
“Jika demikian adanya, maka hamba mohon diri. Hamba akan kembali menghadap tiga hari kedepan untuk melaporkan perkembangan selanjutnya pada kanjeng adipati.”ujar Danang sambil beringsut mundur setelah membungkuk hormat pada adipati Wirodiningrat.
Setibanya di kediaman Kyai Ageng Banyu Urip, Danang melepaskan beberapa ekor burung dara pembawa pesan yang dikirimkannya ke pasukan telik sandi di wilayah Purwodadi, Karang Anyar, Wonogiri, Boyolali, untuk kemudian diteruskan ke desa Banaran pada Pangeran Mangkubumi.
Pesan yang ditulis dalam bahasa sandi tersebut berisikan tentang kesediaan adipati Wirodiningrat untuk bergabung dengan perjuangan Pangeran Mangkubumi dan rencana penyerangan ke desa Sekarjati yang akan berlangsung dalam sepekan ke depan.
Kegiatan lainnya dihabiskan untuk berlatih olah kanuragan dan bersemadhi, untuk memperkuat dirinya baik secara wadag maupun batin demi menghadapi pertempuran selanjutnya.
Ketika tiba saatnya, menjelang tengah malam Danang melesat mengerahkan ajian Bayu Bajra melewati gerbang desa Sekarjati menuju wilayah perkebunan warga untuk bertemu dengan prajurit-prajuritnya.
Kecepatannya yang laksana angin, ditambah dengan mengenakan pakaian serba hitam membuatnya tidak terlihat oleh para prajurit yang berjaga.
Setibanya di perkebunan warga, terlihat Sumitro dan Handoko telah menunggunya sambil menikmati ubi bakar. “Apa kabar kakang berdua? Mana kakang Sasongko, apakah tidak bersama dengan kalian?”ucap Danang memberi salam pada dua orang prajuritnya.
Sumitro dan Handoko terkejap sesaat karena mereka berdua sama sekali tidak menyadari kehadiran junjungannya yang tiba-tiba telah berada di belakan mereka, lalu buru-buru bersimpuh mengajukan sembah bekti mereka, “Singgih Gusti Pangeran, mohon maaf kami tidak menyadari kehadiran Gusti Pangeran.”ucap mereka berdua.
“Bangunlah kakang berdua. Nah, mana kakang Sasongko?”ujar pemuda tersebut.
“Kakang Sasongko menetap di barak prajurit desa Gusti. Kami melakukan ini agar tidak dicurigai oleh pihak desa Sekarjati. Terlalu menarik perhatian jika tiga orang prajurit keluar dalam waktu yang bersamaan.”ujar Sumitro.
“Menurut kabar yang hamba sirap dari sesama prajurit, dalam tiga hari ke depan pihak VOC yang diwakili oleh kapitein William dan liutenant Schmit akan datang ke desa Sekarjati, biasanya mereka dikawal oleh satu atau dua peleton prajurit bersenjatakan bedil Gusti.”ucap Sumitro lagi.
“Baiklah, mari kita mulai. Rencana kita adalah membakar gudang persenjataan desa Sekarjati, terutama persenjataan bedil, menciptakan kepanikan sesaat sebelum penyerangan, yang akan dilakukan oleh kakang Sumitro.”ucap pemuda tersebut.
“Belilah arak dalam jumlah banyak untuk dibagikan pada prajurit-prajurit yang terdapat disana, termasuk peleton-peleton yang akan datang nanti dari Jepara, katakan saja kakang menang besar perjudian hingga berkeinginan berbagi dengan rekan-rekan sesama prajurit desa Sekarjati.”ujar Danang seraya memberikan kantong berisi keeping uang perak pada Handoko.
“Kemudian kita juga akan membuka regol desa untuk membantu pasukan kadipaten yang telah setuju untuk menyerang desa Sekarjati dalam beberapa hari kedepan, yang akan dilakukan olehku setelah melumpuhkan para penjaga.”lanjutnya.
