
Keesokannya setelah Kyai Ageng berangkat, Bagas mengajak adiknya untuk pergi berburu ke Hutan Alas Ketonggo yang terkenal angker.
“Tapi Kanjeng Romo selama ini melarang kita untuk masuk kedalam Alas Ketonggo kangmas,”ucap Danang.
“Hanya sebentar dimas, kita hanya berburu menjangan.” Dimas pasti belum pernah merasakan nikmatnya daging menjangan kan?” alih Bagas.
“Lagipula Kanjeng Romo berpesan agar dimas manut pada kakang bukan? Kakang adalah pengganti Kanjeng Romo selama Kanjeng Romo berada di Pasundan.” ujar Bagas
Mendengar hal itu Danang berpikir dan akhirnya menyanggupi, “Baiklah kakang, dimas manut.”
Bagas tersenyum membayangkan siasatnya akan berjalan dengan tanpa gangguan.
“Kita persiapkan segala sesuatunya, besok pagi setelah sembahyang kita akan berangkat kesana.” ucap Bagas.
Lalu mereka berdua menebang pohon bambu untuk dibuat menjadi busur dan anak panah.
Pada pagi hari keduanya berangkat menuju Alas Ketonggo.
__ADS_1
Setelah sampai, mereka masuk kedalam Alas Ketonggo hingga jauh kedalam hingga terlihat kelompok menjangan sedang bersantap dedaunan.
“Dimas, kau bergerak dari sisi kiri, Kakang dari sisi kanan untuk menjebak mereka. Kalau mereka lari, kita kejar dari dua sisi.”Bagas memberikan arahan.
“Baik kakang.”ucap Danang.
Lalu mereka mulai bergerak secara perlahan kearah dua sisi mengepung kawanan menjangan.
Kelompok menjangan yang memang pada dasarnya memiliki pendengaran tajam merasakan pergerakan mereka berdua lalu lari berhamburan ke segala arah.
Danang spontan melompat dan berlari mengejar sambil membidikkan panahnya.
Darah menyembur deras dan Danang terjerembab dan mulai kehilangan kesadarannya.
Lamat-lamat ia melihat sesosok bayangan mendekatinya lalu mendengar sosok tersebut berkata, “Rasakan, matilah kau dimas.
Dengan ini aku akan menguasai seluruh ilmu dan pusaka Kanjeng Romo, dan aku tidak lagi memiliki pesaing.”ucap sosok tersebut yang ternyata adalah Bagas.
__ADS_1
Lalu Danang kehilangan kesadaran seluruhnya.
Bagas lalu pergi meninggalkan Danang karena yakin Danang tidak akan mampu bertahan dari anak panahnya yang dilumuri darah katak beracun dicampur bisa ular sendok yang ia tangkap sebelumnya.
Bagas kembali ke pondok Kyai Ageng Banyu Urip dan memasuki ruangan pribadi milik Kyai Ageng lalu mulai mengobrak abrik seluruh ruangan tersebut. Ia lalu menemukan sebuah peti yang ketika dibuka berisi kitab-kitab kanuragan dan sebuah keris pusaka Kyai Segoro Geni.
Ketika dicabut dari warangkanya, keris itu memancarkan pamor angker kemerahan.
Tampak jelas bahwa keris Kyai Segoro Geni bukan keris sembarangan dan merupakan pusaka yang pilih tanding.
Setelah memasukkan kembali keris Kyai Segoro Geni ke dalam warangkanya, Bagas membuka kitab-kitab yang ada dalam peti dan terlihat ini adalah kitab-kitab kanuragan yang sangat hebat yang berisikan jurus-jurus langka, pengolahan tenaga dalam, hingga ajian Bandung Bondowoso dan ajian Saipi Angin yang terkenal dahsyat.
Bagas tersenyum melihat hasil temuannya. Bibirnya menyeringai, tampak keserakahan menguasai dirinya terlihat dari wajahnya.
“Aku akan menjadi pendekar pilih tanding dengan memiliki ini semua, lalu dengan kesaktianku kelak, aku akan dapat menjadi perwira di Kadipaten setelahnya…hahahaha.” pikir Bagas.
Bagas lalu kembali bersiasat lalu pergi ke desa di sebelah barat Hutan Alas Ketonggo, menculik dan membunuh seorang penduduk dan menguburkannya di halaman belakang kediaman Kyai Ageng Banyu Urip.
__ADS_1
Bagas membuat kuburan di halaman belakang dengan nisan dari kayu bertuliskan namanya, dengan tujuan agar ketika Kyai Ageng Urip kembali dari Tanah Pasundan tuduhan akan menyasar pada Danang yang seolah telah mengambil kitab serta keris pusaka setelah membunuh Bagas terlebih dulu.
Setelah selesai membuat kuburan, Bagas lalu memasukkan kitab-kitab dan keris pusaka tersebut kedalam buntalan yang sudah dipersiapkannya dan pergi meninggalkan kediaman Kyai Ageng Banyu Urip mencari tempat untuk bersembunyi dan mempelajari kitab-kitab tersebut.