Kitab Manunggaling Semesta Jagad

Kitab Manunggaling Semesta Jagad
BAB 25, KEMATIAN KI AGENG GANDRIK


__ADS_3

“Hiaaah...awas leher!”serunya seraya menebas kearah leher pemuda di hadapannya...


Gerakan Ki Ageng Gandrik terlihat biasa-biasa saja, walaupun dilepaskan dengan tenaga besar tetapi tidak memiliki kecepatan yang patut dikhawatirkan.


Melihat itu Danang dengan santai bergerak merunduk untuk menghindari tebasan pedang Ki Ageng Gandrik.


Namun sesaat kemudian, pemuda gagah itu terkejut karena tebasan pedang Ki Ageng Gandrik yang mengarah ke lehernya mendadak berubah arah menjadi tebasan kearah dada dan perutnya dengan kecepatan yang mengerikan, yang sangat berbeda dengan serangan awalnya hingga membuatnya harus berkelit kesamping tiba-tiba sambil membalas dengan tendangan kearah perut Ki Ageng Gandrik.


Seruan peringatan pada serangan awal oleh Ki Ageng Gandrik ternyata merupakan tipuan semata, senada dengan jurus alap-alap miliknya yang penuh dengan tipuan, baik arah serangan maupun iramanya.


Mendapati tendangan kearah perutnya Ki Ageng Gandrik memutar pedangnya menghadang serangan itu, yang membuat pemuda di hadapannya harus menarik serangannya dikarenakan tuah pedang lawan yang membuat tubuhnya mendadak kaku dan sulit digerakkan.


Saling serang dan elak telah berlangsung hingga puluhan jurus, namun hingga kini Danang masih merasa kesulitan mengatasi jurus pedang milik Kyai Ageng Gandrik yang berubah-ubah baik bentuk serangan maupun irama kecepatannya dan belum mampu untuk mendesak lawan di hadapannya.


“Heheheh...sudah melek sekarang kau cah bagus? Inilah jurus pedang alap-alap dan pedang pusaka Kyai Jatayu. Mana kehebatanmu yang tadi, keluarkanlah semua kesaktianmu cah bagus.”ujar Ki Ageng Gandrik seraya tersenyum sinis sambil memancing amarah pemuda di hadapannya.


“Hmmm...tenaga dalamnya kurasa belum sampai pada tataran yang begitu tinggi, hanya saja jurus yang dimilikinya selalu berubah-ubah ditambah tuah pedang pusaka miliknya membuat seranganku selalu mentah, tubuhku mendadak terasa kaku ketika terkena tuah pedang pusaka itu.”batin Danang tanpa meladeni ocehan Ki Ageng Gandrik karena ia tahu lawannya sedang bersiasat untuk memancing amarahnya.


“Ayo dimas, selesaikan segera pertarunganmu. Aku sudah menghabisi cecunguk-cecunguk itu dan telah menemukan harta rampasan serta kereta kuda untuk membawanya nanti.”terdengar seruan dari belakang yang ternyata adalah seruan dari Joyodipuro.


“Tolong kau kemasi dan angkut dulu harta rampasan itu kedalam kereta kakang, aku masih berusaha membereskan biang cecunguk desa ini terlebih dulu.”jawab Danang menyeru pada Joyodipuro sambil mengempos kembali tenaga dalamnya lalu melesat menyerang Ki Ageng Gandrik.


Ki Ageng Gandrik kembali memusatkan perhatiannya dan menghalau serangan pemuda lawannya dengan menebaskan pedang pusaka Kyai Jatayu yang kembali membuat bagian tubuh yang digunakan pemuda itu untuk menyerang terasa kaku.


Danang yang masih merasa penasaran karena mengetahui bahwa lawannya hanya mengandalkan pedang pusaka miliknya dan tidak mempunyai tingkat tataran tenaga dalam yang tinggi terus berusaha menghujani lawannya dengan serangan-serangan yang cepat dan mengandung tenaga dalam tinggi pada setiap pukulan dan tendangan yang dilancarkannya.


