
Desa Sekarjati kini yang dipimpin oleh Ki Ageng Gandrik, mantan Jogoboyo di masa lalu berbeda dengan desa Sekarjati tiga belas tahun silam ketika masih dipimpin oleh Ki Ageng Sekarjati.
Rumah kepala desa yang dulu sederhana ketika dipimpin oleh Ki Ageng Sekarjati kini berubah menjadi sangat mewah, hampir menyerupai kediaman seorang Adipati.
Ki Ageng Gandrik juga membentuk pasukan penjaga berjumlah tiga ratus orang, yang dipersenjatai oleh bedil hasil pemberian dari VOC, dan sebagian pasukannya bersenjatakan tombak dan panah.
Untuk memimpin pasukan itu, ia menyewa jasa para pendekar aliran hitam, sekaligus sebagai pengawal pribadinya.
Tercatat ada lima orang pendekar aliran hitam berkepandaian tinggi yang berhasil ditarik olehnya menjadi pemimpin pasukan sekaligus pengawal pribadinya.
Warok Banteng Ireng dari Ponorogo, seorang pendekar dengan tenaga besar dan ilmu kanuragan tinggi yang terkenal bengis, bersenjatakan tombak bermata tiga yang dikenal ampuh.
Munding Kusuma dari tlatah Pasundan, seorang pria berusia sekitar empatpuluh tahun yang tampan dan sakti, pemuja kepuasan birahi, bersenjatakan sepasang pedang kembar.
Datuk Kumbang dari tanah Andalas, seorang pria paruh baya yang sakti yang terkenal dengan ilmu harimau kumbangnya.
Kwee Ban Siang, seorang biksu sesat dari negeri Tartar yang memiliki ilmu kanuragan tinggi, peminum darah, arak dan penggemar wanita, bersenjatakan tongkat panjang dari baja.
Ni Luh Gandamayit, seorang nenek sakti ahli racun dan sihir dari tanah dewata yang dengan ilmunya berhasil membuat dirinya tampak seperti seorang gadis remaja yang cantik dengan tubuh yang sintal mempesona.
Keadaan desa Sekarjati saat ini sungguh berbanding terbalik dengan masa kepemimpinan Ki Ageng Sekarjati dimana masyarakatnya tentram dan damai, hasil kebun dan tani melimpah karena para petani didukung penuh oleh Ki Ageng Sekarjati di masa lalu.
Saat ini tempat-tempat perjudian dan pelacuran tumbuh marak di desa Sekarjati, yang membuat para pelancong hidung belang dan penjudi berdatangan dari segala penjuru tanah Jawa.
Di satu sisi maraknya perjudian dan pelacuran mendatangkan pendapatan yang sangat banyak bagi Desa Sekarjati, yang tentunya sebagian besar diambil untuk kantong pribadi kepala desa, dan sebagian kecil lainnya disetorkan pada pembesar-pembesar VOC dan para oknum pejabat Keraton yang bersifat serakah sebagai upeti perlindungan.
Hasil tani dan perdagangan barulah diserahkan pada Keraton sebagai pajak.
Penculikan para gadis-gadis cantik marak terjadi di seantero tanah Jawa, yang sebagian dibawa ke Desa Sekarjati untuk dijadikan gadis pemuas nafsu di tempat-tempat pelacuran di desa ini, tak jarang gadis-gadis itu diserahkan pada kepala desa terlebih dulu untuk dicicipi dan diserahkan pada para pengawalnya sebelum dijadikan budak nafsu di tempat-tempat pelacuran di desa itu.
__ADS_1
Tak jarang pula keributan terjadi di tempat pelacuran atau perjudian yang disebabkan oleh tamu-tamu yang mabuk atau kehabisan uang karena berjudi, namun biasanya keributan itu dapat diselesaikan dengan mudah oleh para punggawa desa.
Malam itu desa Sekarjati diterpa hujan deras, yang menyebabkan udara menjadi dingin dan membuat penduduk memilih menarik kain selimutnya.
Namun cuaca dingin tampaknya tidak dirasakan oleh Ki Ageng Gandrik. Ia tampak begitu gelisah dalam tidurnya hingga keringat sebesar biji-biji jagung memenuhi wajahnya dan membasahi pakaiannya, hingga akhirnya ia terbangun dan berteriak memanggil penjaga.
“Jangkrik...penjagaaa...”teriaknya.
Dengan tergopoh gopoh dua orang penjaga bergegas masuk kedalam bilik sang kepala desa. “Inggih Tuan, ada keperluan apa Tuan memanggil kami?”
“Cepat kalian panggilkan Ni Luh Gandamayit, katakan aku membutuhkan bantuannya sekarang juga.”perintahnya
“Dan jangan lupa bawakan aku kendi air putih serta sebumbung arak.”tambah Ki Ageng Gandrik.
“Sendiko Tuan, kami mohon diri.”ucap dua orang penjaga bersamaan.
Tak berapa lama Ni Luh Gandamayit datang bersamaan dengan seorang penjaga yang membawakan kendi dan bumbung arak ke kamar Ki Ageng Gandrik. Penjaga itu melihat terpesona pada Ni Luh Gandamayit. “Pasti tubuhnya menyimpan sejuta kenikmatan.”pikir penjaga itu.
