Kitab Manunggaling Semesta Jagad

Kitab Manunggaling Semesta Jagad
BAB 18, PEMUDA DERMAWAN


__ADS_3

Keesokan paginya Danang melanjutkan perjalanannya menuju Desa Sekarjati setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian terbaik dari dalam buntalan yang dibawanya, dan tiba di gapura desa ketika matahari telah agak condong ke barat.


Memasuki desa, beberapa calo yang melihat seorang pemuda pendatang yang gagah dan berpakaian mewah layaknya keluarga pembesar Keraton langsung mendekatinya dan menawarkan pelesiran, baik pelacuran maupun perjudian.


“Sugeng sonten raden. Barangkali raden mencari sesuatu di desa kami? Kulo bisa mengantar raden ke tempat-tempat yang dijamin akan memberikan pengalaman dan kesenangan luar biasa.”sapa calo-calo tersebut.


“Sugeng sonten kisanak. Aku sangat lapar dan mencari kedai makan yang terbaik disini. Bisakah kisanak mengantarku?”jawab Danang.


“Monggo raden, silahkan raden mengikuti saya.”ujar salah satu calo itu lalu berjalan disamping Danang mengantar menuju salah satu kedai makan.


Setibanya di depan kedai makan, Danang mengajak orang itu untuk ikut masuk dan makan bersamanya.


“Monggo kisanak, ikutlah dan temani aku bersantap. Rasanya kurang nikmat jika makan hanya sendiri.”ajak Danang.


Keduanya kemudian masuk ke dalam kedai dan memilih ruangan khusus yang cukup mewah seraya memesan makanan.


“Kisanak, sejujurnya aku baru pertama kali ke desa ini, dan aku mendengar bahwa desa ini memiliki banyak tempat-tempat pelesiran yang menarik, benarkah itu kisanak?”tanya Danang memulai pembicaraan.


“Betul raden, nanti selepas santap saya bisa mengantar raden berkeliling melihat-lihat, sekiranya ada tempat yang berkenan bagi raden. Nyuwun sewu, apakah raden berasal dari keluarga Keraton?”ucapnya.


“Hmm..bisa dikatakan begitu kisanak. Jika kisanak sangat mengetahui seluk beluknya, berarti kisanak adalah penduduk asli desa ini?”tanya Danang.


“Inggih raden, saya dibesarkan di desa ini. Apakah raden sedang melakukan perjalanan dan hanya sekedar mampir atau memang raden bertujuan mengunjungi desa Sekarjati?”ujar calo itu.


“Aku memang bertujuan datang ke desa ini kisanak, dari kotaraja aku melakukan perjalanan dengan berkuda, sialnya kudaku dimangsa harimau di pinggir Alas Ketonggo. Untung saja aku berhasil melarikan diri, dan tampaknya harimau itu tidak tertarik untuk memangsaku dan lebih memilih menghabiskan kudaku sebagai santapannya kisanak.”ujar Danang sambil tertawa mengalihkan agar orang di hadapannya tidak curiga melihatnya datang hanya dengan berjalan kaki saja.


“Mungkin nanti aku juga membutuhkan kisanak untuk mengantarku ke tempat penjual kuda. Rasanya aku akan membutuhkannya untuk perjalananku kembali ke kotaraja.”tambahnya.


“Inggih raden, nanti saya akan mengantar raden, kebetulan saya mengenal penjual kuda-kuda terbaik disini.”ujarnya.


Percakapan terhenti oleh pelayan yang datang membawakan makanan pesanan mereka, lalu mereka melanjutkan santap dengan lahap.


Selepas bersantap, mereka berdua berkeliling melihat-lihat semua tempat perjudian dan pelacuran, mulai dari kelas bawah, mengah, atas, hingga kelas diatasnya.


Danang melihat di seluruh tempat-tempat itu dijaga oleh sekitar lima orang pasukan penjaga.


Bau arak tercium dimana-mana, dan terlihat sebagian besar tamu-tamu yang datang memang sudah dalam keadaan setidaknya setengah mabuk.


Tak ayal sebagai pemuda yang sehat, jantung Danang berdegup kencang dan darahnya berdesir melihat gadis-gadis cantik berpakaian seronok menggoda dirinya.

__ADS_1


Namun sekilas ia bisa menangkap kesedihan di mata para gadis-gadis cantik tersebut.


