
Kejap berikutnya sosok Komang Wisesa yang telah berubah menjadi mengerikan itu memancarkan hawa yang sangat panas, sekujur tubuhnya seakan diselimuti oleh api yang membara.
Danang yang juga terkejut dengan hawa yang dikeluarkan oleh lawannya segera berteriak memerintahkan semua orang agar segera meninggalkan tempat itu.
“Kanjeng adipati, tolong bawa semua orang agar meninggalkan tempat ini. Kakang sekalian, pergilah menyingkir!”seru pemuda tersebut.
Adipati Wirodiningrat segera meminta semua prajuritnya bergegas pergi maninggalkan wilayah tersebut, berbeda halnya dengan tiga orang prajurit patang puluhan, Sasongko, Handoko, dan Sumitro yang memilih untuk tetap mendampingi junjungannya. “Nyuwun pangapunten Gusti Pangeran, kami tetap bersama dengan Gusti Pangeran, apapun yang terjadi.”ucap mereka bertiga.
Danang yang menyadari kesetiaan prajuritnya hanya bisa menghela nafas dan berkata, “Baiklah, aku menghargai kesetiaan kakang sekalian. Tapi tolonglah menyingkir agak jauh agar aku bisa memusatkan segenap perhatianku pada rangda di depanku."ucapnya.
"Jika aku kalah segeralah pergi dari sini, itu perintah!”ujarnya lalu menghimpun tenaga dalamnya hingga batas tertinggi yang mampu dikerahkannya seraya merapal ajian Gelap Ngampar dan tetap mempertahankan ajian Bayu Bajra dan ajian Tameng Waja untuk melindungi dirinya.
Ketujuh cakra dalam tubuhnya berputar cepat menghasilkan luapan tenaga dalam yang dahsyat, hingga membuat hawa angin yang panas membakar di sekeliling pemuda tersebut dan membuat kerikil-kerikil di sekitarnya melayang.
Ketiga prajuritnya segera menyingkir lebih jauh karena tidak mampu menahan hawa panas dan luapan hawa sakti yang keluar dari tubuh pemuda junjungannya tersebut.
Danang dan Komang Wisesa diam saling menatap tajam hingga hampir dalam waktu sepenanakan nasi karena masing-masing menyadari bahwa setiap kesalahan sekecil apapun akan dapat berakibat melayangnya nyawa mereka.
Komang Wisesa yang telah berubah menjadi rangda akhir mengambil keputusan untuk bergerak menyerang terlebih dahulu.
Tubuhnya melayang sejengkal dari tanah tempatnya berpijak beberapa saat lalu melesat menyabetkan jari-jarinya yang kini memiliki kuku panjang yang tajam laksana pisau membara kearah lawannya.
Danang yang diserang sedemikian cepat bergerak membuang dirinya kesamping dan berniat menghantam lawannya dengan pukulan yang dilambari ajian Gelap Ngampar, namun belum sempat ia melakukan serangan, sosok Komang Wisesa telah melesat ke belakang tubuhnya sambil melakukan serangan dengan kuku-kukunya, hingga terpaksa membuat pemuda gagah tersebut kembali menghindar dengan melakukan lompatan harimau.
Komang Wisesa yang tidak mau melepaskan lawannya kembali melesat mengejar lawannya yang kini terdesak oleh sebatang pohon sawo yang melintangi tubuhnya.
Craaasshh....kuku-kuku membara Komang Wisesa membabat dua kali kearah tubuh lawannya. Danang terpaksa melompat keatas pohon untuk menghindar.
Buuum...kejap berikutnya pohon sawo yang terkena serangan yang dilancarkan oleh Komang Wisesa tumbang, putus bagaikan pisang yang dipotong oleh sebilah pisau yang sangat tajam. Sisa goresan yang terdapat pada pohon sawo tersebut hangus terbakar.
Danang melesat turun sambil menyasar kepala Komang Wisesa dengan ajian Gelap Ngampar miliknya...”Gelap Ngampar...hiaaaah...duaaar...terjadi ledakan tak kasat mata yang membuat kedua sosok yang sedang bertarung tersebut mencelat hingga sepuluh tombak.
Pada detik terakhir rupanya Komang Wisesa mampu menahan pukulan lawannya yang menyasar kepalanya.
__ADS_1
Keduanya merasakan sesak pada dada mereka akibat tumbukan tenaga dalam.
Keduanya merasakan tangan mereka kebas dan mati rasa untuk beberapa saat hingga mereka terpaksa berdiam sejenak untuk memulihkan diri.
Komang Wisesa yang terkejut dengan kemampuan pemuda itu yang mampu menandingi ajian Rangda Pangiwa miliknya segera berkomat-kamit merapalkan mantera tertentu memanggil bantuan dari jin dan setan perewangan peliharaannya untuk menyerang pemuda lawannya.
Tak berapa lama Danang mulai merasakan kepalanya berdenyut sakit, pandangannya memburam, dan dadanya sesak akibat gangguan dari jin dan setan perewangan peliharaan lawannya.
Dengan cakra netra miliknya ia melihat kerumunan mahluk-mahluk menyeramkan berteriak-teriak di sekelilingnya.
Dalam pertarungan tingkat tinggi seperti ini, kehilangan kewaspadaan walau sesaat saja bisa membawa dampak yang sangat berbahaya.
Hal ini disadari oleh Komang Wisesa yang menyadari keadaan lawannya dan bergerak melesat menyabetkan cakarnya kearah pemuda tersebut.
