Kitab Manunggaling Semesta Jagad

Kitab Manunggaling Semesta Jagad
BAB 32, PEMAHAMAN MENGENAI CIPTA


__ADS_3

“Hanya itu kemampuanmu nakmas? Sudah kubilang, kerahkan segenap kemampuanmu, atau kau akan celaka.”ucap Pangeran Mangkubumi seraya kembali berkelebat menyerang dengan pukulan beruntun yang mengeluarkan kesiuran angin, menandakan serangannya barusan tidak main-main dan dilambari oleh tenaga dalam tinggi.


Mau tidak mau Danang terpaksa mengempos tenaga dalamnya untuk mengimbangi serangan yang dilakukan oleh Pangeran Mangkubumi. Gerak jurus banteng dan langkah Gagak Rimang dikerahkannya untuk membendung setiap serangan yang datang.


Dalam satu kesempatan pemuda gagah tersebut berhasil menangkis dan menyerang balik dengan pukulan yang mengarah dada Pangeran Mangkubumi, namun lagi-lagi Danang dibuat terkejut karena pukulannya seperti membentur dinding kokoh yang berjarak sejengkal dari sasarannya.


Dhesss...serangan balik pemuda itu tertahan dan menjadi mentah seketika. Terlihat wajah Pangeran Mangkubumi tersenyum namun tetap dengan tatapan yang tajam seraya berkata, “Terkejut? Inilah ajian Lembu Sekilan milikku, sudah kukatakan agar kau mengerahkan segenap kemampuanmu, atau hasilnya akan tetap seperti ini. Seranganmu tidak akan mampu menembusku.”ujar Pangeran Mangkubumi lalu kembali menyerang pemuda tersebut.


Tak ayal, Danang kembali terpaksa mengempos tenaga dalamnya hingga batas kemampuannya demi meladeni serangan-serang yang datang.


Beberapa kali ia terpaksa terjajar mundur terkena pukulan yang membuatnya sesak bukan main, laksana dihantam batu besar, untung saja kotang Kyai Nogo Bumi mampu melindunginya dari luka dalam.


Hingga akhirnya Danang merapal ajian Tameng Waja untuk menambah perlindungan bagii dirinya, “Ajian Tameng Waja...”desisnya.


Kembali beberapa kali pukulan dari Pangeran Mangkubumi mendarat di tubuhnya, namun kali ini berbeda, pukulan-pukulan tersebut bagaikan membantur dinding baja yang keras dan kokoh.


Pangeran Mangkubumi sedikit terkesiap mendapati pukulannya mentah serasa berhadapan dengan dinding baj yang kokoh. “Hmmm...hebat...ajian Tameng Waja rupanya...”batin Pangeran Mangkubumi.


Tak terasa, telah lebih dari dua ratus jurus mereka saling serang, tangkis, dan elak. Sebelumnya beberapa kali Danang terjajar mundur oleh serangan yang dilakukan lawannya tanpa mampu mendesak Pangeran Mangkubumi sama sekali, namun setelah mengerahkan ajian Tameng Waja yang melindungi tubuhnya, kedudukan kembali menjadi seimbang tanpa ada yang berhasil mendesak lawannya satu sama lain.


Setelah kembali puluhan jurus tersaji, Pangeran Mangkubumi kelihatannya meningkatkan lagi tahap serangannya pada pemuda di hadapannya itu.


Kecepatan dan kekuatannya meningkat drastis, pertahanannya sangat kokoh, serangannya penuh beragam gerak tipu dan seolah datang dari segala penjuru.

__ADS_1


Danang yang kelimpungan segera merapal ajian Bayu Bajra untuk mengimbangi kecepatan serangan yang dilancarkan terhadapnya. Kini tubuhnya berkelebat sangat cepat bagaikan mengendarai angin disertai deru dan tekanan angin yang dahsyat. Kedua sosok tersebut kembali terlibat saling serang dengan kecepatan diluar kemampuan mata manusia biasa, sehingga tampak hanya kelebatan-kelebatan bayangan melesat kesana-kesini.


“Luar biasa, kecepatanku yang telah mengerahkan ajian Bayu Bajra pun mampu diimbangi oleh Gusti Pangeran Mangkubumi, bahkan pola gerakanya membuatku pusing. Seolah-olah tubuhnya mampu berada di setiap sudut untuk melancarkan serangan dari segala arah tanpa ada gerak yang tidak perlu.”batin Danang sambil terus menghindar dan menangkis tanpa mampu membalas menyerang sama sekali.


Pertarungan masih berlangsung hingga seratusan jurus. Danang kini hanya mampu berkelebat menghindar dan menangkis tiap serangan dengan sangat tipis tanpa mampu melancarkan serangan, bahkan beberapa kali dirinya kembali terjajar mundur akibat serangan-serangan yang mengenai tubuhnya, hingga membuatnya terpaksa beberapa kali berjumpalitan untuk menghindar.


Sempat terpikir olehnya untuk mengerahkan ajian Sukma Darpala agar mendapatkan celah dalam mengatasi serangan yang dilancarkan, namun tiba-tiba seolah dirinya mendapatkan ilham pencerahan setelah bertarung ratusan jurus dengan sosok digdaya tersebut.


