Kitab Manunggaling Semesta Jagad

Kitab Manunggaling Semesta Jagad
BAB 15, ASAL USUL DANANG DAN TABIR KITAB MANUNGGALING SEMESTA JAGAD


__ADS_3

Di halaman kediaman Kyai Ageng Banyu Urip...tampak tiga sosok sedang duduk dan berbicara dengan raut wajah yang serius.


“Ngger, menilik ceritamu sebelumnya, bolehkah Romo mengetahui lebih jelas apa saja yang kau peroleh dari kitab yang kau temukan?”tanya Kyai Ageng Banyu Urip pada Danang.


“Baik Kanjeng Romo. Hamba mempelajari kitab jurus silat, beberapa ajian kanuragan, pengobatan, tenaga dalam, sastra dan strategi perang, serta ada satu buah kitab lagi yang belum hamba pelajari.”ujar Danang.


“Apakah sudah kau kau amalkan semua ajian-ajian itu ngger?”tanya Kyai Ageng Banyu Urip.


“Belum Kanjeng Romo, dari tujuh ajian, hamba baru merampungkan tiga ajian, yaitu ajian Tameng Waja, Braja Danta, dan Bayu Bajra.”ucap Danang.


“Lalu ajian apalagi yang belum dan sudah kau amalkan nakmas?”tanya Kyai Surawisesa.


“Hamba telah mengamalkan ajian Tameng Waja, Braja Danta, dan Bayu Bajra. Masih ada ajian Braja Musti, Gelap Ngampar, Handaru Geni, dan ajian Sukma Darpala yang belum hamba amalkan Kyai.”ujar Danang.


“Sungguh beruntung kau ngger, ketahuolah bahwa kesemuanya itu adalah ajian tingkat tinggi yang sangat langka dan dahsyat.”kata Kyai Ageng Banyu Urip tersenyum kagum mendapati bahwa amak angkatnya telah menjelma menjadi pendekar pilih tanding.


“Lalu mengenai kitab itu, mengapa kitab itu belum kau pelajari nakmas?”tanya Kyai Surawisesa.


“Ketika hamba membuka kitab tersebut, tidak terdapat apapun kecuali beberapa kalimat saja pada halaman pembuka. Lagipula tampaknya kitab itu hanya khusus diperuntukkan bagi keturunan pemilik kitab tersebut”ucap Danang.


“Hmm...baiklah, tidak mudah memang mempelajari kitab langka, namun apakah nakmas mengetahui siapa pemilik kitab itu?”ujar Kyai Surawisesa.


“Menurut yang tertulis pada kitab itu, pemilik dan pengarang kitab tersebut bernama Raden Wiroyudho, putra Raden Ronggo Samudro, putra Kanjeng Sinuwun Panembahan Senopati.”ucap Danang.


Terperanjat Kyai Ageng Banyu Urip mendengar itu. Raut wajahnya menampakkan keterjutannya dengan sangat jelas.


Melihat gelagat tersebut, Danang memberanikan diri bertanya pada Kyai Ageng Banyu Urip, “Nyuwun pangapunten Kanjeng Romo, mengapa kelihatannya Kanjeng Romo begitu terkejut? Apakah Kanjeng Romo mengetahui sesuatu tentang Raden Wiroyudho?”tanya Danang.


Setelah menghela nafas, Kyai Ageng Banyu Urip berkata,”Ada dua hal yang kuketahui mengenai Raden Wiroyudho dan menyangkut dirimu ngger.”


“Pertama, ia adalah sosok yang menjadi legenda di dunia persilatan Nusantara. Sepak terjangnya sangat ngedan-edani, tanpa tanding dan menakutkan bagi lawan-lawannya di masa itu.”


“Menurut cerita, Raden Wiroyudho menolak tawaran Sinuwun untuk menjabat sebagai Senopati Utama keraton Mataram kala itu.”


“Setahuku, ia ikut membantu penyerangan Mataram ke Batavia dan menghancurkan dua buah benteng VOC, namun memilih pergi ketika terdapat kecekcokan antara para Senopati dan memilih mengembara keliling Nusantara, bahkan ke manca negara.


Dari keterangan beberapa pedagang yang datang dari timur masa itu, ia terdengar mengembara hingga ke Negeri Tartar dan tidak terdengar lagi kisahnya setelah itu.”terang Kyai Ageng Banyu Urip.


“Tak kusangka, akhirnya Sang Garuda Mataram kembali ke Tanah Jawa, dan meninggalkan kitab yang berisi tentang pengetahuannya yang bahkan disimpan tak jauh dari sini. Dan anggerlah rasanya yang telah berjodoh untuk mempelajari ilmu milik beliau.”ucap Kyai Ageng Banyu Urip.


“Yang kedua, aku akan menceritakan yang apa yang selama ini kututupi darimu ngger. Aku bukanlah Romo kandungmu. Aku mengenal Romo kandungmu ketika kami sama-sama berguru pada Kyai Usman Singodipuro di Demak. Disana akhirnya kami menjadi sahabat.”


