Kitab Manunggaling Semesta Jagad

Kitab Manunggaling Semesta Jagad
BAB 12, PERTEMPURAN AYAH DAN ANAK


__ADS_3

“Anak durhaka, ternyata kau memiliki keberanian untuk kembali kesini.”ucap sosok pertama yang ternyata adalah Kyai Ageng Banyu Urip.


Melihat Kyai Ageng Banyu Urip di hadapannya Danang segera berlutut mengahturkan sembah bakti. “Nyuwun pangapunten Kanjeng Romo, hamba mohon ampun karena meninggalkan rumah selama ini.”


“Tampaknya kau sudah selesai mempelajari kitabku. Kulihat kemampuan kanuraganmu saat ini sudah sangat jauh berkembang dibandingkan dulu. Sekarang juga kembalikan kitab dan keris pusakaku dan bersiaplah untuk mempertanggung jawabkan dosa-dosamu.”ucap Kyai Ageng Banyu Urip.


“Mohon ampun Kanjeng Romo, hamba benar-benar tidak mengerti maksud Kanjeng Romo. Mengenai kemajuan yang hamba peroleh, hamba dapat menjelaskannya pada Kanjeng Romo.”ucap Danang sambil masih berlutut menghaturkan sembah bakti.


“Tidak usah banyak berkelit, sebaiknya kau bersiap-siap.”kata Kyai Ageng Banyu Urip lalu melesat menerjang Danang dengan gerak langkah Gagak Rimang sambil memukul dengan mengerahkan tenaga dalam.


Terdengar kesiuran angin yang sangat hebat dalam setiap pukulan Kyai Ageng Banyu Urip yang diarahkan menuju dada dan kepala Danang.


Melihat itu Danang terkejut dan bergerak menghindar menggunakan gerak bangau sambil sesekali menggunakan gerak kera yang lincah.


Mendapati serangannya gagal, Kyai Ageng Banyu Urip menambah tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuhnya sambil terus mengerahkan gerak langkah Gagak Rimang menghujani Danang dengan pukulan dan tendangan yang ganas.


“Kanjeng Romo, hamba bersedia untuk dihukum. Tapi mohon penjelasan mengenai kesalahan hamba hingga Kanjeng Romo sangat murka dan menyerang hamba seperti ini.”ucap Danang sambil terus menghindari serangan Kyai Ageng Banyu Urip.


Kyai Ageng Banyu Urip tidak menjawab, dan mulai mengerahkan ajian Saipi Angin karena dilihatnya Danang mampu mengimbangi kecepatannya, lalu kembali melesat menyerang.


Kini kecepatan Kyai Ageng Banyu Urip bertambah berkali lipat setelah mengerahkan ajian Saipi Angin. Danang pun kewalahan, beberapa kali pukulan dan tendangan Kyai Ageng Banyu Urip nyaris mengenainya, hingga ia mengerahkan gerak banteng yang sangat rapat dalam bertahan.


Danang saat ini hanya bisa menangkis dan beberapa kali menghindar dari serangan Kyai Ageng Banyu Urip dengan jarak yang sangat tipis dan beberapa kali benturan antara pukulan dan tangkisan terjadi.


Dari beberapa kali benturan tangkisan, Kyai Ageng Banyu Urip merasakan tangannya bergetar hebat, yang menandakan tenaga dalam anak angkatnya itu tidak berada dibawahnya.


Merasa panas hati ditambah rasa penasaran, Kyai Ageng Banyu Urip mengerahkan tenaga dalamnya hingga puncak kemampuannya yang membuat kecepatan dan kekuatan serangannya menjadi sangat hebat tak terbayangkan laksana burung alap alap mengincar mangsanya.


Setelah keteteran melewati limapuluh jurus menahan serangan, bahkan beberapa kali terjajar mundur, Danang melompat beberapa tombak dan merapal ajian Bayu Bajra.

__ADS_1


Kyai Ageng Banyu Urip tidak mengendorkan serangannya dan melompat untuk menambah tekanan serangannya pada Danang, namun ia terkejut ketika melihat Danang tiba tiba kembali dengan mudah mampu menghindari semua serangannya dengan mudah.


"Kecepatannya melebihi kecepatanku, gerakannya seperti menunggang angin. Tampaknya ini bukan Ajian Saipi Angin... Ilmu apa yang digunakan anak ini?”batin Kyai Ageng Banyu Urip.


Saat ini Danang tidak lagi bergerak menangkis serangan, melainkan hanya menghindari semua serangan Kyai Ageng Banyu Urip dengan kecepatan yang sangat mengagumkan.


Keduanya saling berkelebat hingga hanya terlihat sebagai bayang-bayang yang terus bergerak. Namun jika diperhatikan, jelas terlihat bahwa kecepatan Danang berada diatas kecepatan Kyai Ageng Banyu Urip.


Akibat pertempuran itu beberapa pohon berkukuran sedang hingga berderak tumbang akibat serangan dahsyat Kyai Ageng Banyu Urip yang tidak menemui sasarannya.


Melewati seratus jurus dan merasa belum dapat menaklukkan Danang, Kyai Ageng Banyu Urip merasa semakin penasaran, ditambah diam diam merasa kagum dalam hatinya, "Gila, anak ini berkembang sangat pesat, bahkan ia belum terlihat lelah dalam menghindari semua seranganku.


"Baiklah, rasanya aku harus menyudahi semua dengan segera.”pikir Kyai Ageng Banyu Urip.


