Kitab Manunggaling Semesta Jagad

Kitab Manunggaling Semesta Jagad
BAB 20, SAYEMBARA


__ADS_3

Sebelum tiba di pemukiman warga desa, Danang memutuskan untuk menyembunyikan kantong-kantong emas miliknya dengan cara menguburnya sekitar delapan langkah dari pohon asem dekat perkebunan warga, kemudian melanjutkan langkahnya menuju kediaman Warsono.


“Sampurasun.”sapanya di halaman rumah Warsono.


“Rampes raden. Monggo silahkan masuk raden.”jawab Warsono sambil merapihkan ruangan untuk tamunya.


“Apakah saya mengganggu kesibukan kakang?”tanya Danang berbasa basi sebelum memasuki rumah Warsono.


“Mboten raden. Kami sekeluarga sangat senang dengan kedatangan raden.”jawab Warsono lagi.


“Kakang, kelihatannya aku membutuhkan bantuanmu, bahkan agaknya akan merepotkan kakang sekeluarga.”ucap Danang membuka percakapan.


“Mboten raden, tidak akan merepotkan tentunya. Kiranya bantuan apa yang bisa saya lakukan untuk raden?”tanya Warsono.


Danang pun menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya, mulai dari dikuntit oleh dua pendekar sakti, pertarungan, hingga tindakannya menyembunyikan dua mayat lawannya, tanpa menyebutkan tindakannya menyembunyikan emas di dekat perkebunan warga.


“Mendengar cerita raden, sepertinya dua pendekar itu memiliki ciri-ciri yang kuketahui sebagai pengawal kepala desa Sekarjati.”ucap Warsono setelah mendengarkan cerita Danang.


“Setahuku pendekar dengan ciri-ciri membawa pedang kembar adalah pendekar yang bernama Munding Kusuma, pelanggan rumah pelacuran yang dengan semena-mena tidak pernah mau membayar setelah menikmati jasa para wanita di rumah pelacuran.”ucap Warsono.


“Terlebih semakin menguatkan dugaanku, menurut cerita raden telah berhadapan dengan pendekar botak bersenjatakan tongkat baja yang tampaknya dari negeri Tartar. Sepengetahuanku ia adalah salah satu pendekar bayaran yang menjaga Ki Ageng Gandrik.”tambahnya.


Danang manggut-manggut mendengar keterangan Warsono sambil berpikir mengenai rencana selanjutnya.


“Kakang, kelihatannya untuk sementara waktu aku membutuhkan tempat untuk menginap, dan aku juga membutuhkan bantuan kakang untuk mengintai keadaan di sekitar tempat keramaian serta kediaman kepala desa Sekarjati. Aku membutuhkan keterangan mengenai keadaan setelah kejadian tersebut.”ucap Danang.


“Dengan senang hati raden, saya bisa menyediakan bilik untuk raden beristirahat disini, dan saya juga bisa mencari keterangan mulai esok pagi.”jawab Warsono.


“Terima kasih kakang. Maaf sudah merepotkan kakang sekeluarga.”ucap Danang.


“Mboten raden. Tidak merepotkan sama sekali, apalagi mengingat budi baik raden terhadap kami semua. Sebentar saya akan siapkan dahar untuk raden.”jawab Warsono.


Kemudian Warsono bergegas pergi ke belakang menyiapkan santap malam, sementara Danang pergi melaksanakan kewajibannya.


Akhirnya Warsono kembali dengan makanan yang cukup banyak, dengan lauk ayam bakar dan beberapa lalapan untuk santap malam. Mereka menghabiskan santap malam dengan lahap.


“Dimana istri dan anakmu kakang? Apa mereka sudah makan?”tanya Danang melihat mereka hanya menghabiskan santap berdua saja.

__ADS_1


“Sampun raden. Istriku sedang menyiapkan bilik untuk raden beristirahat. Anak dan istriku telah menyelesaikan santap mereka raden.”jawab Warsono.


Setelah itu mereka berbincang sejenak sebelum akhirnya Danang memutuskan untuk beristirahat di bilik yang telah disediakan. Pemuda gagah itu langsung terlelap setelah menyelesaikan kewajibannya pada Sang Pencipta.


Keesokannya sambil menyantap sarapan pagi, Danang dan Warsono berbincang tantang rencananya hari itu.


