Kitab Manunggaling Semesta Jagad

Kitab Manunggaling Semesta Jagad
BAB 9, HAWA SAKTI DUA UNSUR


__ADS_3

Tak terasa sudah sepuluh purnama Danang terperangkap di dalam goa, yang ternyata menyimpan banyak rahasia yang menjadi berkah tersendiri bagi dirinya.


Danang bertekad untuk memperdalam tingkatan ilmunya agar bisa keluar dari goa untuk paling tidak menemui Ki Ageng Banyu Urip. Ia pun mulai mencoba untuk semadhi di kolam yang memiliki khasiat tersebut.


Pertama-tama dipilihnya kolam yang memiliki air dingin bagaikan es sabagai sarana peningkatan.


Sambil melakukan semadhi, Danang mengerahkan tenaga dalamnya untuk mengusir hawa dingin yang merasuki tubuhnya.


Perlahan hawa panas yang berasal dati ketujuh cakranya berputar dan menyebar ke seluruh tubuhnya sehingga ia tidak merasakan lagi dingin yang bagaikan es melainkan bagaikan berendam di kolam air hangat.


Lalu ia menarik nafas panjang dan mulai menyelam hingga kira-kira tiga dari sepuluh bagian dari kedalaman kolam es tersebut.


Dirasakan airnya berubah menjadi semakin dingin hingga ia menaikkan tingkat tenaga dari cakranya untuk mengusir hawa dingin. Danang melakukan itu terus menerus hingga tak terasa tiga purnama sudah ia berada di tingkat itu dan tidak lagi merasakan hawa dingin menyerang tubuhnya, melainkan hanya hangat yang dirasakan.


Setelah tiga purnama, Ia menyelam lebih dalam hingga mencapai enam dari sepuluh bagian kedalaman kolam es. Hawa dingin kembali menyerang tubuhnya di kedalaman ini hingga memaksanya untuk menaikkan batas tingkat cakranya untuk mengusir hawa dingin yang mendera tubuhnya. Hawa dingin pada kedalaman ini berkali lipat dari kedalaman sebelumnya, hingga akhirnya Danang mampu mengatasi dan mengubahnya menjadi hangat setelah empat purnama.


Tak terasa tingkat unsur panas tenaga dalam Danang dan kemampuannya menahan nafas melonjak pesat.


Setelah empat purnama ia melanjutkan menyelam lebih dalam hingga dasar kolam yang memiliki hawa luar biasa dingin, jauh melebihi kedalaman sebelumnya hingga memaksanya mengeluarkan unsur panas dari titik-titik cakranya hingga batasnya. Di dasar kolam ia melihat ada peti yang diselubungi es yang sangat dingin dan keras.


“Tampaknya selubung es itu harus dihancurkan untuk mendapatkan petinya. Namun saat ini kemampuanku menahan hawa dingin baru beberapa saat saja.”pikir Danang sambil memperhatikan peti tersebut.


Danang mengulang-ulang menyelam dan bertahan di dasar kolam.


Lama kelamaan kemampuannya menahan nafas dan mengerahkan hawa sakti berunsur panas miliknya semakin tinggi, hingga akhirnya setelah lima purnama ia tidak lagi merasakan dingin yang menusuk tulang di dasar kolam itu.


Akhirnya ia menyelam ke dasar kolam dan mengerahkan tingkat hawa saktinya hingga batas kemampuannya untuk menghancurkan selubung es yang menyelimuti peti tersebut.


Ketujuh titik cakranya berputar dengan sangat cepat dan menghasilkan tenaga panas yang tidak terbayangkan. Setelah merasa telah pada batas tingkatnya, Danang menyentuh selubung es tersebut.


Perlahan-lahan selubung es itu mencair hingga hilang seluruhnya, dan ia berhasil mengambil peti itu lalu bergegas berenang ke permukaan.


