Kitab Manunggaling Semesta Jagad

Kitab Manunggaling Semesta Jagad
BAB 51, BANJIR DARAH DI DESA SEKARJATI


__ADS_3

Di dalam gedung kediaman kepala desa Sekarjati tampak ledakan terjadi berulang-ulang karena banyaknya bubuk mesiu yang disimpan di gudang penyimpanan senjata.


Api berkobar-kobar menjilat dan menjalar ke ruangan-ruangan lainnya hingga menimbulkan kepanikan para prajurit yang sedang dalam keadaan mabuk akibat pesta arak yang diadakan semalam.


Dua orang prajurit patang puluhan yang ada disitu, yaitu Sasongko dan Sumitro segera meloloskan senjata sepasang kudi hyang mereka dan menyerang para prajurit desa Sekarjati yang masih dalam keadaan setengah sadar, bahkan sebagian masih tertidur akibat pengaruh arak yang mereka tenggak semalam.


Para prajurit yang kebingungan berusaha mencari apa saja yang dapat dijadikan sebagai senjata, namun hanya tinggal beberapa pedang dan tombak saja yang masih tersisa, sementara seluruh bedil milik prajurit desa Sekarjati telah terbakar bersama dengan gudang penyimpanan senjata.


Dari ruangannya, kapitein William dan liutenant Schmit terlonjak kaget mendengar suara ledakan besar dan suara riuh hingga terburu-buru mengenakan pakaian mereka dan mengambil pedang yang terletak di meja ruangan kemudian menuju tempat terdengarnya ledakan tersebut.


Dari luar gedung, Handoko berlari kedalam sambil berteriak-teriak, “Ada serangaaan...empat ribu pasukan kadipaten telah menyerang kita! Lari dan selamatkan diri kita masing-masing!”teriaknya mencoba mempengaruhi semangat tempur prajurit desa Sekarjati.


Para prajurit desa Sekarjati dan dua peleton VOC tampak masih kebingungan. Sebagian lari meyelamatkan diri mendengar teriakan itu, sebagian masih mencoba mencari kesadaran, sebagian lumpuh dan tewas akibat serangan dari Sasongko dan Sumitro, dan sebagian berusaha mencari senjata untuk membela diri, hingga suasana tercipta sedemikian riuh dan panik, apalagi dari luar kini telah terdengar derap suara pasukan berkuda yang datang menghampiri.


Tiba-tiba satu sosok berpakaian serba hitam dengan udeng-udeng di kepalanya melesat diantara suasana riuh tersebut.


Bersamaan dengan itu, pasukan kadipaten yang dipimpin oleh adipati Wirodiningrat dan Danang Hadikusumo telah memasuki gedung kediaman kepala desa Sekarjati.

__ADS_1


Dengan mengerahkan ajian Bayu Bajra, Danang melesat melompat dari kudanya seraya menghunus sepasang kudi hyang miliknya ketengah kerumunan pasukan dan mulai mengamuk menghabisi para prajurit desa Sekarjati.


Sontak hawa dingin bagaikan es yang diakibatkan oleh tuah sepasang kudi hyang milik pemuda itu segera memenuhi tempat tersebut.


Dengan serangan yang dilambari oleh ajian Bayu Bajra, gerakan Danang menjadi sedemikian cepat bagaikan menunggangi angin dan tidak dapat terlihat oleh mata biasa.


Dalam beberapa kejap saja sudah puluhan prajurit telah berhasil dihabisinya, beberapa prajurit terhempas oleh angin topan yang dikerahkan lewat ajian Bayu Bajra, ditambah lagi dengan serangan yang dilakukan oleh tiga orang prajurit patang puluhan lainnya.


Traaang...traaang...aaaarggh....suara dentingan senjata dan jerit kematian terdengar memenuhi kediaman kepala desa Sekarjati.


