Kitab Manunggaling Semesta Jagad

Kitab Manunggaling Semesta Jagad
BAB 6, BEGAL SAKTI DARI TIMUR


__ADS_3

Setelah meninggalkan kediaman Kyai Ageng Banyu Urip, Bagas berjalan menuju barat pulau Jawa hingga akhirnya berdiam di Hutan Alas Malang yang termasuk wilayah Kadipaten Banyumas.


Sambil mendalami kitab-kitab pusaka Kyai Ageng Urip, Bagas kerap kali melakukan pembegalan para pedagang yang melewati Hutan Alas Malang.


Dalam menjalankan aksinya, Bagas menggenakan topeng yang menggambarkan paras Rahwana, dengan dibalut pakaian serba hitam.


Selama lebih dari limapuluh purnama Bagas melakukan kegiatan begalnya hingga menjadi momok yang sangat meresahkan bagi para pedagang yang kerap melakukan perjalanan dagang menuju Pulau Dewata ataupun pedagang dari daerah lain menuju Kadipaten-Kadipaten hingga Kotaraja di pulau Jawa.


Pihak Kadipaten Banyumas pun telah beberapa kali mengirimkan pasukan beserta perwiranya untuk meringkus perampok itu, namun selalu gagal dan dapat dikalahkan oleh Bagas yang kini menyebut dirinya Begal Sakti dari Timur.


Akhirnya pihak Kadipaten mengadakan sayembara untuk meringkus Begal Sakti dari Timur dengan imbalan emas dan jabatan sebagai Lurah prajurit di Kadipaten.


Banyak pendekar baik dari kalangan hitam maupun putih yang tertarik dengan hadiah yang dijanjikan oleh pihak Kadipaten. Mereka mulai bergerak melakukan perburuan dalam upaya meringkus Begal Sakti dari Timur, baik secara sendiri-sendiri maupun berkelompok, namun sayangnya tidak satupun dari pendekar-pendekar itu yang mampu mengalahkan Begal Sakti dari Timur, semuanya tewas oleh kesaktian Bagas.


Dari mulut para pendekar yang dikalahkannya, Bagas mengetahui tentang sayembara tersebut dan mulai memikirkan siasat demi mencapai tujuannya.


Suatu ketika, enampuluh purnama setelah Begal Sakti dari Timur menjalankan aksinya, seorang pendekar, yaitu Ki Amongrogo yang selalu mengenakan topeng mendatangi Kadipaten Banyumas untuk menyatakan kesanggupannya meringkus Begal Sakti dari Timur.


“Benarkah kau sanggup meringkus Begal yang telah membuat onar tlatah Banyumas itu?” tanya Adipati Yudonegoro.


“Bahkan para prajurit dan para perwiraku tidak ada yang mampu mengalahkannya”.

__ADS_1


“Hamba sanggup Kanjeng Adipati. Silahkan Kanjeng Adipati menitahkan para Senopati unggulan Kadipaten atau siapa saja untuk menguji kesaktian hamba.”ujarnya.


“Baiklah, mari kita menuju Sasana Wira Yudha, Senopati Macan Wulung yang merupakan Senopati andalanku yang akan mengujimu.”ujar Adipati


“Monggo Kanjeng Adipati, hamba bersedia.”jawab Ki Amongrogo.


Lalu mereka semua berjalan menuju Sasana Wira Yudha, tempat latihan olah kanuragan para perwira Kadipaten Banyumas.


Senopati Macan Wulung melangkah ke tengah sasana dan bersiap dengan kuda-kuda jurus andalannya. “Bersiaplah Ki, aku tidak akan sungkan.”ucap Senopati Macan Wulung.


Senopati Macan Wulung langsung menggebrak dengan kecepatan tinggi. Setiap pukulannnya yang selalu dilambari tenaga dalam tinggi berhasil menghantam tubuh Ki Amongrogo di beberapa bagian.


Melihat hal itu Senopati Macan Wulung meningkatkan tenaga dalamnya hingga batas tertinggi dan kembali mendaratkan beberapa pukulan, tapi tetap saja Ki Amongrogo tidak bergerak dan hanya bertolak pinggang sambil tertawa.


Panas hati Senopati Macan Wulung. Ia mundur satu tombak dan mulai merapal ajian andalannya, Ajian Watu Gunung, yang dapat menghancurkan karang sebesar kerbau dengan sekali pukul.


Melihat lawannya merapal ajian andalannya, Ki Amongrogo hanya tersenyum dibalik topengnya, “Monggo Senopati, silahkan pilih bagian tubuhku yang dianggap lunak.”


Senopati Macan Wulung melompat sambil tangannya mengerahkan pukulan yang dilambari Ajian Watu Gunung. “Hiaaaaat…” Duaaar…pukulannya mengenai dada Ki Amongrogo. Senopati Macan Wulung terlempar sejauh tiga tombak ke belakang, tangannya terasa kebas dan tidak bisa digerakkan.


Sementara Ki Amongrogo hanya terdorong mundur sejauh dua langkah dan masih saja tertawa.

__ADS_1


Senopati Macan Wulung segera mengalirkan tenaga dalam untuk mengusir hawa kebas di tangannya lalu mencabut keris pusakanya.


Melihat itu Ki Amongrogo meloloskan senjata andalannya, sepasang trisula yang memancarkan sinar redup kebiruan.


Senopati Macan Wulung yang tidak mau berlama-lama segera menerjang dengan keris pusakanya ke depan dengan kecepatan tinggi.


Ki Amongrogo berkelit kesamping dengan kecepatan yang sangat tinggi sambil menggunakan satu trisulanya menjepit keris dan trisula satunya menusuk kearah leher Senopati Macan Wulung.


Traaak…keris pusaka Senopati Macan Wulung patah menjadi dua bagian, sementara trisula satunya berhenti tepat di permukaan leher Senopati Macan Wulung.


Keringat dingin mengalir di sekujur tubuh Senopati Macan Wulung mengetahui bahwa keris pusakanya patah menjadi dua dan nyawanya berada diujung tanduk.


Bisa saja nyawanya melayang jika Ki Amongrogo tidak menghentikan trisulanya hingga dapat menembus lehernya.


“Cukup! Jangan diteruskan lagi.”seru Adipati Banyumas. “Baiklah, aku percaya dengan kemampuanmu Ki Amongrogo. Persiapkan dirimu dan segeralah ringkus Begal Sakti dari Timur.” titah Adipati.


“Senopati Macan Wulung, bawalah dua puluh prajurit pilihan dan dampingi Ki Amongrogo meringkus penjahat itu.”titahnya.


“Sendiko Dawuh Kanjeng Adipati, hamba akan segera menpersiapkan segala sesuatunya dan berangkat esok pagi.”jawab Senopati Macan Wulung.


“Daulat sendiko dawuh Kanjeng Adipati, hamba siap meringkus begal itu.”ucap Ki Amongrogo sambil menghaturkan sembah.

__ADS_1


__ADS_2