“Kisanak, tampaknya aku membutuhkan tempat untuk menginap, tubuhku sangat lelah setelah melakukan perjalanan dengan berjalan kaki. Bisakah kisanak menunjukkan penginapan yang tidak berisi gadis-gadis seperti ini? Aku tidak akan bisa beristirahat jika ada mereka.”bisik Danang beralasan sambil tersenyum.


“Inggih raden, monggo saya antar raden menuju penginapan.”jawabnya lalu mereka beranjak pergi mencari penginapan.


Setibanya di penginapan Danang memberikan upah pada calo tersebut, “Kisanak, terimalah ini, anggaplah sebagai balas jasa untukmu.”ucapnya seraya memberikan beberapa keping perak.


“Matur nuwun raden. Sekiranya raden masih membutuhkan, saya bersedia untuk kembali mengantar raden.”ucap calo itu sambil membungkuk hormat.


“Besok sore, kembalilah kesini. Antar aku berkeliling desa ini kisanak. Oh ya, siapakah nama kisanak?”tanya Danang.


“Inggih raden, nama saya Warsono. Baiklah raden, besok sore saya akan kembali dan menunggu raden di depan penginapan ini.”ucapnya lalu beringsut pergi.


Danang lalu masuk ke kamar yang telah disediakan dan merebahkan tubuhnya di dipan sambil berpikir, “Besok rasanya aku akan mencoba langkah pertamaku dengan rumah perjudian. Seingatku tadi ada lima rumah perjudian di desa ini.”pikirnya, lalu tidur setelah menunaikan kewajibannya.


Esok paginya, setelah menyelesaikan santap pagi Danang segera beranjak pergi menuju salah satu rumah judi terdekat dari penginapannya.


Setelah memperhatikan keadaan dan cara bermain, Danang memutuskan untuk bermain judi dadu.


Dengan kemampuannya setelah tujuh cakranya terbuka, Danang yang kini memiliki indra luar biasa tajam dengan sangat mudah menebak jumlah dadu yang dikocok oleh bandar judi disitu, hingga selepas tengah hari saja ia sudah meraup sangat banyak keuntungan, dua kantong keping emas!


Setelah mendapatkan empat kantong keping uang emas, ia beranjak kembali ke penginapan untuk menemui Warsono, si calo yang menemaninya kemarin.


“Rupanya kakang Warsono menepati janjinya untuk kembali kesini pada sore hari. Bagaimana kabarmu kakang?”


Mendengar dirinya dipanggil kakang, panggilan yang menunjukkan keakraban oleh pemuda gagah yang dipikirnya adalah kerabat Keraton, ia membungkuk hormat dengan rasa kagum pada sosok di hadapannya, “Inggih raden, saya akan berusaha menepati janji pada raden.”ucapnya sambil membungkuk hormat.


“Sudahlah kang Warsono, tidak usah berlaku seperti itu padaku. Nah sekarang tolong antarkan aku melihat-lihat perkampungan penduduk, terutama para penduduk yang fakir di desa ini.”ucap Danang.


“Nyuwun sewu raden, saya mengira raden akan minta diantarkan ke tempat pelesiran, ada apa gerangan hingga raden berkenan mengunjungi penduduk yang fakir raden?”tanya Warsono kebingungan.


“Nanti kakang akan tahu sendiri. Mengenai pelesiran, sejak tadi pagi aku sudah bersenang-senang di rumah judi tak jauh dari sini kakang.”ucap Danang.


Lalu Warsono walaupun masih menyimpan rasa heran akhirnya mengantar Danang berkeliling pemukiman penduduk , terutama yang hidup dalam kekurangan di desa Sekarjati.


Ia sangat terkejut ketika disana mendapati pemuda tampan dan gagah yang bersamanya membagi-bagikan uang emas dari rumah ke rumah penduduk hingga menghabiskan empat kantong uang emas!


Tak ketinggalan ketika berkunjung kerumahnya, keluarga Warsono mendapat bagian, sehingga mereka sampai menangis dan bersujud syukur atas pemberian pemuda tersebut.

__ADS_1


“Duuuh Gusti...matur nuwun sanget atas pemberianMu.”ucap para penduduk bersyukur.


“Sebaiknya kalian simpan uang ini dan gunakan seperlunya saja, aku kuatir ini akan menimbulkan ketegangan jika pihak aparat desa ini mengetahuinya.”saran Danang pada para penduduk.


