Kitab Manunggaling Semesta Jagad

Kitab Manunggaling Semesta Jagad
BAB 35, BABAK AWAL PRAJURIT PATANG PULUHAN


__ADS_3

“Nanti dulu kisanak, tidak perlu sampai seperti itu. Berdirilah kisanak semuanya. Lagipula aku bukanlah seorang pangeran dan sama seperti kisanak semua.”ucap Danang seraya meminta mereka semuanya segera berdiri.


“Tidak Gusti Pangeran, bagi kami semua andika adalah Gusti Pangeran kami. Kami semua hanya akan tunduk dan patuh atas titah Gusti Pangeran kami.”ucap salah sosok bertubuh tinggi besar dengan wajah dihiasi brewok dengan tegas.


Melihat itu Danang terlihat kikuk dan bingung, namun serta merta Mertowijoyo datang menghampiri dan merangkul pemuda itu seraya berkata pelan, “Biarkan nakmas, biarkanlah mereka seperti itu. Nakmas Danang adalah sosok panutan bagi mereka. Anggapan dan sebutan nakmas sebagai Gusti Pangeran adalah bentuk penghormatan mereka terhadap dirimu nakmas.”ujar Mertowijoyo sambil tersenyum.


“Sesungguhnya aku merasa risih dan tidak enak hati dengan sebutan itu paman. Menurutku sebutan Gusti Pangeran yang tepat disini hanyalah untuk Kanjeng Gusti Pangeran Mangkubumi.”ucap Danang pada Mertowijoyo.


“Menurutku tidak seperti itu nakmas. Seperti halnya seperti nakmas menghormati sosok Kanjeng Gusti Pangeran Mangkubumi, maka seperti itulah mereka menghormati sosok nakmas. Janganlah nakmas sia-siakan penghormatan dari mereka yang telah menyerahkan hidup dan mati dirinya padamu nakmas.”ujar Mertowijoyo.


Mendengar itu Danang hanya bisa melpaskan blangkon dan menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.


Setelah menimbang beberapa saat, akhirnya pemuda gagah itu berkata, “Siapa namamu kisanak?”tanya Danang pada sosok tinggi besar berwajah brewokan itu.


“Singgih Gusti Pangeran, nama hamba Mappatoba. Hamba membawahi sembilan belas orang saudara hamba yang semuanya adalah bajak laut yang berasal dari Celebes.”jawabnya.


Kemudian salah seorang bertubuh tidak terlalu tinggi namun kekar berotot bergerak maju dan kemudian berlutut di hadapan Danang, “Gusti Pangeran, hamba bernama Mahesa Geni, hamba adalah ketua kawanan perampok dari Alas Krumput di wilayah Kadipaten Banyumas.


“Baiklah, sekarang lupakan semua masa lalu kalian sebagai perampok dan bajak laut.


Mulai saat ini kita semua adalah satu bagian, yaitu sebagai satuan prajurit patang puluhan.”ucap Danang pada mereka.


“Karena usiaku lebih muda dari kisanak semua, maka aku akan memanggil kalian dengan sebutan kakang, sebagaimana aku menganggap kalian semua adalah kakang-kakangku. Dan aku mengangkat kakang Mappatoba dan kakang Mahesa Geni sebagai perwakilanku di dalam satuan prajurit patang puluhan ini.”tambahnya.


“Sendiko dawuh Gusti Pangeran, kami akan berusaha melaksanakan titah Gusti Pangeran dengan sebaik mungkin.”ucap Mappatoba dan Mahesa Geni bersamaan.


Semenjak saat itu, mereka mendirikan tenda-tenda besar yang kemudian digunakan sebagai barak kesatuan mereka ditempat itu.


Danang memilih pindah dari biliknya di dekat kediaman Pangeran Mangkubumi dan yang lainnya untuk kemudian tinggal di tenda dan berbaur menyatu dengan satuan prajurit yang dipimpinnya itu.


Setiap pagi, pemuda itu mengajarkan mereka berlatih olah kanuragan yang menitik beratkan pada kecepatan gerak, pertempuran jarak pendek, dan peningkatan daya gedor pasukannya melalui pengolahan tenaga dalam hingga sore hari.

__ADS_1


Diajarkannya pula pada mereka gerak langkah Gagak Rimang yang kuat dan gesit, gerak banteng yang sangat rapat pada pertahanan, gerak kera yang lincah, gerak harimau yang ganas dalam serangan, serta gerak jurus Alap-Alap yang berubah-ubah irama geraknya serta penuh dengan tipuan.


