Kitab Manunggaling Semesta Jagad

Kitab Manunggaling Semesta Jagad
BAB 33, GEROMBOLAN PERAMPOK DAN BAJAK LAUT


__ADS_3

Terlihat satu sosok dengan gagah berjalan mendatangi mereka yang ternyata adalah Raden Mas Said, “Luar biasa dimas, kau mampu bertahan mengimbangi romo selama ratusan jurus.”ucap Raden Mas Said seraya tersenyum.


“Sugeng esuk Gusti Raden, sesungguhnya hamba kalah jauh. Gusti Pangeran Mangkubumi terlalu banyak mengalah pada hamba.”ujar Danang pada Raden Mas Said seraya membungkuk hormat.


“Sudahlah dimas, tak perlu segala adat peradatan denganku. Kita semua adalah berada dalam satu bagian.”ujar Raden Mas Said.


“Sayang aku datang terlambat, sesungguhnya aku sangat ingin berlatih kanuragan denganmu dimas.”ujar Raden Mas Said sambil menepuk bahu Danang.


“Bagaimana Gusti Raden bisa mengetahui kami berdua ada disini? Seingat hamba tadi kami berdua kesini bahkan ketika matahari belum menampakkan cahayanya di ufuk timur.”tanya Danang pada Raden Mas Said.


“Kebetulan tadi aku sedang ingin berlatih kanuragan dan mencari tempat yang sepi dimas. Terpikir olehku mengenai tempat ini, hutan kecil yang pasti tidak ada seorangpun yang datang, terutama di waktu fajar.”ujarnya.


“Ketika sedang dalam perjalanan kesini, mendadak aku merasakan hawa pertempuran dahsyat yang berasal dari sini, tadinya kupikir ada pasukan musuh yang datang menyerang, maka aku segera melesat dan mengintai dari atas pohon sebelah sana itu.”tambah Raden Mas Said sambil menunjuk pohon asem tak berapa jauh dei belakangnya.


“Ketika mengintai aku mendapati romo dan dimas sedang terlibat pertarungan hebat, namun aku tidak merasakan sama sekali adanya nafsu keinginan membunuh dari kalian berdua, maka aku memutuskan untuk menikmati tontonan yang tersaji di hadapanku.”lanjut Raden Mas Said.


“Sesungguhnya Gusti Pangeran hanya ingin memberikan petunjuk pada hamba Raden.”ujar Danang.


Walaupun begitu Danang berpikir kagum mengenai kehadiran Raden Mas Said yang sama sekali tidak dirasakannya walaupun biasanya sejak ketujuh cakranya terbuka, seluruh inderanya menjadi tajam dan bahkan mampu mendengar gemerisik daun dan mengetahui kehadiran seseorang dari jarak jauh, apalagi orang tersebut memiliki kanuragan tinggi, biasanya hawanya bisa dirasakan oleh Danang.


Ketidakmampuannya merasakan kehadiran Raden Mas Said menandakan bahwa menantu Pangeran Mangkubumi itu memiliki kemampuan dan tingkat kanuragan yang sangat tinggi hingga mampu menyembunyikan hawa kesaktiannya serta memiliki ilmu meringankan tubuh sangat tinggi pula hingga tak mampu terdengar oleh indera pendengaran Danang ketika melesat dan hinggap diatas pohon.


“Baiklah nakmas berdua, monggo...mari kita kembali ke kesatuan prajurit. Nakmas Danang mempunyai tugas untuk membentuk satuan prajurit patang puluhan pagi ini. Mertowijoyo pasti telah menunggunya.”ucap Pangeran Mangkubumi.


“Monggo romo, monggo dimas, kita sebaiknya bergegas kembali kesana.”ujar Raden Mas Said. “Hey, kau berhutang satu pertarungan denganku dimas.”bisik Raden Mas Said seraya merangkul pemuda disampingnya sambil tersenyum.


Danang dan Pangeran Mangkubumi hanya bisa tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah putra Pangeran Haryo Mangkunegara itu.


Setibanya disana, terlihat Raden Mertowijoyo telah menunggu mereka untuk membawa Danang menemui calon prajurit patang puluhan yang akan dilatihnya.


Senyum sumringah diperlihatkan oleh putra Adipati Yudonegoro yang sejak kecil telah bersahabat dengan Raden Mas Sudjana, yang kini bergelar sebagai Pangeran Mangkubumi itu.


“Bagaimana Mertowijoyo, apakah telah kau siapkan calon prajurit patang puluhan seperti yang telah kita bicarakan?”tanya Pangeran Mangkubumi.


“Singgih Gusti, hamba telah memilih dan mempersiapkan mereka, kini saatnya nakmas Danang menyapa mereka.”ujar Mertowijoyo.


“Hamba mohon diri untuk segera menyiapkan mereka Gusti Pangeran.”ujar Danang pada Pangeran Mangkubumi.


“Monggo silahkan nakmas, ketahuilah bahwa tidak akan mudah untuk membentuk mereka menjadi satuan prajurit dengan kemampuan khusus nakmas, namun aku yajin kau akan mampu melakukannya.”ucap Pangeran Mangkubumi.


