
Sesosok bayangan terlihat berkelebat dengan sangat cepat bagaikan hantu menerobos lebatnya Alas Ketonggo yang dianggap angker oleh masyarakat sekitar Desa Sekar Jati karena masih terdapat banyak binatang buas dan dipercaya sebagai tempat bersarangnya jin-jin perewangan yang buas.
Setelah seharian berlari, sosok tersebut tiba penghujung Alas tersebut. Terlihat dataran hijau dengan danau dan pemandangan indah dan bukit-bukit berbaris seakan menjadi benteng alam bagi dataran tersebut di balik Alas Ketonggo.
Sosok yang menggendong seorang bocah itu mendekat dan memasuki sebuah pondok yang terlihat sederhana namun cukup luas dan sangat asri dengan beberapa pohon dan tumbuhan di sekitarnya.
Setelah memasuki kamarnya, ia meletakkan anak itu diatas dipan sambil memeriksa keadaan anak tersebut. “Hmm…sungguh sangat disayangkan aku tidak mampu menolong ibu dari anak ini” pikirnya.
"Tampaknya anak ini tidak kurang suatu apa, dan tampaknya ia memiliki susunan tulang dan pembuluh darah yang sangat langka…mungkin dalam lima ratus sekali baru muncul seseorang dengan susunan seperti ini.” guman sosok tersebut lalu meninggalkan anak itu diatas dipan.
Kyai Ageng Banyu Urip adalah salah seorang sahabat dari Ki Ageng Sekarjati.
Di masa mudanya, mereka bersama-sama menuntut ilmu agama pada Kyai Usman Singodipuro, seorang bijak dan berilmu tinggi baik di bidang keagamaan maupun kanuragan di kediamannya di daerah Demak.
Setelah beberapa tahun menimba ilmu, Kyai Ageng Sekarjati dipanggil pulang untuk menggantikan ayahnya sebagai pemangku wilayah desa Sekarjati.
__ADS_1
Setelah Kyai Usman Singodipuro seda, Kyai Ageng Banyu Urip meninggalkan kediaman dan hidup menyepi di sebelah Alas Ketonggo.
Singkat cerita, sosok tersebut yang dikenal sebagai Kyai Ageng Banyu Urip merawat anak itu dan satu anak lainnya dengan sepenuh hati layaknya seorang ayah, mengingat 2 anak ini sudah tidak memiliki orang tua akibat kerusuhan-kerusuhan yang terjadi.
Anak Ki Ageng Sekarjati tersebut bernama Danang Hadikusumo, sedangkan anak satunya dinamainya Bagas Laksono yang berumur 3 tahun lebih tua dari Danang. Kyai Ageng Banyu Urip menemukan Bagas di kota Kadipaten Pati dalam keadaan tak sadarkan diri di pinggir jalan dekat pasar tanpa seorang pun peduli dengan anak ini.
Karena rasa kemanusiaan yang tinggi, Kyai Ageng mengambil anak itu untuk diasuh di kediaman Banyu Urip miliknya.
Setiap malam Kyai Ageng selalu menceritakan berbagai lakon dongeng bagi kedua anak itu, mulai dari lakon Rama Wijaya, Mahabarata, Bharata Yudha, dan lain-lain dengan tujuan agar nilai-nilai luhur yang terkandung dalam lakon terserap ke hati sanubari kedua anak tersebut.
Bagas yang memiliki kemauan kuat sangat rajin berlatih, terutama untuk pembentukan tubuh dan olah kanuragan.
Tiga tahun kemudian, Danang pun mulai diajarkan hal yang sama, hanya yang membuat Kyai Ageng terkejut adalah kemampuan Danang dalam menyerap segala hal yang diajarkan.
Kemampuannya berkali lipat dari kemampuan orang biasa dalam menyerap ilmu, ditambah susunan tulangnya adalah langka dan istimewa, sehingga dalam beberapa tahun saja kemampuan Danang mulai mendekati kakaknya.
__ADS_1
Setiap pagi setelah sembahyang, Kyai Ageng membalurkan sejenis minyak yang dicampur dengan berbagai ramuan untuk pembentukan tulang pada kedua anak tersebut, dilanjutkan latihan pengolahan tubuh, lalu mengaji dan membaca kitab-kitab pada sore hari, dan olah kanuragan pada malam hari.
Kemampuan dan kecerdasan ditambah ketampanan Danang lama kelamaan membuat Bagas merasa iri hati, “Pasti Kanjeng Romo memberikan tambahan ilmu kepada Danang, kalau tidak mana mungkin ia mampu mendekati kemampuanku,”batin Bagas.
Namun hal itu tidak diperlihatkan oleh Bagas. Ia berlaku seolah-olah senang dengan kemajuan adiknya, sambil memikirkan siasat.
Hingga suatu saat ketika Danang berumur 12 tahun, Kyai Ageng Bayu Urip memanggil mereka berdua. “Ngger anak-anakku, besok Romo akan berangkat ke daerah Mega Mendung di Pasundan atas undangan dari Kyai Surawisesa, seorang sahabat lama Romo dalam waktu yang cukup lama.”
“Romo sudah mempersiapkan segala sesuatunya, kalian bisa memanen jagung, ubi dan ketela di kebun, mengambil telur, memotong ayam-ayam peliharaan, atau menjala ikan di danau untuk persediaan makan bagi kalian.” Ucap Kyai Ageng.
“Bagas, jagalah adikmu. Dan Danang, manutlah pada kakangmu. Jangan kalian tinggalkan hal-hal yang Romo ajarkan selama ini.” pesan Kyai Ageng.
“Singgih Kanjeng Romo”ucap Bagas dan Danang berbarengan.
Bagas sangat senang, “Ini dia yang kutunggu-tunggu selama ini.”dalam batinnya.
__ADS_1