
Ki Ageng Warso Jati segera mendekati sosok tersebut dan mengajaknya bicara dengan sopan.
Siasat licik segera berjalan di kepalanya melihat pakaian yang dikenakan sosok tersebut adalah pakaian yang biasanya dikenakan oleh para pendekar dari tanah dewata, ia segera menduga bahwa sosok tersebut memiliki hubungan dengan pendekar wanita asal tanah dewata di masa Ki Ageng Gandrik, dan ia berniat untuk memanfaatkan keadaan tersebut.
“Siapakah kisanak? Mengapa tanpa ada angin tiba-tiba mengamuk di kediamanku?”ujar Ki Ageng Warso Jati pada sosok berpakaian serba hitam tersebut.
“Aku mencari orang yang telah membunuh muridku, Ni Luh Gandamayit.”ucap sosok itu dengan lantang.
“Mengapa kisanak mencari pembunuh murid kisanak disini? Kami bukan orang-orang yang membunuh murid kisanak”ujar Ki Ageng Warso Jati pada Komang Wisesa.
“Jangan berdusta kisanak! Aku mendapatkan petunjuk bahwa muridku tewas secara mengenaskan di tempat ini, bahkan hawa keberadaannya masih bisa kurasakan.”jawab Komang Wisesa.
“Aku berkata yang sesungguhnya, dan aku kini mengerti pangkal masalahnya, mari masuklah ke kediamanku agar kita bisa bicara dengan baik-baik kisanak. Percayalah kami bukan pembunuh murid kisanak, namun aku mengetahui sosok yang telah membunuh muridmu.”ujar Ki Ageng Warso Jati sambil tersenyum licik.
“Apakah kau tidak bermaksud menjebakku?”tanya Komang Wisesa pada Ki Ageng Warso Jati.
“Tentu tidak kisanak, bagiku lawan dari musuhku adalah sekutu, percayalah, bahkan tidak akan ada prajurit yang akan mengawasi kita. Pembicaraan hanya akan berlangsung antara kita berdua, maka jika aku menjebakmu, kau akan dengan sangat mudah membunuhku dengan kesaktian yang kau miliki kisanak.”ujar Ki Ageng Warso Jati pada sosok berpakaian serba hitam tersebut.
__ADS_1
Setelah menimbang selama beberapa saat, akhirnya sosok berpakain serba hitam yang merasa penasaran tersebut setuju dengan penawaran dari Ki Ageng Warso Jati dan berjalan mengikutinya masuk kedalam kediaman kepala desa Sekarjati tersebut.
“Mari silahkan duduk kisanak. Perkenalkan kisanak, namaku Ki Ageng Warso Jati, kepala desa Sekarjati ini. Jika boleh bertanya, siapakah nama kisanak ini?”ucap Warsono pada Komang Wisesa setelah masuk kedalam ruangan megah yang cukup besar.
Setelah sejenak memperhatikan ruangan yang besar teraebut, ia lalu duduk di kursi yang terbuat dari kayu jati yang telah disediakan bagi sosok sakti mandraguna dari tanah dewata tersebut berkata, “Namaku Komang Wisesa, guru dari Ni Luh Gandamayit."ujarnya.
"Aku dikenal sebagai Barong Agni dari tanah dewa. Aku mencari orang yang telah membunuh muridku itu, dan aku masih bisa merasakan hawa keberadaan muridku ditempat ini, pasti dia pernah setidaknya bertempat tinggal di kediaman kisanak dalam waktu yang lama.”lanjut sosok tersebut.
“Aku mengerti jika kisanak ingin menuntut balas terhadap tewasnya murid kisanak. Baiklah, aku akan menceritakan semuanya pada kisanak.”ujar Ki Ageng Warso Jati yang kemudian menceritakan tentang sosok pemuda sakti yang bernama Danang Hadikusumo.
Dikarangnya cerita bahwa pemuda tersebut merupakan sosok yang kejam dan merupakan musuh besar Ki Ageng Gandrik, kepala desa Sekarjati yang lama.
Dikatakannya bahwa Danang telah memperdaya Ni Luh Gandamayit dengan ketampanannya sehingga membuat murid dari Komang Wisesa itu dalam keadaan terlena dan tidak siap, sehingga bisa dibunuh oleh pemuda tersebut.
“Setelah membunuh Ni Luh Gandamayit, pemuda tersebut satu persatu memancing empat orang pendekar yang bekerja untuk kepala desa lama dan membunuh mereka, lalu di saat akhir mengalahkan dan membunuh kepala desa yang lama dengan keji kisanak.”ujar Ki Ageng Warso Jati.
“Menurut hematku, Ni Luh Gandamayit tidak akan kalah dan terbunuh jika saja ia tidak dalam keadaan terperdaya oleh bujuk rayu pemuda licik yang memang tampan itu kisanak.”hasut Ki Ageng Warso Jati memanas-manasi Komang Wisesa.
__ADS_1
"Kuharap kisanak paham bahwa aku tidak memiliki kepentingan lain, kecuali kepentingan yang sama dengan kisanak, yaitu membalaskan dendam desa ini pada pemuda tersebut."lanjutnya
“Hmm...sudah kuduga bahwa muridku yang memiliki peliharaan jin dan setan-setan perewangan itu seharusnya tidak terbunuh jika saja tidak diperdaya oleh bujuk rayu. Kebiasaannya yang genit pada pemuda-pemuda tampan akhirnya telah membawanya pada lembah kematiannya."ujarnya geram.
Tampaknya ia telah termakan hasutan Ki Ageng Warso Jati yang dengan mudah diterapkan padanya karena dendam yang berkecamuk di dadanya.
"Lalu dimana pemuda yang kisanak sebut itu sekarang berada?”tanya Komang Wisesa yang berjuluk Barong Agni tersebut.
“Sabar dulu kisanak, menurut hematku sebaiknya kisanak menunggu di desa ini sambil membantuku untuk mengamankan desa Sekarjati, karena aku telah membuka kembali rumah perjudian dan pelacuran untuk memancingnya, jadi aku yakin pemuda itu akan kembali kesini untuk kembali menumpahkan darah.”ujar Ki Ageng Warso Jati.
“Aku akan memberi kisanak gaji yang cukup tinggi, lima puluh keping emas setiap bulannya, ditambah tempat tinggal yang layak disini, sesuai dengan kesaktian yang kisanak tadi perlihatkan padaku."tawarnya pada Barong Agni.
"Aku juga sangat yakin bahwa pemuda itu tidak akan mampu mengalahkan kisanak yang bahkan tidak mempan oleh peluru bedil, nah bagaimana dengan usulku kisanak?”lanjut Ki Ageng Warso Jati.
“Baik, aku setuju, ini yang dinamakan semua pihak saling untung Ki Ageng. Aku mendapatkan penghasilan yang bagus ditambah kesempatan untuk membalaskan dendam muridku. Sementara Ki Ageng mendapatkan bantuan jasaku untuk mengamankan desa ini.”ujar Komang Wisesa.
Kedua belah pihak yang telah mencapai kesepakatan yang saling menguntungkan tersebut kemudian saling berjabat tangan dan tersenyum dengan puas...
__ADS_1