Setelah menghaturkan sembah bekti, Danang dan Mertowijoyo beranjak pergi dari situ untuk menemui calon prajurit patang puluhan.

__ADS_1


Sambil berjalan berdampingan, mereka berdua bercakap-cakap ringan mengenai calon prajurit tersebut, hingga Mertowijoyo berkata, “Sejujurnya, seperti perkataan Gusti Pangeran Mangkubumi, tidak akan mudah untuk melatih dan membentuk mereka untuk menjadi prajurit-prajurit yang tangguh dan mengerti tentang sikap prajurit sejati nakmas.”ujar Mertowijoyo.


“Mengapa bisa begitu paman? Apakah mereka tidak pernah dididik keprajuritan, atau bukan berasal dari lingkungan prajurit?”tanya Danang heran.


“Betul nakmas, mereka adalah orang-orang yang pada dasarnya memiliki kanuragan yang cukup tinggi, hanya saja mereka berasal dari golongan orang-orang yang kehilangan arah.”jawab Mertowijoyo.


“Kehilangan arah? Maksudnya bagaimana paman?”tanya Danang lagi pada Mertowijoyo.


“Mereka adalah bekas perampok, bajak laut, dan penjahat yang telah berhasil kami ringkus dan penjarakan sebelumnya.


Secara dasar, mereka memiliki keberanian luar biasa dan memiliki kanuragan yang cukup. Tetapi seperti yang nakmas ketahui, pola hidup mereka yang ugal-ugalan membuat tingkat kepatuhan mereka sangatlah rendah.


Tugasmulah membentuk mereka nakmas.”ujar Mertowijoyo.


“Lantas ada yang ingin kutanyakan paman, apakah ada seorang ahli pandai besi di sekitar sini? Rasanya aku membutuhkan seorang pandai besi yang baik untuk membuat senjata dalam jumlah banyak.”ujar Danang.


“Ada seorang empu ahi membuat senjata yang tinggal di utara perbatasan desa Banar, agak jauh dari pemukiman penduduk.


Sifatnya suka menyendiri, namun keahliannya dalam membuat senjata tidak usah diragukan lagi, nanti aku akan tunjukkan arahnya nakmas.”ujar Mertowijoyo.


Dalam waktu sepeminuman teh, mereka berdua sampai pada satu tempat yang agak lapang di pinggiran desa Banar.


Para prajurit yang menjaga mereka dengan sigap memerintahkan segerombolan orang yang ada disana untuk berbaris rapi dan mengambil sikap tegap begitu mengetahui kedatangan Raden Mertowijoyo dan Danang. Tombak-tombak diarahkan pada para bekas rampok dan bajak laut tersebut.


Danang melihat empat puluh orang berbaris dengan keadaan tangan dan kaki dirantai, serta dijaga oleh sekitar seratus orang prajurit bersenjatakan tombak dan pedang.


Semuanya bertubuh kekar, memiliki sorot mata dan raut wajah yang garang dan beringas, dengan sikap acuh dan tidak memperdulikan para prajurit serta kedatangan dua orang yang baru mereka lihat tersebut.


Sejatinya empat puluh orang itu merasakan tekanan dari dua orang yang baru saja tiba, yaitu Danang dan Mertowijoyo, tekanan yang berasal dari perbawa yang dua orang itu miliki, namun keberanian, sifat urakan, serta harga diri mereka yang tinggi membuat mereka tidak mau begitu saja tunduk dan menghormati kedua orang tersebut.


“Sugeng esuk kisanak semuanya. Perkenalkan namaku Danang. Gusti Pangeran Mangkubumi menitahkan padaku untuk mengajak kisanak sedoyo memperbaiki nasib kita semuanya.” ucap Danang membuka pembicaraan dengan empat puluh orang tersebut.


“Dengan ini aku atas nama Gusti Pangeran Mangkubumi mengajak kisanak sedoyo untuk bergabung dengan kami dan menjadi pasukan untuk memperjuangkan rakyat dan tanah Jawa agar keluar dari cengkeraman bangsa asing yang semakin merajalela. Bersediakah kisanak sedoyo?”ucap Danang.


Terdengar gumaman dan bisik-bisik dari kerumunan empat puluh orang bekas perampok dan bajak laut tersebut.


Danang mendiamkan saja mereka saling berbisik-bisik dan berguman hingga terdengar seperti suara kerumunan lebah. Ia hanya berdiri menunggu hasil musyawarah mereka.


Hingga akhirnya salah satu darimereka mengacungkan tangannya dan bertanya, “Apa yang kami peroleh jika kami bersedia bergabung cah bagus?”tanya orang itu.


“Kebebasan sebagai manusia, harga diri, dan kesempatan untuk berjuang dan mengabdi pada negeri layaknya seorang ksatria.”jawab Danang.

__ADS_1


“Kisanak sedoyo akan memperoleh kebebasan dan tidak hidup dalam tahanan, tidak dirantai seperti sekarang. Kisanak akan kembali memiliki harga diri sebagai manusia, dan kisanak akan memiliki kesempatan untuk berjuang dan membuktikan pada negeri ini bahwa kalian sesungguhnya adalah para ksatria pembela tanah air yang pemberani dan tangguh.”tambah Danang.


