
Pihak VOC rupanya telah mengendus rencana penyerangan pasukan Pangeran Mangkubumi untuk menaklukkan wilayah-wilayah pesisir utara tanah Jawa, mulai dari Pati, Jepara, Demak, Semarang, hingga Brebes.
Untuk itu Gubernur Jendral Baron Van Imhoff mengirimkan ribuan pasukan bantuan dari Batavia dan Ternate.
Dari Batavia pasukan VOC dipimpin oleh majoor Clerck, dan pasukan dari Ternate dipimpin oleh kapiten Tack, seorang putra asli Ternate yang piawai dalam kemiliteran dan mengabdi pada VOC.
Setibanya di tanah Jawa, mereka mengadakan pertemuan dan kerjasama dengan para bupati dan adipati di beberapa daerah, diantaranya adipati Rogodiningrat di Banyumas, Tumenggung Joyodiningrat di Pekalongan, Tumenggung Cokrojoyo di Batang, Tumenggung Jayengrono di Brebes, dan Wirodijoyo di Grobogan, serta menggalang kekuatan dengan pasukan majoor Dedric Van Osch di Jepara.
DI kadipaten Banyumas sendiri, adipati Rogodiningrat telah melatih empat ribu pasukan, yaitu bregada Geni dengan persenjataan bedil, bregada Tirta dengan persenjataan tombak, bregada Bayu dengan persenjataan panah, bregada Bhumi dengan persenjataan pedang dan lima buah meriam pemberian VOC untuk menahan pasukan Pangeran Mangkubumi di wilayahnya.
Tanpa ia ketahui, bagian dari pasukan Pangeran Mangkubumi, yaitu Mahesa Geni telah membentuk tujuh puluh orang prajurit pitung puluhan yang tersembunyi di Alas Krumput dan melakukan kegiatan telik sandi di wilayah kadipaten Banyumas dan rutin mengirimkan kabar mengenai perkembangan keadaan di wilayah Banyumas pada Danang Hadikusumo, yang kemudian diteruskan pada Pangeran Mangkubumi.
Adipati baru Banyumas tampak puas dengan kesiapan prajurit bentukannya tersebut, ditambah dengan keyakinan dirinya yang telah menguasai ajian Rawerontek dan ajian Batara Karang serta ajian Komara Geni, yang telah menjadikannya sebagai sosok pendekar pilih tanding yang sangat sulit dicari tandingannya.
Ia kemudian sibuk menikmati kesenangan duniawi dengan memelihara puluhan gundik yang digaulinya tanpa pernikahan, sebagai salah satu syarat ajian Rawerontek dan Batara Karang yang diwarisinya dari Eyang Arka Abhimana, seorang penganut aliran hitam dari Alas Roban yang sakti mandraguna.
__ADS_1
Beberapa kali pula adipati Rogodiningrat mengadakan sayembara pertandingan kanuragan untuk menjajal kesaktiannya sekaligus dilakukannya untuk menarik para pendekar sakti yang sekiranya bisa diajak olehnya untuk bergabung melawan kekuatan pasukan Pangeran Mangkubumi.
Seluruh pendekar berhasil dikalahkannya bahkan tewas dalam sayembara tersebut, namun dua pendekar yang dianggapnya cukup sakti diajaknya bergabung dengan iming-iming bayaran yang tinggi, yaitu Singo Menggolo, dan Nogo Puspito, dua orang pendekar sakti dari Madura dan Cilacap.
Ia juga mengangkat lurah prajurit Kusumo Jati sebagai senopati kadipaten Banyumas karena dianggapnya setia dan mampu diandalkan untuk mengendalikan pasukan, ditambah empat puluh orang pasukan khusus miliknya yang memiliki kemampuan tinggi untuk menjaganya.
Pajak yang tinggi mulai dijalankan di wilayah Banyumas setelah kepergian adipati Yudonegoro yang sebelumnya ditarik untuk kembali mengabdi di keraton karena dianggap tidak sejalan dengan VOC.
