
Para prajurit yang terkejut dengan perintah tersebut, yang mengetahui tentang keberingasan kawanan bekas perampok dan bajak laut tersebut, menoleh pada Raden Mertowijoyo untuk meminta persetujuannya.
Terlihat Mertowijoyo walaupun memasang wajah tegang menganggukkan kepalanya, pertanda menyetujui perintah yang dikeluarkan oleh pemuda yang datang bersamanya itu.
Para prajurit segera membentuk lingkaran, dimana Danang dan kawanan bekas perampok dan bajak laut tersebut berada di dalamnya.
Dengan ragu-ragu mereka mulai membuka ikatan rantai pada sepuluh orang dari kawanan tersebut dan memberi mereka lima buah tombak dan lima buah pedang, lalu beranjak mundur ke tepi lingkaran tersebut.
Terlihat para prajurit lainnya bersiaga dan mengenggam senjata mereka erat-erat sambil bersiap dan berjaga-jaga dari segala kemungkinan. Raden Mertowijoyo pun diam-diam telah menggeser letak kerisnya yang semula berada di belakang menjadi berubah letak di depan perutnya, dengan tangan bersiap sambil menggenggam gagang kerisnya.
Kesepuluh orang bekas perampok dan bajak laut tersebut memasang kuda-kuda seraya berputar mengitari Danang yang berada ditengah-tengah mereka. Sesaat kemudian, diawali dengan teriakan lantang, mereka bersepuluh bergerak menyerang pemuda tersebut dengan garang.
“Heaaah...”seru mereka seraya mengayunkan pedang dan tombak yang mereka pegang untuk menyerang Danang bersamaan.
Serangan yang mereka lancarkan dengan pedang dan tombak seluruhnya tidak main-main, dilambari tenaga dalam, dan menyerang titik-titik rawan, yaitu kepala, leher, dada, perut, dan ************ pemuda di depan mereka.
Seluruh pasang mata tertuju pada serangan yang mereka lancarkan seraya menahan nafas, mengetahui bahwa serangan tersebut menutup celah-celah pertahanan yang mungkin dilakukan pemuda tersebut.
Namun, kesepuluh orang yang mengeroyok Danang dan semua yang menyaksikan pertarungan tersebut dibuat terperangah ketika dalam sekejap tubuh pemuda tersebut tiba-tiba berkelebat menghilang, disertai terdengar lenguhan tertahan dari dua orang pengeroyoknya yang tiba-tiba telah jatuh berlutut sambil memegangi perut mereka.
Rupanya Danang melihat celah dalam gerakan mereka yang bersamaan, walaupun sempit ia melihat dua orang pengeroyoknya bergerak lebih awal dari yang lainnya.
Sehingga ia melesat dan melumpuhkan dua orang tersebut lebih dulu dengan pukulan yang luar biasa cepat kearah perut, lalu menerobos lewat celah yang ditinggalkan, dan dalam sekejap pemuda itu telah berada diluar lingkaran keroyokan mereka.
Ke delapan pengeroyoknya terkejut sesaat, namun mereka adalah orang-orang yang berpengalaman dalam pertarungan salama bertahun-tahun, sehingga dalam sesaat mereka mampu mengatasi keterjutannya dalam sekejap.
Serempak ke delapan orang tersebut bergerak menyerang pemuda itu yang telah berada diluar lingkaran keroyokan bersama.
“Hiaaat...kena kau bocah kencur.”ujar mereka seraya menusukkan tombak serta mengayunkan pedang mereka.
Danang malah melihat celah semakin terbuka karena serangan dilancarkan oleh mereka hanya berasal dari depan, tidak melingkar seperti sebelumnya. Lalu ia bergerak kearah sisi kanan dan berputar mengitari mereka dari belakang seraya memberikan pukulan-pukulan kearah rusuk dan punggung satu-persatu.
__ADS_1
“Buug...buug...buug...terdengar delapan kali suara pukulan yang dilancarkan pemuda tersebut mendarat tanpa halangan ke bagian rusuk dan punggung delapan orang pengeroyoknya, hingga membuat mereka semua tersungkur jatuh tak berdaya dengan senjata terlepas sambil mengerang kesakitan dan memegangi bagian tubuh mereka yang terkena pukulan.
