
Kecupan wanita berambut pirang tersebut bergerak kearah pipi seraya tangannya mengelus dan membelai wajah pemuda tampan yang tengah mengalami kebingungan dan terseret oleh perangkap yang ditabur oleh wanita itu lewat obat perangsang yang dibubuhkan pada kopi yang diminum oleh Danang.
Hawa panas bergerak menjalar ke seluruh tubuh pemuda gagah tersebut akibat pengaruh obat perangsang dan cumbuan yang dilakukan wanita berambut pirang yang memang memiliki wajah cantik dan tubuh tinggi semampai nan indah.
Bibir wanita cantik berambut pirang dan berkulit putih pucat itu semakin mendekat dan hanya berjarak sangat dekat dengan bibir pemuda gagah di sampingnya, namun ditengah bergejolaknya nafsu dan hasrat, perlahan hawa dingin yang berasal dari jari manis pemuda gagah yang mengenakan pusaka cincin Kyai Nogo Langit bergerak merasuk memudarkan hawa panas di tubuh pemuda tersebut dan membuka kesadaran Danang yang sempat berangsur tenggelam akibat cumbuan dan pengaruh obat perangsang.
Ketika sesaat lagi kedua bibir tersebut hamper bertemu, kejap itu pula kesadaran menyentak dan mencapai puncaknya kembali.
Danang memalingkan wajahnya dari wanita tersebut dan menghembuskan nafasnya untuk mengeluarkan racun yang berasal dari obat perangsang yang disisipkan oleh wanita tersebut.
“Hentikan Esther, tindakanmu sungguh tidak patut dan menyalahi aturan.”ujar Danang dengan agak keras.
Terkejut wanita itu mendapati bahwa pemuda di sampingnya mampu bertahan dari pengaruh obat perangsang, dan bahkan menolak ajakannya untuk bercumbu.
__ADS_1
Harga dirinya seketika runtuh ketika mengalami penolakan. Selama ini tidak pernah ada seorang pun lelaki yang mampu menolak pesona dan kecantikannya, dan saat ini seorang pemuda yang bahkan diyakininya tidak berpengalaman dengan wanita telah menolaknya dengan tegas.
Setelah terdiam beberapa saat akhirnya wanita cantik itu berkata, “Apakah aku tidak menarik hatimu knappe jong man? Jujur saja, selama ini seluruh laki-laki yang kukenal begitu menggilai dan menginginkan kecantikan dan keindahan tubuhku. Baru engkaulah laki-laki yang menolakku.”ujarnya dengan mimik wajah yang terheran-heran.
“Tidak, bukan begitu. Jujur saja aku juga sama seperti laki-laki lainnya yang mengagumi kecantikan dan keindahan tubuhmu yang berbeda dengan wanita-wanita di tanah Jawa ini. Namun agama dan adat budayaku tidak mengajarkan hal yang demikian merendahkan wanita seperti itu.”ujar Danang sambil beringsut menjauh kesamping.
“Sebaiknya aku mohon diri dan pergi dari sini Esther. Terima kasih atas keramah tamahanmu.”lanjut pemuda tersebut sambil beranjak dari duduknya dan bersiap untuk pergi.
“Tunggu ! Bawalah aku pergi bersamamu. Aku sudah muak dan tidak tahan dengan semua ini.”seru wanita berambut pirang tersebut.
“Baiklah, akan kubeberkan keadaan yang sesungguhnya padamu. Aku bukanlah seperti yang kau sangka. Aku bukan istri ataupun kekasih majoor Dedric Van Osch, melainkan hanyalah sebagai pemuas nafsunya belaka, sebagai pembayaran hutang-hutang keluargaku padanya.”ucap Esther dengan wajah yang memerah.
Danang yang terkesiap berdiri mematung sambil memperhatikan wanita berambut pirang tersebut dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
“Teruskan, aku ingin mendengar kelanjutan ceritamu, namun jika kurasa tidak masuk akal maka aku akan meninggalkan tempat ini.”ujar pemuda tersebut.
“Majoor Dedric Van Osch terlahir dari keluarga kaya raya di negeriku, sedangkan aku berasal dari keluarga biasa. Pekerjaan keluargaku adalah petani di negeriku. Beberapa tahun yang lalu merupakan masa yang sulit bagi keluarga kami. Musim dingin datang lebih cepat sehingga membuat perkebunan kami rusak parah, sehingga ditengah kesulitan itu keluarga Van Osch datang dan berbaik hati mengulurkan bantuan pinjaman uang dalam jumlah besar pada kami.”ujarnya.
“Setahun kemudian mereka datang untuk menagih hutang, yang ternyata dengan liciknya disertai bunga dalam jumlah besar yang tidak mampu kami lunasi. Lalu dengan angkuhnya mereka menyita sejumlah barang dan rumah yang kami tinggali.”lanjut wanita tersebut.
“Aku lantas memohon pada mereka agar berbelas kasihan pada kami dengan tidak mengambil rumah yang kami tinggali. Dan mereka akhirnya menyetujui, dengan syarat aku dijadikan jaminan, atau budak bagi majoor Dedric Van Osch selama sepuluh tahun, sebagai ganti atas pembayaran hutang keluarga kami.”ujar Esther sambil mulai terisak menahan tangisnya.
“Lantas apa yang bisa kulakukan untuk membantumu?”tanya Danang pada wanita tersebut.
“Bawa aku pergi dari sini. Aku rela melakukan apa saja untukmu asal kau bawa aku pergi dari tempat terkutuk ini.”jawab Esther.
“Esther, tolong pahami bahwa saat ini aku tidak mungkin membawamu pergi. Lagipula jika kulakukan seperti katamu, yaitu aku memanfaatkan agar kau mau melakukan apapun, maka aku tidak ada bedanya dengan majoor Dedric Van Osch, bahkan lebih buruk lagi.”ucap pemuda gagah tersebut.
__ADS_1
“Lalu aku harus bagaimana? Aku benar-benar sudah tidak tahan dengan semua ini.”ujar Esther pada pemuda di hadapannya…