
Kedua pemuda itu lantas bertemu di rumah pelacuran lalu membebaskan paksa dan membakar rumah-rumah pelacuran disana.
Para wanita-wanita yang telah dibebaskan kemudian diminta pergi dari situ setelah diberikan keping uang emas yang cukup untuk bekal menjalani hidup mereka selanjutnya.
Kemudian mereka berdua mendatangi rumah-rumah perjudian, merampas uang milik seluruh rumah perjudian, lalu membakar rumah perjudian tersebut, setelah memberikan uang pada bekas pekerja yang saat ini tidak lagi mempunyai pekerjaan setelah rumah perjudian itu dibakar habis.
“Nah, pergilah..Ini ambillah uang sekedarnya untuk modal kalian ke depan. Selanjutnya tinggalkanlah tempat ini dan jangan kembali melakukan pekerjaan yang serupa ini.”ucap dua pemuda tersebut pada mereka.
Sebagian besar dari mereka amat berterima kasih dengan upaya dan keberanian dua pemuda itu membebaskan mereka dan memberikan keping emas yang cukup bagi mereka untuk modal memulai kembali kehidupan, walaupun ada juga yang diam-diam mengumpat dalam hati karena merasa kehilangan pekerjaan, namun tentu tidak diperlihatkan, karena mereka mengetahui bahwa dua pemuda ini adalah pendekar-pendekar pilih tanding yang telah memporak porandakan seluruh kekuatan desa Sekarjati.
Selanjutnya mereka berdua melanjutkan perjalanan dengan menggunakan kereta yang ditarik oleh empat ekor kuda menuju desa Banaran di Sukowati, yang merupakan daerah pertahanan pasukan gabungan Pangeran Samber Nyowo dan Pangeran Mangkubumi dengan membawa sejumlah harta rampasan.
Mereka berdua melakukan penyamaran sebagai utusan dari keraton dengan mengenakan pakaian layaknya abdi dalem keraton dalam perjalanannya untuk menghindari kecurigaan dan kejaran pihak-pihak yang menjadi lawan mereka, terutama pihak VOC yang telah diketahui menjadi pelindung kepala desa Sekarjati dalam menjalankan aksinya.
Dalam perjalanan, Joyodipuro menceritakan tentang akar permasalahan dan tujuan mereka dalam melakukan perlawanan terhadap bangsa berambut jagung tersebut.
“Kanjeng Gusti Pangeran Samber Nyowo adalah seorang bangsawan keraton, anak dari pangeran anom yang dibuang ke negeri Ceylon karena sangat tegas menolak campur tangan bangsa asing dalam pemerintahan keraton Kartasura.”terangnya.
“Sejak kecil Kanjeng Gusti Pangeran Samber Nyowo hidup dalam kesulitan, tidak selayaknya para priyayi keraton, walaupun sesungguhnya adalah pewaris tahta keraton seandainya romonya tidak diasingkan ke Ceylon."
"Namun hidup dalam kesulitan itulah yang telah menempa beliau menjadi sosok yang cerdas, tangguh, dan memiliki semangat juang serta kesetiakawanan yang luar biasa.”tambahnya.
__ADS_1
"Selanjutnya ketika masih berusia belasan tahun, beliau ikut dalam pemberontakan mendukung salah seorang pangeran dalam upaya menduduki keraton yang berhasil membuat Sinuwun terpaksa mengungsi dari Kartasura hingga ke Surakarta, dan akhirnya meminta bantuan dari pihak VOC.”ujarnya.
“Sesungguhnya apa yang menjadi dasar perlawanan mereka berdua kakang?”tanya Danang pada Joyodipuro.
“Nah ini menarik, biarkan aku melanjutkan ceritaku, nanti kau akan menarik benang merahnya dimas.”ucap Joyodipuro.
“Kala itu karena kewalahan dengan sepak terjang Pangeran Samber Nyowo, Sinuwun menyelenggarakan sayembara untuk mengalahkan dan mengambil kembali daerah Sukowati yang diduduki oleh Pangeran Samber Nyowo dengan ganjaran tanah seluas tiga ribu cacah. Namun tidak seorangpun yang berani tampil mengikuti sayembara tersebut karena ngeri dengan keperkasaan Pangeran Samber Nyowo."
“Hingga akhirnya sosok tangguh dari keraton, yaitu Raden Mas Sudjana, yang bergelar Pangeran Mangkubumi menyanggupi sayembara tersebut dan maju menghadapi Pangeran Samber Nyowo.”terangnya.
“Pangeran Mangkubumi adalah adik Sinuwun dari garwa ampil yang memang sejak kecil dikenal taat beribadah dan sangat cakap dalam tata negara, keprajuritan, dan olah kanuragan.”tambahnya.
“Singkat cerita, Pangeran Mangkubumi berhasil mengalahkan Pangeran Samber Nyowo dan mengambil kembali daerah Sukowati untuk diserahkan kembali pada keraton. Namun setelah itu atas bujukan dan desakan Patih Pringgoloyo yang didukung VOC, Sinuwun membatalkan hadiah sayembara tersebut dan menggantinya dengan sejumlah uang.”ujar Joyodipuro.
