboto kedalam kancah pertarungan latih tanding.
Dikeroyok oleh empat orang pendekar hebat, Danang mengerahkan jurus gerak banteng yang sangat rapat dalam pertahanan, dipadu gerak Gagak Rimang, Alap-Alap, hingga gerak jurus bangau dan ular untuk menyerang balik.
Beberapa kali suara seruan dan benturan tangkisan terdengar keras menggetarkan hati prajurit-prajurit yang menonton di sekeliling mereka.
Sorak-sorai prajurit perlahan berubah, dari tadinya mendukung Joyopuspito dan Joyo Wiguno beralih menjadi dukungan pada sosok pemuda yang terlihat sabagai anak baru di lingkungan mereka.
“Ayo cah anyar, jangan sampai kalah, semangat kisanak!”demikian teriakan-teriakan para prajurit dalam memberikan dukungan pada ‘anak baru’ tersebut.
Pada kenyataannya para prajurit dan semua yang hadir menonton latih tanding tersebut dibuat kagum oleh kemampuan Danang dalam mengimbangi keroyokan empat orang senopati mereka yang terkenal tangguh dan nggilani dalam pertarungan.
Puluhan jurus kembali tersaji di hadapan mereka semua yang menonton pertarungan latih tanding tersebut dan belum terlihat ada yang terjatuh oleh serangan masing-masing, namun Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said, serta beberapa orang senopati yang memiliki tataran kanuragan lebih tinggi mampu melihat bahwa pemuda ‘cah anyar’ tersebut belum mengeluarkan seluruh kemampuannya.
Menurut mereka, sosok pemuda itu bisa saja mengalahkan keroyokan empat orang tersebut jika pemuda itu menginginkan, namun entah apa pertimbangan pemuda itu hingga ia menahan kemampuannya.
“Baiklah, kurasa latih tanding ini cukup sampai disini. Kalian berlima segeralah kembali ke tempat masing-masing.”seru Pangeran Mangkubumi.
Mereka berlima lantas menghentikan pertarungan tanding dan saling memberikan hormat pada semua yang hadir menyaksikan disitu, lalu kembali ke pinggir wilayah yang tadi dijadikan latih tanding.
Dalam hati mereka masing-masing mencuat rasa saling menghormati setelah melakukan latih tanding.
“Kuharap setelah latihan ini, kalian semua akan semakin mengenal dan menjalin keakraban satu sama lain. Dengan demikian maka persamaan tekad dan semangat kita semua akan menjadi semakin erat dan kokoh.”ucap Pangeran Mangkubumi yang berdiri disamping Raden Mas Said.
Sorak-sorai semangat terdengar membahana dari prajurit-prajurit.
“Anakmas, sekarang beristirahatlah dengan para prajurit disana, sekaligus menjalin keakraban dengan mereka. Nanti malam selepas isya aku akan membicarakan rencana dan taktik pasukan dengan nakmas Said, kuharap kau juga menghadiri pembicaraan tersebut.”ucap Pangeran Mangkubumi pada Danang sambil tersenyum.
“Singgih sendiko dawuh Gusti Pangeran.”ujar Danang seraya menghaturkan bakti...
__ADS_1