Kitab Manunggaling Semesta Jagad

Kitab Manunggaling Semesta Jagad
BAB 18, DIMULAINYA MIMPI BURUK KI AGENG GANDRIK


__ADS_3

Melihat itu Danang yang tetap tenang dan tersenyum sambil diam-diam merapal ajian Tameng Waja untuk berjaga-jaga melindungi dirinya dari kemungkinan terburuk.


“Sugeng sonten kisanak berdua, ada apa gerangan hingga kisanak berdua menghadang, bahkan memintaku untuk menyerahkan harta dan nyawaku?” Apa aku mengenal dan memiliki kesalahan terhadap kisanak berdua?”tanya Danang berbasa basi pada Munding Kusuma dan Kwee Ban Siang.


“Kau telah merampok harta rumah judi kami anak muda, nah sekarang serahkan pada kami lalu silahkan pilih mau bunuh diri atau membiarkan kami menebas lehermu.”ucap Kwee Ban Siang.


“Aku merampok? Nanti dulu kisanak, aku memenangkan ini dengan jujur. Silahkan kisanak berdua membuktikan jika aku melakukan kecurangan.”balas Danang.


“Jika kau tidak mau menyerahkan kantong dan nyawamu dengan sukarela, maka kami akan mengambilnya dengan paksa anak muda.”ucap Munding Kusuma lalu melompat menyerang Danang.


Melihat rekannya telah bergerak menyerang, biksu sesat Kwee Ban Siang ikut menyerang Danang dari arah samping kiri, menyelaraskan serangan Munding Kusuma yang bergerak ke arah kanan.


Melihat dahsyatnya serangan yang datang, Danang yang mengetahui bahwa lawan-lawannya adalah pendekar berkemampuan tinggi tanpa tedeng aling-aling langsung mengempos tenaga dalamnya dan melangkah mundur tiga langkah lalu melakukan serangan balik dengan gerak langkah Gagak Rimang dipadu dengan jurus harimau miliknya kearah Munding Kusuma.


Walau berhasil menghindar, tak ayal Munding Kusuma terkejut dengan angin serangan balasan yang diterimanya karena terasa mengandung tenaga dalam tinggi hingga menggetarkan jiwanya.


Melihat serangan baliknya pada Munding Kusuma gagal, Danang dengan sigap melancarkan jurus naga yang berupa tendangan kearah belakang secara mendadak kearah perut dan dada Kwee Ban Siang secara beruntun.


Tak mampu menghindar, Kwee Ban Siang memasang kedua tangannya untuk menahan tendangan itu hingga terjadi benturan keras yang menyebabkan kedua tangannya terasa kebas dan ngilu luar biasa.


Terkejut bukan main Kwee Ban Siang mendapati tangannya yang sudah dilatih selama puluhan tahun hingga mampu menghancurkan batu dibuat ngilu luar biasa akibat benturan dengan tendangan pemuda di hadapannya.


“Pemuda ini ternyata memiliki ilmu kanuragan yang hebat.”batin Kwee Ban Siang lalu melipat gandakan tenaga dalam dan ginkangnya seraya bersiap mengeluarkan jurus cakar naga dipadu dengan ilmu lonceng emas yang terkenal di negeri Tartar.


Jurus cakar naga memiliki gerakan yang sangat cepat dan kuat hingga batu cadas pun akan hancur jika dihantam oleh jurus ini yang disertai penggunaan tenaga dalam.


Sedangkan ilmu lonceng emas adalah ilmu pertahanan diri dari negeri Tartar yang menggunakan tenaga dalam sehingga penggunanya akan mampu menahan serangan pukulan dan tendangan yang menerpa dirinya, bahkan mampu menahan serangan senjata bagi pengguna ilmu lonceng emas tingkat tinggi.

__ADS_1


“Hey biksu, pemuda ini ternyata hebat. Mari kita keluarkan seluruh kemampuan kita.”ucap Munding Kusuma pada Kwee Ban Siang seraya melancarkan serangan susulan dilambari tenaga dalam tinggi.


Serangan mereka berdua bertambah cepat dan kuat karena telah dilambari oleh tanaga dalam dan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi, hingga terkesan bagaikan serangan sepasang burung walet.


Melihat itu Danang kembali mengempos tenaga dalamnya dan melakukan gerak jurus banteng untuk pertahanannya, disertai gabungan jurus-jurus lainnya seperti harimau, naga, bangau, kera, dan ular untuk melawan serangan keroyokan dua pendekar sesat ini.


Saling serang dan elak antara tiga bayangan yang saling berkelebat dan kadang disertai benturan-benturan pukulan dan tangkisan berlangsung sengit hingga puluhan jurus, hingga akhirnya dengan gerakan sapuan dari jurus naga, Danang berhasil menjatuhkan Munding Kusuma.


Di sela keterkejutannya terkena sapuan, tiba-tiba Munding Kusuma yang belum lagi jatuh ke tanah merasa sakit luar biasa pada dadanya.


Rupanya setelah melakukan gerakan sapuan, Danang dengan sangat cepat melesat menghantamkan pukulan yang mengenai dada Munding Kusuma yang menyebabkan Munding Kusuma terpental sejauh lima tombak sambil mengucurkan darah segar dari sela bibirnya.


Terkejut melihat rekannya berhasil dihantam, Kwee Ban Siang terkejut dan kehilangan kewaspadaan sehingga rusuknya terhantam oleh tendangan lawan.


“Kraaak...”terdengar suara yang menandakan rusuknya entah retak atau patah di beberapa bagian, menyebabkan dirinya terjajar mundur lima tombak kemudian jatuh terlentang.


