Kitab Manunggaling Semesta Jagad

Kitab Manunggaling Semesta Jagad
BAB 47, BERTEMU ADIPATI WIRODININGRAT


__ADS_3

Keesokan harinya Danang dan ketiga prajurit patang puluhan berpencar, tiga orang menuju desa Sekarjati, dan Danang menuju Kadipaten Pati untuk menemui Adipati Wirodiningrat.


Memasuki kita Kadipaten Pati, terlihat kota kadipaten ini tertata sedemikian rapi.


Pohon-pohon rindang tampak berjejer di sepanjang jalan sehingga melindungi orang-orang dari teriknya matahari di saat musim kemarau.


Danang memakai pakaian hasil rancangannya yang terbuat dari bahan yang berkualitas baik, dengan blangkon berwarna hitam dan surjan berwarna hitam pula, yang menjadi pakaian khusus satuan prajurit patang puluhan dengan lencana khusus tersemat di dadanya, sehingga membuat dirinya terlihat setidaknya bagaikan seorang perwira keraton.


Suasana ramai juga terlihat di pasar-pasar sekitar kota kadipaten, para pedagang dengan mengangkut barang-barang dagangan mereka dengan menggunakan pedati yang ditarik oleh kuda maupun sapi, menandakan perdagangan terbangun dengan baik.


Barang-barang dagangan mulai dari hasil bumi seperti beras, sayuran, kopi, rempah-rempah, hingga kain-kain dengan kualitas baik dijajakan di beberapa pasar di kota kadipaten.


Tampak juga beberapa prajurit berjalan hilir mudik mengawasi keamanan disana.


“Kelihatannya adipati Wirodiningrat cukup baik dalam mengelola kadipaten ini.”batin Danang Hadikusumo yang memperhatikan keadaan dengan seksama dan terkesan dengan kiprah adipati Wirodiningrat dalam mengelola kota kadipaten Pati.


Tiba di depan gedung kadipaten yang tampak megah, pemuda tersebut menambatkan kudanya dan bergegas menghampiri prajurit yang berjaga di depan gerbang. “Nyuwun sewu kisanak, mohon untuk diijinkan untuk menemui kanjeng adipati Wirodonongrat. Apakah beliau berada ditempat?”ujar Danang pada prajurit penjaga gerbang gedung kadipaten.


“Apa kisanak telah memiliki janji untuk bertemu dengan kanjeng adipati?’tanya salah seorang prajurit penjaga tersebut.


“Sebenarnya belum kisanak. Hanya saja tolong sampaikan pada kanjeng adipati bahwa Danang Hadikusumo, utusan dari Gusti Pangeran Mangkubumi mohon untuk bertemu.”ujar Danang seraya memberikan lencana khusus yang menandakan bahwa dirinya adalah orang kepercayaan Pangeran Mangkubumi.

__ADS_1


“Baik, mohon tunggu sebentar kisanak.”ujar prajurit penjaga tersebut setelah menerima lencana yang diberikan.


Prajurit itu bergegas masuk kedalam gedung kadipaten untuk menyampaikan permohonan Danang pada adipati Wirodiningrat.


Setelah menunggu kira-kira sepenanakan nasi, tampak prajurit tersebut kembali seraya berkata, “Monggo kisanak. Kanjeng adipati berkenan menerima kisanak dan menunggu di paseban kadipaten. Silahkan kisanak mengikutiku.”ucap prajurit itu sambil mempersilahkan Danang berjalan mengikutinya, diikuti oleh seorang lagi prajurit yang tadi ikut berjaga di gerbang kadipaten.


Danang berjalan ditengah, diapit oleh dua prajurit yang membawanya ke paseban untuk menemui adipati Wirodiningrat lewat jalan samping gedung kadipaten.


Ketika tiba di samping gedung kadipateng yang cukup sepi, tiba-tiba prajurit yang berada di depan membalikkan tubuhnya seraya menusukkan tombak yang dibawanya, dan prajurit yang ada di belakang juga menusukkan tombak pada tubuh pemuda tersebut dengan cepat.