“Ketika romo membawamu kesini, romo telah menutup sebagian ingatanmu, dengan pertimbangan agar pertumbuhan rohanimu tidak terganggu oleh ingatan buruk tersebut."


“Ketahuilah ngger, dirimu adalah trah langsung dari Raden Wiroyudho. Hal itu kuketahui dari Romo kandungmu, Raden Wiroyudho adalah kakek dari Romo kandungmu.”tambah Kyai Ageng Banyu Urip.


“Romo kandungmu memilih menjadi warga biasa, mengikuti jejak kakekmu, menanggalkan segala gelar dan keistimewaannya lalu menikahi biyungmu, seorang wanita cantik dan welas asih dari trah Sumedanglarang, dan memilih hidup sederhana di Desa Sekarjati, lalu karena sifat baik dan kepemimpinannya, ia didapuk oleh warga untuk menggantikan kakekmu sebagai kepala desa Sekarjati.”terang Kyai Ageng Banyu Urip sambil tersenyum.

__ADS_1


“Istri dari Romo kandungmu bernama Nyai Laras, adik kandungku nakmas.”tambah Kyai Surawisesa.


“Kami bertiga waktu itu sama-sama berguru ilmu agama pada Kyai Usman Singodipuro di Demak, lantas menjadi sahabat. Ketika Romo kandungmu berkunjung ke kediaman ayahku di tlatah Pasundan, tampaknya ia jatuh hati pada adikku, dan akhirnya mereka dinikahkan oleh ayahku.”ujar Kyai Surawisesa.


Menghaturkan bekti, lalu Danang bertanya, “Nyuwun pangapunten Kanjeng Romo dan Kyai, lantas dimanakah saat ini kedua orang tua hamba? Sungguh hamba sangat ini bertemu dengan mereka.”ucap Danang.


Kyai Ageng Banyu Urip menghela nafas panjang berkali-kali sebelum akhirnya menceritakan kejadian pembantaian dan kehancuran di Desa Sekarjati di masa silam.


“Romo minta maaf karena telah datang terlambat, sehingga tidak mampu menyelamatkan Romo kandung dan ibumu ngger.”ucap Kyai Ageng Banyu Urip.


Menetes airmata Danang setelah mengetahui bahwa kedua orangtuanya telah difitnah dan oleh orang yang menjadi kepercayaan romo kandungnya dibantai hanya demi harta dan kekuasaan.


“Berarti sosok terbantai yang sering kulihat dalam mimpiku adalah kedua orang tua kandungku.”batin Danang.


“Lupakanlah segala dendam ngger, ketahuilah bahwa takdir Gusti Yang Maha Kuasa berlaku atas kita sebagai mahluk Nya.”ucap Kyai Ageng Banyu Urip.


“Kita hanya bisa mendoakan arwah kedua orangtua kandungmu, semoga mereka diampuni segala dosanya dan diberikan tempat terbaik oleh Gusti Allah.”tambah Kyai Ageng Banyu Urip.


“Benar, sebaiknya persiapkan dirimu untuk mempelajari dan mengamakan ilmu yang nakmas perolah, untuk bekalmu mengupayakan keseimbangan di Tanah Jawa kelak.”tambah Kyai Surawisesa.


“Singgih Kyai, hamba mengerti bahwa takdir Gusti Allah berlaku atas mahluk Nya, namun hamba juga hanya seorang manusia yang bisa merasakan sedih.”ucap Danang.


“Sudahlah nakmas, seorang satria pantang mengeluarkan air mata walau hatinya bersedih. Lagipula mulai saat ini panggillah aku uwak, karena kau adalah keponakanku, anak kandung dari mendiang adikku. Dan rasanya mulai hari ini dimas dan aku akan menggemblengmu.”ucap Kyai Surawisesa.


“Habiskan sarapanmu ngger, setelah itu aku akan memperlihatkan gerak langkah Gagak Rimang, perhatikanlah baik-baik, kuharap kau bisa segera menyerapnya.”tiba-tiba Kyai Ageng Banyu Urip berucap tegas.


Danang pun memperhatikan gerakan itu dengan sungguh sungguh, lalu mulai mencoba setelah Kyai Ageng Banyu Urip selesai memperagakannya.


Karena memang memiliki kecerdasan diatas rata-rata, hanya dibutuhkan tiga kali pengulangan hingga akhirnya Danang menguasai gerak langkah Gagak Rimang.


Kyai Ageng Banyu Urip dan Kyai Surawisesa tersenyum puas melihat Danang mampu menguasainya dalam sekejap.


“Cukup ngger, romo lihat kau telah menguasainya. Nanti dalam perjalanannya kuharap kau bisa mencapai tahap memahaminya. Istirahatlah, besok mulailah untuk mengamalkan ke empat ajian yang belum kau kuasai, lalu kita coba membuka tabir dari kitab yang belum sempat bisa kau pelajari.”ujar Kyai Ageng Banyu Urip.


