
Selepas matahari terbenam, Danang kedatangan seorang prajurit di biliknya yang memintanya untuk segera bersiap untuk bergabung bersama Raden Mas Said dan Pangeran Mangkubumi untuk menyusun rencana perlawanan mereka.
“Sugeng wengi kisanak, aku datang atas perintah Kanjeng Gusti Pangeran Mangkubumi untuk mengingatkan kisanak mengenai penyusunan rencana selepas isya nanti. Kisanak diharapkan untuk bergabung dengan para pemimpin lan senopati.”ujar prajurit tersebut menyampaikan pesan.
“Baik kisanak, selepas ini aku akan segera meghadap.”ujar Danang pada prajurit tersebut.
Setelah menjalankan kewajibannya, Danang segera bergegas menuju tempat yang telah disepakati untuk bergabung.
Setibanya disana telah hadir para senopati Raden Mas Said yang telah dikenalnya yaitu Joyodipuro, Joyopuspito, Joyo Praboto, dan Joyo Wiguno, serta satu orang wanita berpakaian ringkas yang berumur kira-kira dua puluhan tahun dan satu orang lelaki berumur kira-kira mendekati tiga puluh tahun yang sedang menunggu Raden Mas Said dan Pangeran Mangkubumi.
“Sugeng wengi kisanak, nisanak, dan kakang sekalian. Mohon dimaafkan jika kiranya aku datang terlambat.”ucap Danang memberikan salam pada mereka.
“Ahhh...sugeng wengi dimas, kami pun juga baru saja tiba disini. Monggo, perkenalkan ini adalah Nyai Arum, salah satu prajurit estri kepercayaan Gusti Raden Mas Said, dan ini adalah Raden Bagus Mertowijoyo, putra Adipati Yudonegoro.”ucap Joyodipuro.
“Sugeng wengi Nyai dan Raden.”ucap Danang sambil memberikan penghormatan pada mereka.
“Sugeng wengi dimas. Selamat bergabung dengan kami semua disini.”balas Raden Mertowijoto.
Tak lama kemudian, dua sososk yang menggetarkan tanah Jawa, yaitu Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said tiba ditempat.
Setelah berbasa-basi menanyakan kabar mereka semua, Pangeran Mangkubumi memperkenalkan sosok pemuda anyar yang ada ditempat itu.
“Perkenalkan semuanya, anakmas Danang kini telah bergabung bersama kita untuk bersama melakukan perjuangan melawan sepak terjang bangsa berambut jagung beserta antek-anteknya.”ucap Pangeran Mangkubumi yang disambut anggukan kepala oleh semua yang hadir disitu.
Lalu Pangeran Mangkubumi melanjutkan menjelaskan rencananya, “Secara garis besar, pasukan akan kita bagi dua, satu dipimpin olehku, dan satunya akan dipimpin oleh nakmas Said.”
“Pasukan nakmas Said akan bergerak menuju Selogiri dan Kulon Progo untuk merebut dan menjadikan tempat itu dan wilayah sekitarnya sebagai tempat pertahanan bagi pasukan kita di selatan. Sementara pasukanku akan bergerak menuju utara untuk menduduki Demak dan Grobogan.”lanjutnya.
“Kita akan mempersempit gerak dan wilayah bangsa berambut jagung dan pihak keraton dengan mengambil alih wilayah yang mereka kuasai satu-persatu di utara dan selatan, sehingga akan membingungkan mereka, dan akan menghambat segala pasokan yang akan dikirimkan pada mereka.”tambah Pangeran Mangkubumi.
“Mertowijoyo dan nakmas Said akan mempersiapkan pasukan kita disini sebelum diberangkatkan menuju wilayah yang telah kita rencanakan.”ujar Pangeran Mangkubumi.
“Nakmas Danang akan kuserahi tanggung jawab sebagai pembentuk dan pimpinan pasukan patang puluhan yang bersifat khusus, yaitu sebagai telik sandi dan pasukan pemukul.”lanjut Pangeran Mangkubumi.
“Dibawah satuan patang puluhan, aku ingin agar dibentuk satuan prajurit pitung puluhan, untuk membantu satuan pasukan patang puluhan sebagai pasukan penyergap. Nakmas Danang, tugasmu sedari sekarang melatih mereka. Latih mereka agar memiliki olah keprajuritan dan kanuragan yang tangguh hingga bisa diandalkan nantinya.”ucap Pangeran Mangkubumi.
__ADS_1
“Sendiko dawuh Gusti, hamba akan berupaya sekuat tenaga untuk melatih pasukan seperti yang Gusti titahkan.”ujar Danang.
