
Ketika peti terbuka, Danang melihat 4 buah kitab di dalamnya. Ia mengambil kitab-kitab tersebut dan mulai membacanya.
Dibukanya kitab pertama yang ternyata adalah kitab jurus silat yang merupakan hasil pemikiran penulisnya atas 7 gerakan hewan, yaitu banteng, harimau, kera, ular, bangau, garuda, dan naga.
Jurus banteng menitik beratkan pada kekuatan pertahanan yang sangat rapat layaknya seekor banteng yang perkasa. Jurus harimau merupakan jurus yang ganas dan kuat layaknya seekor harimau sang raja hutan.
Jurus ular menitik beratkan pada kecepatan serangan balik layaknya ular sendok dan kuncian layaknya belitan seekor ular sanca.
Jurus bangau mengandalkan pemanfaatan tenaga lawan dan gerakan yang ringan. Jurus kera mengandalkan kelincahan layaknya seekor kera yang dapat berlompatan kesana kemari.
Jurus naga merupakan hasil pemikiran dari serangan seekor naga yang perkasa, yang menitik beratkan pada cakar dan tendangan.
Jurus garuda mengandalkan pengintaian, gerakan yang ringan tapi kuat, dan serangan mendadak layaknya garuda menangkap mangsanya.
Dengan kecerdasannya yang diatas rata-rata, Danang mampu memahami garis besar jurus-jurus tersebut hanya dalam waktu kira-kira sepenanakan nasi. Lalu ia mulai mencoba untuk melatihnya.
Danang melatih jurus-jurus tersebut dengan giat hingga mampu mencapai tahap ahli, bahkan mampu menggabungkan jurus-jurus tersebut hanya dalam waktu satu purnama.
"Kelihatannya cukup memuaskan, hanya saja tenagaku masih belum cukup untuk menyempurnakan jurus-jurus ini.
Setelah merasa cukup menguasai jurus jurus itu, ia mulai membuka kitab kedua yang berisi tentang pengolahan nafas, tenaga dalam, dan 7 cakra dalam tubuh manusia.
“Baiklah, aku akan mulai berlatih mengolah tenaga dalam dengan petunjuk kitab ini,”batinnya.
Pertama-tama Danang melatih nafasnya untuk membuka Cakra Maludara yang terletak pada tulang ekornya.Ia melakukan sikap kuda-kuda dan menghimpun tenaga dari nafasnya sesuai petunjuk dari kitab tersebut dan merasakan aliran darahnya semakin lancar hingga terasa ada hawa hangat berputar-putar dan mendobrak Cakra Maludaranya.
Hawa itu kemudian naik keatas dan terhenti di bawah pusarnya, seolah olah ada dinding yang menghalangi hawa tersebut. Danang kembali melakukan olah tenaga ini berulang-ulang dan hanya berhenti untuk makan dan melakukan kewajiban sembahyang serta tidur pada malam harinya.
Setelah satu purnama, Danang melakukan terobosan dan berhasil membuka Cakra Maludara.
__ADS_1
Dirasakannya ada hawa panas namun lembut bergerak berputar di sekitar tulang ekornya lalu naik dan terhenti di bawah pusarnya.
Sesuai petunjuk dari kitab, Danang terus berlatih olah nafas dan berhasil membuka Cakra Svadisthana yang terletak di bawah pusarnya setelah satu purnama.
Hawa ini menyebar dan kemudian naik keatas tetapi terhenti di antara pusar dan dadanya.
Hal ini berlangsung selama satu purnama hingga akhirnya Danang berhasil menerobos dan membuka titik Cakra Manipura yang terletak antara pusar dan dadanya.
Setiap berhasil melakukan terobosan pembukaan Cakra, hawa sakti yang dihasilkan tersebut akan menyebar ke seluruh pembuluh darah hingga merasuk ke sumsum tulangnya.
Makin tinggi Cakra yang berhasil dibuka, makin tinggi pula hawa sakti yang dihasilkan.
Danang melakukan kegiatannya berulang-ulang.
Pagi hari setelah sembahyang ia mengulang latihan jurus-jurus disertai pengerahan tenaga dalam yang dihasilkan oleh titik-titik cakra yang telah berhasil dibuka, dan hasilnya tenaga dan kecepatan yang menyertai jurus-jurusnya meningkat dengan pesat.