“Intinya adalah kokoh bagaikan bumi, cepat laksana angin, bergerak mengalir bagaikan air, menyebar tanpa celah seperti cahaya, dan membakar bagaikan api.”imbuh pemuda tersebut memberi penjelasan pada satuan prajuritnya.


Kegiatan mereka hanya terhenti sebentar untuk melakukan santap siang dan menunaikan kewajiban menghadap Sang Pencipta hingga menjelang matahari terbenam.


Setelah matahari terbenam, ia mengajak satuannya untuk menunaikan kewajiban pada Sang Pencipta yang dilanjutkan dengan santap malam dan sisa waktunya dihabiskan untuk bercengkerama dengan mereka hingga waktu tidur tiba.


Menjelang fajar ia selalu membangunkan dan mengajak para prajuritnya untuk menunaikan kewajiban pada Sang Pencipta yang dilanjutkan dengan membaca kitab-kitab ayat suci dan sastra serta mengajarkan tata gelar perang seperti Supit Urang, Cakrabyuha, Diradameta dan lain-lain.


Tak terasa sudah tiga pernama ia berada disitu untuk melatih dan membentuk satuan prajuritnya.


Satuan prajurit patang puluhan sangat menghormati dan merasa dihargai sebagai manusia oleh sikap dan sifat pemimpinnya yang mengayomi hingga rela untuk pindah dari bilik kediamannya dan tinggal bersama mereka semua di dalam tenda barak prajurit.


Danang juga mengunjungi pandai besi yang terletak tidak begitu jauh dari baraknya untuk memesan senjata yang kelak akan digunakan sebagai senjata khusus bagi satuan prajurit patang puluhan.


Ketika tiba disana, Danang bertemu dengan sang empu dan mengutarakan maksud kedatangannya, “Sampurasun eyang, sesungguhnya aku datang kesini untuk memesan senjata sebanyak empat puluh pasang yang kelak akan digunakan satuan prajuritku. Aku menginginkan senjata seperti ini dalam hasil terbaik yang eyang empu mampu hasilkan.”ujarnya seraya memperlihatkan sepasang kudi hyang miliknya.


Setelah selesai memperhatikan senjata tersebut empu Ciptarasa melanjutkan pembicaraan, “Sejujurnya aku tidak mampu untuk membuat senjata setingkat ini raden, lagipula bahan yang dibutuhkan hampir mustahil didapatkan.”ujarnya sambil meghela nafas berat.


“Namun seingatku, aku masih memiliki sebongkah watu lintang yang kutemukan di lereng Gunung Lawu dulu. Kelihatannya dengan menggunakan bahan watu lintang itu aku masih bisa membuat senjata seperti ini, walaupun hasilnya masih beberapa tingkat dibawah senjata milik raden.”tambah empu Ciptarasa.


“Ngapunten eyang, kira-kira berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuat empat puluh pasang senjata seperti itu? Dan berapa biaya yang harus kubayar?”tanya Danang pada empu Ciptarasa.


“Aku membutuhkan waktu kira-kira dua belas purnama untuk membuat empat puluh pasang senjata ini raden.”ucap sang empu.


“Ngapunten eyang, apakah tidak bisa dipercepat waktu pembuatannya?”ucap Danang pada empu Ciptarasa.


“Bisa kuusahakan raden, setidaknya membutuhkan waktu tujuh hingga delapan purnama paling cepat untuk membuat empat puluh pasang senjata seperti ini. Namun terus terang ongkos pembuatannya akan menjadi sangat mahal raden, karena aku harus mencurahkan segenap waktu dan perhatianku untuk pembuatan senjata pesanan raden dan menolak pesanan lainnya.”ujar empu Ciptarasa.


“Aku mematok harga sebesar sepuluh keping emas untuk pembuatan sepasang senjata seperti ini, ditambah lima puluh keping emas karena pembuatannya akan membutuhkan watu lintang milikku. Sehingga jumlah keseluruhannya sebanyak empat ratus lima puluh keping emas. Apakah raden setuju?”ujar empu Ciptarasa.

