Kitab Manunggaling Semesta Jagad

Kitab Manunggaling Semesta Jagad
BAB 56, PEMBENAHAN DESA SEKARJATI


__ADS_3

Danang membuka matanya dan mendapati dirinya sedang terbaring dan berada di dalam suatu ruangan yang cukup besar dan megah.


Tubuhnya terasa sakit dan sulit untuk digerakkan. “Dimana ini?”pikirnya sambil mencoba bangkit, namun tubuhnya tertahan oleh satu suara, “Jangan memaksakan diri Gusti Pangeran, sebaiknya Gusti Pangeran jangan banyak bergerak dan memulihkan diri terlebih dulu.”ujar suara tersebut yang ternyata adalah milik Handoko yang duduk disamping menunggui junjungannya di ruangan tersebut.


“Kakang Handoko? Dimana aku berada saat ini?”tanya Danang pada prajuritnya tersebut.


“Gusti Pangeran sedang dirawat dan berada dalam ruangan milik bekas kepala desa Sekarjati."ujarnya.


"Kanjeng Adipati Wirodiningrat memanggil tabib kadipaten untuk bertindak merawat Gusti Pangeran secara khusus."lanjutnya.


"Mungkin sebentar lagi kanjeng adipati Wirodiningrat dan tabib akan datang.”jawab Handoko.


Danang terdiam dan kembali menghempaskan dirinya berbaring di dipan.


Pikirannya kembali mengawang-awang mengingat pertarungannya dengan sosok sakti mandraguna dari tanah dewata, Komang Wisesa.


Diakuinya bahwa lawan yang terakhir dihadapinya itu sangat kuat hingga hampir saja ia menderita kekalahan, bahkan mungkin terbunuh jika saja di saat-saat akhir ia tidak menemukan ketenangan dan terlepas kendali.


Ketenangan dan pemusatan pikirannya saat pertarungan itu telah membangkitkan satu tahap lagi dalam ilmu kanuragannya, yaitu rasa.

__ADS_1


Setelah sebelumnya ia mencapai pencerahan mengenai tahap cipta ketika bertarung tanding dengan Pangeran Mangkubumi, kini ilmu kanuragannya naik satu tataran lagi memasuki awal tahap rasa.


“Sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri kakang?”tanya pemuda tersebut pada Handoko yang menungguinya.


“Tiga hari sudah Gusti Pangeran terbaring dan tidak sadarkan diri. Ketika Gusti Pangeran memenangkan pertarungan dengan sosok rangda yang sakti itu, Gusti Pangeran terjatuh dan pingsan, lalu hamba dengan kakang Sasongko dan Sumitro membawa Gusti Pangeran kedalam bekas kediaman kepala desa Sekarjati dan merawat Gusti Pangeran.”ujarnya.


“Kanjeng adipati Wirodiningrat dengan sigap segera mengirim beberapa orang untuk menjemput tabib terbaik di kadipaten untuk dibawa kesini dan merawat Gusti Pangeran.”tambahnya.


Tak berapa lama kemudian, terdengar suara pintu berderit terbuka. Tampaklah sosok adipati Wirodiningrat dan seorang yang terlihat cukup tua memasuki ruangan tersebut.


“Rupanya kisanak telah siuman, bagaimana keadaanmu kisanak?”ujar adipati Wirodiningrat yang segera duduk di samping pembaringan.


“Hamba dalam keadaan baik-baik saja kanjeng adipati.”ujar Danang yang memaksakan dirinya untuk bangkit, namun segera dicegah oleh sosok tua yang ternyata adalah tabib kadipaten yang dijemput secara khusus oleh pasukan adipat Wirodiningrat.


Setelah memeriksa beberapa saat, tabib itu berkata, “Bersyukurlah pada Gusti Yang Maha Pengasih yang telah menganugerahkan tubuh yang istimewa pada raden. Tubuh Raden telah mengalami keletihan yang amat sangat dan kehabisan daya akibat raden terlalu memaksakan penggunaan cakra di dalam tubuh.”ucapnya.


“Pada orang yang memiliki tubuh biasa, kemungkinan orang itu akan mengalami cacat dan tidak lagi dapat menggunakan tenaga dalamnya, namun menurut pengamatanku, saat ini ketujuh cakra di dalam tubuh raden justru telah mengalami perkembangan.”tambahnya.


