
“Kanjeng Romo, rasanya hamba tidak mengerti akan kalimat-kalimat berikut...”ucap Danang yang langsung dipotong oleh Kyai Ageng Banyu Urip.
“Jangan kau bacakan pada kami ngger, kitab itu bukanlah hak kami. Bukankah sudah dijelaskan bahwa hanya trah Raden Wiroyudho lah yang berhak atas isi kitab itu?”ujar Kyai Ageng Banyu Urip.
“Betul nakmas, lagipula kami sudah tua, tidak berminat lagi pada segala ilmu kesaktian lagi. Kami hanya ingin hidup tenang, mengumpulkan amal baik di masa tua kami, lagipula kitab itu bukan hak kami.”tambah Kyai Surawisesa.
“Kami hanya akan bangga jika keponakan dan anak kami berbakti dan membuat kebajikan dengan ilmu yang dimilikinya. Bukan begitu dimas?”lanjut Kyai Surawisesa.
“Aku sepakat kakang. Nah, istirahatkan dirimu ngger, kurasa dalam perjalanan nanti kau akan dapat memahami isi kitab itu, sambil mengarungi kehidupanmu ngger.”ucap Kyai Ageng Banyu Urip.
“Nah, sekarang giliranku memberikan bekal untukmu nakmas.”ujar Kyai Surawisesa.
Lalu ia mengambil gelas berisi air dan merapalkan sesuatu pada air di gelas bambu tersebut.
“Minumlah air ini nakmas, dan hapalkan rapalan berikut.”ucap Kyai Surawisesa kemudian membacakan rapalan tertentu.
“Ketika kau membaca rapalan ini, berdirilah di depan cermin atau air yang dapat memantulkan bayanganmu. Cobalah nakmas...kau akan melihat hasilnya.”terang Kyai Surawisesa sambil tersenyum.
Lalu Kyai Ageng Banyu Urip masuk kedalam ruangan dan keluar sambil membaca cermin ke halaman.
Danang lalu merapalkan kalimat tertentu yang diajarkan oleh Kyai Surawisesa di hadapan cermin itu, dan hasilnya tiba-tiba keluar satu sosok yang menyerupai dirinya dari dalam cermin lalu langsung memasang kuda-kuda dan menyerang dirinya.
Danang pun terkejut dan dengan sigap mengelak dan balas menyerang.
__ADS_1
“Lawanlah sosok itu nakmas, ia akan menjadi lawan tandingmu dan berguna untuk mematangkan ilmu kanuraganmu.”teriak Kyai Surawisesa sambil tertawa.
Demikian Danang bertarung dengan sosok yang menyerupai dirinya hingga puluhan jurus saling serang dan elak tanpa ada yang kalah.
Hingga akhirnya setelah tujuh puluh jurus, Danang mengeluarkan tendangan berputar tiga kali dari jurus naga yang dimilikinya dan mengenai kepala sosok tersebut, dan sosok itu menghilang.
Namun ternyata latih tanding belum berakhir, dari dalam cermin keluar dua sosok yang menyerupai dirinya dan langsung menyerangnya.
Kembali bertarung, kali ini Danang dikeroyok oleh dua sosok yang menyerupainya dengan ganas.
Mengandalkan kecepatan dan tenaga dalam serta gabungan dari jurus-jurus miliknya, Danang bertahan dan menyerang dua sosok tersebut.
Namun ternyata dua sosok itu juga memiliki kecepatan dan kekuatan yang hebat, hingga mereka bertiga hanya terlihat bagai kelebatan kelebatan bayangan yang saling menyerang.
Kembali kali ini tiga sosok menyerupainya keluar dari dalam cermin dan menyerangnya.
Hal ini berlanjut terus menerus hingga akhirnya sepuluh sosok menyerupai dirinya keluar dari cermin dan mengeroyoknya.
Danang mengerahkan segenap kemampuanya, mulai dari gerak langkah Gagak Rimang, gerak jurus banteng yang sangat rapat untuk bertahan, jurus ular dan bangau untuk menyerang balik dengan memanfaatkan tenaga lawan, jurus kera yang mengandalkan kelincahan, hingga jurus harimau, garuda, dan naga yang dahsyat untuk menyerang.
Ratusan jurus telah mereka lalui, keringat telah membasahi sekujur tubuh dan pakaian Danang.
Kedahsyatan pertarungan itu bahkan hingga mengakibatkan keadaan halaman rumah Kyai Ageng Banyu Urip saat itu porak poranda akibat terjangan-terjangan mereka.
__ADS_1
Beberapa pohon berukuran sedang tumbang, pagar halaman yang terbuat dari kayu jati hancur berantakan, beberapa tanaman tercabut hingga akarnya, tiang penyangga atap halaman hancur, hingga mengakibatkan atap halaman rumah Kyai Ageng Banyu Urip roboh yang membuat Kyai Ageng Banyu Urip dan Kyai Surawisesa harus buru-buru menyingkir.
Ke sebelas bayangan itu saling berkelebat menyerang dan mengelak dengan sangat cepat dan dahsyat.
Beberapa kali Danang harus terjajar mundur karena terkena pukulan dan tendangan pada wajah, perut, dan dadanya. Beruntungnya ia terlindungi oleh Kotang Kyai Nogo Bumi hingga tidak mengalami luka dalam.
Merasa terpojok dan terdesak hebat, akhirnya Danang melompat mundur sejauh dua tombak dan merapal ajian Bayu Bajra, sosoknya berkelebat dengan luar biasa cepat disertai deru angin yang mengerikan.
Akhirnya Danang memusatkan pikirannya dan terbentuk pusaran angin yang menderu keras di sekeliling tubuhnya.
“Heaaaah...Bayu Bajra!”teriaknya, dan dari sekujur tubuhnya keluar pusaran angin dahsyat menyerang ke sepuluh sosok tersebut hingga mental terseret pusaran angin sejauh ratusan tombak.
“Cukup nakmas, ucapkan kalimat syukur pada Yang Maha Kuasa untuk menutupnya!”teriak Kyai Surawisesa.
Danang pun menutupnya dengan ucapan syukur pada Yang Maha Kuasa, lalu menoleh melihat asal suara tersebut.
Kaget bukan main dirinya setelah melihat sekelilingnya termasuk beberapa tanaman tercabut hingga akarnya, pohon-pohon, pagar halaman dan atapnya hancur berantakan.
Rupanya ketika latih tanding berlangsung dirinya terlalu memusatkan perhatiannya pada pertarungan, hingga tidak memperhatikan keadaan di sekelilingnya
“Astaga, nyuwun pangapuro Kanjeng Uwak dan Kanjeng Romo.”ucap Danang seraya bersimpuh.
Kyai Ageng Banyu Urip dan Kyai Surawisesa malah tertawa terbahak-bahak sambil berkata, “Hahahahaha...Kau nanti harus membereskan dan membetulkan semua ini ngger, atau kami berdua akan menjewer kupingmu dan memukul pantatmu dengan rotan, seperti ketika romo melatihmu saat kau kecil dulu.”ujar Kyai Ageng Banyu Urip sambil tertawa.
__ADS_1
Danang hanya bisa nyengir sambil menggaruk-garuk kepalanya.