“Setelah itu kakang sekalian akan meneriakkan kedatangan pasukan kadipaten yang kita lipat gandakan seolah-olah berjumlah empat ribu prajurit, sehingga diharapkan ini akan melemahkan semangat tempur lawan."lanjut pemuda itu lagi.
"Apalagi jika mereka dalam keadaan tidak siap karena pengaruh arak, maka akan semakin memudahkan penyerangan yang akan kita lakukan. Ketika pertempuran nanti berlangsung, lumpuhkan lurah prajurit mereka terlebih dulu, agar semakin menurunkan semangat tempur para prajurit. Apakah kakang berdua sudah mengerti?”tambah pemuda tersebut.
“Singgih Gusti Pangeran, kami mengerti.”ucap mereka berdua.
__ADS_1
“Nah, sekarang kembalilah ke barak prajurit. Sampaikanlah siasat ini pada kakang Sasongko secara diam-diam. Kita akan bertemu lagi dalam beberapa hari ke depan, tepat di waktu fajar disaat bulan purnama purna.”ucap pemuda tersebut lalu segera melesat menghilang ditengah kegelapan malam bagaikan hantu.
Kedua prajurit tersebut hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala karena takjub melihat kesaktian pemuda junjungan mereka yang melesat bagaikan menunggang angin hingga dalam sekejap mata telah meninggalkan tempat itu..
Keesokan harinya Danang kembali menemui adipati Wirodiningrat untuk melaporkan siasat dan perkembangan yang ada, termasuk kabar kedatangan dua peleton pasukan VOC dari Semarang.
Mendapati kabar tersebut, adipati Wirodiningrat tersenyum memuji kecerdikan siasat pemuda di hadapannya dan berjanji akan menurunkan dua ribu pasukannya dalam beberapa hari kedepan.
Tiga hari kemudian kapitein William dan liutenant Schmit tiba di desa Sekarjati dengan dikawal oleh dua peleton pasukan.
Mereka berdua segera memasuki kediaman kepala desa dengan hati senang karena membayangkan uang yang masuk melalui pembagian upeti dan hasil dari rumah pelacuran yang ada disana.
Ki Ageng Warso Jati menyambut mereka dengan hangat dan mempersilahkan mereka untuk masuk ke ruangan khusus yang memang dibangun untuk kedatangan mereka.
Ruangan itu dibangun mewah, lengkap dengan tempat tidur besar, karpet dan perhiasan guci yang mahal, serta telah disediakan arak mahal dan dua wanita untuk menghibur mereka.
“Hahahaha...kowe benar-benar mengerti dengan selera kami Ki Ageng.”ujar kapitein William melihat arak mahal dan wanita yang ada di ruangan itu.
“Monggo tuan-tuan bersenang-senang melepas lelah terlebih dahulu. Masalah pembagian hasil bisa kita bicarakan setelah tuan-tuan merasa senang.”ujar Ki Ageng Warso Jati.
“Baik tuan, hamba akan menemui tuan-tuan esok siang. Nah, sekarang silahkan tuan-tuan bersenang-senang.”ujar Ki Ageng Warso Jati seraya menutup pintu ruangan tersebut.
Rencana mulai dijalankan, selepas matahari terbenam, Handoko dan Sasongko tiba di barak prajurit dengan membawa bumbung-bumbung bambu berisikan arak dan makanan dalam jumlah yang sangat banyak yang diangkut dengan menggunakan kereta dan membagikannya pada seluruh prajurit.
“Wah, ada angin apa ini? Tumben kau membagikan kesenangan pada kami semua? Biasanya hanya keluh kesah yang kau bagikan.”ucap salah seorang prajurit yang disambut tawa oleh yang lainnya.
“Hahahaha...kakang bisa saja. Aku dan Handoko memenangkan sekantong kepeng perak dari perjudian. Lalu kami memutuskan untuk berbagi dan mengajak rekan-rekan semua untuk berpesta merayakan kemenangan kami.”ucap Sasongko yang disambut riuh oleh seluruh prajurit.