“Kakang Warsono, tolong antar aku kembali ke penginapan. Esok kakang tidak perlu datang kesana, melainkan aku akan menemui kakang dirumahmu saja.”ucap Danang.


“Inggih raden, monggo.”ucap Warsono dengan sopan, lalu mereka berdua beranjak pergi.


Sepanjang perjalanan kembali ke penginapan, mereka terlibat percakapan. Danang menggunakan kesempatan itu untuk mengorek keterangan lebih lengkap tentang desa Sekarjati.


Dari keterangan yang didapatkannya dari Warsono, ia mengambil kesimpulan bahwa rakyat desa Sekarjati sejatinya tidak rela desanya dijadikan sebagai sarang maksiat, hanya saja mereka tidak memiliki kemampuan untuk melawan dan hanya bisa pasrah lalu akhirnya terpaksa mencari nafkah dari situ karena keadaan.


Esok harinya hingga lima hari berturut-turut Danang kembali melakukan kegiatannya, yaitu mengunjungi rumah-rumah perjudian dan menguras mereka hingga mendapatkan lima hingga enam kantong emas per harinya!


Dan pada malam hari ia kembali membagi-bagikan hasilnya itu pada rakyat desa secara sembunyi-sembunyi serta tidak lupa menyimpan dua dari tiga bagian uang emas tersebut sebagai bagian dari akhir rencananya nanti.


Tak ayal, kabar ini terdengar oleh Ki Ageng Gandrik, yang langsung memanggil pendekar sewaannya menghadap.


“Aku mendapatkan kabar bahwa ada seorang pemuda yang tampaknya adalah kerabat Keraton berhasil memenangkan judi secara berturut-turut hingga membuat kas rumah-rumah perjudian kosong.”ucap Ki Ageng Gandrik.


“Jika hal ini dibiarkan maka hal ini akan menguras kekayaanku dan desa ini, dan akhirnya aku tidak akan sanggup lagi membayar gaji kalian dan membayar setoran pada meneer Dedrick Van Osch serta setoran pada pejabat di Keraton.”tambahnya.


“Maka aku menugaskan padamu Munding Kusuma, dan kau Kwee Ban Siang untuk mencari pemuda itu. Jika ia kembali menguras harta rumah perjudian, bunuh dia! Aku tidak peduli walaupun jika ia adalah kerabat Keraton.”perintahnya.


“Baik Tuan, aku dan Munding Kusuma akan mencari pemuda yang telah meresahkan itu.”ucap Kwee Ban Siang lalu beringsut mundur meninggalkan rumah kepala desa menuju rumah perjudian bersama Munding Kusuma.


Setibanya disana, mereka langsung berkeliling dari rumah judi satu ke rumah judi lainnya. Hingga pandangan mereka tertuju pada satu orang pemuda gagah yang tampaknya memenangkan uang emas banyak sekali dari perjudian disana.


“Tampaknya pemuda itu yang kita cari.”bisik Kwee Ban Siang pada Munding Kusuma.


“Kita habisi saja dia sekarang?”tambahnya pada Munding Kusuma.


“Nanti dulu, kita biarkan dia memenangi perjudian ini lalu kita ikuti dan kita habisi dia dijalan nanti. Uang emas yang dimilikinya kita bagi dua.”bisik Munding Kusuma sambil tersenyum membayangkan kekayaan di depan matanya.


“Hahaha...aku setuju. Ini namanya sekali memanah dapat dua ekor.”ucap Kwee Ban Siang.


Sore hari setelah memenangkan perjudian, Danang melangkah keluar diikuti oleh Munding Kusuma dan Kwee Ban Siang dari kejauhan.


Danang yang mengetahui hal itu tetap berlaku tenang dan berpura-pura seolah-olah tidak mengetahui bahwa ia dikuntit dan mengarahkan langkahnya menuju daerah perkebunan dekat pemukiman penduduk yang sepi.

__ADS_1


Setibanya di wilayah yang sepi, mendadak dua sosok bayangan yang ternyata adalah Kwee Ban Siang dan Munding Kusuma melesat menghadang langkah Danang sambil berkata, “Berhenti, serahkan kantong yang kau bawa, lalu serahkan nyawamu!”


__ADS_2