Di permukaan, Danang membuka peti itu dan menemukan kitab di dalamnya.

__ADS_1


Pada halaman depan tertulis Kitab Manunggaling Semesta Jagad. Lalu pelan-pelan mulai ia membuka dan membaca kitab itu. Dibukanya halaman pertama, dibacanya baik-baik kalimat dengan huruf Hanacaraka yang tertera pada halaman tersebut.


“Kitab ini adalah hasil perenungan dan semadhiku, selama empat puluh purnama di tempat ini.”


“Telah ditakdirkan oleh Gusti yang Maha Kuasa bahwa Tanah Jawa akan dilanda goro-goro pada masa selepasku”


“Tatanan kehidupan di Tanah Jawa akan rusak, manusia Jawa akan semakin tidak mengenal dirinya sendiri”


“Jodoh dan milik sudah ditetapkan oleh takdir dan kuasa Gusti Allah Yang Maha Tunggal.


“Hanya trahku yang ditakdirkan berjodoh dan dapat membuka halaman selanjutnya yang berisi pelajaran tentang manunggalnya kawulo dengan semesta jagad.”


“Trah adalah darah yang murni yang disertai niat yang suci serta takdir Yang Maha Kuasa yang akan membuka jalan dan menunjukkan jalan pencapaian jati diri sejati.”


Tertanda Raden Wiroyudho, putra Kanjeng Romo Raden Ronggo, putra Kanjeng Sinuwun Panembahan Senopati ing alaga Mataram Sayyidin Panatagama.


Danang mencoba membuka halaman selanjutnya namun halaman selanjutnya pada kitab tersebut kosong, tidak ada tulisan atau petunjuk apapun disana.


Sejenak ia merenung dan berpikir, “Mengapa halaman selanjutnya tidak terdapat petunjuk apapun? Apakah aku tidak berjodoh dengan kitab ini?”pikirnya


Akhirnya ia menyimpan kitab itu dan memutuskan untuk mengambil peti yang menurut petunjuk ada di dasar kolam yang mengeluarkan hawa panas.


Danang pun mulai melakukan semadhi di kolam yang mengeluarkan hawa panas.


Mirip seperti sebelumnya ia mulai menyelam hingga tiga dari sepuluh bagian kedalaman kolam berhawa panas yang membuatnya mengerahkan unsur dingin dari ketujuh cakranya.


Tiga purnama kemudian ia menyelam lebih dalam hingga enam dari sepuluh bagian kedalaman kolam panas tersebut. Lalu empat purnama selanjutnya ia menyelam lebih dalam hingga mencapai dasar kolam yang mengeluarkan hawa panas yang dahsyat laksana berada dalam kubangan lahar.


Setelah lima purnama ia berhasil memadamkan dan membuka selubung panas yang menyelimuti peti yang ada di dasar kolam lalu secepatnya ia berenang ke permukaan.


Dibukanya peti tersebut dan dilihatnya ada satu buah kitab dan empat buah pusaka, yaitu sebuah keris berluk sebelas, sepasang kudi, sebuah kotang zirah, dan sebuah cincin, serta sebuah kitab bertuliskan huruf pegon.


“Bagi yang telah berhasil menemukan kitab serta pusaka ini, ini adalah jodohmu berdasarkan takdir Yang Maha Agung, namun pertama-tama harap diingat bahwa kesaktian diri dan pusaka hanyalah titipan dan perantara Yang Maha Kuasa untuk melakoni tugas menyebarkan kebaikan bagi sesama. T

__ADS_1


Tidak ada daya dan kekuatan apapun melainkan dari Gusti Allah Yang Maha Tunggal.”


Danang memejamkan matanya meresapi kata demi kata kedalam sanubarinya yang paling dalam. Lalu dilanjutkan olehnya membaca.


“Ke empat pusaka ini adalah cincin Kyai Nogo Langit, Kotang Kyai Nogo Bumi, Sepasang Kudi Kyai Nogo Samudro, dan Keris Kyai Nogo Bledeg.”