“Untuk satuan prajurit estri kuserahkan pengaturan sepenuhnya padamu nakmas, kaulah yang paling mengetahui tentang satuan prajurit estri.”lanjut Pangeran Mangkubumi.
“Sendiko dawuh romo. Rasanya aku akan mempersiapkan segala sesuatu untuk kesiapan prajurit, termasuk satuan prajurit estri disini sebelum berangkat menuju Selogiri.”ucap Raden Mas Said.
Lalu pembicaraan dilanjutkan mengenai kantong-kantong wilayah VOC dan keraton yang direncanakan akan diduduki nantinya serta membicarakan langkah-langkah awal yang akan diambil, termasuk menyelinapkan pasukan telik sandi di wilayah-wilayah tersebut.
Setelah pembicaraan selesai, semua kembali menuju tempat masing-masing, kecuali Danang dan Mertowijoyo yang diminta oleh Pangeran Mangkubumi untuk tetap ditempat.
“Mertowijoyo dan nakmas Danang, kuminta untuk tetap disini untuk beberapa saat. Aku ingin membahas mengenai pembentukan satuan prajurit patang puluhan dan pitung puluhan dengan kalian.”ujar Pangeran Mangkubumi.
“Singgih Gusti.”ucap Danang dan Mertowijoyo bersamaan, lalu keduanya duduk disamping Pageran Mangkubumi.
“Mertowijoyo, nakmas Danang baru saja bergabung dengan kita hari ini. Tolong kau pilihkan empat puluh prajurit untuknya untuk dilatih sebagai pasukan pemukul dan telik sandi.”ucap Pangeran Mangkubumi.
“Singgih Gusti, hamba akan pilihkan para prajurit yang sekiranya akan memenuhi ketentuan, atau paling tidak mendekati ketentuan yang Gusti perintahkan.”ucap Mertowijoyo.
“Esok pagi bawalah nakmas Danang menemui mereka dan sampaikan mengenai rencana pembentukan satuan prajurit patang puluh pada mereka. Nah, jika sudah mengerti, kau boleh meninggalkan tempat ini Mertowijoyo.”ucap Pangeran Mangkubumi lagi.
Setelah Mertowijoyo beranjak pergi dari tempat itu, Pangeran Mangkubumi memulai pembicaraan dengan pemuda gagah di sampingnya, “Bagaimana nakmas, apa pendapatmu mengenai tujuan dan kesiapan kita?”tanya Pangeran Mangkubumi.
“Hamba Gusti, hamba sepenuuhnya sependapat dengan Gusti Pangeran bahwa tidak seharusnya bangsa berambut jagung itu mencampuri pemerintahan keraton. Keraton harus memiliki daulat penuh atas tatanan pemerintahan dan wilayahnya.”jawab Danang.
“Lebih lanjut, hamba turut merasakan dampak besar dari campur tangan bangsa asing di tanah Jawa yang merusak tatanan budaya masyarakat Jawa, sebagaimana yang telah hamba lihat di desa Sekarjati dimana perjudian dan pelacuran tumbuh marak disana."
"Rayat tertindas dan terperangkap oleh perjudian, arak dengan mudah ditemui dimana-mana, ditambah banyak terjadi penculikan wanita-wanita untuk dipaksa dijadikan budak di rumah pelacuran disana.”lanjut Danang.
“Dikhawatirkan masyarakat Jawa akan terjerumus ke dalam kemalasan, kemiskinan, dan kebodohan jika ini dibiarkan berlarut-larut Gusti.”tambah Danang.
“Aku setuju dengan pemikiranmu nakmas. Jika sudah demikian, bangsa asing tersebut akan dengan mudah untuk semakin memperdaya masyarakat yang miskin dan malas dengan iming-iming harta untuk menjual jati diri dan kebangsaannya sebagai manusia Jawa.”ucap Pangeran Mangkubumi yang disambut anggukan oleh pemuda disampingnya.
“Lebih lanjut, aku seolah melihat ciri-ciri khusus pada dirimu nakmas. Ciri yang hanya dimiliki oleh trah Mataraman. Ditambah gerak jurusmu mengingatkanku pada sosok yang menjadi buah bibir di kalangan keraton dan persilatan di masa lalu.”ucap Pangeran Mangkubumi.
“Sosok yang menurut cerita adalah Raden Wiroyudho, putra Raden Ronggo Samudro, yang menurut cerita turun temurun diceritakan di kalangan keraton sebagai sosok yang pilih tanding di masa itu. Mungkin hanya Sinuwun Eyang Sultan Agung Hanyorokusumo dan Eyang Panembahan Purbaya sajalah yang mampu sebanding dengannya di tanah Jawa masa itu.”tambah Pangeran Mangkubumi.