Pemuda itu berdiri dengan sikap bersidekap di dada, seraya tersenyum dan berkata, “Kuberi waktu kisanak semua untuk beristirahat selama sepeminuman teh, lalu kita ulangi lagi pertarungan ini.”ujarnya.
Seketika semua yang hadir menyaksikan pertarungan itu dibuat terperangah, beberapa prajurit bahkan sampai memasang wajah melongo karena terkejut dengan kedigdayaan pemuda yang baru bergabung dengan mereka.
Terdengar gumaman dari kawanan bekas perampok dan bajak laut tersebut kembali mendengung laksana kerumunan lebah, hingga akhirnya mereka berseru, “Lepaskan ikatan rantai kami! Kami akan membalas kekalahan saudara-saudara kami!”seru mereka lantang sambil menatap kearah Danang dan prajurit yang mengelilingi mereka.
“Sabarlah kisanak... Seperti yang telah kubilang, tunggu giliran kalian. Tunggulah dalam waktu sepeminuman teh dan rekan-rekan kalian pulih terlebih dulu, nanti akan kulepaskan ikatan rantai kalian.”ujar Danang menanggapi seruan mereka.
Setelah dalam waktu kira-kira sepeminuman teh, Danang memulai pembicaraan pada sepuluh orang yang telah dikalahkannya tadi, “Bagaimana? Sudah baikkan kisanak? Baiklah, sekarang ambil kembali senjata kalian dan tunggulah sebentar disitu.”ujarnya, lalu memberikan perintahnya kepada prajurit yang berada disana, “Prajurit, tolong lepaskan ikatan rantai mereka semua dan berikan senjata pada mereka!”perintah Danang.
Semakin terkejutlah semua yang hadir disana mendengar permintaan pemuda tersebut. “Apa pemuda ini memang benar-benar digdaya, ataukah ia gila sehingga berani melawan mereka semua seorang diri?”pikir Mertowijoyo dan para prajurit yang ada disitu.
Beberapa prajurit akhirnya beranjak dan melepaskan ikatan rantai yang ada pada seluruh bekas perampok dan bajak laut tersebut, lantas melemparkan senjata berupa tombak dan pedang ke tengah-tengah lingkaran.
Suasana menjadi semakin hening dan tegang... Mertowijoyo dan para prajurit semakin memusatkan perhatian mereka ke tengah-tengah lingkaran dimana terdapat empat puluh orang bekas perampok dan bajak laut yang sempat meresahkan bumi Mataram dengan sepak terjang mereka seraya bersiap untuk segala kemungkinan yang bisa terjadi.
Ia tahu, bahwa kali ini dalam melawan empat puluh orang sekaligus tidak akan semudah pertarungan pertama tadi.
Ke empat puluh orang tersebut bergerak perlahan mengelilingi Danang dalam empat lapis lingkaran.
Tiap-tiap lingkaran diisi oleh sepuluh orang bersenjata tombak dan pedang. Lingkaran pertama diisi oleh sepuluh orang bersenjatakan pedang, lingkaran kedua berisi sepuluh orang bersenjatakan tombak, lingkaran ketiga mengikuti lingkaran pertama, yaitu sepuluh orang bersenjatakan pedang, dan lingkaran terakhir berisi sepuluh orang bersenjatakan tombak.
Sangatlah sulit, jika tidak bisa dikatakan mustahil untuk menerobos kepungan lingkaran yang terdiri dari empat lapis tersebut walau bagi seorang pendekar hebat sekalipun.
Satu-satunya jalan melewati serangan pedang di lingkaran pertama yang bisa terpikirkan hanya dengan cara melompat tinggi keatas, yang tetap saja akan disambut oleh tusukan lingkaran tombak dari lingkaran kedua, dan seterusnya.
Setelah memasang kuda-kudanya, Danang kemudian menunggu serangan yang akan dilancarkan kawanan tersebut, yang tampaknya ia tidak harus menunggu lama, karena sekejap kemudian serangan pedang dari lingkaran lapis pertama telah dilancarkan.
“Hiaaah...kau tidak akan lolos kali ini anak muda!”terdengar seruan yang disertai sepuluh buah pedang bergerak mengayun berusaha menebas leher, dada, dan perut pemuda tersebut.