__ADS_1


“Baiklah aku setuju eyang, semoga hasilnya nanti bisa sesuai dengan apa yang kuharapkan. Ini kuserahkan sebagian pembayaran sebagai uang muka, sisanya akan aku lunasi setelah seluruh senjata telah selesai dalam waktu delapan purnama kedepan.”ujar Danang sambil menyerahkan dua ratus keping emas dari balik pakaiannya dan menyarungkan sepasang kudi ke dalam warangkanya.


“Akan aku pastikan hasilnya sesuai harapan raden, walaupun seperti yang telah kukatakan tadi, hasilnya akan berada beberapa tingkat dibawah senjata milik raden.”ucap empu Ciptarasa.


“Baiklah eyang, aku mohon diri. Aku akan sering-sering kesini untuk melihat perkembangan pembuatan senjata tersebut.”ucap Danang yang kemudian beranjak pergi menuju kediaman Pangeran Mangkubumi.


Setibanya disana ia disambut oleh Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said yang kebetulan sedang berkunjung disana, “Aaah...monggo nakmas. Ada gerangan apa tiba-tiba nakmas berkunjung kesini setelah tiga purnama lamanya tidak pernah terlihat?”ucap Pangeran Mangkubumi.


Danang kemudian berkata sambil menghaturkan sembah bektinya, “Nyuwun pangapunten Gusti Pangeran dan Raden Mas Said, hamba telah lalai hingga tidak menyempatkan diri mengunjungi Gusti Pangeran hingga tiga purnama.”ujarnya sopan.


“Pertama-tama, hamba ingin melaporkan hasil pembentukan satuan prajurit patang puluhan seperti yang Gusti Pangeran titahkan."


"Saat ini mereka dengan sangat giat dan bersemangat melakukan pelatihan olah kanuragan dan keprajuritan, namun terus terang belum mencapai hasil yang diharapkan walaupun telah mulai terlihat ada kemajuan yang cukup membanggakan.”lapor pemuda itu.


“Yang kedua, hamba mohon ijin pada Gusti Pangeran dan Raden Mas Said untuk diberikan pelatihan jemparingan dan jaranan, untuk menambah kemampuan hamba dan satuan prajurit patang puluhan.”tambahnya.


“Jelaskanlah maksudmu secara terperinci nakmas.”ucap Pangeran Mangkubumi menanggapi usulan pemuda di hadapannya tersebut.


“Kasingggihan Gusti Pangeran, menurut hamba dengan menguasai jemparingan, akan menambah daya serang satuan prajurit patang puluhan yang menggunakan taktik dhedemitan."


"Serangan panah secara tiba-tiba di awal pertempuran akan mampu mengurangi musuh dalam jumlah banyak, yang kemudian dilanjutkan oleh pertempuran jarak pendek di saat musuh masih dalam keadaan panik.”ujar Danang.


“Lalu kemampuan jaranan menurut hamba akan menambah daya gedor dan kecepatan satuan patang puluhan dalam melakukan serangan, sehingga mampu menghabisi musuh secara tiba-tiba dan menghilang dengan cepat hingga sulit dikejar dan dicari keberadaannya sesuai taktik dhedemitan dan weweludan.”tambah pemuda tersebut.


“Aku setuju dengan usulmu nakmas. Aku akan meminta bantuan Mertowijoyo untuk melatih jaranan satuan prajuritmu, Mertowijoyo sangat ahli dalam jaranan.”ucap Pangeran Mangkubumi.


“Kelihatannya aku juga akan meminta bantuan nakmas Said untuk mengijinkan satuan prajurit estri miliknya melatihmu dan satuan patang puluhan dalam jemparingan, karena aku tahu bahwa satuan prajurit estri sangat ahli dalam bidang jemparingan dan bidang telik sandi. Bagaimana nakmas Said, apakah kau mengijinkan?”ucap Pangeran Mangkubumi.


“Aku mengijinkannya romo. Akan kuminta Nyai Arum dan beberapa orang pilihannya untuk melatih dimas Danang beserta satuan prajuritnya dalam jemparingan.”ujar Raden Mas Said.


“Nah, monggo, nakmas Said telah memberikan persetujuannya. Kurasa kau bisa mulai esok pagi setelah nakmas Said memberikan perintah pada satuan prajuritnya hari ini.”ujar Pangeran Mangkubumi.

__ADS_1


“Sendiko dawuh Gusti Pangeran, kalau begitu hamba mohon diri untuk kembali ke barak bersama satuan prajurit patang puluhan.”ujar Danang seraya memberikan sembah bektinya lalu beringsut mundur...


__ADS_2