
Begitu Ki Amongrogo melepaskan topengnya, terlihat sosok wajah pemuda gagah dengan mata yang seolah memancarkan api menandakan keteguhan tekad.
“Ternyata Senopati Amongrogo adalah pendekar muda usia lagi gagah.”ucap Adipati Haryo Yudonegoro mendapati sosok wajah dibalik topeng tersebut.
“Berapa usiamu saat ini?”tanya Adipati Haryo Yudonegoro.
Setelah menghaturkan sembah Senopati Amongrogo menjawab, “Usia hamba dua puluh tahun Kanjeng Adipati.”
“Luar biasa, dalam usia yang masih muda kau telah memiliki ilmu kanuragan yang tinggi.’desis Adipati Haryo Yudonegoro.
“Baiklah, silahkan Senopati beristirahat. Lurah Kusumo Jati akan mengantarmu ke bangsal Ksatrian untuk beristirahat.
Sementara akan dibangun tempat yang akan menjadi kediamanmu, tempatilah dulu ruangan yang kosong di Ksatrian.
Tabib Kadipaten akan segera dipanggil untuk menyembuhkan lukamu”perintah Adipati Haryo Yudonegoro.
“Sendiko dawuh Kanjeng Adipati, hamba mohon diri.”ucap Senopati Amongrogo sambil menghaturkan sembah dan beringsut mundur.
Diantar oleh Lurah Kusumo Jati, Senopati Amongrogo menuju Ksatrian dan mendapatkan ruangan baginya untuk tinggal sementara.
“Monggo Kanjeng Senopati, ruangan telah dibersihkan dan siap digunakan untuk tempat istirahat bagi Kanjeng Senopati.”ucap Lurah Kusumo Jati sambil menunjukkan ruangan dengan ibu jarinya.
“Jika ada yang diperlukan, Kanjeng Senopati bisa memanggil hamba atau para prajurit yang berjaga.”terang Lurah Kusumo Jati.
“Baiklah Ki Lurah, terima kasih atas bantuanmu. Rasanya saat ini aku hanya membutuhkan istirahat yang cukup untuk memulihkan diri.”jawab Senopati Amongrogo.
Setelah masuk kedalam ruangan, Senopati Amongrogo langsung menghempaskan dirinya keatas dipan.
Pikirannya melayang, ingatannya kembali pada pertarungan yang hampir saja merenggut nyawanya beberapa saat lalu di Hutan Alas Malang.
__ADS_1
Teringat sosok Ki Amongrogo melesat kearah Begal Sakti dari Timur yang sudah kepayahan sambil mengerahkan Ajian Komara Geni.
“Minta ampunlah pada Tuhanmu hai Begal!” bentak Ki Amongrogo seraya melesat dan mengerahkan tenaga dalam penuh pada ajian andalannya.
Sambil susah payah berdiri, Begal Sakti dari Timur bergegas mengerahkan Ajian Bandung Bondowoso untuk menahan Ajian Komara Geni yang dahsyat itu.
Lalu sesaat kemudian terjadi bentrokan tenaga sakti antara Ajian Bandung Bondowoso milik Begal Sakti dari Timur dan Komara Geni milik Ki Amongrog yang mengakibatkan ledakan tak kasat mata pada titik bentrokan itu.
Duaaar….
Raut wajah tegang dan kaget terpancar dari balik topeng Ki Amongrogo, mendadak ia merasakan kekuatan Begal Sakti dari Timur meningkat sangat tajam, membuat Ki Amongrogo terpental sejauh duapuluh tombak sambil memuntahkan darah segar.
Ternyata Begal Sakti dari Timur diam diam mengeluarkan pusaka Keris Kyai Segoro Geni yang dipadukan tuahnya dengan Ajian Bandung Bondowoso.
Tubuh Ki Amongrogo yang terpental menabrak sebuah pohon beringin besar di belakangnya, membuat pohon itu bergetar keras dan membuat daun-daunnya banyak berguguran, lalu tubuh itu menggelosor perlahan dengan darah segar keluar dari mulut, mata, kedua telinga, dan hidungnya.
“Ternyata orang ini memiliki kesaktian diatasku, beruntung aku sempat menghunus Keris Kyai Segoro Geni.”batinnya. “Setelah ini aku harus lebih giat lagi meningkatkan kesaktianku.”tekadnya.
Tak lama kemudian ia bangkit perlahan menghampiri jasad di depannya lalu melucuti seluruh pakaiannya dan mengganti pakaian yang dikenakan dengan pakaian yang dikenakan oleh jasad Ki Amongrogo, sambil tak lupa memakaikan pakaiannya ke jasad Ki Amongrogo.