“Apakah kami tidak akan mendapatkan ganjaran lain, seperti emas raja bana, atau kedudukan terhormat jika kami menerima tawaranmu anak muda?”tanya seorang lagi.


“Aku tidak bisa menjanjikan apapun selain yang telah kusebutkan tadi. Tapi menurutku ganjaran akan datang sepadan dengan apa yang telah kita perbuat untuk negeri ini."


"Buatku, bisa mengurangi kesengsaraan rakyat adalah ganjaran terbaik yang bisa diperoleh seorang ksatria. Lalu pertanyaanku, apa yang kisanak maksud dengan terhormat?”lanjut Danang.


Kembali terdengar gumaman seperti kerumunan lebah dari empat puluh orang tersebut.


Sebelum mereka menjawab, Danang telah dengan lantang menyela dengan berkata, “Terhormat adalah setia pada negeri, berbuat yang terbaik untuk negeri dengan tidak meninggalkan hati nurani serta ajaran agama, dan budaya.”ujarnya.


“Jika yang kisanak maksud terhormat adalah soal kedudukan tinggi, lantas jika ada seorang pejabat berkedudukan tinggi tetapi berkelakuan buruk dengan menjadi pengkhianat negeri, apa masih bisa kisanak sebagai terhormat?”tanya Danang melanjutkan ucapan sebelumnya.


Kembali terdengar gumaman, bisikan-bisikan, bahkan terdengar perdebatan-perdebatan dari kerumunan empat puluh orang bekas perampok dan bajak laut tersebut dalam waktu yang cukup lama, hingga kira-kira dalam sepenanakan nasi, dan akhirnya salah seorang bertubuh tinggi besar yang terlihat kuat, dengan wajah dihiasi brewok dan sorot mata buas mengangkat tangannya minta untuk bicara, “Cah bagus, kami telah melakukan musyawarah dengan semua yang ada disini.


"Pada dasarnya kami setuju dengan apa yang kau katakan tadi.”ucap pria tersebut.


“Namun siapa yang nanti akan memimpin kami?”lanjutnya bertanya.


“Aku yang akan membentuk dan memimpin kisanak semua.”ujar Danang.


Sontak terdengar tawa terbahak-bahak dari kerumunan bekas perampok dan bajak laut tersebut hingga membuat suasana menjadi riuh untuk beberapa saat.


Ada yang tertawa geli sampai mengeluarkan airmata, ada yang tertawa hingga memegangi perutnya, ada yang tertawa hingga terduduk dan bergulingan.


Setelah beberapa saat, suara tawa tersebut mereda, dan sosok pria tinggi besar yang tampaknya ditunjuk sebagai wakil mereka tadi berkata, “Kau meremehkan kami semua anak muda. Kami adalah bekas perampok dan bajak laut yang ditakuti di seantero negeri Mataram dan sudah kenyang dengan asam garam pertempuran". ujarnya.


"Kami merasa dihina dan dilecehkan jika harus dipimpin oleh seorang anak bau kencur berkemampuan rendah yang hanya mengandalkan gelar dan nama keturunan untuk memimpin kami.”lanjut sosok tersebut.


“Apakah jika aku mampu mengalahkanmu maka kau akan bersedia bersumpah setia dan mengikuti tata keprajuritan kisanak?”tanya Danang padanya.


“Lebih baik kau tidak usah bermimpi mengalahkanku anak muda. Tapi baiklah, jika kau mampu mengalahkanku maka semua yang ada disini menjadi saksi, langitpun menjadi saksi bahwa aku akan bersedia dan setia menjadi prajurit dan mengikuti semua perintahmu.”jawabnya.


“Apakah kau dapat memegang ucapanmu barusan kisanak?”tanya Danang lagi pada pemimpin bekas perampok dan bajak laut tersebut.


“Kau meremehkan kami cah bagus, walaupun kami adalah bekas perampok dan bajak laut yang dikenal orang sebagai penjahat, tetapi kami adalah laki-laki sejati, pantang bagi kami untuk menjilat ucapan dan ludah kami sendiri.”jawab sosok tinggi besar tersebut dengan lantang.


“Ya, kami semua setuju dan berani bersumpah akan setia jika kau mampu mengalahkan kami anak muda. Tetapi jika kami mengalahkanmu, kami meminta agar kami dibebaskan tanpa tuntutan apapun.”terdengar sahut-sahutan dari empat puluh orang bekas perampok dan bajak laut tersebut.


“Baiklah jika itu maksud kalian kisanak, aku menjamin kebebasan kalian tanpa tuntutan apapun jika kalian berhasil mengalahkanku. Paman Mertowijoyo, aku minta paman bertindak sebagai sebagai saksi, dan aku minta paman membebaskan mereka jika aku berhasil mereka kalahkan.”ujar Danang.

__ADS_1


“Prajurit! Bentuklah satu lingkaran, lepaskan ikatan rantai sepuluh orang dari mereka, dan berikan mereka senjata!”perintah Danang pada prajurit-prajurit tersebut...


__ADS_2