Kesewenang-wenangan adipati Rogodiningrat semakin menjadi-jadi dengan beberapa kali mengambil paksa harta maupun istri-istri orang lain yang dianggapnya cantik dan akan mampu menyenangkan nafsu syahwatnya.
Rakyat Banyumas sangat tertekan dan tertindas dengan kebijakan-kebijakan dan kesewenang-wenangan adipati Rogodiningrat yang dinilai sangat jauh dan bertolak belakang dengan adipati Yudonegoro sebelumnya yang arif dan bijak serta adil, hingga dicintai oleh segenap rakyat Banyumas, namun sebagai rakyat biasa mereka tidak memiliki daya untuk melawan apalagi sampai melakukan pemberontakan, hingga mereka menunggu campur tangan Gusti Yang Maha Kuasa yang diharapkan akan datang melalui pasukan Pangeran Mangkubumi.
Sementara dalam masa pemulihannya, Danang mengirimkan pesan pada Mahesa Geni dan prajurit patang puluhan lainnya, termasuk Mappatoba agar membawa seluruh pasukannya untuk bergabung dengannya di desa Sekarjati sebagai persiapan untuk menggempur Jepara dan Grobogan.
Setelah sepekan lamanya terbaring dan beristirahat, tabib Husodo yang memeriksa keadaan tubuhnya dibuat terheran-heran dan kagum dengan kemampuan tubuh pemuda tersebut dalam memulihkan diri.
__ADS_1
“Saat ini keadaan raden sudah jauh lebih baik, nampaknya pekan depan raden telah bisa melakukan kegiatan seperti biasa. Namun hendaknya janganlah raden memaksakan diri hingga pulih sepenuhnya seperti sedia kala.”ujar tabib Husodo yang memeriksa keadaan pemuda gagah tersebut.
“Sebelumnya menurut perkiraanku raden harus terbaring hingga setidaknya satu purnama, lalu baru dapat melakukan kegiatan kanuragan dua pekan setelahnya. Namun tampaknya perkiraanku keliru, bahkan saat ini pembuluh darah raden telah mengembang seolah mengerti akan keadaan dan keinginan raden.”ujarnya sambil tertawa.
“Syukurlah eyang tabib, segala puji bagi Gusti Yang Maha Agung yang telah memberikan kesembuhan yang begitu cepat padaku.”ujar pemuda tersebut sambil tersenyum.
Ia berencana agar secepatnya pulih dan menemui Susuhunan Kabanaran yang menurut kabar telah tiba di kadipaten Pati, untuk menyiapkan langkah-langkah selanjutnya.
“Bagaimana dengan pelatihan prajurit disini kakang?”tanya pemuda tersebut pada Sasongko dan Sumitro.
“Sudah lebih baik Gusti Pangeran. Dari sisi semangat, mereka sedang dalam semangat tempur yang tinggi karena kemenangan kita tempo hari. Namun dari sisi kemampuan, tampaknya masih banyak yang perlu dibenahi, terutama bagi bekas prajurit desa yang telah menyerahkan diri dan bergabung dengan kita.”jawab Sasongko dengan sigap.
“Tak mengapa kakang, memang dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk mempersiapkan kemampuan pasukan."ujar pemuda pemimpin satuan prajurit patang puluhan tersebut.
"Tolong kakang dan yang lain tetap melakukan pelatihan bagi mereka. Mereka akan digunakan untuk menjaga wilayah ini nantinya.”ujar pemuda tersebut.
__ADS_1
“Bagaimana dengan rencana Gusti Pangeran tentang penaklukkan wilayah Jepara dan Grobogan? Apakah mereka tidak di ikut sertakan?”tanya Sumitro pada junjungannya.
“Aku memiliki rencana lainnya kakang. Kita lihat saja nanti, semoga Gusti Yang Maha Kuasa memberikan keberuntungan pada kita.”ujar pemuda tersebut sambil tersenyum...