
Kemudian mereka berdua beranjak bergegas pergi menemui Pangeran Mangkubumi untuk melaporkan perkembangan terakhir menjelang keberangkatan Danang untuk menjalankan tugasnya.
Beberapa pasang mata tertuju pada sepasang pendekar tersebut dengan isi kepala dan hati yang beragam.
Kedekatan antara Danang dan Sekar Kinasih memang telah menjadi buah bibir di kalangan prajurit, baik dikalangan prajurit estri maupun di kalangan prajurit lainnya, terutama sejak Nyai Arum dan Sekar Kinasih diberikan tugas untuk melatih olah jemparingan pada satuan prajurit patang puluhan.
Ada yang mensyukuri dan senang dengan kedekatan keduanya, bahkan menilai pasangan tersebut sangat serasi bagaikan Batara Kamajaya dan Dewi Kamaratih yang tampan dan cantik, atau menjuluki mereka sebagai pasangan ksatria yang serasi layaknya Arjuna dan Srikandi.
Namun ada juga beberapa dari mereka yang iri dan cemburu, karena diam-diam banyak dari kalangan prajurit pria memimpikan dan berusaha untuk memiliki Sekar Kinasih yang cantik, bertubuh tinggi sintal dan berkepribadian halus walaupun memiliki tataran ilmu kanuragan yang cukup tinggi, dan beberapa dari prajurit estri yang ternyata juga diam-diam mengagumi dan menaruh perasaan pada Danang Hadikusumo, pemuda sopan, tampan dan gagah serta memiliki kepandaian tinggi yang dalam kurun waktu singkat mampu meraih dan menjadi orang kepercayaan Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said.
Menghadap Pangeran Mangkubumi yang saat itu sedang bersama dengan Raden Mas Said dan Raden Mertowijoyo, Danang dan Sekar Kinasih menghaturkan sembah bektinya.
“Nyuwun pangapunten Gusti Pangeran, hamba menghadap untuk melaporkan perkembangan terakhir dari satuan prajurit patang puluhan.”ucap Danang pada Pangeran Mangkubumi.
“Monggo nakmas, apa gerangan yang hendak nakmas laporkan?”jawab Pangeran Mangkubumi.
“Hampir keseluruhan prajurit patang puluhan telah berangkat untuk melakukan kegiatan telik sandi ke daerah Banyumas, Demak, Semarang, Grobogan, dan Jepara Gusti Pangeran. Hamba beserta tiga orang prajurit patang puluhan lainnya akan berangkat esok setelah fajar menyingsing untuk melakukan kegiatan telik sandi di daerah Pati.”ucap Danang.
“Maka dengan ini hamba selain melaporkan perkembangan terakhir, juga kedatangan hamba kesini untuk meminta restu dari Gusti Pangeran, Raden Mas Said, dan paman Mertowijoyo.”ucap Danang pada mereka bertiga.
“Berangkatlah nakmas, lakukan tugasmu sebaik mungkin. Semoga nakmas selalu diberikan kesehatan dan keselamatan oleh Gusti Allah Yang Maha Kuasa.”ujar Pangeran Mangkubumi.
__ADS_1
“Nanti tolong nakmas awasi perkembangan di daerah Banyumas, aku mendapat kabar dari para telik sandi bahwa Paman Yudonegoro yang juga adalah romo dari Mertowijoyo akan disingkirkan oleh pihak keraton dan VOC, karena sejatinya paman Yudonegoro dianggap sebagai pendukung perjuangan kita.”tambah Pangeran Mangkubumi.
“Jika penyingkiran terhadap paman Yudonegoro itu berupa rencana pembunuhan atau pengasingan, tolong selamatkan paman Yudonegoro sebelum rencana itu terlaksana.”lanjutnya lagi.
“Sendiko dawuh Gusti Pangeran, hamba akan mengirimkan kabar pada kakang Mahesa Geni yang bertugas di wilayah Kadipaten Banyumas untuk memastikan titah Gusti Pangeran terlaksana. Hamba mohon diri Gusti Pangeran.”ucap Danang yang lalu beringsut mundur untuk segera kembali ke tenda satuan prajurit patang puluhan.
Diluar kediaman Pangeran Mangkubumi, kedua sejoli tersebut bertatapan tanpa mampu berkata-kata hingga beberapa saat, seolah tatapan mata mereka telah berbicara mewakili perasaan mereka berdua, hingga akhirnya Danang membuka pembicaraan dengan suara yang agak parau, “Baiklah diajeng, aku harus kembali ke tenda barak satuanku untuk bersiap-siap untuk keberangkatan esok pagi. Aku akan mengunjungimu esok pagi sebelum keberangkatan.”ucap Danang seraya memandang lurus kearah bola mata Sekar Kinasih yang indah tersebut.