Danang mencoba menghindar namun tak ayal satu serangan menggores perutnya...Crasss...pakaian yang dikenakannya sobek hitam menghangus, namun ia beruntung bahwa dirinya dilindungi oleh ajian Tameng Waja dan kotang Kyai Nogo Bumi yang memiliki tuah melindungi dari serangan dan melunturkan pengaruh sihir, sehingga terhindar dari kematian.
Danang melompat menjauh sambil membaca ayat-ayat suci untuk mengusir pengaruh dari jin dan setan perewangan yang kini turut menyerangnya sambil terus menghindari serangan tebasan kuku-kuku membara Komang Wisesa yang terus menerus dilayangkan untuk menyerangnya.
Rasa sesak di dada dan sakit di kepalanya kini sudah menghilang, namun penglihatannya masih kabur dan membayang.
Beberapa cakaran berhasil mendarat dan mengoyak tubuhnya, namun walaupun merasakan sakit yang amat sangat, tubuhnya tidak terluka dalam akibat terlindungi ajian Tameng Waja dan kotang Kyai Nogo Bumi.
Ketiga prajuritnya merasa cemas melihat junjungannya terdesak sedemikian hebat.
"Kakang, apa tindakan kita?”ucap Sumitro. “Kita tunggu beberapa saat lagi, jika Gusti Pangeran semakin terdesak, kita akan mengadu nyawa dengan iblis itu.”ujar Handoko yang diamini oleh Sasongko dan Sumitro.
Puluhan jurus kembali tersaji pada pertarungan ini. Beberapa kali lagi Komang Wisesa berhasil mengoyak tubuh lawannya hingga saat ini pemuda itu tidak lagi mengenakan pakaian atasnya.
Pakaiannya telah koyak entah kemana, tinggal kotang Kyai Nogo Bumi yang terlihat masih menutupi tubuh bagian atas pemuda tersebut.
Dalam usahanya memusatkan pikiran dan rasa, Danang merasa sesuatu meluap keluar dari ketujuh cakra nya.
Perlahan ia mulai bisa merasakan serangan-serangan yang dilancarkan oleh lawannya walaupun pandangannya kabur.
__ADS_1
Lima puluh jurus kembali berlangsung, dan kini Danang mampu menghindari seluruh serangan lawannya.
Akhirnya Danang memutuskan untuk menutup ajian Gelap Ngampar yang dikerahkannya dan mengeluarkan sepasang kudi hyang miliknya.
Sontak hawa yang sangat dingin melebihi es memenuhi tempat itu. “Hawa panas seharusnya dilawan dengan hawa dingin. Baiklah, aku akan mencobanya.”batin pemuda tersebut.
Dengan tetap memejamkan matanya ia melesat menyerang sosok rangda di hadapannya, namun kali ini ia mencoba memadukan tuah kudi hyang miliknya yang mengeluarkan hawa yang sangat dingin dengan ajian Bayu Bajra dan tenaga dalam berhawa dingin miliknya.
Setiap serangannya mengeluarkan badai angin yang sangat dingin, bagaikan badai salju hingga meredam hawa panas yang dikerahkan oleh lawannya.
Lama kelamaan sosok rangda Komang Wisesa yang pada awalnya mampu menghindari serangan-serangan badai angin dingin mulai merasakan sekujur tubuhnya perlahan-lahan menjadi kaku akibat hawa dingin luar biasa yang dikerahkan oleh pemuda tersebut.
“Gila..ilmu apa ini? Hawa dingin yang dikerahkannya mampu membuat tubuhku kaku dan sulit untuk bergerak.”batin Komang Wisesa.
Setelah kembali berlangsung selama sekitar tujuh puluhan jurus, Komang Wisesa melihat celah dan mendapatkan kesempatan melakukan serangan kearah lehar dan perut lawannya, dengan segera ia melesatkan kuku-kukunya untuk menghabisi lawannya.
Namun kejap berikutnya ia terperangah. Celah yang dilihatnya ternyata hanya tipuan belaka.
Pemuda tersebut dengan sengaja memancingnya dan memperlihatkan celah, lalu membuang tubuhnya kesamping, menuju sudut mati milik lawannya dan melakukan serangan dengan senjatanya.
Craasss...tangan kanan Komang Wisesa putus sebatas siku. Hawa dingin segera merasuk ke sekujur tubunya. Darah muncrat kemana-mana. Kekebalan tubuhnya seolah tak berdampak.
Kejap berikutnya ia merasakan sayatan panjang pada punggungnya yang segera dirasuki oleh hawa yang sangat dingin.
Rupanya Danang melanjutkan melakukan gerakan berputar ke belakang dan menyayat punggung Komang Wisesa dari bawah ke atas, dan tidak berhenti sampai disitu, ia melanjutkan dengan tebasan ke arah leher Komang Wisesa.
Komang Wisesa yang tubuhnya telah menjadi kaku tidak lagi mampu bergerak menghindari serangan tersebut, lehernya putus tertebas senjata kudi hyang milik lawannya.
Kepalanya mencelat ke atas, tubuhnya ambruk dan tewas bahkan tanpa sempat mengerang saking cepatnya serangan yang dilancarkan oleh lawannya.
Melihat tubuh lawannya ambruk dengan kepala terpisah dari lehernya, Danang terdiam mematung dan berusaha menentramkan hatinya dengan mengatur nafasnya.
Peluh telah membasahi sekujur tubuhnya, nafasnya terengah-engah, pandangannya semakin kabur.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian sosok pemuda gagah pemimpin satuan prajurit patang puluhan tersebut terjerembab jatuh.
Sayup-sayup di sisa kesadarannya terdengar derap langkah dan teriakan para prajuritnya, "Gusti Pangeran...!."