“Kakang, seperti permintaanku semalam, aku butuh bantuan kakang beberapa hari ke depan untuk mengumpulkan keterangan di tempat-tempat keramaian dan sekitar kediaman kepala desa. Menurut perkiraaanku, kejadian kemarin pasti tidak dapat ditutupi terlalu lama, cepat atau lambat akan segera terendus kematian dua pendekar itu.”ujar Danang.


“Inggih raden, saya akan melakukan seperti yang raden minta mulai pagi ini. Semoga kejadian raden kemarin tidak terendus oleh pihak berwenang desa ini.”ucap Warsono


“Semoga saja kakang. Nah, sekarang pergilah kakang. Aku menunggu keterangan darimu.”ujar Danang.


Warsono kemudian beranjak meninggalkan tempat kearah kediaman kepala desa Sekarjati untuk mengumpulkan keterangan.


Sementara itu di kediamannya, Ki Ageng Gandrik memanggil para pendekar bayarannya menghadap. Sebentar saja, Warok Banteng Ireng, Datuk Kumbang, dan Ni Luh Gandamayit datang menghadap ke ruangan kepala desa.


“Kemana Munding Kusuma dan Kwee Ban Siang? Apa mereka telah berhasil dengan tugasnya?”tanya Ki Ageng Gandrik.


“Sejak kemarin kami belum bertemu dengan kedua orang itu Tuan.”jawab Warok Banteng Ireng.


“Seharusnya dengan kepandaian mereka, tugas yang kuberikan dapat diselesaikan dengan mudah. Mengapa sampai saat ini mereka belum juga kembali?”ujar Ki Ageng Gandrik.


“Baik Tuan.”jawab Ni Luh Gandamayit seraya mengeluarkan perlengkapannya. Tak lama kemudian, bau kemenyan menyebar ke seluruh ruangan. Terlihat Ni Luh Gandamayit berkomat-kamit merapalkan mantra dengan wajah cemas.


Tak berapa lama kemudian Ni Luh Gandamayit menyudahi upacara penerawangannya dengan raut wajah yang tidak enak dipandang mata, seraya berkata,”Tuan, kedua pendekar itu telah tewas setelah bertarung dengan pemuda yang ternyata cukup sakti.”ucapnya.


Terkejut semua yang hadir di ruangan itu mendengar keterangan dari Ni Luh Gandamayit. Ki Ageng Gandrik bahkan sampai hampir terjatuh dari kursinya mendengar keterangan itu.


“Mana mungkin? Aku tahu persis kesaktian mereka berdua. Sesakti apa sebenarnya pemuda itu Nyai?”ucap Ki Ageng Gandrik dengan raut wajah tegang dan panik.


Warok Banteng Ireng dan Datuk Kumbang pun tak kalah terkejutnya mendengar itu, walaupun sebagai pendekar kelas atas timbul pula rasa penasaran atas kemampuan pemuda yang mampu mengalahkan dan membunuh Munding Kusuma dan Kwee Ban Siang.


Sudah menjadi kebiasaan bagi para pendekar kelas atas untuk selalu penasaran untuk menjajal kesaktian mereka dengan kemampuan orang yang dikatakan sakti untuk membuktikan kemampuan mereka masing-masing.


“Benarkah pemuda yang dikatakan Ni Luh Gandamayit sesakti itu hingga mampu membunuh Munding Kusuma dan Kwee Ban Siang?”batin Warok Banteng Ireng dan Datuk Kumbang senada.


“Menurut penerawanganku, mereka berdua menguntit seorang pemuda yang berpakaian layaknya kerabat Keraton ke arah perkebunan yang sepi lalu bertarung disana.”ucap Ni Luh Gandamayit.

__ADS_1


“Lalu mereka dikalahkan dan terbunuh disana. Mayatnya dikubur di dekat pohon nangka yang terdapat di tengah-tengah perkebunan singkong milik warga.”tambahnya.


“Lalu dimana pemuda itu sekarang Nyai?”tanya Ki Ageng Gandrik.


“Aku tidak mengetahuinya Tuan. Penerawanganku hanya mampu melihat hingga akhir pertarungan mereka saja.”jawab Ni Luh Gandamayit.


