
“Mungkin aku akan membawamu untuk tinggal sementara di kediaman romo angkatku, tetapi setelah semua urusanku selesai, atau untuk sementara mungkin kau bisa pergi mengungsi ke Batavia dengan menggunakan kapal dagang dari pelabuhan Jepara, yang tak jauh dari sini.”ujar pemuda gagah tersebut.
“Batavia? Lalu disana aku akan ditangkap oleh para pembesar VOC maksudmu? Ayolah knappe jong man, kau pasti mengetahui bahwa majoor Dedric Van Osch memiliki banyak kenalan para pejabat VOC di Batavia, bahkan dia dikenal dekat dengan Gubernur Jendral Baron Van Imhoff.”ujar wanita cantik berambut pirang itu.
Danang terdiam beberapa saat. Keningnya terlihat berkerut, menandakan ia sedang berpikir keras.
Terlihat beberapa kali pemuda gagah itu menghela nafasnya. Sejenak kemudian akhirnya ia menatap wanita cantik berambut pirang tersebut dan berkata, “Jujur saja aku tidak bisa mempercayaimu saat ini Esther, maafkan aku. Aneh rasanya menurutku jika seorang bule ingin pergi meninggalkan kaumnya dengan segala kemewahan ini lalu bersandar hidup pada pemuda Jawa sepertiku. Aku mohon diri, permisi.”jawab Danang seraya berjalan pergi dari ruangan itu.
Beberapa langkah pemuda gagah tersebut berjalan meninggalkan ruangan itu, tiba-tiba nalurinya menangkap sesuatu yang tidak lazim.
Tubuhnya berputar dan melihat wanita cantik berkulit putih pucat tersebut mengarahkan sebuah pisau... ke dadanya sendiri.
Dengan cepat Danang berkelebat bagaikan angin, tangannya menangkap tangan wanita berambut pirang yang memegang pisau tersebut, lalu dengan cepat ia menotok beberapa titik di tubuh wanita itu hingga membuatnya kaku dan tidak dapat bergerak.
“Mengapa kau lakukan ini Esther?”ujar Danang pada wanita cantik berambut pirang yang kini ada dalam dekapannya.
“Ketika kau menjadi seorang budak, dan orang yang kau harapkan bisa membawamu keluar dari kesulitan tidak mempercayaimu dan tidak mau membantumu, lalu apalagi yang bisa diharapkan dari hidup menurutmu?”balas wanita tersebut.
__ADS_1
Terlihat buliran air mengalir dari matanya hingga membasahi pipinya yang berwarna putih bersemu kemerahan tersebut.
Hatinya kini terasa bercampur aduk antara putus asa, kecewa, marah, sekaligus bahagia mendapati dirinya berada dalam pemuda tampan yang dikaguminya walau baru pertama kali bertemu itu.
Jika saja waktu bisa dihentikan, ingin sekali rasanya ia menghentikan waktu dan terus berada dalam keadaan itu. Di lain hal, ia juga merasa was-was dan takut jika pemuda itu tetap tidak mempercayainya.
“Baiklah, aku percaya padamu. Sekarang akan kulepaskan totokanku, dan kau harus membuang pisau itu lalu mari kita duduk dan bicara.”ucap pemuda gagah tersebut.
Kemudian pemuda itu membuka totokannya yang bersarang di tubuh wanita berkulit putih pucat tersebut, hingga akhirnya wanita itu dapat kembali menggerakkan seluruh tubuhnya.
“Aku memang selama ini jauh dari Tuhan, namun sejujurnya aku juga tetap ingin dianggap sebagai manusia yang punya martabat. Hati nuraniku berontak ketika aku dianggap seperti boneka mainan bagi majoor Dedric Van Osch beserta keluarganya. Tahukah kau, bahwa apa yang dilakukannya jika ada pejabat VOC atau keluarga majoor Dedric Van Osch datang berkunjung ke Jepara? Dengan entengnya ia memberikan tubuhku sebagai mainan mereka, sebagai alat untuk memuaskan nafsu mereka.”ujar Esther yang mulai kembali terisak.
