
Keberangkatan satuan prajurit patang puluhan dan pitung puluhan berlangsung secara sembunyi-sembunyi dan bergantian.
Tujuan mereka adalah Alas Wono Sreni yang terletak di lereng gunung Muria, tak begitu jauh dari kota Jepara.
Setibanya disana mereka mendirikan tenda-tenda di tengah hutan sebagai tempat mereka berteduh dan menempatkan beberapa orang prajurit bergantian berjaga di atas pepohonan dalam jarak lima ratusan tombak dari tenda-tenda mereka.
Selebihnya Danang juga meminta mereka berlatih kanuragan. Untuk satuan patang puluhan dipimpin oleh Mappatoba, seorang pria tinggi besar yang berasal dari pulau Celebes, dan untuk satuan pitung puluhan dipimpin oleh Mahesa Geni, seorang bekas perampok asal Alas Krumput, sementara ia sendiri berencana menyusup ke kota Jepara untuk mengumpulkan keterangan.
“Kakang Mappatoba, tolong kakang pimpin satuan patang puluhan untuk berlatih mempertajam kanuragan mereka, dan aku menunjuk kakang Mahesa Geni untuk memimpin pelatihan kanuragan bagi satuan pitung puluhan. Aku akan pergi menyelidiki dan mengumpulkan keterangan mengenai keadaan di Jepara.”ujar pemuda tersebut.
“Sendiko dawuh Gusti Pangeran, kami akan melaksanakan tugas sesuai perintah dari Gusti Pangeran.”ujar Mappatoba dan Mahesa Geni.
Menunggangi kudanya, Danang melesat cepat diantara jalan setapak Alas Wono Sreni menuju Jepara seorang diri. Setelah beberapa waktu penenekan nasi tibalah ia di kota Jepara yang sangat ramai karena arus perdagangan.
Kota Jepara yang terletak di pesisir utara Jawa adalah salah satu pelabuhan di yang ramai.
Terlihat pedagang-pedagang hilir mudik masuk dan keluar dari kota Jepara dengan membawa barang-barang dagangannya menuju kota-kota kadipaten di tanah Jawa maupun keluar dari tanah Jawa.
Danang menambatkan kudanya pada salah satu penginapan yang tampaknya cukup ramai di tengah kota Jepara, lalu masuk dan memesan makanan dan kamar untuknya menginap.
Telinganya dipasang baik-baik untuk menyerap keterangan-keterangan yang mungkin didapatkan dari perbincangan-perbincangan para pedagang maupun pelayan yang ada disana.
__ADS_1
Rata-rata keterangan yang diserapnya dari perbincangan di kedai tersebut adalah mengenai jatuhnya desa Sekarjati ke tangan pasukan Susuhunan Kabanaran pekan lalu dan persiapan majoor Dedrich Van Osch mendatangkan pasukan dari Madura untuk memperkuat Jepara dalam rangka mempertahankan diri dari kemungkinan serangan pasukan Susuhunan Kabanaran selanjutnya.
Setelah selesai santap ia memilih untuk berjalan-jalan kearah pasar yang terletak tidak jauh dari benteng yang menjadi sasaran penyerangan berikutnya.
Pasar dekat benteng dan pelabuhan tersebut begitu ramai, hingga untuk berjalan pun Danang harus berhimpitan dengan pedagang dan orang-orang yang berlalu-lalang, dan tiba-tiba terasa pemuda gagah tersebut pundaknya berbenturan dengan sesuatu.
“Aaauuww...Hey, dimana kowe taruh matamu?”terdengar suara wanita menghardiknya.
Danang menoleh dan baru menyadari suara tersebut berasal dari sosok perempuan cantik berusia sekitar dua puluh tiga tahun yang bertubuh tinggi semampai dan berkulit putih pucat serta berambut pirang.
Beberapa pengawal wanita tersebut bergegas menolong wanita yang terjatuh dan beberapa pengawal lainnya mengepung dan menghardik pemuda itu, “Hey, pemuda busuk ! Beraninya kau menyakiti nyonya Van Osch, cari mati rupanya kau?”hardik pengawal berkulit hitam dan berambut keriting tersebut.
“Aaah...banyak alasan kau!”seru pengawal tersebut sambil tangannnya mencabut pedangnya.
“Tunggu ! Hentikan ! Pemuda itu tidak bersalah..Apa kau dengan begitu mudahnya mencabut senjata dan hendak membunuh orang?”hardik wanita tersebut yang ternyata adalah Esther, wanita yang tinggal bersama dengan majoor Dedric Van Osch.
Esther kemudian berdiri dan menghampiri pemuda yang tidak sengaja menabraknya dan memperhatikan sosok Danang, “Hmm..tampan dan gagah, tidak seperti pemuda Jawa kebanyakan lainnya.”
Kekagumannya pada sosok pemuda di depannya tersebut membuat hasratnya bangkit dan bergelora.
Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, membuat darah mengalir lebih cepat di pembuluh-pembuluh darahnya. Wajahnya bahkan sampai memerah merona menahan kekaguman dan hasratnya pada pemuda tersebut.
__ADS_1
“Siapa kowe punya nama knappe jonge man (pemuda tampan)?” ucap Esther seraya menatap tajam kearah mwjah pemuda tersebut.
“Namaku Danang nyonya.”jawab pemuda tersebut sambil tersenyum dan balas menatap tajam mata yang memandanginya.
“Mmm...Danang. Baiklah Danang, yang pertama, jangan panggil aku nyonya, namaku Esther, panggil aku dengan nama itu. Dan yang kedua, aku terima permintaan maafmu, tapi dengan satu syarat yang tidak boleh kau tolak.”ujar wanita tersebut sambil tersenyum.
“Hhhh... de blik in zijn ogen zo scherp maar zacht (tatapan matanya begitu tajam namun lembut). Zo smolt mijn hart (tatapannya membuat hatiku meleleh rasanya)”batin Esther yang mendadak bingung dengan suasana hatinya sendiri.
“Apakah syarat tersebut?”tanya Danang pada wanita bule di hadapannya.
“Kowe harus mengantarkan aku ke kediamanku, tak jauh dari sini.”pinta Esther pada pemuda gagah yang telah melelehkan hati dan membangkitkan hasratnya tersebut.
“Maaf Esther, rasanya aku tidak bisa. Aku tidak ingin dicurigai oleh tuan Van Osch Dan kepalaku ditembak hanya karena mengantarkanmu.”ujar Danang.
“Kowe tenang saja knappe jonge man, majoor Dedric sedang tidak ada ditempat. Ia sedang memenuhi panggilan Gubernur Jendral Baron Van Imhoff di Semarang. Dan mengenai pengawal-pengawal ini, kowe juga tidak usah khawatir, mereka akan menurut apapun yang aku perintahkan.”ujar wanita bule itu sambil mengerlingkan matanya.
“Baiklah jika demikian, aku bersedia mengantarmu ke kediamanmu Esther.”jawab Danang yang disambut dengan senyuman gembira wanita berambut pirang tersebut.
“Pengawal, pulanglah kalian semua, biar tuan Danang yang mengantarku pulang.”perintah Esther pada pengawal-pengawalnya yang langsung diikuti dengan bubarnya beberapa orang pengawal tersebut.
“Mari kita pergi.”ujar Esther serata berjalan di sebelah pemuda gagah dan tampan tersebut menuju kediamannya yang juga adalah kediaman majoor Dedric Van Osch...
__ADS_1