Terkejut karena Ni Luh Gandamayit bisa membaca pikirannya, lalu penjaga itu berkata, “B..b..baik Nyai, mohon ampun Nyai.”ujar penjaga tersebut ketakutan.
“Nah, sekarang pergilah. Serahkan bumbung itu padaku, biar aku nanti yang memberikannya pada Tuan Gandrik.”ujar Ni Luh Gandamayit.
Dengan tangan gemetar entah karena takut atau menahan nafsunya, penjaga itu segera menyerahkan bumbung arak pada Ni Luh Gandamayit lalu bergegas pergi.
Lalu Ni Luh Gandamayit mengetuk pintu kamar Ki Ageng Gandrik. “Tuan, aku sudah datang menghadap.”ucapnya.
“Masuklah Nyai, pintu kamarku tidak dikunci.”terdengar suara Ki Ageng Gandrik dari dalam kamarnya.
“Ada apa Tuan memanggilku tengah malam begini?”tanya Ni Luh Gandamayit sambil tersenyum genit.
__ADS_1
Setelah menenggak arak dari bumbung, Ki Ageng Gandrik berkata,“Nyai, sesungguhnya aku bermimpi buruk...sangat buruk, hingga seolah-olah tampak begitu nyata.”
“Hihihi... apa gerangan mimpi buruk Tuan? Jangan terlalu risau Tuan, mimpi itu adalah bunga tidur...kadang kita bermimpi indah, kadang bermimpi buruk Tuan. Rasanya itu hal yang wajar dan biasa saja.”ucap Ni Luh Gandamayit.
“Rasanya tidak Nyai, mimpiku kali ini terasa berbeda dan sangat nyata dibandingkan dengan mimpi-mimpi sebelumnya.”Aku minta kau terawang arti mimpiku dengan ilmu yang kau miliki."ujar Ki Ageng Gandrik.
“Baiklah, coba Tuan ceritakan mimpi buruk apa yang Tuan alami.”ujar Ni Luh Gandamayit.
“Aku bermimpi bertemu dengan Ki Ageng Sekarjati, kepala desa lama yang telah kuhabisi dan kurebut kekuasaannya dulu. Ia terus menerus berkata bahwa saatnya telah tiba, lalu aku melihat petir menyambar nyambar di sekelilingku tanpa aku bisa melarikan diri, hingga akhirnya diriku terbakar oleh api yang sangat panas.”ucap Ki Ageng Gandrik menceritakan mimpinya.
“Baiklah Tuan, aku akan coba menerawang mimpi Tuan.”ujar Ni Luh Gandamayit sambil mengeluarkan perlengkapannya.
Ni Luh Gandamayit duduk bersila lalu membakar kemenyan yang dikeluarkan dari kantong yang selalu dibawanya kemana mana dan mulai berkomat kamit membaca mantra. Setelah sekitar waktu sepenanakan nasi ia membuka matanya dengan raut yang terlihat agak berbeda.
“Tuan, tampaknya kutukan Ki Ageng Sekarjati mulai bekerja. Menurut penerawanganku keturunan Ki Ageng Sekarjati akan datang menuntut balas pada Tuan.”ujar Ni Luh Gandamayit sambil memasang raut wajah sedikit masam.
“Tapi kurasa Tuan tidak perlu kuatir karena kami berlima selaku pengawal Tuan rasanya sanggup mengatasi anak itu, karena kami memiliki kemampuan tinggi.”lanjut Ni Luh Gandamayit sambil kembali tersenyum percaya diri.
“Benarkah itu Nyai?’tanya Ki Ageng Gandrik meminta kepastian.
“Tentu Tuan, seperti yang Tuan ketahui, rasanya jarang ada yang mampu menandingi kesaktian kami, apalagi jika kami berlima bergabung."ujarnya.
"Hmmm...Tuan, menurut penerawanganku pemuda ini sangat tampan dan gagah Tolong ijinkanlah nanti aku akan menyekapnya barang beberapa minggu, akan kuserap habis saripati kelelakiannya sebelum akhirnya kubunuh...hihihi.”ujar Ni Luh Gandamayit tertawa.
“Hahahaha..terserah padamu Nyai, kegemaranmu ternyata tidak pernah berubah. Perlakukan semaumu Nyai, asalkan kalian berlima bisa memastikan nyawaku selamat.”ujar Ki Ageng Gandrik sambil tertawa.
“Tolong kau sampaikan juga hal ini pada yang lain. Aku menyerahkan masalah ini pada kalian berlima, aturlah pasukan untuk memperketat penjagaan di kediamanku Nyai.”perintah Ki Ageng Gandrik pada Ni Luh Gandamayit.
“Baik Tuan, akan kupastikan penjagaan diperketat hingga semutpun tidak akan mampu untuk masuk kedalam kediaman Tuan...hihihi.”ucap Ni Luh Gandamayit sambil terkekeh.
__ADS_1
Lalu keduanya tertawa bersamaan.