“Lalu mengapa kau sepertinya tadi berusaha menjebakku dengan segala rayuan dan tipu daya?”tanya Danang pada wanita cantik tersebut.
“Dengan pengalaman yang kudapatkan selama ini, kuanggap semua laki-laki itu sama, hanya menginginkan pemuasan nafsu sesaat. Dan kusadari bahwa mereka semua menganggapku bagaikan boneka cantik yang berharga mahal. Maka aku merayumu dengan tujuan agar kau melepaskanku dari kebiadaban yang kuterima selama ini.”jawab Esther.
“Walaupun jujur saja aku menyukaimu, dan aku benar-benar bersedia melayanimu selamanya, tidak kau jadikan istri pun aku tidak keberatan asalkan kau membawaku pergi dari sini, daripada aku disini harus melayani berbagai macam laki-laki yang bahkan tidak kukenal, lebih baik aku hanya melayani dirimu seorang saja. Namun ternyata kau menolakku knappe jong man, kaulah laki-laki yang pertama kali menolak ajakanku untuk bercinta.”tambah Esther.
__ADS_1
“Apakah kau benar-benar ingin meninggalkan semua ini Esther? Kemewahan semacam ini tidak bisa kau dapatkan dengan mudah, dan ini semua sudah terpampang jelas di hadapanmu. Keluar dari sini akan membawa beberapa masalah bagimu nantinya.”ujar pemuda gagah tersebut pada Esther.
“Aku tidak menginginkan segala bentuk kemewahan ini jika aku tidak dianggap sebagai manusia seutuhnya. Menurutmu apakah kemewahan lebih berarti daripada segala bentuk kebiadaban yang telah kualami?”ujar Esther.
“Aku hanya menginginkan hidup sebagaimana manusia selayaknya knappe jong man. Lagipula aku telah memiliki sejumlah emas yang kusimpan sebagai hasil pemberian majoor Dedric Van Osch dan beberapa laki-laki kaya yang telah menikmati tubuhku. Aku bisa memulai membuka perkebunan yang cukup luas dari hasil simpananku itu.”tambahnya.
“Lantas bagaimana jika pihak VOC, terutama majoor Dedric Van Osch kelak memburumu? Aku yakin tidak sulit bagi mereka untuk menemukanmu dengan segala sumber daya yang mereka miliki.”ujar Danang.
“Ada satu cara agar aku terhindar dari kejaran mereka, yaitu memohon perlindungan dari Pangeran Mangkubumi yang saat ini telah meraih berbagai kemanangan dalam perang dengan VOC. Aku mengetahui dengan jelas tempat-tempat penyimpanan senjata di Jepara dan Semarang. Aku juga mengetahui kelemahan dan kebiasaan majoor Dedric Van Osch dan Gubernur Jendral Baron Van Imhoff. Aku juga kenal dengan orang-orang pribumi pekerja yang berada dekat dengan mereka, yang sebenarnya juga menginginkan Pangeran Mangkubumi meraih kemenangan.
“Apakah maksudmu bahwa aku adalah bagian dari mereka?”tanya Danang.
“Tidak, bukan begitu. Tapi sebagai pemuda Jawa dan kulihat tadi kau memiliki kemampuan hebat ketika membuatku gagal melakukan bunuh diri, aku rasa tidak akan sulit bagimu untuk menemukan jalan untuk menemui Pangeran Mangkubumi.”ujar Esther pada pemuda gagah tersebut.
Kembali Danang terdiam dan terlihat berpikir keras hingga beberapa saat.
Akhirnya ia membuka mulutnya dan berkata, “Baiklah, aku akan menolongmu keluar dari sini, tapi tidak sekarang…dan tentu saja ada syarat yang harus kau penuhi.”ujar pemuda gagah tersebut…
__ADS_1