Kyai Ageng Banyu Urip melompat satu tombak ke belakang dan merapal ajian Bandung Bondowoso andalannya.


Tangannya berpendar menebar sinar redup berwarna kehitaman. Lonjakan hawa sakti dan hawa kematian sangat terasa di sekitar wilayah itu.


Satu bayangan putih berkelebat ke tengah-tengah wilayah pertempuran berusaha menengahi pertempuran sebelum terjadi pertumpahan darah. “Hentikan Dimas ! Aku merasa anak ini tidak bersalah. Sudah butakah matamu hingga tidak mampu melihat keanehan yang ada?”ucap Kyai Surawisesa sambil mengerahkan ajian Maung Lodaya yang membuat suaranya menggelegar laksana auman harimau.


Melihat sahabatnya berada di tengah tengah pertempuran antara dirinya dan anak angkatnya, sambil menahan amarah, Kyai Ageng Banyu Urip menarik kembali ajian Bandung Bondowoso sambil menatap tajam sahabatnya, “Apa maksudmu Kakang?”


“Tenangkan hatimu dan turunkan amarahmu dulu dimas, sebelum kau menjatuhkan tangan. Aku melihat ada yang janggal dari semua ini. Mari kita bicarakan dulu dengan anak ini.”ujar Kyai Surawisesa sambil tersenyum.


“Nakmas, aku akan menotokmu untuk mencegahmu melarikan diri, bagaimana? Apa kau bersedia?”kata Kyai Surawisesa pada Danang.


“Hamba manut Kyai, jika itu yang diinginkan oleh Kyai dan Kanjeng Romo, bahkan jika Kanjeng Romo menginginkan selembar nyawa hamba, hamba akan manut.”ucap Danang.


Lalu Kyai Surawisesa bergerak cepat menotok beberapa titik di tubuh Danang, namun ia terbelalak ketika totokannya mental dan tidak berhasil.

__ADS_1


“Mengagumkan..bahkan totokanku yang kulambari dengan tujuh dari sepuluh bagian tenaga dalamku tidak mampu menembus tubuhnya”batin Kyai Surawisesa.


“Nakmas, ternyata aku tidak berhasil menotokmu. Entah ilmu kanuragan apa yang kau miliki hingga totokanku pun gagal."ujarnya.


Baiklah, begini saja, kurasa jika Dimas Kyai Ageng Banyu Urip mengijinkan, mari kita masuk dan berbincang di rumah. Apa nakmas bersedia?"ujar Kyai Surawisesa.


“Monggo Kakang, aku tidak keberatan.”ujar Kyai Ageng Banyu Urip yang masih berupaya menahan amarah, bersedia dengan usul sahabatnya, walaupun dengan rasa heran terselip di hatinya.


"Hamba manut apapun perintah Kanjeng Kyai, demi menjernihkan semuanya,"ujar Danang sambil tetap menghaturkan sembah bekti.


Akhirnya mereka bertiga bergerak masuk ke arah rumah Kyai Ageng Banyu Urip dan duduk di teras halaman. Setelah beberapa saat saling diam menenangkan diri, akhirnya Kyai Surawisesa membuka percapakan.


“Baiklah, aku sabagai tamu hanya menengahi saja karena aku melihat kejanggalan dalam masalah ini. Monggo dimas selaku tuan rumah dan orangtua dari nakmas Danang mengutarakan masalahnya."ujar Kyai Surawisesa dan mempersilahkan Kyai Ageng Banyu Urip mengutarakan kegelisahannya.


Terlihat jelas bahwa Kyai Ageng Banyu Urip masih berupaya menahan amarahnya, wajahnya terlihat memerah. “Baiklah, aku langsung saja pada pokok masalah, apakah kau mencuri kitab dan keris pusaka serta telah membunuh kakangmu demi menguasai kitab serta keris pusaka?’tanya Kyai Ageng Banyu Urip pada Danang.


Danang terkejut mendengar tuduhan itu, kemudian menarik dan menghembuskan nafas beberapa kali untuk menenangkan gejolak hatinya.


Setelah agak tenang, Danang berkata,”Nyuwun pangapunten Kanjeng Romo, sejujurnya hamba tidak mengerti maksud Kanjeng Romo karena sudah beberapa puluh purnama ini hamba tidak bertemu dengan kakang Bagas, semenjak peristiwa itu.”ujarnya.


“Lalu kuburan siapa itu di halaman belakang?’hardik Kyai Ageng Banyu Urip yang kembali tersulut amarahnya karena mengira Danang berpura-pura.


“Sabar Dimas, biarkan anak ini menjelaskan terlebih dulu.”ucap Kyai Surawisesa berusaha menenangkan sahabatnya.


“Nah nakmas, bisakah kau ceritakan dari awal?”pinta Kyai Surawisesa.


“Singgih Kyai.”ucap Danang. Lalu ia menceritakan seluruh kejadian yang menimpanya, mulai sejak dirinya diajak berburu oleh Bagas di Alas Ketonggo, terpanah di dadanya, hingga terjebak di dalam goa serta mempelajari kitab-kitab yang ditemukannya.


“Begitulah seluruh kejadiannya Kyai, Kanjeng Romo.”jelas Danang.

__ADS_1


“Baiklah, aku percaya padamu nakmas. Tapi kau harus memiliki bukti untuk memperkuat keteranganmu.”ucap Kyai Surawisesa.


__ADS_2