Dalam pakaian Ki Amongrogo, Bagas menemukan sebuah kitab dan sepasang trisula yang terlihat memancarkan cahaya redup kebiruan.
Dibukanya kitab tersebut, ternyata isinya adalah jurus silat Walet Abang yang menitik beratkan pada penggunaan sepasang senjata serta petunjuk untuk mengamalkan Ajian Komara Geni.
Lalu Bagas kemudian menyimpan kitab dan sepasang trisula milik Ki Amongrogo kedalam bajunya. Kemudian terakhir ia menukar topengnya dengan topeng milik Ki Amongrogo.
“Sungguh nasib baik berpihak padaku,”batinnya sambil tersenyum.
Tiba-tiba terdengar suara pintu kamarnya diketuk, lamunan dalam pikirannya langsung buyar… “Kanjeng Senopati, hamba mengantar tabib Kadipaten untuk memeriksa keadaan Kanjeng Senopati atas perintah dari Kanjeng Adipati Haryo Yudonegoro.”terdengar suara Lurah Kusumo Jati.
__ADS_1
Bagas bangkit lalu membukakan pintu kamarnya, “Masuklah Ki Lurah, aku hampir saja tertidur.”ucap Bagas sambil tersenyum.
Lalu Bagas duduk diatas dipan sambil menyerahkan tangannya untuk diperiksa oleh Tabib Kadipaten.
Setelah beberapa saat memeriksa nadinya, Tabib berucap, “Aliran darah Kanjeng Senopati sangat kacau, dan beberapa pembuluh darah tersumbat.
Aku akan membuatkan ramuan untuk mengatasi hal itu, pesanku Kanjeng Senopati tidak diperbolahkan untuk melakukan olah kanuragan dalam hal apapun termasuk mengolah pernafasan untuk sementara, jika tidak ingin pembuluh darah Kanjeng Senopati meledak.”terang Tabib Kadipaten.
“Berapa lama aku harus beristirahat tanpa melakukan apapun? Rasanya tubuhku tidak akan betah untuk tidak berlatih dalam waktu lama.”ucap Bagas yang kini disebut sebagai Senopati Amongrogo.
“Menurut perkiraan sekitar dua atau tiga pekan Kanjeng Senopati tidak diperkenankan melakukan olah kanuragan, tetapi untuk lebih baiknya Kanjeng Senopati beristirahat selama satu purnama untuk lebih memastikan. Hamba akan berkunjung untuk memeriksa keadaan Kanjeng Senopati setiap sepekan.”ucap Tabib Kadipaten tersebut.
“Hamba juga akan memberitahu Kanjeng Adipati untuk tidak mengamanatkan tugas apapun untuk Kanjeng Senopati dalam kurun waktu tersebut demi pemulihan Kanjeng Senopati.”ujar Tabib Kadipaten.
Setelah Tabib dan Lurah Kusumo Jati meninggalkan kamarnya, Bagas menghempaskan dirinya keatas dipan dan tertidur.
Selanjutnya setiap hari prajurit jaga yang bertugas mengantarkan semua yang dibutuhkan oleh Senopati Amongrogo, termasuk makanan dan ramuan untuk pemulihan dirinya.
Setiap pekan tabib Kadipaten datang berkunjung memeriksa keadaan Senopati Amongrogo yang dirasakan semakin membaik.
Setelah satu purnama, keadaan Senopati Amongrogo telah pulih sepenuhnya seperti sedia kala sebelum terjadi pertarungan di Hutan Alas Malang.
Upacara pelantikan Bagas sebagai Senopati di Kadipaten Banyumas berlangsung dengan khidmat, dihadiri dan disaksikan oleh seluruh petinggi Kadipaten, Kanjeng Adipati Banyumas menyematkan samir dan lencana kebesaran sebagai seorang Senopati Kadipaten.
“Dengan ini kusematkan samir dan lencana kebesaran Senopati Kadipaten Banyumas pada Ki Amongrogo yang berarti diberikannya hak dan tanggung jawab sebagai seorang Senopati telah melekat pada dirimu.
Seluruh petinggi dan abdi Kadipaten Banyumas nyakseni.”titah Kanjeng Adipati Haryo Yudonegoro seraya menyerahkan samir dan lencana lambang Senopati pada Bagas Laksono atau yang kini telah disebut sebagai Kanjeng Senopati Amongrogo.
“Sendiko dawuh Kanjeng Adipati, hamba akan berusaha sebaik-baiknya dalam melaksanakan tugas sebagai Senopati Kadipaten Banyumas. Mugi Gusti Allah dan para petinggi serta abdi Kadipaten Banyumas nyakseni.”ucap Bagas Laksono seraya menghaturkan sembah.
__ADS_1