Di sela-sela kegiatannya ia berburu ayam hutan atau mencari umbi-umbian dan buah-buahan untuk dijadikan santapan sambil tak lupa menunaikan sembahyang yang menjadi kewajibannya lalu beristirahat, dilanjutkan semadhi untuk membuka titik cakra pada malam harinya.
Demikian berturut-turut olah kanuragan dilakukan olehnya.
Setiap satu purnama Danang berhasil melakukan pembukan titik-titik Cakra selanjutnya, yaitu Cakra Vishudda yang terletak di tenggorokan, dan Cakra Ajna yang letaknya di antara kedua alis, kecuali titik Cakra Sahasrara yang akhirnya mampu dibuka dalam waktu 2 purnama.
Secara keseluruhan Danang berhasil membuka ketujuh Cakra intinya dalam waktu 8 purnama. Ia merasakan saat ini tenaga dalam yang dimilikinya meningkat dengan sangat pesat, indra perasanya berubah menjadi sangat tajam.
Kini ia mampu melihat dan mendengar lebih jelas, bahkan kulitnya mampu merasakan getaran hawa alam di sekelilingnya.
Hanya saja, Danang merasakan satu gangguan setelah berhasil membuka ketujuh cakranya, yaitu ia menjadi seringkali bermimpi buruk ketika tertidur.
Dalam mimpinya seolah-olah ia melihat pembantaian, darah dan rumah-rumah terbakar, serta seorang laki-laki gagah yang tewas setelah dengan trengginas melawan keroyokan sejumlah pasukan dan melihat seorang wanita terbunuh dengan satu pukulan oleh seseorang bertubuh besar.
__ADS_1
Merasa mimpinya hanya bunga tidur, Danang tidak mengindahkan dan tetap melanjutkan mempelajari kitab-kitab yang ditemukannya.
Pada halaman terakhir kitab, disebutkan kegunaan dua buah kolam yang terdapat di dalam goa untuk berlatih memperbesar kekuatan tenaga dalam berdasarkan dua unsur, yaitu unsur panas dan unsur dingin.
Semakin dalam seseorang menyelam ke dalam kolam, semakin panas atau semakin dingin hawa yang dihasilkan oleh kolam-kolam tersebut.
“Takdir Yang Maha Kuasa telah ditetapkan.”
“Di dalam goa terdapat dua buah kolam yang terdiri atas dua unsur panas dan dingin yang dapat meningkatkan tenaga dalam.”
“Unsur panas dari dalam kolam berkhasiat untuk melatih tenaga sakti berhawa dingin, dan unsur dingin dari dasar kolam berkhasiat untuk melatih tenaga sakti berhawa panas.”
“Semakin dalam menyelam maka akan semakin panas atau dingin hawa yang ditimbulkan oleh kolam berkhasiat tersebut. Hingga dasar kolam akan mengeluarkan hawa dingin melebihi es dan hawa panas laksana lahar.”
“Pewaris kitab ini dituntut kewajiban untuk berbuat kebajikan bagi sesama.”
Tetapi Danang memutuskan untuk menunda pengolahan cakra dengan menggunakan kolam-kolam itu dan mulai membuka kitab ketiga yang berisi ilmu pengobatan, baik dari bahan dasar pengobatan, cara meramu, hingga mengenai titik-titik syaraf dalam tubuh manusia.
Satu purnama dibutuhkan olehnya untuk menyerap pengetahuan pengobatan ini.
Selanjutnya Danang membuka kitab ke 4 yang ternyata berisi pengetahuan tentang sastra dan siasat.
Berbagai siasat dan tata gelar perang seperti Cakrabyuha, Supit Urang, Garuda Nglayang, dan lain lain dijelaskan dengan sangat terperinci di kitab itu.
Ia menghabiskan waktu dua purnama untuk menyerap berbagai siasat dari kitab itu.
Secara keseluruhan ia menghabiskan sepuluh purnama untuk menyerap ke empat kitab tersebut.
Menariknya pada halaman terakhir kitab itu disebutkan bahwa di dasar kolam terdapat masing-masing satu buah peti berisikan kitab dan senjata pusaka.
__ADS_1
“Di dasar kolam, aku menyimpan hasil karyaku berupa sebuah kitab dan beberapa pusaka yang akan dapat membuat pemiliknya menjadi lelaki lelanganing jagad.”
“Hanya sosok terpilih yang telah ditakdirkan yang akan mampu memiliki kitab dan pusaka lelanganing jagad.”