Terdiam beberap saat, akhirnya Ki Ageng Gandrik mengeluarkan perintahnya pada para pendekar bayarannya,”Kakang warok, tolong segera kau cari keterangan tentang pemuda itu di rumah-rumah perjudian kita. Buatlah sayembara dengan hadiah tiga kantong emas bagi siapapun yang mampu memberikan keterangan mengenai pemuda itu.”


“Datuk Kumbang, segera kirimkan surat permintaan bantuan pasukan pada meneer Dedrick Van Osch di Jepara, lalu pergilah ke perkebunan warga untuk mencari mayat Munding Kusuma dan Kwee Ban Siang. Aku membutuhkan bukti nyata atas kematian mereka.”perintah Ki Ageng Gandrik.


“Baik Tuan, kami segera melaksanakan tugas.”ucap Warok Banteng Ireng dan Datuk Kumbang bersamaan.


“Tuan meragukan hasil penerawanganku?”ucap Ni Luh Gandamayit sepeningal Datuk Kumbang dan Warok Banteng Ireng dari ruangan itu.


“Bukan begitu Nyai, aku hanya merasa masih tidak percaya ada seorang pemuda yang mampu mengalahkan keroyokan Munding Kusuma dan Kwee Ban Siang. Kita tahu persis kesaktian mereka berdua cukup tinggi.”ucap Ki Ageng Gandrik.


“Lagipula sudah selayaknya mayat mereka diurus dengan selayaknya, mengingat mereka berdua telah berjasa bagiku.”tambahnya.


Setelah diam sejenak, Ji Luh Gandamayit berkata, Baiklah Tuan, lantas apa yang harus aku lakukan Tuan?”tanya Ni Luh Gandamayit.


“Kau tetap disini Nyai, aku membutuhkanmu untuk melindungiku, setidaknya sampai Warok Banteng Ireng dan Datuk Kumbang kembali. Untuk sekedar berjaga-jaga Nyai.”ucap Ki Ageng Gandrik.


“Perlukah aku mengirimkan pesan untuk meminta bantuan pada guruku Tuan?” Aku menjadi khawatir jika ternyata pemuda itu benar-benar sakti mandraguna.”tanya Ni Luh Gandamayit.


“Lakukanlah Nyai, kita memerlukan bantuan untuk mengamankan diri kita serta sumber penghasilan kita. Tawarkan hadiah yang besar untuknya jika kelak berhasil.”ucap Ki Ageng Gandrik.


“Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mendatangkan gurumu Nyai?”tanya Ki Ageng Gandrik.


“Kira-kira satu purnama dibutuhkan untuk melintasi selat dan melanjutkan perjalanan darat dari Banyuwangi menuju tempat ini Tuan.”jawab Ni Luh Gandamayit.


“Baiklah. Untuk sementara menunggu kedatangan gurumu kita persiapkan pasukan kita sambil juga menunggu bantuan pasukan dari meneer Van Osch.”ucap Ki Ageng Gandrik.


Segera terjadi kesibukan di wilayah kediaman kepala desa Sekarjati. Tampak prajurit-prajurit desa berseliweran dengan persenjataan lengkap, mulai dari bedil, tombak, dan panah bergantian menjaga dan melakukan ronda di tempat-tempat keramaian dan di sekitar kediaman kepala desa.


Di lain sisi, setelah mendapatkan keterangan dari rumah judi, Warok Banteng Ireng dan beberapa prajurit desa menempelkan kertas sambil mengeluarkan woro-woro sayembara.


“Bagi siapapun yang dapat memberikan keterangan mengenai keberadaan pemuda tak dikenal dengan ciri-ciri berikut akan diganjar hadiah sebanyak tiga kantong emas, dan bagi siapapun yang mampu menangkapnya hidup-hidup serta menyerahkannya pada kepala desa akan diganjar dengan hadiah sebanyak lima kantong emas.”demikian bunyi woro-woro tersebut.

__ADS_1


Kesibukan yang diluar kebiasaan itu menarik perhatian Warsono yang berada dekat rumah perjudian.


Dengan segera ia mendekat ke arah prajurit desa yang sedang membacakan woro-woro sayembara tersebut, lalu beringsut mengendap-endap meninggalkan keramaian tersebut...


__ADS_2