Setelah melewati puluhan jurus, kali ini Ki Ageng Gandrik berhasil memanfaatkan kelengahan pemuda di hadapannya dan berhasil menebas dada lawannya dengan pedang pusaka Kyai Jatayu.


“Traaang...”terdengar suara benturan keras. Danang terjajar mundur lima langkah dan menoleh kearah dadanya yang tergores oleh pedang pusaka Kyai Jatayu.


Dadapatinya pakaiannya robek di bagian dada. Untungnya tubuhnya terlindungi oleh pusaka kotang Kyai Nogo Bumi hingga tidak membuatnya terluka, walaupun benturan dengan pedang pusaka itu membuat dadanya sesak serasa dihantam oleh batu yang besar.

__ADS_1


Kyai Ageng Gandrik pun terkejut melihat lawannya tidak terluka oleh tebasan pedang pusakanya, yang membuat senyumnya menghilang segera dari wajahnya.


Tetapi meski demikian ia yakin bahwa pemuda itu setidaknya terluka dalam yang cukup parah mengingat tuah pedang pusaka Kyai Jatayu begitu menggetarkan selama ini.


"Pengalaman bertarungmu masih mentah cah bagus, ayo keluarkan lagi kehebatan jurus-jurusmu."ejek Ki Ageng Gandrik menutupi keterkejutannya mendapati pemuda itu tidak terluka oleh tebasan pedangnya.


Dengan keyakinannya atas kehebatan tuah pedang miliknya itu, ia kembali menggebrak menyerang pemuda di hadapannya dengan jurus-jurus aneh dari gerak alap-alap miliknya dan mengandalkan tuah pedang pusaka Kyai Jatayu.


Danang yang masih merasakan sesak pada dadanya hanya menghindari semua serangan itu sambil sesekali menyerang balik dengan jurus ular dan bangau yang ampuh dalam hal penyerangan balik dan mengandalkan tenaga lawan, namun ternyata tuah pedang pusaka Kyai Jatayu memang tidak bisa dipandang sebelah mata hingga mampu mementahkan setiap serangan yang dilancarkan olehnya.


Merasa serangannya yang dilambari tenaga dalam tinggi miliknya selalu gagal oleh tuah pedang dan gerak jurus aneh alap-alap milik lawannya, Danang segera diam-diam merapal ajian Sukma Darpala dan mulai menyerap jurus gerak alap-alap lawannya yang dirasanya aneh sambil tetap melancarkan serangan.


Setelah kembali melewati sekitar lima puluh jurus saling serang dan elak, akhirnya Danang berhasil mendapatkan inti dari gerak jurus alap-alap lawannya, lalu melompat mudur dua tombak sambil mengeluarkan pusaka sepasang kudi hyang miliknya.


Sontak udara di sekitarnya mendadak terasa sangat dingin bagaikan berada di puncak pegunungan bersalju ketika sepasang pusaka kudi hyang milik Danang dikeluarkan dari warangkanya.


“Baiklah kisanak, kuakui ternyata tuah pedang pusaka milikmu cukup ngegirisi dan memaksaku untuk mengeluarkan sepasang kudi milikku. Mari kita kembali saling beradu kisanak.”ucap Danang dengan sorot mata tajam memandang lawannya lalu kembali melesat menggempur lawannya.


Saling serang, elak, dan tangkis kembali terjadi. Suara-suara bentakan dan dentingan akibat beradunya senjata pusaka kini terdengar semakin seru.


Kini masing-masing sama-sama merasakan tuah pusaka milik lawannya, Danang merasa tiap serangannya menjadi kaku, sementara Ki Ageng Gandrik merasa keram dan kaku oleh hawa dingin yang berasal dari sepasang kudi hyang milik lawannya.


Ki Ageng Gandrik mencoba bertahan melalui jangkauan pedangnya yang lebih panjang, sementara Danang berusaha merangsek mengandalkan pertarungan jarak pendek sesuai senjata miliknya.