“Baiklah kakang, beristirahatlah yang cukup agar esok pagi kakang berada dalam keadaan bugar. Kakang tidak usah mengunjungiku esok pagi, biar aku yang akan datang dan mengantar kakang, sekalian mengantarkan bekal makanan untuk kakang bawa esok pagi.”ujar Sekar Kinasih yang kemudian tertunduk karena mencoba menyambunyikan perasaannya yang tidak karuan.
Setelah beberapa saat lagi saling terdiam dan saling memandang, akhirnya mereka berdua berpisah untuk kembali ke barak masing-masing dengan saling meneguhkan hati mereka berdua, karena menyadari bahwa tugas yang mereka emban adalah merupakan amanat yang harus dijalankan.
Malam harinya, Danang dan Sekar Kinasih mengalami kesulitan untuk tidur. Perasaan aneh berkecamuk diantara keduanya.
Sementara di tempat lain, hal yang sama dialami oleh Sekar Kinasih. Perasaan aneh yang baru pertama kali dirasakan olehnya.
Namun ia memiliki harapan dan keyakinan dalam hatinya pada janji yang telah diucapkan oleh pemuda impiannya tersebut, bahwa kelak sang pemuda gagah itu akan datang untuk menjemputnya.
Esoknya setelah menunaikan kewajiban menghadap Sang Pencipta, Danang dan tiga orang prajuritnya yaitu Sasongko, Handoko, dan Sumitro mengemas perlengkapan mereka.
Sekar Kinasih telah berada disana untuk mengantar kepergian mereka seraya membawakan bekal berupa nasi timbel yang dikemas dalam buntalan. “Kakang, bawalah ini untuk bekal di perjalanan.”ujarnya sambil menyerahkan buntalan yang berisi nasi timbel tersebut.
__ADS_1
“Juga bawalah ini untuk membasuh peluhmu jika kakang merasa lelah.”ujar Sekar Kinasih lagi sambil menyerahkan sapu tangan batik yang dibuat olehnya.
“Terima kasih diajeng. Jagalah dirimu baik-baik selama aku pergi. Aku akan kembali untuk menjemputmu kelak.”ucap Danang sambil menggengga tangan gadis cantik tersebut.
“Jagalah diri kakang baik-baik, yang terpenting adalah kakang selamat tanpa kurang suatu apapun. Aku akan menantimu kakang.”bisik Sekar Kinasih pada pemuda gagah di hadapannya.
Kemudian rombongan terakhir prajurit patang puluhan bergegas menaiki kuda-kuda mereka dan berangkat bergiliran menuju Kadipaten Pati untuk melaksanakan kegiatan telik sandi disana.
Danang Hadikusumo mencoba menenangkan hatinya dan memusatkan pikirannya pada tugas yang diembannya dari Pangeran Mangkubumi.
Sebelum melaksanakan tugasnya, Danang berencana untuk singgah mengunjungi Kyai Ageng Banyu Urip, untuk mengetahui keadaan romo angkatnya tersebut, sekaligus untuk meminta restu dalam melaksanakan tugasnya.
Perjalanan yang mereka tempuh mengambil jalan agak memutar melewati Boyolali menyusuri lereng Gunung Merbabu, Alas Tunggangan Wonogiri, Karang Anyar menyusuri lereng Gunung Lawu dan Purwodadi dan menghindari jalan-jalan utama.
Setelah sepekan perjalanan perjalanan, akhirnya mereka tiba di kediaman Kyai Ageng Banyu Urip.
Dengan hati gembira Danang buru-buru melompat turun dari jaran tunggangannya diikuti oleh tiga orang prajuritnya dan bergegas memasuki pekarangan rumah yang telah ditinggalnya selama empat belas purnama. “Kanjeng romo, hamba tiba.”serunya senang.
Dari dalam rumah tampak sosok Kyai Ageng Banyu Urip yang terkejut dan senang melihat kedatangan anak angkatnya tersebut, “Engkau sudah pulang ngger? Mari masuklah, romo sudah sangat rindu padamu ngger.”ucap Kyai Ageng Banyu Urip tersenyum girang.
Setelah memperkenalkan tiga orang prajuritnya, Danang memceritakan peristiwa-peristiwa yang dialaminya semenjak ia meninggalkan kediaman kyai Ageng Banyu Urip, mulai dari kejadian di desa Sekarjati yang mengakibatkan Ki Ageng Gandrik tewas, pertemuan dengan Joyodipuro yang membawanya pada pasukan Pangeran Mangkubumi, pertemuannya dengan Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said, hingga pembentukan satuan prajurit patang puluhan dan tugas yang kini diembannya.
__ADS_1
Setelah para prajuritnya beristirahat, Danang melanjutkan percakapan dengan romo angkatnya tersebut, hingga akhirnya Kyai Ageng Banyu Urip membahas tentang amanat darinya untuk mencari keberadaan Bagas, kakangnya.
“Sesungguhnya aku mendapatkan petunjuk mengenai keberadaan kakangmu Bagas ngger...