“Sisi baiknya, akibat pembesaran ketujuh cakra dalam tubuh, maka raden akan bisa meningkatkan tenaga linuwih raden, namun sisi buruknya raden tidak diperbolehkan berlatih kanuragan setidaknya dalam waktu beberapa pekan ke depan, agar tidak membebani cakra yang ada di dalam tubuh raden.”lanjut tabib itu.

__ADS_1


“Jika sudah pulih, latihan kanuragan juga harus dilakukan secara perlahan-lahan untuk memperbesar aliran dalam pembuluh darah. Ketergesa-gesaan akan dapat mengakibatkan pembuluh darah di tubuh raden pecah.”ujar tabib itu lagi.


“Sementara itu aku telah membuatkan makanan yang diharapkan bisa mengembalikan keadaan tubuh raden dengan cepat serta beberapa rimpang yang nantinya digunakan sebagai obat untuk pemulihan tubuh raden.”ujar tabib itu sambil menyerahkan mangkok berisi bubur yang dicampur dengan tiga buah telur ayam kampung, madu, dan rempah-rempah.


Danang yang memang merasa sangat lapar dengan cepat mengambil mangkok dan menghabiskan bubur tersebut seraya bertanya pada Handoko, “Bagaimana dengan keadaan saat ini kakang?”ujarnya.


“Kakang Sasongko dan Sumitro sedang melatih seribu pasukan kadipaten serta dua ratus lima puluh bekas prajurit desa Sekarjati yang menyerah dan memilih kembali dari pelarian dan mengabdikan diri pada perjuangan kita Gusti Pangeran.”jawab Handoko.


“Berarti ada lebih dari seribu dua ratus pasukan di desa Sekarjati saat ini? Banyak sekali?”ujar Danang heran.


“Seribu pasukan kuperintahkan kembali ke kadipaten, dan seribu lainnya menetap disini, untuk berjaga-jaga dari satangnya serangan susulan kisanak. Tidak terdapat korban jiwa dari pasukan kita pada pertempuran yang lalu. Hanya ada dua puluh pasukan terluka ringan dan sepuluh prajurit mengalami luka yang agak berat, namun semuanya telah ditangani dengan baik oleh tabib Husodo.”ujar adipati Wirodiningrat menambahkan seraya melirik pada sosok tua yang sedang meracik obat.


“Semua itu berkat kepiawaian siasat dan ketangguhan nakmas serta prajurit nakmas dalam mengalahkan lima ratus musuh dan para pemimpin mereka.”tambah adipati Wirodiningrat.


Setelah berbincang-bincang beberapa saat, akhirnya adipati Wirodiningrat mohon diri untuk kembali ke kota kadipaten untuk menyambut pasukan Pangeran Mangkubumi yang menurut perkiraannya akan tiba dalam beberapa hari ke depan, serta menyerahkan kepengurusan desa Sekarjati pada pemuda yang terbaring di hadapannya.


“Sebaiknya kisanaklah yang memimpin desa ini ke depan, apalagi kudengar bahwa orang tua kisanak jugalah yang menjadi kepala desa di Sekarjati beberapa tahun silam.”ujar adipati Wirodiningrat.


“Nyuwun pangapunten kanjeng adipati, bukan hamba menolak berkah dari kanjeng adipati. Namun hamba memiliki amanat dan tugas sebagai seorang prajurit Gusti Pangeran Mangkubumi untuk memperjuangkan kedaulatan tanah Jawa. Kelihatannya masih akan terjadi beberapa pertempuran lagi dalam beberapa waktu ke depan. Sebaiknya kanjeng adipati menitahkan tugas sebagai kepala desa Sekarjati pada orang lain yang bisa kanjeng adipati percaya.”tolak pemuda tersebut dengan halus.

__ADS_1


“Baiklah jika demikian adanya kisanak, nanti akan kupikirkan lebih lanjut mengenai siapa yang akan kuserahi amanat untuk membenahi dan memimpin desa ini, namun aku berharap suatu saat nanti kisanak berkenan dan bersedia untuk memikul tanggung jawab sebagai kepala desa Sekarjati ini.”ujar adipati Wirodiningrat.


“Aku juga telah memerintahkan pada tabib Husodo akan tinggal dan mengobati kisanak sampai kisanak pulih seperti sedia kala. Nah, sekarang aku akan mohon diri kisanak.”ujar adipati Wirodiningrat seraya beringsut keluar dari ruangan tersebut...


__ADS_2