Kitab Manunggaling Semesta Jagad

Kitab Manunggaling Semesta Jagad
BAB 49, SIASAT FAJAR MENYINGSING


__ADS_3

“Hamba rasa itu terlalu banyak kanjeng adipati, namun sebaiknya kita menunggu hasil laporan terperinci dari telik sandi yang sedang menyusup ke desa Sekarjati. Kiranya pekan depan sudah akan ada hasilnya.”ujar Danang pada adipati Wirodiningrat.


“Baiklah kisanak, aku menunggu laporan darimu sambil mempersiapkan segala sesuatunya. Berikan aku kabar secara berkala mengenai segala perkembangannya.”pinta adipati Wirodiningrat.


“Singgih kanjeng adipati, hamba akan melaporkan segala sesuatunya pada kanjeng adipati. Jika kanjeng adipati berkenan, maka hamba akan mohon diri untuk mempersiapkannya.”jawab Danang.


Pemuda gagah tersebut lalu beringsut meninggalkan gedung kadipaten setelah menerima surat tanda bergabungnya kadipaten Pati dalam perjuangan bersama Pangeran Mangkubumi yang ditulis oleh adipati Wirodiningrat dengan cap stempal kadipaten Pati.


Adipati Wirodiningrat juga menyerahkan lencana pada pemuda tersebut untuk memudahkannya masuk kedalam gedung kadipaten jika diperlukan.


Danang lalu bergegas memacu kudanya untuk kembali ke kediaman romo angkatnya, Kyai Ageng Banyu Urip untuk menunggu laporan dari prajurit-prajuritnya.


Sambil menunggu laporan dari prajuritnya, Danang mamanfaatkan waktu yang ada untuk berlatih meningkatkan tataran kanuragan miliknya serta bersemadhi di tengah hutan guna mempelajari rasa dan memulai pelatihan penyatuan dengan alam semesta, lalu kembali ke kediaman romo angkatnya pada pagi harinya.


Sepekan kemudian, Sasongko dan Handoko datang dari desa Sekarjati menemui pemuda tersebut yang sedang duduk bercakap-cakap dengan Kyai Ageng Banyu Urip di halaman untuk melaporkan hasil temuan yang mereka dapatkan disana. “Ahh...kakang berdua sudah kembali, mana kakang Sumitro?”ujar Danang pada Sasongko dan Handoko.


“Singgih Gusti Pangeran, hamba berdua hendak melaporkan hasil kegiatan kami di desa Sekarjati. Adapun dimas Sumitro telah berhasil menyusup sebagai prajurit yang bekerja untuk Ki Ageng Warso Jati.”ucap Sasongko.


“Ada tiga hal yang akan kami laporkan pada Gusti Pangeran menurut hasil penyelidikan kami, yang pertama mengenai keadaan masyarakat desa Sekarjati yang kini semakin sulit akibat pemerasan dan terjebak dalam hutang akibat perjudian. Tanah-tanah mereka disita secara paksa akibat tidak mampu melunasi hutang, hingga mereka dipaksa bekerja tanpa upah di tambang emas yang belum lama ditemukan di desa Sekarjati."ujar Sasongko.

__ADS_1


"Pada intinya, rakyat desa Sekarjati memimpikan keadaan ini segera berakhir, yang artinya mereka mendukung jika kepala desa yang sekarang ini digulingkan."lanjutnya.


“Yang kedua, mengenai rumah pelacuran dan perjudian, saat ini ada tujuh buah rumah pelacuran, lima milik kepala desa Sekarjati dan dua milik opsir VOC berpangkat kapitein dan liutenant yang merupakan anak buah dari Dedrich Van Osch."tambah Sasongko.


"Secara berkala mereka berkunjung meninjau usaha mereka dengan kawalan dua peleton prajurit bersenjatakan bedil. Para gadis-gadis yang dipekerjakan disana betul-betu diperlakukan sebagai budak semata, hingga dipaksa bekerja melayani nafsu tanpa upah, bahkan seringkali disiksa."terangnya.


“Yang ketiga, menurut dimas Sumitro yang telah berhasil menyusup sebagai prajurit disana, kekuatan desa Sekarjati kini adalah sejumlah empat ratus prajurit, dua ratus prajurit bersenjatakan bedil, seratus prajurit bersenjatakan tombak, dan seratus prajurit bersenjatakan pedang, serta seorang pendekar sakti mandraguna yang berjuluk Barong Agni dari tanah dewata."ucap Sasongko menjelaskan.


