
Kereta dan dua ekor kuda berhenti hanya beberapa langkah dari prajurit patang puluhan yang sedang duduk berkerumun.
Tampak Joyo Wiguno dan Joyo Praboto tersenyum sumringah lalu turun dari kereta kuda disertai dua sosok prajurit estri yang telah diketahui oleh pemuda itu, Nyai Arum dan Sekar Kinasih.
Dengan santun Danang berdiri, yang lantas diikuti oleh satuan prajuritnya lalu memberi salam, “Sugeng awan kakang dan Nyai Arum, selamat datang di barak satuan prajurit patang puluhan.”ujar Danang yang lalu disambut oleh seruan Sekar Kinasih, “Hanya Nyai Arum saja yang kakang sapa dan aku tidak? Apakah akang tidak mengenalku”ucapnya bermaksud bercanda dengan pemuda gagah tersebut.
Sambil tersenyum Danang menjawab menanggapi Sekar Kinasih, “Sugeng awan diajeng. Tentu saja aku mengenalmu diajeng. Tidak ada seorangpun diantara pasukan Gusti Pangeran Mangkubumi yang tidak mengenal diajeng Sekar Kinasih.”jawabnya sambil tersenyum sopan.
Jawaban Danang seketika membuat Sekar pipi Kinasih memerah tersipu.
Sejujurnya ia pun telah mengetahui dan kagum dengan sosok pemuda gagah dan tampan di hadapannya ketika Danang sedang melakukan tarung tanding dengan dikeroyok oleh empat orang kepercayaan Raden Mas Said, hanya saja sebagai wanita Jawa yang terkenal dengan kehalusan dan adat istiadatnya, tidak mungkin baginya memperlihatkan kekagumannya pada pemuda tersebut.
Nyai Arum dan Joyodipuro saling mengerling dan tersenyum simpul melihat merek berdua.
Ternyata sebelumnya Joyodipuro telah membicarakan tentang keinginannya mengenalkan dan men comblang kan sahabat barunya itu dengan Sekar Kinasih, karena menurutnya kedua pemuda pemudi tersebut sangat cocok bila disandingkan.
Sama-sama tampan dan cantik, sama-sama cerdas, sama-sama memiliki kanuragan dan olah keprajuritan yang handal, dan yang terpenting adalah mereka berdua sama-sama berada dalam satu kubu dengan tujuan dan niat yang sama.
Joyodipuro telah mengatur siasat per comblang an antara mereka dengan memanfaatkan latihan jemparingan yang telah disetujui oleh Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said.
Tak lama tampak Joyo Wiguno dan Joyo Praboto menghampiri mereka, “Dimas, telah kubawakan empat puluh satu busur beserta anak panahnya, satuanmu bisa mengambilnya di kereta itu.”ujar Joyo Wiguno sambil menunjuk kereta yang ditambatkan tak jauh dari mereka.
__ADS_1
“Matur nuwun kakang. Sebenarnya kakang berdua tidak perlu repot-repot mengantarkan kesini. Seharusnya aku yang mengambilnya kakang.”ujar Danang.
“Aahh..tidak merepotkan sama sekali. Aku dan Joyo Praboto memang berencana untuk mengunjungi tenda kalian, sekalian melihat persiapan satuan prajuritmu.”ujar Joyo Wiguno.
Kemudian setelah mengambil busur dan anak-anak panah, satan prajurit patang puluhan memulai latihan jemparingan yang dibimbing oleh Nyai Arum.
Pembagian tugas melatih diatur sedemikian rupa, Nyai Arum melatih dua puluh prajurit dan Mappatoba, sedangkan Sekar Kinasih melatih Danang dan dua puluh prajurit dibawah Mahesa Geni.
Tempat latihan keduanya dipisah dengan jarak yang tidak terlalu jauh, sehingga memudahkan untuk bisa saling melihat hasilnya.
Pada awalnya cukup sulit bagi mereka untuk memanah bandhulan-bandhulan yang telah dipasang sebagai sasaran jemparingan, dikarenakan selama ini mereka memusatkan pelatihan olah keprajuritan pada tata gelar dan pertempuran jarak pendek.
“Intinya adalah pemusatan pikiran dan perhatian kakang.”ujar Sekar Kinasih pada Danang.
Syuuut...jleeeb...dalam sekali bidik Sekar Kinasih melesatkan tiga buah anak panah yang tepat mengenai tiga buah bandhulan yang dipasang diatas pohon.
Terperangah kagum pemuda tersebut dengan dua puluh prajuritnya melihat kehebatan Sekar Kinasih dalam olah jemparingan.
Mereka sama sekali tidak menduga bahwa gadis cantik ini mampu melesatkan anak panah dan tepat mengenai tiga buah bandhulan sekaligus dalam jarak yang begitu jauh.
“Bagaimana kau bisa melakukan itu diajeng?”tanya Danang pada Sekar Kinasih.
__ADS_1
“Seperti yang telah kubilang pada kakang, kuncinya ada pada pemusatan pikiran dan perhatian. Rasakan gerak dan arah angin di sekitar kita, lalu lesatkan anak panah.”jawabnya.
“Baiklah, aku akan coba membimbing kakang dan kakang Mahesa Geni terlebih dulu. Sekarang gunakan satu buah anak panah terlebih dulu dan pusatkan perhatian kakang berdua pada bandhulan di depan sana.”ujar Sekar Kinasih yang berbicara dari belakang Danang dan Mahesa Geni.
Keduanya lalu menarik busur Dan mencoba untuk memusatkan perhatian mereka pada bandhulan di depan mereka, mengikuti arahan dari Sekar Kinasih.
“Bernafaslah dengn tenang dan teratur kakang, anggaplah diri kakang sebagai anak panah yang akan dilesatkan Hilangkan segala yang ada dalam pikiran kakang. Tidak ada yang lain dalam pikiran kakang, kecuali kakang sebagai anak panah dan bandhulan di depan sana.”ujarnya.
Danang dan Mahesa Geni mulai bernafas dengan pelan dan teratur dan membayangkan bahwa diri mereka adalah anak panah yang sebentar lagi akan melesat kearah bandhulan.
Danang seolah perlahan melihat wilayah di sekeliling bandhulan yang dibidiknya menjadi gelap dan semakin lama gelap itu semakin mengecil, terpusat di sekeliling bandhulan yang ditujunya.
Ia saat ini hanya melihat bandhulan yang disasarnya, tanpa melihat benda apapun di sekitarnya.
Setelah beberapa saat Sekar Kinasih bertanya, “Sekarang apa yang kakang berdua lihat?”
“Aku hanya melihat bandhulan di depan sana diajeng, aku bahkan tidak melihat pepohonan dan dahan di sekitarnya.”ucap Danang
“Sekarang lesatkan anak panahmu kakang!”perintahnya...Syuuut...Danang dan Mahesa Geni segera melesatkan anak panahnya. Jleeeb....anak panah Danang tepat mengenai bandhulan yang disasarnya, sedangkan anak panah yang dilesatkan oleh Mahesa Geni meleset sedikit, sekitar tiga jari dari bandhulan yang disasarnya.
Danang terperangah melihat hasil bidikannya, lalu dengan wajah masih menyiratkan seolah-olah tidak percaya dengan hasil bidikannya, memutar tubuhnya menoleh pada Sekar Kinasih yang berada di belakangnya.
__ADS_1
“Sekarang kakang mengerti? Inilah yang dinamakan ilmu Danurwendha, ilmu jemparingan yang menurut cerita pewayangan diajarkan oleh resi Dorna pada raden Arjuna.”ujar Sekar Kinasih sambil tersenyum pada Danang...