
Kadipaten Banyumas sejak dilantiknya Amongrogo sebagai senopati terus berbenah dalam menata pemerintahan.
Melalui kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh Adipati Haryo Yudonegoro, daerah-daerah subur dalam wilayahnya terus dipacu dalam bidang pertanian dan perkebunan, sehingga saat ini Kadipaten Banyumas selalu memiliki hasil panen dan cadangan pangan berlimpah yang dihasilkan setiap panen raya.
Adipati Haryo Yudonegoro menyerahkan sepenuhnya keprajuritan pada senopati Amongrogo, yang terus membentuk dan memperkuat pasukan Kadipaten Banyumas.
Dibentuknya empat bregada pasukan, yaitu Bregada Bayu, pasukan yang bersenjatakan panah, Bregada Bhumi, pasukan yang bersenjatakan pedang, Bregada Tirta, pasukan yang bersenjatakan tombak, serta Bregada Geni, yaitu pasukan yang bersenjatakan bedil.
Di samping itu senopati Amongrogo juga membentuk satuan kecil pasukan yang dinamainya Satuan Patang Puluh yang hanya beranggotakan empat puluh orang, tetapi memiliki kemampuan menggiriskan, mulai dari pertempuran di darat, pertempuran di air, hingga kemampuan dalam melakukan telik sandi.
Selain membentuk dan memperkuat pasukan kadipaten, senopati Amongrogo juga tanpa lelah memperkuat dirinya.
Dicarinya orang-orang sakti untuk dijadikannya guru untuk menambah ilmu kesaktiannya, hingga akhirnya ia bertemu dengan sosok yang sakti mandraguna yang menamakan dirinya sebagai Eyang Arka Abhimana dari Alas Roban, seorang pertapa sakti yang melakukan pemujaan dan persembahan bagi Betari Durga dan Batara Kala, sang penguasa kegelapan.
Secara diam-diam pula senopati Amongrogo menjalin hubungan dengan meneer Dedric Van Osch melalui pembelian bedil-bedil untuk pembentukan pasukan Bregada Geni miliknya.
Dalam beberapa kali pertemuan, meneer Van Osch selalu memberikan hadiah-hadiah berupa barang-barang yang bernilai tinggi pada senopati Amongrogo.
Naluri meneer Van Osch yang tajam mengatakan bahwa sosok di hadapannya itu memiliki jiwa tamak, yang menurut perhitungannya akan dapat berguna dan dimanfaatkan olehnya kelak, sehingga menjalin hubungan baik sejak awal dengan sosok seperti ini menjadi bagian dari rencana yang nantinya akan menguntungkan dirinya.
Demikian juga dengan senopati Amongrogo, ia melihat menjalin hubungan baik dengan pembesar VOC yang bernama meneer Dedric Van Osch akan sangat berguna baginya kelak, mulai dari pasokan bedil yang dapat dengan mudah diperolehnya hingga hal-hal yang menurutnya akan dapat menambah pundi-pundinya.
Dalam menambah kesaktiannya, senopati Amongrogo bahkan rela menjalani laku yang sangat berat, yaitu tapa pendem, tidak menikah, serta melakukan persembahan bagi Betari Durga pada setiap pergantian tahun Saka.
Ia menumbalkan seorang bayi yang belum genap berumur satu tahun sebagai syarat yang diajukan oleh Eyang Arka Abhimana demi mendapatkan Ajian Rawarontek dan ilmu Batara Karang yang dapat membuat dirinya kebal, tidak bisa mati selama jasadnya masih menyentuh tanah, serta memiliki kekuatan tenaga luar dan dalam yang dahsyat.
Untuk itu, dii hutan kecil di tepi wilayah kadipaten, senopati Amongrogo membuat sebuah bangunan kecil yang dikatakannya sebagai tempatnya bersemadhi melatih ilmu kanuragannya, walaupun sesungguhnya tempat itu dijadikannya sebagai tempat persembahan tumbal bagi Betari Durga dan Batara Kala, ditambah ilmu silat Walet Abang dan Ajian Komara Geni yang didapatnya dari kitab milik Ki Amongrogo yang asli yang berhasil dikalahkannya beberapa purnama silam.
Dalam keprajuritan, ia menanamkan keyakinan dan pengaruhnya hingga sedemikian rupa, yaitu para prajurit kadipaten hanya harus patuh pada satu sosok yaitu dirinya, terutama prajurit Satuan Patang Puluh.