Akhirnya setelah entah berapa kali terjadi benturan antar senjata pusaka tersebut, pedang pusaka Kyai Jatayu milik Ki Ageng Gandrik mengalami retak


yang cukup parah.


Melihat itu Danang semakin bersemangat menggempur lawannya.


Dan akhirnya...”Traaaang...”pedang pusaka Kyai Jatayu patah menjadi dua bagian dan dilanjutkan oleh gerak cepat Danang menggunakan gerak jurus alap-alap yang kini dikuasainya lewat ajian Sukma Darpala berhasil menggores dada Ki Ageng Gandrik.

__ADS_1


“Aaaarrgghh...Jangkrik!”jerit Ki Ageng Gandrik yang merasa seketika tubuhnya menjadi beku akibat tergores oleh senjata lawannya.


Sejenak Ki Ageng Gandrik sempat berpikir heran, bagaimana caranya pemuda di hadapannya mampu mengerahkan jurus alap-alap miliknya dan menggunakannya untuk balik menyerang dirinya, namun hawa sedingin es telah merayap menjalari seluruh tubuhnya, dan semakin mendekatkan dirinya pada maut.


Danang dengan cepat melanjutkan serangan dengan gerakan sabetan menyamping menyasar leher lawannya yang menyebabkan darah muncrat seketika dari leher lawannya.


"Minta ampunlah pada Gustimu...Hyaaah..."seru Danang sambil melesatkan kudinya pada leher lawannya.


Tubuh itu berkelojotan sebentar dengan mata melotot seolah tak rela nyawanya diambil paksa oleh lawannya yang berumur jauh dibawahnya, lalu kaku layaknya diselimuti oleh lapisan es yang dingin.


Kemudian tubuhnya tersungkur dengan leher nyaris putus akibat sabetan kudi hyang milik pemuda lawannya.


“Huuuufff...”ujar Danang menghembuskan nafas lega karena telah berhasil mengatasi lawannya.


"Kanjeng romo dan kanjeng ibu, hamba telah membalas kezaliman yang menimpa kanjeng romo dan ibu berdua. Semoga Kanjeng romo dan ibu tenang di alam sana.”batin Danang seraya menatap jasad Ki Ageng Gandrik yang terbujur kaku lalu memasukkan kembali sepasang kudi miliknya kedalam warangkanya.


Terdengar langkah Joyodipuro mendekatinya seraya berkata, “Cukup lama juga ternyata waktu yang kau butuhkan untuk membereskan orang ini dimas."ujarnya.


"Kulihat tampaknya pedang pusaka miliknya telah membuatmu kerepotan dimas? Hmmm...sayang sekali kini pedang itu telah patah menjadi dua bagian.”ujarnya sambil menepuk pundak sahabatnya.


“Betul kakang, sayang sekali pedang itu kini telah patah menjadi dua bagian. Padahal tadinya aku hendak memberikannya padamu.”ucap Danang sambil tersenyum dan menggaruk kepalanya.


“Hahahaha...aku berterima kasih atas niat baikmu dimas, hanya saja kebetulan aku tidak mahir dalam berpedang. Senjataku adalah ini.”ujarnya sambil menunjukkan cambuk miliknya.


“Lantas bagaimana selanjutnya menurutmu dimas?”lanjut Joyodipuro bertanya pada sahabat barunya.


“Kita berpencar kakang. Aku akan mengambil emas simpananku di dekat perkebunan warga desa, sementara kakang dengan kereta kuda dan harta rampasan bergerak menuju rumah-rumah perjudian dan pelacuran. Kita akan bertemu kembali disana. Apakah kakang setuju?”ujar Danang.


“Aku setuju dimas. Baiklah segeralah kau ambil emas simpananmu dan segeralah menuju rumah-rumah judi dan pelacuran disana itu. Jangan terlalu lama dimas, karena aku takut tidak mampu terlalu lama menahan hasratku jika melihat wanita-wanita cantik.”ujar Joyodipuro sambil tertawa.


“Hahahaha...”lalu keduanya tertawa bersamaan...

__ADS_1


__ADS_2