
Danang memulai mengumpulkan bahan pangan yang terdapat pada lembah di ujung sisi goa sebagai persiapan untuk memulai semadhinya dalam mengamalkan ajian-ajian yang didapatnya dari kitab tersebut.
Selain itu ia juga mempersiapkan tubuh luar dan dalam serta mempersiapkan kebulatan niat dan tekadnya, ia tidak ingin usahanya gagal di tengah jalan.
Danang memilih untuk memulai dengan mengamalkan Ajjian Braja Danta, yang dapat membuat pemiliknya memliki kekuatan luar biasa dan dapat menghancurkan benda apapun dengan pukulannya.
Setelah dirasa cukup, Danang pergi ke dalam goa kecil tempat ia pertama kali menemukan kitab, dan duduk bersila sebagai sikap awal semadhinya. Ia mulai memusatkan pikian dan niatnya, lalu kemudian memulai semadhi sambil merapal amalan ajian tersebut yang pada hakikatnya adalah rapalan pengagungan Sang Pencipta.
Terus menerus, tak terasa sudah mendekati empat puluh hari Danang melakukan semadhi. Ia hanya berhenti untuk melakukan kewajiban pada Sang Pencipta dan berbuka dengan melahap ubi dan sedikit air tiap matahari terbenam.
Pada malam ke empat puluh, ia membuka matanya dan melihat ada cahaya terang di depannya. Tergetar hatinya ketika menyadari cahaya tersebut perlahan mendekati dirinya, lalu secara tiba-tiba melesat masuk kedalam tubuhnya...Danang pun terhempas dan pingsan.
Danang akhirnya siuman dan mulai membuka matanya. “Ahh...hari sudah siang rupanya, Sang Bagaskara sudah menampakkan dirinya.”ucapnya (bagaskara \= matahari).
Dirasakannya tenggorokannya sangat kering, lalu ia bangkit dan berjalan ke tepi sungai untuk minum. Lepas dahaganya, lalu ia kembali ke goa kecil untuk bersantap.
Setelah dirasanya cukup, ia berjalan ke sisi tebing dan mengambil batu sebesar kepala orang dewasa dan ditaruhnya di hadapannya.
__ADS_1
“Aku ingin mencoba hasil pengamalan Ajian Braja Danta milikku.”batinnya. Lalu Danang merapalkan ajian Brajadanta dan memukulkan kepalan tangannya kearah batu tersebut tanpa mengerahkan tenaga dalamnya.
Terasa olehnya ada suatu kekuatan tak kasat mata menyelimuti tangannya. Tulang dan kulit tangannya mengeras seolah lebih keras dari baja. Braaakk...batu tersebut hancur menjadi serpihan-serpihan kecil yang melesat ke berbagai arah.
“Astaga, dahsyat sekali ajian ini. Sebaiknya aku berhati-hati dalam menggunakannya.”batin Danang. “Mungkin dengan kekuatan ajian ini aku sudah bisa keluar dari goa ini.
Hanya rasanya aku masih bimbang antara keluar dari goa atau melanjutkan mengamalkan ajian lainnya.”batinnya.
Setelah mengambil keputusan mengistirahatkan dan memulihkan tubuhnya selama tiga hari, Danang akhirnya memilih untuk kembali melakukan semadhi mengamalkan Ajian Bayu Bajra.
Dengan sikap duduk bersila, Danang membaca rapalan Ajian Bayu Bajra terus menerus. Pada malam ke empat puluh, angin kencang berhembus menderu deru di sekitar goa kecil lalu membentuk beliung yang besar dan bergerak masuk ke tubuhnya.
Menjelang matahari terbit, Danang sudah dapat berdiri dan bergerak. Lalu ia berjalan ke pinggir sungai kecil untuk bersuci dan menunaikan kewajibannya, lalu bersantap. Danang merasakan tubuhnya sangat ringan, seolah olah ia memiliki kekuatan untuk bergerak dengan cepat.
Kembali mengistirahatkan dan memulihkan tubuhnya selama tiga hari, Danang kembali bersiap untuk mengamalkan ajian yang ketiga, yaitu ajian Tameng Waja.
Mengambil sikap duduk bersila, Danang kembali hanyut dalam rapalan. Selama empat puluh hari Danang terus melakukan semadhi sambil berulang-ulang membaca rapalan, hingga pada malam ke empat puluh ia mendengar suara berisik laksana benturan-benturan logam di sekelilingnya.
__ADS_1
Danang juga merasakan tubuhnya dihimpit oleh sesuatu yang tak kasat mata, hingga menjelang matahari terbit barulah himpitan itu hilang.
Ia membuka matanya, mengucap syukur pada yang Maha Kuasa lalu menyudahi semadhinya dan bergerak untuk melaksanakan kewajibannya pada Sang Pencipta.
Selepas matahari terbit dan menyelesaikan santapannya, Danang memutuskan untuk mencoba keluar dari goa dan kembali ke kediaman Kyai Ageng Banyu Urip.
“Aku akan mencoba untuk keluar dari sini dan menemui Kanjeng Romo, mudah mudahan kekuatanku cukup untuk membongkar reruntuhan di mulut goa.”batinnya.
Danang lalu mengemas kitab-kitab dan dimasukkannya kebalik Kotang Kyai Nogo Bumi yang dikenakan dibalik pakaiannya. Ia juga menyelipkan pusaka kudi Kyai Nogo Samudro dan keris Kyai Nogo Bledek dibalik pakaiannya.
Di jari manisnya kini telah terselip pusaka cincin Kyai Nogo Langit.
Di mulut goa, Danang merapal untuk menambah kekuatan tenaga dalamnya sesuai petunjuk penggunaan cincin Kyai Nogo Langit dan bersiap sambil merapal ajian Braja Danta.
Kali ini terasa tulang hingga kulitnya mengeras dan tenaga dahsyat terkumpul di tangannya yang telah dilambari tenaga dalam dan ajian Braja Danta, lalu ia memukul reruntuhan tersebut.
Braaaaak.....reruntuhan batu yang menutupi mulu goa tersebut hancur dan berhamburan hingga menyisakan lubang seukuran dua tubuh manusia dewasa.
__ADS_1
“Syukurlah, aku bisa keluar dari sini dan akan segera kembali menemui Kanjeng Romo.”pikirnya.
Setelah melangkah keluar dari goa, Danang merapal ajian Bayu Bajra, dan melesat secepat angin ke arah timur, arah kediaman Kyai Ageng Banyu Biru.