“Prajurit-prajurit kadipaten Banyumas! Kanjeng Gusti Adipati Haryo Yudonegoro telah mempercayakan kalian sepenuhnya padaku. Mulai saat ini dan seterusnya, kuminta pada kalian...hanya ada satu sosok di kadipaten Banyumas untuk kalian taati, yaitu aku! Menolak taat padaku berarti menolak taat pada Kanjeng Gusti Adipati Haryo Yudonegoro, dan aku akan menjatuhkan hukuman berat yang tak terperikan jika kalian melanggarnya!”seru senopati Amongrogo pada setiap kesempatan melatih olah keprajuritan.
Seringkali juga dalam latihan olah keprajuritan senopati Amongrogo memperlihatkan kesaktiannya, yang membuat para prajurit terkagum-kagum dan bangga berada dibawah sosok senopati yang sakti mandraguna tersebut. Rasa kagum para prajurit pada sosok senopati Amongrogo lambat laun berubah menjadi pengagungan, hingga seolah melihat senopati Amongrogo adalah sosok utama di kadipaten Banyumas.
__ADS_1
........
“Baiklah kisanak, aku akan menjawab pertanyaanmu.”ucap sosok berpakaian serba hitam yang kini bangkit dan duduk bersila di hadapan Danang.
“Namaku Joyodipuro, aku adalah salah seorang pengikut dari Kanjeng Gusti Raden Mas Said, yang dikenal juga sebagai Pangeran Samber Nyowo.”terangnya.
“Secara kebetulan aku baru kembali dari tugas pengintaian di desa Sekarjati dan hendak melaporkan hasilnya pada Kanjeng Gusti Pangeran Samber Nyowo dan secara kebetulan pula dalam perjalanan aku melihat kerumunan pasukan bergerak seperti hendak menyergap seseorang, dan lalu aku mengikuti dan mengintainya dari kejauhan.”
“Ketika sampai disana, aku melihat pertempuran sedang berlangsung antara seratusan orang pasukan ditambah dua orang pendekar melawan satu orang, yang akhir pertempurannya jelas sudah sama-sama kita ketahui berdua kisanak, hingga aku akhirnya memutuskan untuk mengejar satu orang dari pihak mereka yang menurutku pengecut, melarikan diri dengan mengorbankan rekannya.”tambahnya.
“Aku berterima kasih padamu atas bantuanmu mengejar dan mengalahkan pendekar yang telah melarikan diri itu kisanak. Hanya saja aku masih tidak mengerti, apa yang kisanak intai disana? Dan mengapa kisanak melakukan pengintaian di desa Sekarjati?”tanya Danang.
“Baiklah kisanak, ada baiknya kuterangkan dari awal pokok masalahnya.
Begini kisanak, saat ini tanah Jawa mengalami kemunduran hebat semenjak peristiwa goro-goro yang terjadi di lingkungan Keraton."
"Kerusuhan terjadi dimana-mana hingga membuat nilai luhur budaya Jawa hancur porak poranda, bisa kisanak lihat di desa Sekarjati saat ini tumbuh rumah-rumah perjudian dan pelacuran yang jelas akan mendatangkan kerusakan lebih.”ucap Joyodipuro.
“Kisanak pasti telah mengetahui, sudah banyak gadis-gadis diculik dan dipaksa menjadi budak nafsu disana, serta sudah banyak rakyat yang terperosok dalam hutang dan kemiskinan, ditambah makin rusaknya jati diri dengan marak tumbuhnya rumah-rumah pelacuran dan perjudian disini.”tambahnya.
"Desa Sekarjati menjadi incaran kami selanjutnya, itulah mengapa aku melakukan pengintaian disini kisanak, demi upaya membebaskan rakyat dari belenggu kezaliman.”tambahnya lagi.
“Lalu dari yang apa yang kulihat pada pertempuran tadi, kau memiliki kemampuan sebagai pendekar pilih tanding, dengan menghancurkan seratusan orang pasukan ditambah dua pendekar sakti sendirian. Terus terang aku berniat mengajakmu untuk bergabung dengan kami kisanak."ujar Joyodipuro.
"Nah, sekarang pertanyaannya, apakah kisanak mempunyai niat dan hasrat yang senada dengan kami, yaitu membebaskan rakyat tanah Jawa dari belenggu kezaliman?”tanya Joyodipuro kemudian.
Sambil tersenyum kecut Danang memotong, “Tidak kisanak, pendekar terakhir itu kaulah yang menghabisinya, bukan aku.”jawabnya.