__ADS_1
“Nyuwun pangapunten Gusti, darimana Gusti bisa menilai seperti itu?”tanya Danang penasaran.
“Sesungguhnya ada satu ciri khusus bagi setiap trah Mataraman nakmas, kebetulan aku diberi kelebihan oleh Gusti Yang Maha Agung untuk bisa mengenalinya.”ucap Pangeran Mangkubumi.
“Lagipula memperhatikan gerakan jurus yang kau peragakan tadi pagi, aku teringat pada kisah tentang Raden Wiroyudho yang konon sangat rapat dalam bertahan laksana banteng, trengginas laksana harimau, lincah layaknya kera, perkasa laksana seekor naga, gagah seperti garuda, dan piawai dalam serangan balik dan pemanfaatan tenaga lawan seperti bangau dan ular.”tambahnya.
Sejenak pemuda itu merasa kagum akan kelinuwihan dan kewaskitaan yang dimiliki oleh Pangeran Mangkubumi hingga tidak henti-henti membuatnya terperangah.
Lalu Danang menceritakan sejarah asal usulnya yang diketahui dari Kyai Ageng Banyu Urip serta kisah keberuntungannya menemukan kitab peninggalan Raden Wiroyudho di dalam goa yang terletar jauh ditengah Alas Ketonggo, walaupun hanya secara garis besarnya.
Sambil tersenyum dan menganggguk, Pangeran Mangkubumi melanjtkan,“Puji dan syukur atas nikmat yang diberikan Gusti Yang Maha Kuasa. Lalu aku juga senang dan bangga dengan pemuda sepertimu yang memiliki kemampuan kanuragan serta semangat bela negeri yang tinggi."
“Baiklah, karena sudah larut malam, kau boleh meninggalkan tempat ini nakmas. Besok selepas subuh datanglah kemari, ada yang ingin aku perlihatkan padamu.”ucap Pangeran Mangkubumi.
“Sendiko dawuh Gusti Pangeran. Hamba mohon diri.”ucap Danang seraya menghaturkan sembah bekti lalu beringsut mundur kembali ke biliknya.
Keesokannya, setelah menunaikan kewajiban Danang bersiap dan bergegas menghadap sesuai permintaan Pangeran Mangkubumi sebelumnya. Setiba disana ternyata sosok yang dikaguminya itu telah menunggunya di teras dan menyambutnya dengan senyum.
“Monggo nakmas, kita pergi ke hutan kecil tak jauh dari sini. Ada yang kuperlihatkan kepadamu.”ajak Pangeran Mangkubumi yang lalu melesat dengan sangat ringan yang diikuti oleh Danang kemudian.
Tak berapa lama kedua sosok gagah itu telah tiba di sebuah tanah agak lapang, berdekatan dengan sebuah hutan kecil yang terletak di pinggiran desa Banaran.
Setibanya disana, sambil masih merasa heran lantas Danang membuka pembicaraan, “Nyuwun pangapunten Gusti Pangeran. Apa kiranya yang hendak Gusti perlihatkan pada hamba?”tanya Danang.
“Pasanglah kuda-kudamu dan seranglah aku dengan segenap kemampuanmu nakmas.”perintah Pangeran Mangkubumi tiba-tiba mengagetkan pemuda di hadapannya.
Sambil terkejut, Danang berusaha meyakinkan apa yang baru saja didengarnya,”Nyuwun pangapunten Gusti, apa maksud Gusti?”tanyanya mencoba meyakinkan pendengarannya.
Tak menjawab pertanyaan pemuda di depannya, Pangeran Mangkubumi lantas tanpa ayal berkelebat dengan sangat cepat menyerang pemuda gagah tersebut.
Tak sempat menghindar, Danang memasang tangannya yang dilambari separuh tenaga dalamnya untuk menangkis serangan tersebut.
Dheeesss....benturan antar tangan yang sama-sama mengerahkan tenaga dalam terjadi. Danang terjajar lima langkah ke belakang sambil merasakan tangannya ngilu bukan main setelah menangkis pukulan Pangeran Mangkubumi.
Di satu sisi, sosok Pangeran Mangkubumi tetap berdiri tegak dengan kuda-kudanya dengan sorot mata yang tajam mencorong bagaikan seekor harimau mengincar mangsanya.
__ADS_1
“Hanya itu kemampuanmu nakmas? Sudah kubilang, kerahkan segenap kemampuanmu.”ucap Pangeran Mangkubumi seraya kembali berkelebat menyerang dengan pukulan beruntun yang mengeluarkan kesiuran angin, menandakan serangannya barusan tidak main-main dan dilambari oleh tenaga dalam tinggi...