Keesokannya Danang mulai mengamalkan ajian yang belum dikuasainya. Dimulai dari mengamalkan ajian Sukma Darpala, Danang mengambil sikap bersila sambil merapalkan ajian tersebut hingga dua puluh satu malam.


Pada malam terakhir Danang melihat sosok yang menyerupai dirinya masuk menyatu dengannya.


Beristirahat tiga hari, Danang kemudian melanjutkan mengamalkan ajian Braja Musti hingga empat puluh hari, dan pada hari ke empat puluh terlihat tanaman di sekitar kediaman Kyai Ageng Banyu Urip layu mengering.


Berlanjut mengamalkan ajian Handaru Geni, Danang kembali bersila bersemedhi hingga empat puluh hari, dan pada malam terakhir cuaca di sekitar kediaman Kyai Ageng Banyu Urip diterpa awan hitam bergulung-gulung serta petir menyambar-nyambar hingga menjelang fajar.


Terakhir Danang mengamalkan ajian Gelap Ngampar dengan bersemedhi hingga empat puluh hari, dimana pada malam terakhir suhu udara di sekitar kediaman Kyai Ageng Banyu Urip terasa sangat panas, ditambah dengan menjadi redup dan temaramnya cahaya bulan serta pelita dirumah itu, seolah ada kekuatan yang meredam segala cahaya di sekitar kediaman Kyai Ageng Banyu Urip.


Pagi harinya setelah menunaikan kewajiban, Kyai Ageng Banyu Urip dan Kyai Surawisesa memanggil Danang menghadap sambil membawa kitab yang belum dipelajari oleh Danang.


“Bukalah dan bacakan kalimat yang terdapat dalam kitab itu ngger, mungkin kami berdua sanggup memecahkan misteri yang menyelimutinya.”ucap Kyai Ageng Banyu Urip.

__ADS_1


“Singgih Kanjeng Romo.” Lalu Danang membuka halaman pertama Kitab Manunggaling Semesta Jagad dan membacakan kalimat yang terdapat disana.


“Kitab ini adalah hasil perenungan dan semadhiku, selama empat puluh purnama di tempat ini.”


“Telah ditakdirkan oleh Gusti yang Maha Kuasa bahwa Tanah Jawa akan dilanda goro-goro pada masa selepasku”


“Tatanan kehidupan di Tanah Jawa akan rusak, manusia Jawa akan semakin tidak mengenal dirinya sendiri”


“Jodoh dan milik sudah ditetapkan oleh takdir dan kuasa Gusti Allah Yang Maha Tunggal.


“Hanya trahku yang ditakdirkan berjodoh dan dapat membuka halaman selanjutnya yang berisi pelajaran tentang manunggalnya kawulo dengan semesta jagad.”


“Trah adalah darah yang murni yang disertai niat yang suci serta takdir Yang Maha Kuasa yang akan membuka jalan dan menunjukkan jalan pencapaian jati diri sejati.”


Tertanda Raden Wiroyudho, putra Kanjeng Romo Raden Ronggo, putra Kanjeng Sinuwun Panembahan Senopati ing alaga Mataram Sayyidin Panatagama.


Setelah terdiam kira-kira selama sepeminuman teh, Kyai Surawisesa akhirnya berkata, “Hmm...menurutku kuncinya ada pada kalimat trah adalah darah yang murni yang disertai niat yang suci serta takdir Yang Maha Kuasa yang akan membuka jalan dan menunjukkan jalan pencapaian jati diri sejati. Bagaimana menurutmu dimas?”ujar Kyai Surawisesa.


“Rasanya aku setuju kakang. Nah ngger, coba kau lukai sedikit jarimu dan bubuhkan darahmu pada kitab itu ngger.”ujar Kyai Ageng Surawisesa.


Lalu Danang mencoba saran Kyai Ageng Banyu Urip dengan sedikit melukai jari dan membubuhkan darahnya yang keluar dari jarinya pada kitab itu.


Hasilnya ajaib, terlihat darah itu menjalar dan membentuk tulisan-tulisan dalam aksara pegon membentuk kalimat-kalimat tertentu.


“Semuanya bergerak sesuai titah Yang Maha Kuasa”


“Bumi menyerap udara, cahaya, panas, gelap dan air.”


“Air bergerak bebas sesuai alurnya, mengisi relung Bumi.”


“Udara bergerak mengisi ruang yang kosong.”


“Api adalah hasrat dan semangat, tapi dapat membakar.”


“Cahaya menyebar menerangi gelap.”


“Kesemuanya adalah kodrat Gusti Yang Maha Tunggal lagi Maha Agung.”


“Dalam gelap hanya ada jalan berserah pada Yang Maha Kuasa.”


“Ada sama saja dengan tiada.”


“Tiada sama saja dengan ada.”


“Tak ada beda antara ada atau tiada.”


“Tidak ada daya dan upaya melainkan atas kehendak Gusti Allah Yang Maha Kuasa.”

__ADS_1


__ADS_2