Kitab Manunggaling Semesta Jagad

Kitab Manunggaling Semesta Jagad
BAB 4, DIBALIK PETAKA


__ADS_3

Kembali pada sosok Danang yang perlahan menemukan kembali kesadarannya.


Danang siuman dan merasakan sakit pada dada sebelah kanan dan merasakan panas di sekujur tubuhnya akibat pengaruh racun katak dan ular sendok yang dilumurkan pada anak panah yang menembus dadanya.


Dipaksakannya untuk mencabut anak panah dari dadanya. Darah kembali menyembur hingga Danang merasa sangat lemas.


Dengan sisa kesadarannya, Danang berjalan perlahan berusaha keluar dari Hutan Alas Ketonggo, namun ternyata arah yang ditempuhnya salah hingga membawanya makin masuk kedalam hutan.


Ditengah hutan ketika matahari hamper terbenam, Danang menemukan sebuah goa dan merangkak masuk kedalam goa dengan sisa sisa tenaganya.


“Aku harus bertahan, aku tidak boleh mati, aku harus bertemu dengan Kanjeng Romo,”tekad Danang.


Semakin masuk kedalam goa, Danang tidak mampu melihat karena suasana gelap di dalam goa, ditambah matahari sudah terbenam.


Akhirnya Danang hanya bisa merangkak dan mengikuti nalurinya saja.


Akhirnya Danang memaksakan tubuhnya yang semakin terasa panas untuk berdiri dan berjalan walaupun terseok seok.


Samar-samar ia melihat cahaya tidak jauh di depannya dan berjalah perlahan kearah cahaya itu. Samar samar kakinya merasakan getaran yang makin keras. Lindu !


Seluruh goa bergetar keras! Kakinya yang sudah dengan susah payah gemetar menopang tubuhnya tidak sanggup bertahan dari lindu yang terjadi, Danang pun terhempas kuat.


Byuur… Danang tercebur kedalam sebuah kolam yang sangat dingin hingga membuatnya mengigil kedinginan dan tidak mampu lagi untuk bergerak.


Danang pun pasrah, “Sampai disini kah ajalku?” batinnya.


Dalam keadaan menggigil, ia merasakan panas di tubuhnya turun dengan sangat cepat hingga kesadarannya kembali menurun dengan cepat.

__ADS_1


Ketika tenaganya hampir habis, secara tiba-tiba dari dalam tubuhnya menyeruak suatu kesadaran hingga mampu membuatnya bangkit seakan memperoleh tenaga baru.


Danang perlahan berenang ke tepi dan merangkak naik dari kolam tersebut.


Nafasnya terengah engah menahan dingin. Diperhatikannya lindu yang mengakibatkan getaran keras sudah berhenti.


Setelah beberapa lama tubuhnya mulai dapat membiasakan dengan keadaan dan panas tubuhnya berangsur kembali seperti sedia kala.


Ia mulai memperhatikan keadaan sekelilingnya dan merasa takjub.


Ternyata cahaya yang tadi dilihatnya berasal dari bebatuan yang melekat pada dinding goa dengan jumlah yang cukup banyak. Lalu lebih takjub lagi ketika ia mendapati tubuhnya tidak lagi merasakan panas mendera dan nafasnya tidak lagi tersengal sengal.


“Aneh, apa pengaruh racunnya hilang? Tubuhku serasa kembali seperti tidak mengalami apapun.”batinnya sambil meraba dada sebelah kanannya yang tadi tertembus anak panah.


Makin terkejut ketika ia mendapati luka di dadanya telah menutup dan hanya meninggalkan sedikit bekas luka.


Akhirnya Danang merebahkan diri diatas sebuah batu yang berbentuk agak rata dan jatuh tertidur.


Ketika akhirnya Danang membuka matanya, yang pertama dilihat adalah keadaan di dalam goa.


Kepalanya mendongak keatas dan mendapati sebuah lubang di langit-langit goa sehingga cahaya matahari dapat menerobos masuk. Dilihatnya dua buah kolam yang mengepulkan asap, yang satu berhawa sangat dingin, yang satunya berhawa sangat panas.


“Aku harus kembali ke rumah Kanjeng Romo.”pikirnya.


Lalu ia membawa kakinya melangkah kearah pertama kali ia memasuki goa.


Alangkah terkejutnya Danang ketika melihat longsoran bebatuan menutupi pintu masuk goa.

__ADS_1


“Celaka, aku tidak dapat keluar dari sini.”pikirnya. Akhirnya Danang memutuskan untuk kembali masuk ke dalam goa dan duduk diatas batu tempatnya tertidur semalam dan termenung sambil mengawasi keadaan sekitarnya mencari jalan keluar.


Semilir angin dirasakannya dari suatu arah dan ketika ia menoleh dilihatnya cahaya dari kejauhan. “Pasti itu adalah ujung dari goa ini.” Diputuskannya untuk berjalan kearah cahaya tersebut.


Danang merasakan jalan yang dilaluinya semakin lama semakin menurun, dan ketika sampai dijujung mulut goa dilihatnya batu batuan berserakan di pinggir mulut goa.


"Pasti gara-gara lindu semalam mulut goa yang satu tertutup dan mulut goa yang ada di depanku ini menjadi terbuka.”pikirnya.


Ketika keluar dari mulut goa dilihatnya hamparan padang rumput yang luas dengan beberapa pohon dan sebuah danau, serta tebing-tebing tinggi mengelilingi dataran tersebut.


Danang pun berjalan mengelilingi dataran tersebut sambil mengamati. “Hmm…sepertinya tidak ada jalan keluar dari sini. Tebing-tebing itu sangat tinggi dan sangat curam. Tidak mungkin aku mampu memanjatnya.”


Dilihatnya pula banyak ayam hutan dan pohon buah buahan serta ikan di dalam danau.


"Paling tidak aku bisa bertahan hidup untuk sementara disini.”pikirnya. Lalu Danang mulai mengambil beberapa buah pisang untuk mengganjal perutnya yang lapar.


Sambil makan, matanya memandang sekelilingnya dan pandangannya tertumbuk pada sebuah goa kecil di tebing sisi barat.


"Mungkinkah ada jalan keluar dari goa kecil itu?” pikirnya.


Setelah perutnya dirasa cukup kenyang, ia melangkah menuju goa tersebut.


Sesampainya di mulut goa yang hanya setinggi satu setengah kali orang dewasa dan lebar sekitar dua tombak, Danang memutuskan untuk masuk ke dalamnya.


Ternyata dengan hanya melangkah sekitar tiga tombak goa itu sudah buntu.


Terdapat sebuah peti yang terdapat diujung dinding goa. Dengan hati-hati Danang mendekati peti dan membukanya.

__ADS_1


“Ini adalah….”


__ADS_2