Kitab Manunggaling Semesta Jagad

Kitab Manunggaling Semesta Jagad
BAB 53, DENDAM KESUMAT KOMANG WISESA


__ADS_3

“Kanjeng adipati, silahkan mundur dan memimpin para pasukan kadipaten. Orang ini biar menjadi lawanku”ucap Danang yang berdiri menghalangi adipati Wirodiningrat dengan lawannya seraya menyarungkan kembali sepasang kudi hyang miliknya kedalam warangka yang terselip di pinggangnya.


“Hati-hati kisanak, ilmu kanuragan tikus busuk ini sangat hebat.”ujar adipati Wirodiningrat seraya beringsut mundur kearah pasukannya yang sedang menahan sisa-sisa pasukan desa Sekarjati dan peleton VOC.


Danang dan Komang Wisesa saling menatap dengan tajam. Keduanya merasakan hawa kanuragan yang hebat dari masing-masing lawannya.


“Siapa kau anak muda? Mau apa kau ikut campur pertarunganku dengan orang itu?”ujar Komang Wisesa seraya menunjuk kearah adipati Wirodiningrat.


“Aku Danang Hadikusumo, pengikut Gusti Pangeran Mangkubumi yang akan menumpas kekejian di desa ini.”jawab pemuda gagah tersebut.


“Danang Hadikusumo? Kaukah orang yang telah memperdaya muridku Ni Luh Gandamayit lalu membunuhnya dengan keji setelah ia terpesona dengan kegagahanmu? Waktu pembalasan telah tiba anak muda, aku akan mencincangmu menjadi serpihan dan akan memberi makan anjing-anjing kampung dengan serpihan dagingmu.”ujar Komang Wisesa dengan penuh amarah.


“Aku tidak membunuh muridmu kisanak, tampaknya ia termakan oleh ilmunya sendiri ketika menyerangku dari jarak jauh dengan ilmu teluh dan sihirnya. Namun jika kisanak memang hendak membunuhku, maka lakukanlah. Dengan satu syarat, yaitu jika kisanak mampu melakukannya, karena aku pasti akan melawan dan tidak akan hanya diam berpasrah.”jawab Danang seraya memasang kuda-kuda bersiap untuk memulai pertarungan.


Komang Wisesa memasang kuda-kuda seraya mengamati lawannya, mencari celah untuk menyerang.


Begitu banyak celah terlihat olehnya, namun entah mengapa bulu kuduknya berdiri seolah nalurinya mengatakan bahwa pemuda lawannya itu adalah bahaya besar baginya.


“Aah, persetan. Apapun yang terjadi pemuda ini harus mati di tanganku hari ini juga.”batin Komang Wisesa membuang peringatan yang diberikan oleh nalurinya.


Ia bersiap mengerahkan tenaga dalamnya seraya merapal ajian Wesi Kuning dan ajian Lampah ing Lampah miliknya.


Ajian Wesi Kuning adalah ajian yang dapat memperkuat tubuh penggunanya sehingga kebal dari berbagai macam senjata, dan ajian Lampah ing Lampah memungkinkan Komang Wisesa menggerakkan benda-benda di sekelilingnya untuk menyerang lawannya.


Dengan segera patahan-patahan tombak dan pedang bekas prajurit yang berserakan di kediaman kepala desa Sekarjati bergerak naik melayang perlahan dan melesat mengincar titik-titik lemah pemuda gagah yang menjadi lawannya tersebut.


Semua orang yang berada disana terkejut dan terkesiap melihat sosok berpakaian serba hitam dengan udeng-udeng di kepala itu mampu menggerakkan pedang dan patahan tombak yang berserakan.

__ADS_1


Dengan segera mereka semua bergerak mundur dan menyingkir perlahan dari wilayah tersebut.


Danang pun terkejut melihat hal yang baru pertama kali dilihatnya tersebut, namun dengan ketenangannya ia segera merapal ajian Tameng Waja untuk melindungi dirinya dan ajian Bayu Bajra, lalu bergerak melesat menghindari pedang dan tombak yang beterbangan dan membuat pusaran angin topan.


Pusaran angin topan tersebut menghempas pedang dan patahan tombak menjadi serangan balik kearah Komang Wisesa.


Mendapati dirinya diserang balik oleh lawannya, Komang Wisesa meningkatkan tenaga dalamnya dan melesat mengejar pemuda tersebut. Saling serang, tangkis, dan elak terjadi di udara.


Dalam beberapa kejap mata saja telah terjadi puluhan kali jual beli pukulan dan tendangan di antara mereka berdua.


Keduanya mendarat dan berhadapan dengan jarak sekitar dua tombak lalu kembali melesat menggebrak lawan dengan jurus-jurus andalan masing-masing hingga puluhan jurus.


Komang Wisesa merasa kewalahan dengan kecepatan pemuda lawannya yang mengerahkan ajian Bayu Bajra tersebut.


Kecepatan serangan lawannya beberapa kali membuat tubuhnya terhantam telak oleh pukulan dan tendangan lawannya.