“Tapi itu setelah ia melarikan diri melihat sepak terjangmu yang ngedan-edani kisanak. Saat kami beradu pukulan pun ia dalam keadaan kehilangan kewaspadaan akibat ketakutannya ketika melihatmu datang, sehingga perhatiannya terpecah.”ujar Joyodipuro sambil tertawa.
Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya Danang menjawab, “Sesungguhnya aku pun merasa prihatin dengan keadaan ini kisanak."ujar Danang.
"Berupaya menjaga keseimbangan di tanah Jawa juga merupakan salah satu tugas yang kuemban dari Kanjeng Romo. Lantas apa yang akan kita lakukan jika seandainya aku memilih untuk bergabung bersama kalian kisanak?”tanya Danang.
__ADS_1
“Sebaiknya kita serang kediaman kepala desa pada saat fajar menjelang. Menurut perhitunganku, saat ini mereka sedang dalam keadaan lemah setelah sebagian pasukan dan dua orang pendekar andalannya tewas. Bagaimana menurutmu kisanak?”ucap Joyodipuro.
“Aku setuju kisanak, sebetulnya kemarin pun aku berhadapan dengan dua orang pendekar bayaran kepala desa selain mereka tak berapa jauh dari sini.”ucap Danang.
“Dan kuduga kau pasti berhasil mengalahkan mereka kisanak. Betulkah?”tanya Joyodipuro kemudian yang dijawab dengan anggukan oleh Danang.
“Berarti ini saat yang tepat. Menurut pengintaianku, pihak desa Sekarjati memiliki lima orang pendekar bayaran ditambah sekitar tiga ratusan orang pasukan."
"Dengan sepak terjangmu, saat ini hanya ada paling banyak satu orang pendekar bayaran, ditambah dua ratusan pasukan dan kepala desa itu sendiri.”ucap Joyodipuro yang tidak mengetahui bahwa sesungguhnya satu orang lagi pendekar bayaran desa Sekarjati, yaitu Ni Luh Gandamayit telah tewas oleh ilmu sihirnya sendiri yang telah berbalik memangsanya.
“Baiklah kisanak, aku setuju. Sebaiknya kita manfaatkan waktu yang masih tersisa beberapa penanakan nasi untuk beristirahat. Setelah menunaikan kewajiban pada saat fajar nanti kita berdua bergerak ke kediaman kepala desa Sekarjati.”usul Danang.
“Aku setuju kisanak.”ucap Joyodipuro.
Lantas mereka beristirahat sambil terlibat percakapan mengenai asal-usul dan apa yang menjadi kegiatan keseharian mereka sambil sesekali bersenda gurau dan menyantap ubi rebus yang dibawa oleh Joyodipuro.
Hanya dalam waktu tak berapa lama telah terjalin keakraban antara keduanya karena merasa saling merasa cocok dengan sifat satu sama lain.
Danang merasa cocok dengan sifat Joyodipuro yang terus terang dan tanpa tedeng aling-aling, sedangkan Joyodipuro merasa cocok dan kagum dengan sifat Danang yang sopan dan memiliki ilmu kanuragan sebagai pendekar pilih tanding pada usia yang masih sangat muda.
“Kulihat kau masih sangat muda tetapi memiliki kemampuan kanuragan yang sangat baik kisanak. Sebenarnya berapa usiamu saat ini kisanak?”tanya Joyodipuro pada Danang.
“Usiaku saat ini menginjak tujuh belas tahun kisanak.”jawab Danang.
“Berarti usiamu tidak terpaut jauh dariku yang menginjak dua puluh tahun. Hahahaha...sungguh mengagumkan.”ujar Joyodipuro sambil tertawa.
“Sebaiknya aku memanggilmu kakang, mengingat usia kita tidak terpaut jauh, dan ternyata kita memiliki arah dan tujuan yang sama kakang.”ujar Danang.
“Aku setuju dimas. Nah, itu kulihat lintang biduk telah menampakkan dirinya di utara. Waktu bagi kita untuk menunaikan kewajiban telah tiba dimas.”ujar Joyodipuro sambil menunjuk kearah utara langit.
“Monggo kakang.”jawab Danang, lalu keduanya beranjak bergerak mendekati pancuran air, dan kemudian menunaikan kewajiban pada Sang Pencipta.
Setelah selesai menunaikan kewajiban, Joyodipuro membuka percakapan, “Bagaimana dimas? Kita bergerak?”ucapnya.
__ADS_1
“Baik kakang, mari kita bergerak bersama.”jawab Danang.
Lalu keduanya bergerak menuju kearah kediaman kepala desa Sekarjati bersama...