Dari samping Munding Kusuma melemparkan pedangnya kearah Danang, yang berhasl dihindarinya. Ajaibnya, ternyata pedang yang dilempar mampu berbalik kembali ke tangan Munding Kusuma sebagai pemiliknya.


Danang melihat Munding Kusuma telah berdiri memasang kuda-kuda untuk bersiap memulai pertarungan kembali, mulutnya terlihat berkomat kamit membaca rapalan tertentu, “Haaah...Ajian Munding Salapan.”ujar Munding Kusuma.


Secara tiba-tiba hawa kekuatan Munding Kusuma melonjak, hingga kini ia memiliki kekuatan layaknya sembilan ekor banteng.


Karena merasa terdesak, akhirnya Munding Kusuma mengeluarkan ajian pamungkasnya, yaitu Ajian Munding Salapan yang walaupun mengurangi kecepatannya tapi membuat tubuhnya menjadi sangat kuat layaknya kekuatan sembilan ekor banteng.


Di sisi lain, biksu sesat Kwee Ban Siang terlihat duduk bersila sambil merapal mantra memanggil roh Dewa Kera yang dipujanya melalui ritual yang telah dilakukannya bertahun-tahun sejak ia masih berada di negeri Tartar, yaitu mengambil kegadisan seseorang kemudian diminum darahnya setelah korbannya dibunuh.


Tubuhnya bergetar hebat, hanya warna putih terlihat di kedua bola matanya, lalu kemudian Kwee Ban Siang melompat dan bertingkah laku seperti seekor kera. Namun sangat terasa bahwa tenaga dalamnya melonjak sangat tinggi.

__ADS_1


Keduanya meloloskan senjata masing-masing, yaitu sepasang pedang dan tongkat baja lalu kembali melesat menyerang pemuda di hadapannya dengan sangat garang.


Pertarungan kembali dilanjutkan hingga mencapai puluhan jurus, beberapa kali Danang terjajar mundur karena menghindari serangan pedang maupun menahan tongkat baja yang bertubi-tubi menyerangnya. Untungnya tubuhnya terlindungi oleh ajian Tameng Waja dan Kotang Kyai Nogo Bumi sehingga ia tidak mendapatkan luka berarti.


Merasa terdesak, Danang melompat bersalto ke belakang sejauh lima tombak kemudian merapal ajian Braja Musti. Sontak kedua tangannya mengeluarkan hawa panas luar biasa hingga berwarna kemerahan. “Braja Musti....”desisnya.


Melihat lawannya melompat mundur, Kwee Ban Siang berpikir bahwa pemuda itu terdesak hebat hingga berniat melarikan diri, sehingga ia dengan kecepatannya melesat mengejar sambil mengayunkan tongkat bajanya kearah kepala pemuda itu.


Malang baginya, ternyata pemuda itu sama sekali tidak berniat melarikan diri dan berhasil menghindari ayunan tongkat baja yang diarahkan ke kepalanya, lalu menyerang balik dengan pukulan yang dilambari ajian Braja Musti ke kepalanya.


“Duarrr”...kepala Kwee Ban Siang terkena pukulan yang dilambari ajian Braja Musti, menyebabkan dirinya terkulai dan jatuh dengan sekujur tubuh hangus. Tubuhnya berkelojotan sebentar, lalu nyawanya lepas saat itu juga.


Munding Kusuma yang melihat rekannya tewas dengan sekujur tubuh hangus sontak kaget dan merasakan takut menghampirinya, seolah sosok lawan di hadapannya adalah malaikat maut yang siap mencabut nyawanya.


Keringat dingin membasahi tubuhnya, nyalinya melesat kabur meninggalkannya setelah mengetahui bahwa pemuda lawannya ternyata memiliki tingkat kesaktian yang hebat, bahkan menguasai ajian Tameng Waja dan Braja Musti.


“Aku bukan tandingan pemuda ini. Aku tidak boleh mati disini. Aku harus kabur dari sini.”pikir Munding Kusuma yang lalu mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan berbalik badan hendak melompat melarikan diri dari tempat pertarungan itu.


Tiba-tiba sebelum berhasil melompat ia merasakan sakit yang amat sangat pada punggung dan dadanya, sontak ia menoleh kearah dadanya dan mendapati darah merembes keluar membasahi pakaiannya dan sebuah tongkat baja telah terhunjam menembus punggung hingga dadanya, lalu tubuhnya ambruk dengan nyawa meninggalkan raganya.


Rupanya Danang mampu membaca keadaan dan melihat lawannya berniat kabur sehingga dengan sangat cepat ia mengambil tongkat baja milik Kwee Ban Siang yang ada di dekatnya lalu melemparkan kearah Munding Kusuma dengan dilambari tenaga dalam tinggi.


Setelah pertarungan selesai Danang pun terduduk dengan perasaan tidak karuan, ada rasa sakit, menyesal, dan lega bercampur baur di hatinya. Ini adalah pertama kalinya bagi pemuda itu membunuh manusia, tetap saja ada rasa sakit dan penyesalan di hatinya walaupun pembunuhan itu dilakukan dalam pertarungan untuk membela diri.


Duduk terdiam menenangkan perasaanya selama waktu sepenanakan nasi, akhirnya Danang memutuskan untuk meninggalkan tempat setelah menyembunyikan jenazah dua lawannya itu dan beranjak pergi kearah penginapan.


Setibanya di penginapan, ia mengambil seluruh kantong berisi emas hasil kemenangannya di rumah judi dan membawanya pergi setelah membayar sewa penginapan di tempat itu.

__ADS_1


Saat ini dalam pikirannya hanya ada dua tujuan, yaitu menyembunyikan emasnya, lalu menuju rumah satu-satunya orang yang dikenalnya di desa ini, Warsono...


__ADS_2