Dua sosok saling berkelebat dengan sangat cepat seperti bayangan saling menyerang.


Setelah mendekati seratus jurus, satu pukulan Komang Wisesa yang dilambari oleh ajian Belah Batuh mendarat telak di dada pemuda gagah yang menjadi lawannya, Buuggh...Danang terjajar hingga lima tombak dengan rasa sesak di dada, bagaikan terhantam palu godam.


Dadanya bisa saja remuk seandainya kotang Kyai Nogo Bumi dan ajian Tameng Waja tidak digunakan untuk melindungi tubuhnya.


Di sisi lain, Komang Wisesa terkejut ketika mendapati lawannya masih berdiri tegak setelah menerima pukulannya yang dilambari ajian Belah Batuh, bahkan batu sebesar kerbau saja biasanya hancur berkeping-keping jika dihantam oleh pukulan yang dilambari oleh ajian Belah Batuh miliknya.


“Hmm...lawan yang tangguh.”batin Komang Wisesa yang lalu menaikkan tingkat perhatian dan kewaspadaanya.


“Pukulanmu cukup keras kisanak, namun belum cukup unntuk membunuhku.”ucap Danang seraya mengulur waktu dan merapal ajian Brajadanta untuk mengimbangi kekuatan pukulan lawannya.

__ADS_1


Tangan pemuda tersebut mengeras dari tulang hingga kulitnya, melebihi kerasnya baja.


Danang segera kembali melesat menyerang lawannya dengan gerak tipuan kearah perut yang dilanjutkan dengan pukulan yang menyasar kepala lawannya.


Syuut...pukulan itu lewat sejengkal disamping kepala Komang Wisesa yang berkelit menghindar.


Angin pukulan yang lewat terasa begitu berat dan menggidikan, menggetarkan nyali siapapun yang merasakannya.


Namun Komang Wisesa sangat yakin dengan ajian Belah Batuh dan ajian Wesi Kuning miliknya akan mampu melindungi tubuhnya dan menghancurkan lawannya, apalagi pada kenyataannya tadi ia telah berhasil memukul dan membuat lawannya terjajar hingga lima tombak.


Ditangkisnya pukulan tersebut. Dua pukulan yang sama-sama kuat saling beradu, pukulan yang satu mengerahkan ajian Belah Batuh dan Wesi Kuning, dan pukulan satunya mengerahkan ajian Brajadanta, dan Tameng Waja...Dhessh....braakk...arrrghh...terdengar satu jeritan, kedua sosok yang sedang bertarung tersebut sama-sama terjajar ke belakang.


Danang terjajar lima langkah ke belakang dan sedikit terhuyung-huyung namun mampu menguasai keadaan dan kembali memasang kuda-kuda miliknya.


Tangannya yang beradu dengan pukulan lawan terasa ngilu, sedangkan Komang Wisesa terjajar hingga sepuluh langkah ke belakang dan jatuh terduduk seraya memandang tidak percaya bahwa tangannya yang beradu dengan pukulan lawan patah pada pangkalnya.


“Brajadanta? Pemuda ini menguasai ajian Brajadanta? Hanya ajian Brajadanta yang mampu mengalahkan kekuatan ajian Belah Batuh dan Wesi Kuning milikku...”pikirnya sambil menyeringai kesakitan lalu kembali berdiri sempoyongan.


Beberapa saat kemudian, sang Barong Agni tertawa terkekeh-kekeh dan berkata, “Luar biasa kau anak muda, masih seumur jagung tapi telah memiliki ilmu kanuragan yang sangat tinggi."ujarnya.


"Baiklah, rasanya ini saatnya untuk mengerahkan ajian pamungkasku. Berbanggalah anak muda, selama ini belum pernah ada lawan yang mampu membuatku terpaksa mengeluarkan ajian Rangda Pangiwa milikku, dan kau adalah orang pertama yang berhasil memaksaku, namun tibalah saatnya kematian bagi yang telah menyaksikan ajian Rangda Pangiwa , bersiaplah !”seru Komang Wisesa pada pemuda di hadapannya itu.


Mulutnya berkomat-kamit merapal mantra ajian Rangda Pangiwa miliknya. Suasana sontak dipenuhi oleh hawa kegelapan yang entah darimana datangnya.


Suara-suara jeritan dan tawa mengerikan jin dan setan perewangan seolah-olah berkumpul memenuhi gedung kediaman kepala desa Sekarjati.


Terdengar suara kain yang sobek, sosok Komang Wisesa perlahan-lahan membesar dan mengoyak pakaian yang dikenakannya. Tulangnya yang tadi patah segera menyambung kembali pada pangkal lengannya.

__ADS_1


Rambutnya memanjang, matanya mendelik seperti mau keluar dari tempatnya, lidahnya keluar menjulur panjang, keluar empat buat taring dari atas dan bawah pada bagian mulutnya, dan kuku-kukunya bergerak keluar memanjang berwarna merah membara...


__ADS_2