“Melihat upayanya menemui jalan buntu, ditambah penghinaan yang diterimanya kala itu, Pangeran Mangkubumi menolak hadiah uang pengganti tanah tersebut, dan memilih keluar dari keraton lalu melakukan perlawanan.”lanjutnya.
“Mendengar hal itu, Pangeran Samber Nyowo lalu mendatangi beliau dan bergabung dengan pasukannya untuk melakukan perlawanan terbuka di seluruh tanah Jawa.”ujarnya.
“Sesungguhnya aku merasa kagum dengan dua sosok tersebut kakang."ujar Danang.
"Aku sependapat dengan mereka berdua, bahwa kedatangan bangsa asing yang pada awalnya katanya berniat berdagang ternyata telah mendatangkan kehancuran di tanah Jawa akibat ketamakan mereka, ditambah banyaknya para pengkhianat negeri yang demi harta dan kekuasaan menjadi kaki tangan mereka.”lanjut Danang setelah mendengarkan cerita Joyodipuro.
__ADS_1
“Adalah jodoh dan takdir Yang Maha Kuasa kita dipertemukan di desa Sekarjati dimas. Aku senang jika kau memutuskan untuk bergabung bersama kami, kuharap kau bukan bagian dari para pengkhianat itu dimas, karena akan sulit rasanya bertarung melawanmu,”ucap Joyodipuro sambil tertawa lalu melesatkan kereta kuda yang dikendarainya agar semakin cepat menuju desa Banaran.
Sepekan kemudian, selepas fajar menyingsing mereka berdua telah memasuki wilayah Sukowati dan terus bergerak kearah desa Banaran.
Setibanya di desa Banaran, Danang melihat ribuan pasukan yang terlihat mempunyai semangat tinggi berdiam disana.
Mereka memperhatikan kedatangannya dengan sorot mata penuh selidik, walaupun ia datang bersama dengan Joyodipuro yang merupakan pengikut Pangeran Samber Nyowo.
Agak risih Danang diperlakukan seperti itu, namun ia tidak mengindahkan tatapan penuh selidik mereka. Hingga akhirnya Joyodipuro berkata, “Mari ikuti aku dimas, kita berdua menghadap dan melaporkan keadaan di desa Sekarjati pada Pangeran Samber Nyowo dan Pangeran Mangkubumi.”ajaknya.
Mereka berdua berjalan menuju salah satu rumah yang terdapat di desa itu. Terlihat dua orang yang terasa memiliki perbawa sangat menggetarkan keluar dari dalam rumah dan berkata,”Joyodipuro, bagaimana dengan pengintaianmu di desa Sekarjati? Siapakah pemuda yang kau bawa bersamamu ini?”tanya salah satu sosok tersebut sambil tersenyum walaupun dengan mata yang menyorot tajam kearah mereka.
Menghaturkan sembah bekti, Joyodipuro menjawab, “Sendiko Gusti Pangeran, pemuda ini kebetulan bertemu dengan hamba dalam satu pertempuran dengan pihak desa Sekarjati.”ucapnya.
Joyodipuro melanjutkan dengan menceritakan pengintaiannya di desa Sekarjati dari awal hingga akhirnya tanpa sengaja mendapati pertempuran yang terjadi antara pemuda di sampingnya dengan pasukan desa Sekarjati, hingga akhirnya mereka berdua bekerjasama mengalahkan pasukan dan kepala desa Sekarjati dan menghancurkan rumah-rumah perjudian dan pelacuran di desa tersebut.
“Begitu rupanya? Siapakah engkau kisanak? Apakah benar tentang apa yang telah diceritakan oleh orang kepercayaanku ini?”tanya sosok yang teryata adalah Pangeran Samber Nyowo.
“Singgih Gusti Pangeran, hamba bernama Danang Hadikusumo. Hamba bertemu secara tidak sengaja dengan kakang Joyodipuro di wilayah perkebunan milik warga di desa Sekarjati, namun hal yang telah dikatakan oleh kakang Joyodipuro tidaklah sepenuhnya benar. Hamba hanya beruntung dan ditolong oleh kakang Joyodipuro hingga akhirnya terselamatkan dari pertempuran tersebut.”jawab Danang merendah.
Dengan sorot mata yang tajam, seolah menembus jiwa ingin mengetahui hingga sedalam apa kemampuan pemuda di hadapannya, Raden Mas Said berkata, “Ketahuilah kisanak, hatiku bersamaan merasakan senang bercampur penasaran sekaligus dengan bergabungnya engkau dalam pasukan kami."ujarnya.
__ADS_1
"Aku senang karena kami mendapatkan tambahan tenaga seorang pendekar pilih tanding yang jelas akan menguntungkan kami nantinya. Namun tolong dimaafkan jika aku sesungguhnya juga sekaligus merasa penasaran atas kedigdayaanmu itu kisanak.”ujar Pangeran Samber Nyowo sambil tersenyum ramah namun tajam tanpa tedeng aling-aling..
Jantung Joyodipuro serasa terhenti mendengar ucapan yang keluar dari mulut junjungannya itu...