“Tapi sebaiknya jangan minum terlalu banyak teman-teman, nanti tidak ada yang berjaga disini.”ucap prajurit lainnya.
“Begini saja kakang, kita sisakan untuk rekan-rekan yang saat ini sedang giliran untuk menjaga gerbang desa dan melakukan ronda keliling.
"Lagipula para junjungan kita saat ini kelihatannya sedang berpesta, tak ada salahnya kita juga sedikit berpesta. Tentu saja tanpa mengurangi kewaspadaan."ujarnya lagi.
__ADS_1
"Pesta ini dilangsungkan demi kerukunan dan kesatuan kita sebagai prajurit desa Sekarjati.”ucap Handoko pada mereka.
“Setujuuu...”seru para prajurit peleton VOC dan desa Sekarjati lalu mengambil dan menikmati arak-arak yang disediakan.
Namun pada kenyataannya Sasongko dan Handoko berusaha mempengaruhi mereka dengan terus-menerus memberikan bumbung bambu yang berisikan arak untuk mereka minum.
Pesta berlangsung hingga lewat tengah malam. Para prajurit sibuk memium arak hingga melupakan kewaspadaan mereka.
Sementara itu Sasongko dan Handoko menyelinap keluar membawa empat buah bumbung berisikan arak untuk dibagikan pada prajurit yang sedang berjaga.
“Aaah...untung saja kami kebagian. Kami sudah khawatir tidak akan dapat menikmati pesta karena sudah kalian habiskan.”ujar salah seorang prajurit yang berjaga sambil tertawa senang.
“Tentu saja kami tidak akan melupakan rekan yang sedang berjaga. Satu senang maka semuanya harus ikut merasakan senang.”ujar Sasongko yang diamini oeh para prajurit yang berjaga tersebut.
Lalu mereka menenggak arak hingga menjelang fajar dan jatuh tertidur di gerbang desa.
Sementara itu Danang telah berada di dekat gerbang desa. Dengan mengendap-endap ia mendapati para prajurit yang berjaga sedang tertidur akibat pengaruh arak, hingga dengan mudah dilumpuhkan olehnya, lalu dibukanya regol desa tersebut.
Di lain sisi, Sumitro berjalan memasuki gedung penyimpanan senjata dan mulai menyiram ruangan itu dengan minyak dan menyalakan api untuk membakar gudang penyimpanan senjata tersebut.
Tak lama kemudian pasukan kadipaten yang berjumlah dua ribu pasukan telah tiba di tempat itu. “Bagaimana persiapannya kisanak? Apakah semua sesuai dengan rencana kita?”tanya adipati Wirodiningrat yang turun langsung memimpin pasukannya.
“Semua berjalan sesuai rencana kanjeng adipati, kita tinggal menunggu isyarat berupa ledakan dari gudang penyimpanan senjata, lalu kita bergerak menyerang.”jawab Danang seraya melompat menaiki kudanya.
“Baiklah, pasukan...pasang gelar Garuda Nglayang !”seru adipati Wirodiningrat yang segera diikuti oleh pasukannya.
Tata gelar perang Garuda Nglayang biasanya dipilih oleh pemimpin pasukan jika ia merasa sangat yakin dapat melumpuhkan lawannya dalam waktu singkat.
Tata gelar ini mengacu pada gerak garuda yang mengintai mangsanya, lalu dengan kecepatan tinggi menggempur habis mangsa yang ada di hadapannya.
Tak lama kemudian ketika matahari mulai menampakkan semburat merah di langit timur, terdengar suara ledakan keras dari gedung kediaman kepala desa Sekarjati.
Boooomm.....
__ADS_1
“Pasukan, ikuti aku...seraaaangg!”seru adipati Wirodiningrat yang diikuti oleh para pasukannya bergerak maju menggempur desa Sekarjati...