__ADS_1
Danang lalu bergerak cepat merebahkan tubuhnya lalu dengan kekuatan ajian Bayu Bajra berputar seperti gasing dan melakukan sapuan keliling.
Sontak kawanan yang berada di lingkaran pertama gagal melakukan tebasan dan terjatuh akibat sapuan yang dilancarkan pemuda tersebut.
Melihat celah terbuka, sebelum mereka benar-benar terjatuh Danang bergerak melesat bagaikan bayangan menghantamkan tangan dan bahunya kearah mereka yang terhempas karena sapuan yang dilancarkannya.
Tubuh kawanan yang terhantam lalu mental kearah lapisan kedua, yang secara naluri kesetiakawanan menarik tombak mereka agar tidak menusuk rekan-rekannya, dan akhirnya mereka tertabrak oleh tubuh-tubuh yang terhempas.
Lalu Danang berdiri sambil bertolak pinggang, tidak melanjutkan serangannya melainkan hanya menunggu serangan kedua datang.
Melihat itu kawanan yang berada di lapis ketiga dan keempat, serta beberapa orang yang tadi terjatuh dan telah kembali mengambi senjata bergerak menyerangnya dengan tusukan tombak dan sabetan pedang.
“Traaang...kraaak...”terdengar bunyi dentingan pedang dan suara tombak yang patah.
Kembali semua yang menyaksikan dibuat terkejut dan terperangah, mereka menyaksikan pedang-pedang dan tombak yang menyerang pemuda tersebut patah menjadi dua bagian, sementara sosok yang diserang hanya diam berdiri sambil bertolak pinggang.
“Heeaaah....Bayu Bajra!”seru pemuda tersebut, dan akibatnya empat puluh orang yang mengeroyoknya terpental terkena angin dahsyat laksana topan badai yang berasal dari ajian Bayu Bajra sejauh sepuluh tombak, beberapa bahkan menabrak para prajurit yang membuat lingkaran penjagaan mengelilingi mereka.
Sengaja Danang membatasi pengerahan ajian Bayu Bajra miliknya agar tidak dalam tahap batasan tertinggi miliknya, sehingga hanya menghempaskan kawanan tersebut sejauh kira-kira sepuluh tombak.
Ia tidak menginginkan jika mereka sampai terluka parah akibat terhantam oleh ajian Bayu Bajra miliknya.
Terdengar suara-suara jeritan dan mengaduh dari sosok-sosok yang tadi terhempas berserabutan bagaikan daun-daun kering yang tersapu oleh angin akibat pengerahan ajian Bayu Bajra, “Aduuuhh....ampun biyuuung...”ucap mereka.
Beberapa dari mereka merasakan kepalanya seolah berputar-putar dan tubuh serasa remuk redam setelah terhempas. Beberapa orang dari mereka bahkan hingga mengalami muntah-muntah akibat kepalanya serasa berputar kencang.
Setelah kira-kira dalam waktu sepeminuman teh, ke empat puluh orang tersebut berusaha bangkit, walaupun dengan susah payah, lalu semuanya berjalan menuju kearah pemuda yang tadi telah menghempaskan mereka, lalu tiba-tiba secara mengejutkan... kesemuanya menjatuhkan diri berlutut dan menghaturkan sembah bekti di hadapan pemuda tersebut.
“Kami semua mengaku kalah dan takluk atas kedigdayaan Gusti Pangeran. Kami semua bersumpah untuk setia pada Gusti Pangeran hingga ajal kami menjemput, tidak perduli apapun perintah yang Gusti Pangeran berikan akan kami taati, walaupun harus menyeberangi lautan api dan membuat kami mati berkalang tanah.”ucap sosok tinggi besar berwajah brewokan yang diikuti oleh seluruh rekan-rekannya.
“Kasinggihan sendiko dawuh Gusti Pangeran. Kami semua bersumpah setia pada Gusti Pangeran, dan akan mematuhi semua perintah Gusti Pangeran. Gusti Allah Hyang Murbeng Dumadhi nyakseni atas sumpah kami.”ucap mereka bersamaan....
__ADS_1