“Kokoh seperti bumi, mengalir seperti air, cepat seperti angin, menyebar seperti cahaya, membakar seperti api...”batin Danang setelah sekian lama hanya mampu bertahan dan mengamati pola serangan yang dilancarkan Pangeran Mangkubumi padanya.


Sontak setelah mendapatkan pencerahan, ia mengubah pola pertahanan dan serangannya, masih dengan jurus-jurus lamanya, namun kali ini dengan pemahaman baru dan berbeda yang diperolehnya melalui pertarungan tersebut.


Sedikit demi sedikit akhirnya ia mampu mengejutkan lawannya dan mampu kembali menyerang balik dangan cara yang berbeda, hingga pertempuran kembali imbang, saling serang, saling tangkis, dan saling elak hingga lebih dari seratus jurus.


Setelah mengerti, Danang ekhirnya memutuskan untuk melompat bersalto ke belakang sepuluh tombak seraya berseru, “Kasinggihan Gusti, hamba rasanya mulai mengerti.”sambil menghaturkan sembah bektinya.


Pangeran Mangkubumi menghentikan serangannya lalu tersenyum, “Kau sudah mengerti nakmas?”tanya Pangeran Mangkubumi kemudian.


“Sedikit banyak hamba mulai paham Gusti. Pada mulanya terus terang hamba terkejut dan bingung, namun lama kelamaan setelah memperhatikan rasanya hamba mulai mengerti Gusti.”ucap Danang seraya menghaturkan sembah bektinya.


“Baiklah, coba kau terangkan apa yang telah kau dapat dari pertarungan ini?”tanya Pangeran Mangkubumi.


“Kokoh seperti bumi, mengalir seperti air, cepat seperti angin, menyebar seperti cahaya, membakar seperti api.”jawab Danang.

__ADS_1


“Bagus, kau telah mencapai tahap pemahaman cipta nakmas. Lanjutkanlah, setelah ini kuharap kau akan mampu mencapai pemahaman tahap rasa, karsa, dan pada akhirnya mencapai tahap karya.”ucap Pangeran Mangkubumi.


“Cipta adalah pemahaman yang diperolah melalui pemikiran kita nakmas, namun itu belum lagi cukup, setelah itu kau harus mengasah rasa, lalu dengan rasa kau akan mendapatkan karsa, yang pada akhirnya akan berbuah menjadi karya.”lanjutnya.


“Kuakui tingkatan tenaga dalam mu telah mencapai tingkat yang sulit untuk dicari tandingannya. Namun kulihat gerakanmu masih sangat lurus, polos, dan mudah untuk ditebak, karena pemahamanmu kulihat baru mencapai tahap gerak."ujar Pangeran Mangkubumi.


"Untung saja karena kau menguasai tingkat tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi sehingga kau berhasil mengalahkan lawan-lawanmu selama ini.”ujarnya lagi.


“Nah, setelah kau mendapat pemahaman melalui pertarungan tadi, saranku asahlah rasa yang disertai karsa nakmas."lanjut Pangeran Mangkubumi.


"Ketahuilah, ilmu kanuragan bukanlah hanya sekedar hapalan mengenai gerak dan memiliki banyak jurus, tetapi sejatinya adalah pengungkapan rasa syukur diri pada Sang Pencipta, serta menuju kearah penyatuan diri dengan jagad semesta."ucap Pangeran Mangkubumi pada pemuda gagah di hadapannya.


"Untuk itu dibutuhkan pemahaman rasa yang disertai karsa, yang pada akhirnya nanti akan menghasilkan karya. Begitu juga dengan bidang lainnya.”terang Pangeran Mangkubumi.


“Bisa saja orang yang baru mencapai tingkat pemahamani gerak dan cipta menghasilkan sebuah karya, namun karya yang dihasilkan tidak akan mencapai puncaknya jika tidak disertai pemahaman rasa dan karsa. Semakin baik pemahaman tentang cipta, rasa, dan karsa, akan menghasilkan karya yang semakin baik.”lanjutnya.


“Kasinggihan Gusti, hamba sangat berterima kasih atas petunjuk yang Gusti Pangeran berikan pada hamba.”ucap Danang.


“Nah, mari sekarang kita kembali. Kau temui Mertowijoyo setelah ini untuk diperkenalkan dengan bakal calon satuan pasukan patang puluhan yang akan kau latih dan pimpin nantinya."ujar Pangeran Mangkubumi.


"Sesungguhnya aku melihat bakat besar pada dirimu dalam bidang kepemimpinan, keprajuritan, dan kanuragan. Selebihnya tinggal tergantung pada takdir Yang Maha Kuasa dan kemauanmu nakmas.”tambah Pangeran Mangkubumi.


“Singgih sendiko dawuh Gusti. Hamba akan meresapi dan berusaha menjalankan sesuai petunjuk dari Gusti Pangeran.”ujar Danang.

__ADS_1


Prok..prok..prok...Lalu tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan dari seseorang yang berada tak jauh dari situ...


__ADS_2