
Pagi itu Danang ingin melemaskan otot-ototnya sekaligus mengenang masa kecilnya berlatih olah kanuragan dibawah petunjuk romo angkatnya, Kyai Ageng Banyu Urip.
Ia melangkahkan kakinya sambil membawa cermin ke halaman kediaman Kyai Ageng Banyu Urip yang terbilang sangat luas, dengan pasak-pasak kayu berukuran besar terpasang di salah satu sisinya yang biasanya digunakan untuk kegiatan berlatih olah kanuragan.
Setibanya disana pemuda tersebut mulai merapalkan ilmu Tirta Pangilon yang didapatkannya dari Kyai Surawisesa, sahabat Kyai Ageng Banyu Urip, sekaligus uwak dari pemuda itu sendiri.
Dari dalam cermin keluar sosok yang menyerupai dirinya, yang langsung menyerang Danang dengan gerak jurus yang juga biasa digunakan oleh pemuda gagah tersebut.
Tak berapa lama sosok yang keluar dari cermin tersebut berhasi dikalahkannya, hingga keluar lagi dari dalam cermin sosok yang menyerupainya berjumlah Dua sosok.
Dua sosok menyerupai dirinya kemudian telah berhasil dikalahkan dalam waktu yang sebentar, lalu kejadian tersebut terulang lagi, keluar tiga sosok menyerupai dirinya dari dalam cermin.
Hal itu berlangsung terus-menerus hingga kini Danang menghadapi sepuluh sosok yang menyerupainya sekaligus.
Saling serang, tangkis, dan elak terjadi diantara ke sebelas sosok tersebut hingga seratus jurus dengan kecepatan dan kekuatan yang menggiriskan hati.
Hanya kelebatan-kelebatan bayangan yang mampu terlihat oleh mata orang yang baru mencapai tataran menengah dalam olah kanuragan. Belum lagi kesiuran angin tajam yang terdengar tiap kali serangan dilancarkan.
Ki Ageng Banyu Urip dan ketiga prajurit patang puluhan yang sedang berada di kediamannya segera melesat setelah tiba-tiba merasakan hawa pertarungan terjadi di sekitar mereka.
Mereka mendapati Danang sedang memperagakan jurus-jurusnya seperti sedang bertarung dengan demikian hebat, tanpa melihat sosok yang menjadi lawannya.
Ki Ageng Banyu Urip yang mengetahui bahwa anak angkatnya tengah berlatih dengan menggunakan ilmu Tirta Pangilon segera menahan ketiga prajurit tersebut, “Tenanglah, junjungan kalian hanya sedang berlatih kanuragan. Lebih baik kalian tonton dan pelajari gerak jurusnya, siapa tahu akan ada yang bisa kalian serap sebagai manfaat.”ujar Kyai Ageng Banyu Urip.
Lalu mereka berempat hanya memperhatikan sosok pemuda gagah tersebut mengerahkan kemampuan kanuragan nya.
Kyai Ageng Banyu Urip dengan matanya yang tajam dengan segera dapat melihat perubahan gaya bertarung anak angkatnya tersebut.
__ADS_1
Gerakannya memang bertambah kuat dan cepat, namun kini terlihat baginya, anak angkatnya tersebut hanya bergerak sesuai kebutuhannya, tidak ada gerakan yang tidak perlu.
Ditambah lagi gerakannya kini makin kuat dan kokoh, mengalir dengan indah, menutup segala celah lawan, dan bagaikan meledak membakar pada tiap serangannya, serta penuh gerak tipu yang membingungkan oleh iramanya yang berubah-ubah.
Anak angkatnya kini telah mengalami kemajuan pesat dan telah menjadi pendekar pilih tanding, yang bahkan melebihi dirinya sebagai orang yang pertama mengajarkan olah kanuragan, bahkan menurutnya sulit untuk mencari tandingan bagi anak angkatnya tersebut di tanah Jawa.
Melewat seratus lima puluh jurus, Danang yang kini dikeroyok oleh dua puluh sosok yang menyerupai dirinya tersebut akhirnya meledakkan kekuatannya dengan ajian Gelap Ngampar yang dimiliki nya.
“Hiaaaahhh...Gelap Ngampar!”serunya sambil mengerahkan kekuatan ajian tersebut ke sekelilingnya.
Akibatnya, pasak-pasak kayu yang tertanam di tanah mental berhamburan ke segala penjuru dengan keadaan hangus sejauh sepuluh tombak.