"Dimas Sumitro juga menyerahkan denah letak bangsal keprajuritan serta letak gudang penyimpanan senjata ini.”ujar Sasongko seraya menyerahkan secarik kertas berisi denah pada junjungannya.


“Apakah kakang mendapatkan keterangan mengenai kesaktian pendekar tersebut?”tanya Danang setelah membaca kertas yang berisi denah gedung desa beserta letak bangsal keprajuritan desa Sekarjati.


“Menurut keterangan dari dimas Sumitro, pendekar ini benar-benar tangguh Gusti, kabarnya tidak ada senjata yang mampu melukainya, bahkan bedil sekalipun.”ujar Sasaongko.


Akhirnya pemuda tersebut berkata, “Baiklah kakang sekalian, ini rencanaku, aku minta sedapat mungkin kakang berdua menyusup sebagai prajurit di desa Sekarjati. Gunakan kakang Sumitro yang telah berada disana sebagai pintu masuk menjadi prajurit disana.”


“Tugas kakang sekalian adalah membakar gudang persenjataan dan menghancurkan semangat tempur prajurit desa Sekarjati nanti disaat waktunya tiba.”ujar pemuda tersebut.*


“Ketahuilah bahwa kita telah mendapatkan dukungan dari adipati Wirodiningrat. Aku akan minta bantuan sebanyak dua ribu prajurit kadipaten untuk membantu memuluskan rencana kita nanti.”lanjutnya.

__ADS_1


“Kita akan mulai penyerangan pekan depan ketika bulan purnama sedang mencapai puncaknya di waktu fajar menyingsing, ketika mereka semua sedang terlelap, atau setidaknya dalam keadaan tidak siap.”


“Aku akan menemui kakang di perkebunan warga desa tiga hari dari sekarang pada tengah malam untuk memberikan perintah selanjutnya, kita gunakan suara burung kedasih sebagai isyarat. Nah sekarang mari kita bersantap dan beristirahat. Esok pagi kakang berdua bisa mulai menyusup kesana.”tambah pemuda itu sambil mempersilahkan prajuritnya beristirahat dan bersantap bersama mereka.


Keesokan paginya mereka bertiga mulai bergerak, Sasongko dan Handoko menyusup kedalam keprajuritan desa Sekarjati dan Danang memacu kudanya menuju kadipaten Pati untuk mengabarkan perkembangan dan rencana selanjutnya pada adipati Wirodiningrat.


Setibanya di gedung kadipaten, dengan menunjukkan lencana pemberian adipati Wirodiningrat, dengan mudah Danang masuk dan menemui sang adipati.


“Bagaimana kisanak? Apakah ada perkembangan mengenai rencana kita kisanak?”tanya adipati Wirodiningrat pada pemuda tersebut.


“Hamba mohon bantuan seribu pasukan berkuda dan seribu pasukan tombak serta pedang pada kanjeng adipati, untuk menggempur desa Sekarjati.”ucap Danang dengan sopan.


“Seribu pasukan berkuda? Jumlah yang cukup banyak. Tapi coba jelaskan rencanamu kisanak.”ucap adipati Wirodiningrat yang penasaran dengan siasat yang dipikirkan oleh pemuda tersebut.


Danang lalu menjelaskan rencananya dengan terperinci pada sang adipati, serta menjelaskan waktu pelaksanaanya yang akan dijalankan pekan depan ketika bulan purnama penuh, di waktu fajar menyingsing.


“Penyerangan akan dilakukan di waktu fajar menyingsing, setelah hamba dan prajurit hamba meledakkan gudang persenjataan mereka."ujar Danang.


Derap seribu pasukan berkuda dan seribu pasukan tombak serta pedang menurut hamba akan meruntuhkan semangat tempur mereka yang telah kekurangan senjata."lanjutnya.

__ADS_1


"Ditambah lagi prajurit hamba yang telah menyusup akan melakukan perusakan semangat mereka dari dalam, sehingga diharapkan jumlah korban di pihak kita akan dapat kita perkecil.”terang pemuda tersebut.


Adipati Wirodiningrat lalu terdiam beberapa lama memikirkan siasat yang diterangkan oleh pemuda di hadapannya, lalu berkata, “Baiklah kisanak, kurasa cukup masuk akal, aku setuju dengan siasatmu. Kita akan bertemu satu pekan dari sekarang di gerbang desa Sekarjati.”ucap Adipati Wirodiningrat...


__ADS_2