Kitab Manunggaling Semesta Jagad

Kitab Manunggaling Semesta Jagad
BAB 38, KESIAPAN SATUAN PRAJURIT PATANG PULUHAN


__ADS_3

Sepekan sekali Nyai Arum dan Sekar Kinasih datang berkunjung ke tenda barak satuan prajurit patang puluhan untuk membimbing mereka berlatih olah jemparingan.


Kadang-kadang Danang yang datang mengunjungi mereka, sekaligus melaporkan hasil pelatihan satuan prajurit patang puluhan yang dibinanya pada Pangeran Mangkubumi.


Tanpa terasa, empat purnama sudah kegiatan pelatihan jemparingan yang dibimbing langsung oleh Nyai Arum dan Sekar Kinasih tersebut berlangsung, dan tanpa terasa pula keakraban antara Danang dan Sekar Kinasih terjalin semakin akrab.


Keduanya saling mengagumi satu sama lain, mereka berdua sama-sama terpesona oleh ketampanan dan kecantikan masing-masing, sama-sama kagum akan sikap dan kemampuan masing-masing.


Kadang-kadang datang pula Joyodipuro, Joyo Wiguno, Joyo Praboto, atau Joyo Utomo untuk menghampiri dan menggoda mereka berdua ketika sedang bercakap-cakap berdua, yang biasanya ditanggapi sambil tersenyum simpul dan tersipu malu-malu oleh keduanya.


Sementara Raden Mertowijoyo yang telah berhasil mengumpulkan kuda kemudian menambahkan latihan olah jaranan pada satuan prajurit patang puluhan, sehingga kemampuan satuan mereka menjadi lebih lengkap, mulai dari pertempuran jarak pendek, olah jemparingan, dan olah jaranan dengan tombak sebagai senjata dalam pertempuran dengan menggunakan kuda..


Akhirnya secara keseluruhan, latihan olah keprajuritan, kanuragan, jemparingan, dan olah jaranan yang dilakukan oleh satuan prajurit patang puluhan telah berlangsung selama delapan purnama, dengan hasil yang sangat memuaskan.


Kini kemampuan satuan prajurit patang puluhan semakin baik, rata-rata dari mereka masing-masing mampu melesatkan dua hingga tiga buah anak panah sambil mengendarai kuda.


Kemampuan bertempur dalam jarak pendek dengan pergerakan yang cepat juga dinilai sangat baik. Begitu juga dengan kemampuan melemparkan tombak dengan jarak yang cukup jauh yang tepat mengenai sasaran.


Danang juga membuat pisau-pisau berukuran kecil yang digunakannya sebagai senjata rahasia dan merancang pakaian bagi satuan prajurit patang puluhan untuk bisa menyisipkan pisau-pisau kecil tersebut kedalam lipatan-lipatan dalam pakaian yang dirancangnya.


Masing-masing tiga buah pisau kecil dislipkan pada lipatan blangkon kiri dan kanan, lima buah pisau kecil pada lipatan pakaian sebelah kiri dan kanan, serta lima buah pisau kecil terselip pada pinggang bagian kiri dan kanan.

__ADS_1


Sehingga secara keseluruhan semuanya berjumlah dua puluh enam buah pisau kecil seukuran ruas jari yang bisa digunakan sebagai senjata rahasia.


Latihan untuk menambah daya tahan dan tenaga luar juga dilakukan oleh satuan prajurit patang puluhan.


Setiap pagi mereka berlari menaiki dan menuruni bukit sebanyak lima kali dengan menggendong keranjang yang berisikan batu sebagai penambah berat.


Dilanjutkan dengan latihan-latihan lain seperti jemparingan, pertempuran jarak pendek, atau olah jaranan.


Pada malam hari mereka bersemedhi untuk meningkatkan tenaga dalam dan daya linuwih yang mereka miliki, atau diajarkan tentang tata gelar perang oleh Danang, sambil sesekali membaca kitab suci atau kitab sastra.