Gelombang tenaganya bahkan mampu memukul mundur Kyai Ageng Banyu Urip dan tiga prajurit patang puluhan yang sedang memperhatikan dari jarak dua puluh tombak, hingga mereka terjajar beberapa langkah akibat dahsyatnya ledakan gelombang tenaga Danang.
Danang yang merasa latihannya pagi itu sudah cukup segera menyudahinya dan mengucap syukur pada Yang Maha Kuasa, untuk menutup ilmu Tirta Pangilon.
“Nyuwun pangapunten romo, hamba tidak menyadari kehadiran kanjeng romo dan kakang sekalian disini.”ujarnya.
“Kulihat ilmu kanuragan mu semakin hebat saja ngger.”ucap Kyai Ageng Banyu Urip sambil tersenyum dan memerintahkan anak angkatnya untuk berdiri.
“Semua atas berkah Yang Maha Kuasa dan bimbingan dari kanjeng romo.”ujar pemuda tersebut merendah.
“Hahahaha...Kini kau juga semakin matang dan dewasa ngger. Baiklah ngger, mari kita santap sarapan bersama. Romo telah menyembelih dua ekor ayam dan membuatkan ayam bakar kesukaanmu.”ujar Kyai Ageng Banyu Urip seraya mempersilahkan mereka untuk masuk kedalam rumah dan bersantap.
Mereka bersantap dengan lahap sambil menyirap keterangan dari Kyai Ageng Banyu Urip mengenai Adipati Wirodiningrat dan desa Sekarjati belakangan ini.
Setelah selesai bersantap, Kyai Ageng Banyu Urip mempersilahkan mereka untuk meneruskan kegiatan dan menganggap kediamannya sebagai rumah mereka sendiri.
__ADS_1
“Lanjutkan kegiatan kalian. Aku hendak beristirahat sejenak...Tubuh tuaku memang sudah membutuhkan banyak istirahat, tidak seperti kalian yang masih muda dan kuat.”ujar Kyai Ageng Banyu Urip pada ketiga prajurit patang puluhan yang berada dirumahnya tersebut.
“Singgih, nyuwun pangapunten sudah merepotkan Kyai.”ujar mereka bertiga sambi menunduk hormat pada romo angkat junjungan mereka.
Setelah Kyai Ageng Banyu Urip meninggalkan ruangan, Danang dan tiga orang prajuritnya pagi itu menyusun rencana mengenai tugas yang mereka emban di Kadipaten Pati.
Danang membuat rencana berdasarkan keterangan yang didapat dari romo angkatnya tersebut bahwa desa Sekarjati adalah masalah utama di Kadipaten Pati karena perlindungan yang diperoleh dari VOC dan oknum pejabat keraton.
Maka ia berkesimpulan dirinya akan menyusup untuk menemui Adipati Wirodiningrat, sementara tiga orang prajuritnya melakukan penngintaian di desa Sekarjati.
“Kakang Sasongko akan mengintai rumah perjudian dan pelacuran. Berlagaklah sebagai seorang pedagang dari Grobogan yang ingin melakukan pelesiran di desa Sekarjati."ujarnya.
"Sementara kakang Handoko menyusup dan menyirap keterangan dari para penduduk desa."ucap pemuda gagah tersebut.
"Lalu kakang Sumitro, akan menyusup sebagai orang yang mencari pekerjaan sebagai prajurit di lingkaran kepala desa."ucap Danang lagi.
"Cari dan dapatkanlah keterangan sebanyak mungkin tentang kekuatan, letak gudang persenjataan, dan letak gedung desa.”lanjut Danang pada Sumitro.
“Pesanku, sembunyikan senjata kalian, jangan gunakan pakaian yang dapat mengundang perhatian, serta bersikaplah dengan wajar, jangan sampai menarik kecurigaan musuh.”pesan Danang pada ketiga prajuritnya.
“Singgih Gusti Pangeran, kami mengerti.”ucap ketiga prajurit patang puluhan tersebut.
“Sementara itu aku akan mencari cara untuk menghubungi Adipati Wirodinigrat, untuk memastikan di pihak mana ia berada sesungguhnya.”lanjut Danang.
“Nah, jika kakang sekalian sudah mengerti, bersiaplah karena esok pagi kita semua akan mulai menjalankan tugas kita.”ucap Danang pada mereka.
“Singgih sendiko dawuh Gusti Pangeran.”ucap mereka bersamaan seraya menghaturkan sembah bekti mereka...
__ADS_1