“Cincin Kyai Nogo Langit memiliki khasiat menawarkan racun dan mampu melipat handakan tenaga luar dan dalam pemakainya."


“Kotang Kyai Nogo Bumi memiliki khasiat kekebalan bagi pemakainya baik di dalam maupun luar dan terhadap berbagai jenis senjata, serta melunturkan pengaruh ilmu hitam”


“Kudi Kyai Nogo Samudro mampu mengeluarkan angin dan memiliki unsur dingin yang dahsyat serta memiliki kekerasan dan ketajamannya tidak terbayangkan.”


“Keris Kyai Nogo Bledeg memiliki unsur panas dan mampu memanggil petir serta memiliki kekerasan dan ketajaman yang tak terbayangkan.”


Kemudian dibukanya kitab tersebut dan dibacanya, yang ternyata berisi tujuh ajian yaitu Ajian Tameng Waja, Ajian Braja Musti, Ajian Bayu Bajra, Ajian Sukma Darpana, Ajian Handaru Geni, Ajian Gelap Ngampar, ajian Braja Danta, dan tata cara mengamalkannya.


Ajian Tameng Waja adalah ajian yang menurut hikayat dimiliki oleh Sultan Hadiwijaya atau biasa dijuluki Joko Tingkir, yang mampu melindungi tubuh dari serangan senjata.


Bahkan menurut hikayat, Keris Kyai Setan Kober, pusaka andalan Haryo Penangsang tidak mampu menembus kulit Joko Tingkir ketika pembunuh suruhan yang dibekali Keris Kyai Setan Kober mencoba membunuh Joko Tingkir yang sedang tidur.


Ajian Braja Musti adalah ajian yang konon dimiliki oleh Gatotkaca dan mampu membuat lawan hangus jika terkena pukulan yang dilambari oleh ajian ini.


Ajian Bayu Bajra adalah ajian yang menurut cerita pewayangan dimiliki oleh para keturunan Batara Bayu, yang akhirnya dimiliki oleh Joko Tingkir yang diwarisi dari pamannya, Kyai Ageng Banyu Biru, yang memungkinkan pemiliknya mengendalikan angin, bergerak secepat angin, bahkan mengendarai angin.


Ajian Sukma Darpana yang secara harfiah berarti Cermin Jiwa, memungkinkan pemiliknya menyerap jurus dan cara pengerahan nafas lawannya yang kemudian pemiliknya dapat menggunakan jurus-jurus lawannya tersebut.


Ajian Handaru Geni adalah ajian yang konon dimiliki oleh Ki Ageng Selo, yang memungkinkan pemiliknya memanggil dan menangkap petir untuk kemudian digunakan sesuai kepentingannya.


Ajian Gelap Ngampar adalah ajian milik Raden Ronggo yang diwarisinya dari Ki Juru Mertani, yang memiliki kekuatan sangat dahsyat, yaitu mampu mengeluarkan hawa yang sangat panas dari sekujur tubuh hingga jangkauan tertentu mampu membakar musuh dan memiliki kekuatan dahsyat jika digunakan sebagai pukulan.


Ajian Braja Danta konon adalah ajian milik Gatotkaca yang mampu menghancurkan benda apapun dengan pukulannya.


Ketujuh ajian tersebut memiliki rapalan dan menuntut suatu laku tertentu untuk mengamalkannya, yaitu puasa mutih dan semadhi hingga empat puluh hari.

__ADS_1


“Aku hingga saat ini tidak bisa membuka Kitab Manunggaling Semesta Jagad, mungkin ada baiknya aku coba mengamalkan kedelapan ajian ini, agar bisa menghancurkan reruntuhan di mulut goa, agar aku bisa segera keluar dari sini dan menemui Kanjeng Romo”pikir Danang.


__ADS_2