Darah tumpah bagaikan banjir bandang. Tubuh-tubuh terkulai layu dan berjatuhan di seluruh tempat itu.


Di tengah riuhnya pertempuran, melalu sudut matanya, penglihatan Danang menangkap satu sosok yang dikenalnya mengendap-endap mencoba mencari celah untuk melarikan diri dari situ.


Sosok yang dikenal dan diingatnya sebagai pengkhianat yang telah menjebaknya di waktu lalu dan mengambil keuntungan dari tewasnya kepala desa yang lama, sosok Warsono, atau yang kini dikenal sebagai Ki Ageng Warso Jati.


Lalu pemuda itu melesat melompat seraya tangannya meraih pisau kecil yang terselip di sela pakaiannya lalu melemparkannya pada sosok yang mengendap-endap tersebut.

__ADS_1


Ssstt....jleeeb...pisau kecil yang dilemparkannya tepat menghunjam bagian tengkuk sosok pengkhianat tersebut yang menyebabkan sosok itu terkulai dan jatuh dengan darah merembes tanpa sempat bersuara, nyawanya lepas meninggalkan raganya saat itu juga.


Sumitro yang melihat hal tersebut segera berteriak, “Ki Ageng tewas...kepala desa tewas...kalau begini tidak ada yang akan membayar gaji kita...sebaiknya kita lari mencari selamat!”teriaknya yang langsung membuat runtuh semangat para prajurit desa Sekarjati, hingga sebagian besar dari mereka melarikan diri dari pertempuran mencari selamat.


Mengamati keadaan sejenak, Danang melihat di satu sisi adipati Wirodiningrat kesalahan hingga berjumpalitan dalam menghadapi serangan-serangan yang dilancarkan oleh Komang Wisesa, sang Barong Agni dari tanah dewata, di sisi lain terlihat kapitein William dan liuetenat Schmit mengamuk menebaskan pedangnya pada prajurit-prajurit kadipaten yang mencoba menyerangnya.


Melihat keganasan dua orang berambut jagung yang tengah mengamuk di medan perang, Danang segera berseru memerintahkan prajuritnya untuk menghadang mereka, “Kakang Handoko, kakang Sasongko, tolong cepat kalian hadapi dua orang bule tersebut. Cegahlah jumlah korban yang ditimbulkan oleh mereka!”perintah pemuda tersebut.


Mendengar itu Sasongko dan Handoko segera melesat untuk menghadapi dua orang bule yang bertubuh dan memiliki kekuatan besar tersebut. Sementara Danang melesat kearah pertempuran antara adipati Wirodiningrat dengan Komang Wisesa berada.


Saat itu kuku Komang Wisesa yang bertambah panjang hampir saja menggores tubuh adipati Wirodiningrat, namun satu kelebatan bayangan hitam melesat dan menebaskan senjatanya pada tangan Komang Wisesa. Craaas...kuku panjang di tangan kanan Komang Wisesa yang tajam bagaikan pisau terpotong akibat serangan itu, dan membuat Komang Wisesa menarik serangannya.


Di lain tempat dua pria bule bertubuh besar itu kini dihadang oleh dua sosok prajurit patang puluhan. “Hadapi kami jika kalian merasa jantan, jangan hanya berani melawan prajurit kecil.”ucap Sasongko pada dua sosok tersebut.


“Siapa kowe-kowe ini yang berani melawan kami perwira VOC?”ujar kapitein William dengan geram seraya menghunuskan pedang menunjuk kearah Sasongko dan Handoko.


“Kami adalah orang-orang yang akan mempertemukan kalian dengan malaikat pencabut nyawa hari ini...Hyaaat!”ujar Handoko yang segera berkelebat menyerang kapitein William dengan sepasang kudi miliknya.

__ADS_1


Sementara Sasongko segera melesat menyerang liutenant Schmit dengan gerakan tipuan yang dilanjutkan dengan tebasan kudi miliknya...


__ADS_2