Kesimbangan antara wadag dan bathin menjadi perhatian yang khusus bagi Danang dalam melatih mereka.


Baginya kemampuan olah kanuragan dan keprajuritan yang tinggi harus disertai pelatihan bathin yang cukup agar mereka tidak terjerumus kearah yang tidak diinginkan.


Kantong tersebut lalu diletakkannya di hadapan berisan prajurit patang puluhan.


“Kakang sekalian, di dalam kantong ini terdapat senjata kudi hyang yang akan kita pergunakan sebagai senjata kita untuk melakukan pertempuran jarak dekat. Masing-masing dari kakang semua mendapatkan sepasang senjata kudi hyang.”ujarnya lalu mempersilahkan mereka mengambil senjata tersebut.


“Kakang Mappatoba, sekarang cobalah kakang serang kakang Mahesa Geni dengan pedang dan aku minta kakang Mahesa Geni menangkis dengan senjata kudi hyang baru miliknya.”ujar Danang.


“Singgih Gusti Pangeran”ujar Mappatoba. Keduanya lalu bersiap saling berhadap-hadapan.

__ADS_1


Mappatoba memegang sebilah pedang, dan Mahesa Geni memegang sepasang kudi hyang yang baru diterimanya.


“Hyaaaat...”seru Mappatoba yang menyerang dengan menyabetkan pedang. Lalu terdengar suara senjata beradu,”Traaang...”semua terkejut ketika melihat pedang yang disabetkan oleh Mappatoba patah manjadi dua bagian, seolah-olah kudi hyang yang dipergunakan oleh Mahesa Geni hanya beradu dengan sepotong ranting kayu yang kering.


“Nah, kakang semua sudah melihat kemampuan senjata baru kalian? Pesanku gunakanlah senjata itu dengan sebaik-baiknya demi perjuangan kita untuk melawan kezaliman dan ketidakadilan yang ditimbulkan oleh bangsa berambut jagung dan antek-antek pengkhianat negeri ini.”ujar pemuda tersebut.


“Kasinggihan sendiko dawuh. Terima kasih atas pemberian Gusti Pangeran pada kami.”seru satuan prajurit patang puluhan serempak.


Dari kejauhan tampak debu mengepul dan suara derap kuda terdengar mendekati tempat latihan dan barisan satuan prajurit patang puluhan.


Nampak Sekar Kinasih dan Nyai Arum beserta Raden Said datang mengunjungi mereka.


Setibanya mereka disana, setelah berbasa-basi saling menyapa, Raden Said mengatakan, “Dimas, sesungguhnya aku datang berkunjung untuk meihat perkembangan satuan prajurit yang dimas pimpin, sekaligus menyampaikan pesan dari romo Pangeran Mangkubumi yang meminta agar dimas segera menghadap.”ujarnya.


“Ada apakah gerangan hingga Gusti Pangeran meminta hamba untuk menghadap Raden?”tanya Danang pada Raden Mas Said.


“Kelihatannya romo Pangeran Mangkubumi ingin menanyakan tentang perkembangan dan kesiapan satuan prajurit patang puluhan, serta kelihatannya juga ingin membicarakan mengenai beberapa rencana ke depan dengan dimas dan aku.”ujar Raden Mas Said.


“Baiklah Gusti Raden Mas, hamba segera bersiap menghadap Gusti Pangeran Mangkubumi. Kakang Mappatoba dan kakang Mahesa Geni, tolong wakilkan aku untuk melatih saudara-saudara kita. Aku hendak menghadap Gusti Pangeran Mangkubumi.”ucap Danang.


“Singgih Gusti Pangeran, serahkan pada kami berdua.”ujar Mappatoba dan Mahesa Geni bersamaan.

__ADS_1


Lalu Danang beserta Nyai Arum, Sekar Kinasih, dan Raden Mas Said segera bergegas menghadap Pangeran Mangkubumi dengan mengendarai kuda-kuda mereka...


__ADS_2