Traaak....traaaak...dua tombak yang dengan cepat menghunjam dada dan punggung pemuda itu patah menjadi dua bagian.


Rupanya Danang telah merasakan hawa membunuh yang keluar dari dua prajurit tersebut ketika mereka berjalan di samping gedung kadipaten, hingga diam-diam pemuda tersebut merapal ajian Tameng Waja untuk melindungi dirinya.


Terkejut sejenak, dua prajurit tersebut kemudian segera menghunuskan pedang yang terselip di pinggang mereka dan berseru, “Penyusup...penyusup...ayo kumpul...ada penyusup!”teriak mereka yang membuat puluhan prajurit bersenjatakan tombak dan pedang berdatangan memenuhi samping kadiaten dalam waktu singkat.


Semua jalan telah tertutup, bahkan tikus pun tidak akan mampu meloloskan diri dari kepungan, saking banyaknya jumlah prajurit-prajurit itu.


“Hmmm...perangkap busuk rupanya.”pikir Danang ketika mendapati dirinya telah terkepung oleh puluhan prajurit kadipaten Pati.


Ia segera memasang kuda-kudanya, mengerahkan tenaga dalam, dan mulai merapal ajian Bayu Bajra, bersiap untuk mengamuk di gedung kadipaten Pati.

__ADS_1


“Majuu...seraaang...!”perintah salah satu prajurit yang kemudian diikuti oleh bergerak majunya puluhan prajurit lainnya dengan tombak terhunus dihunjamkan ketubuh pemuda tersebut.


"Hiaaaah...Bayu Bajraa!”seru pemuda yang dikeroyok itu mengerahkan ajian Banyu Bajra miliknya.


Para prajurit yang maju mengeroyoknya terhempas oleh angin topan, mencelat ke berbagai penjuru.


Beberapa menabrak dan menghancurkan dinding, serta beberapa menabrak menghancurkan pintu yang ada di samping gedung kadipaten.


Braaaak...gedung kadipaten bergetar akibat tumbukan beradunya tubuh puluhan prajurit yang menghantam dinding dan pintu.


Suara teriakan dan erangan kesakitan mereka terdengar riuh memenuhi wikayah samping gedung kadipaten.


Danang lalu bergerak berkelebat cepat dengan gerakan yang tak tertangkap oleh mata untuk menangkap dan menotok prajurit yang tadi menemuinya, lalu menjepit tangannya untuk dijadikannya sebagai sandera.


“Tahaaan...! Ada apa ini pagi-pagi sudah ribut-ribut? Siapa pengacau yang membuat pertempuran disini?”terdengar satu suara menggelegar dan berwibawa yang ternyata adalah suara milik adipati Wirodiningrat.


Sambil mengunci prajurit yang dijadikan sebagai sandera Danang berkata dengan dingin, “Apakah andika adalah kanjeng adipati Wirodiningrat?”ucapnya sambil menatap tajam sosok tersebut.


“Betul, akulah adipati Wirodiningrat. Siapa kisanak dan mengapa kisanak membuat keributan disini?”ujar adipati Wirodiningrat sambil tetap waspada dengan mata menyorot tajam pada pemuda yang tak dikenalnya.


“Nama hamba Danang Hadikusumo, hamba adalah utusan Gusti Pangeran Mangkubumi."ucap pemuda gagah tersebut.

__ADS_1


"Tadi hamba telah menyampaikan permohonan untuk menghadap kanjeng adipati pada prajurit yang berjaga, dan hamba dibawa kesini lalu dijebak oleh prajurit kanjeng adipati. Apakah pihak kadipaten tidak lagi memperhatikan unggah ungguh dan tata krama, hingga harus menjebak dan mencoba untuk membunuh seorang utusan?”ujar Danang pada adipati Wirodiningrat sambil tetap waspada...


__ADS_2